Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Lihat Aku



Rembulan masih setia menyinari bumi, angin sepoi semakin kuat, sehingga membuat tulang-tulang Zico yang malam itu tidur dengan lupa menutup jendela seperti ditusuk dengan benda tajam.


Tiba-tiba ia terbangun seperti sedang bermimpi buruk, ia mengerjapkan mata lalu terduduk lemas, napasnya tersengal keringat dingin mengucur dari tubuhnya.


"Mimpi buruk macam apa itu?" gumamnya dalam hati.


Bagaimana bisa dalam mimpi itu ia tengah mengejar cinta dari Frea gadis kaya nan sombong itu sedangkan nuraninya sangat membencinya.


Ia benar-benar tak habis pikir dengan bunga tidur yang menggelayuti tidurnya malam ini. Membayangkannya saja iya tidak mau.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus benar-benar menyungkirkan pikiranku darinya. Atau jangan-jangan dia telah memberiku guna-guna?" ucap Zico lirih.


Ia menyenderkan kepalanya ke tembok lalu memejamkan mata, namun bayangan Frea terus memenuhi otaknya. Spontan ia memukul pipinya sendiri.


"Zico, sadar! Dia bukan untukmu!" ucapnya lagi.


Kemudian laki-laki tersebut mencoba memejamkan matanya kembali dan berharap ia tak memimpikan gadis cantik berwajah oriental tersebut.


*****


Pukul 06:00 Arga masih terlelap dalam dekapan hangat istrinya.


Sementara Asta mencoba mengerjapkan matanya, memindai celah gorden gelap namun cahaya sang surya satu-satunya sumber daya energi yang tak akan penah habis itu, mencuri celah dan masuk kedalam kamar mereka.


"Ah ... sudah pagi ternyata," gumam Asta, matanya melihat ke arah perut di mana tangan kekar namun mulus tepat berada di sana, memeluknya dengan lembut, seolah laki-laki itu benar-benar menyayanginya.


Ia melihat wajah suaminya yang seperti biasa, bulu mata lentik, hidung mancung serta wajah tanpa pori-pori itu tampak sedang berdamai dengan mimpi indahnya.


Perlahan Asta membalikkan tubuhnya, kemudian mengecup dahi, pipi, mata hidung dan bibir sang suami.


"Selamat pagi, Suamiku," ucapnya, lembut.


Arga mencoba membuka mata, mengumpulkan kesadaranya. Ia ingin tetap terlelap namun nuraninya sebagai seorang lelaki tidak bisa melawan dan membalas kecupan sang istri yang sangat amat ia cintai itu.


"Selamat pagi, Istriku yang tercantik di alam semesta ini," rayunya, disertai dengan senyuman lembut terukir di bibirnya.


"Ih ... kamu bisa saja!" Asta memukul lembut pundak sang suami.


"Benar bukan? Bagiku kamu adalah wanita tercantik di jagad raya, sedangkan bagimu akupun laki-laki tertampan se alam semesta ini."


"Siapa bilang, Sehun, Kai, Chanyeol dan Do kyungso paling tampan se dunia," ujar Asta memuji artis idolanya.


Arga menipiskan bibirnya, pupilnya mengecil wajahnya berubah masam. " Ah, kamu pagi-pagi sudah memuji pria lain di hadapanku, empat orang pula!" desis Arga kesal. "Lagian adikmu Zico juga mempunyai ciri khas seperti apa yang kamu bilang tadi. Oppa oppa korea. Bukan wajahnya. Tapi stylenya!" imbuhnya lagi.


"Ih, kalau dia tidak masuk hitungan, dong!" sanggah Asta.


"Kalau aku juga, 'kan?" tanya Arga, menyombongkan diri.


"Kamu apa?" tanya Asta memcoba mencerna ucapan Arga.


"Aku. khas oppa-oppa ceo."


"Apa?!" seru Asta tidak percaya.


"Wajahku, seperti oppa oppa ceo," tegas Arga.


"Hah, aku tidak salah mendengar, bukan?"


"Ah, sayang. Kamu terlalu jahat untukku."


Asta terkekeh melihat wajah kusam suaminya terlihat bibirnya sedikit mengkerut karena kesal tidak dipuji.


"Apa aku jelek?" tanya Arga, lagi.


"Utu, utu ...." Asta memegang pipi suaminya, menggoda Arga. " Suamiku tampan. Kalau tidak mana mau aku sama, suamiku."


Arga tetap memasang wajah masamnya. Menyedekapkan kedua tangannya ke depan, ia melirikkan matanya ke arah Asta. Berharap agar Asta membujuknya, namun sayangnya tidak. Istrinya itu bahkan mengacuhkannya dan memilih pergi menuju kamar mandi.


"Sayang!" seru Arga, manja.


"Hemmmm ...." Asta menoleh melirik suamunya yang tampak bermuram durja.


"Kamu yakin?"


"Yakin? Yakin apa?" tanya Asta kembali.


"Aku tampan!"


Asta tersenyum, ia merasa lucu. Kenapa Arga suka sekali berperilaku seperti anak-anak. Padahal di depan anak buahnya ia memperlihatkan pribadi yang garang matang dan terlihat sedikit otoriter.


Arga berlari merengkuh perut sang istri, memeluknya manja.


"Mau apa?" tanya Asta.


"Mandi bersama," jawabnya.


"Kamu jahat sekali, persisi seperti bakiak pororo. Kamu kakaknya, ya?"


Asta bergeming, mendengar ucapan kalimat Arga. Ia mencoba melepaskan pelukan suaminya. Kemudian berbalik badan memeluk leher belakang sang suami, sementara Arga memeluk pinggul Asta, sesekali Asta mengecup bibir Arga dan meninggalkan gigitan kecil di tengah bibirnya.


"Kamu tahu? Bagiku tampan saja tidak cukup untukku, ketampanan akan terkikis seiring bertambahnya umur. Namun, jika hati dan kesetiaanmu akan terus melekat pada pribadimu hingga akhir hayatmu dan aku mencintai itu."


Arga tersenyum, lalu memegang kedua pipi istrinya dan meninggalkan kecupan mesra di bibir Asta.


"Mandilah, sayang. Aku menunggu di luar!" perintah Arga.


*****


Zico berjalan santai, suasana kampus saat itu tampak tenang pikirnya. Tidak seperti kemarin yang riuh banyak sekali perpeloncoan di sana sini.


Dan yang paling penting di sepanjang Zico memandang tidak ada tanda-tanda Frea di mana-mana. Ia menarik napas lega karena itu.


Tiba-tiba Zico dikagetkan dengan tepukan pundak dari belakang, sehingga membuat ia sedikit sempoyongan. Ia memegang bekas tepukan itu dan menatap siapakah tersangka yang melakukan itu kepadanya.


Kaget namun pandangannya seketika aneh melihat sosok si penepuk pundaknya itu.


Zico melihat sosok Frea dengan penampilan casual mengenakan celana jeans biru, kemeja biru dan snikers putih tak lupa ia menggunakan tote bag untuk menunjang penampilannya saat ini. Sangat berbeda dengan kemarin, ia menggunakan pakaian serba mini rok mini, baju mini kekurangan bahan dan heels yang membuatnya susah berjalan. Tapi hari ini ia benar-benar berbeda.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Jelek, ya? Tidak pantas, ya?" tanya Frea tidak percaya diri.


Mendengarkan pertanyaan Frea membuat Zico tersadar, laku melanjutkan perjalanannya.


"Hei, jawab aku!" ulang Frea, berteriak untuk mencari perhatian Zico.


Zico tetap bergeming melanjutkan perjalanannya, tak menghiraukan ucapan gadis itu.


Tiba-tiba


Brugggg ....


Suara benda terjatuh, spontan Zico menoleh ke arah belakang, Frea tengah jatuh terduduk sementara sikunya sedikit terluka dan berdarah. Zico langsung berlari menghampiri Frea.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zico, khawatir.


Sementara Frea meandang Zico dengan tatapan kesal. "Apakah aku harus celaka dulu, baru kamu mau memperhatikan aku?" tanya Frea.


"Maaf," jawab Zico singkat.


Ia membantu Frea untuk berdiri dengan perlahab ia menuntun Frea menuju bangku taman tak jauh dari lokasi Frea terjatuh.


"Sebenarnya ada masalah apa sih, dengan kakimu?" tanya Zico ketus.


"Kok kakiku?"


"Iya kaki kamu aneh, pake sepatu hak tinggi jatuh, pake snikers pun juga jatuh. Menyusahkan orang saja!" hardik Zico.


"Ya, sudah kalau aku menyusahkanmu, kamu lebih baik pergi!" teriak Frea, sehingga otomatis membuat semua orang yang ada di dekat mereka menoleh.


Zico menutup mulut Frea dengan tangannya.


"Kamu bisa diam tidak! Lihatlah semua orang memandang ke arah kita!"


"Biariinnn!" teriak Frea semakin keras.






Bersambung


"Kamu tahu? Bagiku tampan saja tidak cukup untukku, ketampanan akan terkikis seiring bertambahnya umur. Namun, jika hati dan kesetiaanmu akan terus melekat pada pribadimu hingga akhir hayatmu dan aku mencintai itu."


Asta


Hai terimakasih sudah membaca BChP hingga bab ini.


Jangan lupa like komen dan Vote, yah.


Terimakasih


Salam hangat


Novi Wu.