
Selamat menunaikan ibadah puasa, kakak-kakak kesayanganku 😘
INGAT!!
Lebih afdol dibaca setelah buka puasa, demi kesehatan jiwa raga dan pikiran 😁
Arga masih mengacungkan pistolnya ke arah kepala Wina, sementara itu mata Wina pasrah dengan apa yang dilakukan laki-laki yang pernah mencintainya itu. Matanya terpejam, tubuhnya bergetar karena takut.
Sementara aku memandang pemandangan itu dengan penuh kengerian, aku takut jika Arga memuntahkan pelurunya kemudian membuat Wina tiada di depan mataku sendiri.
"Cepat, katakan kalimat maafmu untuk istriku, Wina!" seru Arga dengan suara dingin tak bernada.
"Arga ... cukup! jangan lakukan itu, Ga!" aku berteriak untuk menyadarkan pikiran Arga, yang sedang dipenuhi emosi dendam terhadap wanita yang pernah ia cintai itu.
"Cepat, katakan Wina! kalau tidak bersiaplah otakmu terburai di sini!" pungkas Arga lagi.
Namun Wina hanya terdiam, seolah mulutnya terkunci untuk mengatakan maafnya padaku.
Tiba-tiba Arga mengarahkan pistolnya ke arah betis Wina, kemudian dengan sengaja ia memuntahkan satu peluru ke sana.
dor....
Wina tersungkur, dan berteriak. "A....!"
Darah segar mengucur di area betisnya.
Sementara aku hanya mampu menutup mulutku dengan kedua tanganku sendiri, air mataku mulai tak terbendung dan mengalir deras melewati kedua pipiku. Bagaimana bisa Arga begitu jahatnya sehingga ia menembak Wina wanita yang dulu ia puja-puja.
"Katakan sekarang! kamu pikir aku tak berani menebakmu, jika kamu masih diam, tentu kali ini giliran otakmu yang akan menjadi sasaranku!"
Dengan air mata berlinang, nafas putus-putus tak kuasa menahan kesakitan yang ada, Wina mengucapkan kata maaf untukku. " Maafkan aku, Asta. Aku berjanji tak akan mengganggumu lagi."
Sementara aku tak mampu berkata apa-apa, aku hanya dapat mengangguk pelan, agar siksaan Wina usai, supaya Arga segera melepaskan wanita itu.
Arga melemparkan pistolnya ke lantai. "Bawa dia pergi ke rumah sakit, pastikan dia sembuh, setelah itu buang dia jauh dari kota ini, pastikan ia tak akan kembali lagi!" perintah Arga kepada para bodyguardnya.
Para bodyguard pergi menuruti apa yang Arga perintahkan kepada mereka. Aku melihat Wina dengan perasaan kasihan. Bagaimana bisa wanita secantik dia dengan karir yang bagus, harus diperlakukan seperti ini.
Apakah suatu saat Arga akan begitu kepadaku, jika ia merasa bosan.
"Sayang," sapaan lembut Arga membuyarkan lamunanku, yang sejak tadi memandang bekas darah wina yang tergenang di lantai.
Arga menghampiriku, sorot matanya berubah lembut, tidak seperti tadi, saat ia memperlihatkan sisi kekejamannya, sorot matanya tajam seolah siap mencabik apa yang di lihatnya. Arga seperti orang yang memiliki kepribadian ganda.
Aku mundur teratur, mencoba menghindar dari Arga, aku takut jika suatu saat akan berakhir seperti Wina barusan.
"Jangan mendekat, Ga!"
Arga mengkerutkan keningnya karena heran. "Apa salahku, sayang?"
"Jangan mendekat!" aku berteriak agar Arga berhenti mendekat padaku.
Namun Arga tak patah arang, ia menarik pergelangan tanganku, kemudian menghempaskanku di atas kasur, dengan cekatan ia menindihku dengan tubuhnya, serta kedua tangannya memaku tanganku ke kanan dan ke kiri.
"Ini aku ... Arga, dan aku masih suamimu," ujarnya.
Aku mengelak dengan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Sementara Arga menamatiku dengan seksama.
"Tenang, Asta. Aku melakukan tadi hanya untuk, untuk mempertegas hubunganku dengan Wina. Agar kamu tidak salah paham lagi kelak," pungkasnya lagi.
"Tidak, kamu pasti akan melalukan hal yang sama padaku kelak jika kamu mulai bosan padaku!"
Arga menekan wajahku dengan kedua tangannya, kemudian melepaskan ciuman penuh hasrat di atas landasan bibirku, aku mencoba berontak namun tak sanggup, ia secara bergantian mencercap atas dan bawah bibirku secara bergantiian mengesapnya memutar lidahnya di atas langit-langit mulutku. Dengan susah payah aku mampu melepaskan panggutan Arga, dan kembali mengatur pernapasanku yang mulai naik dan turun.
"Su--sudah cukup!" Aku mendorong dada Arga, dan ia menurutinya kemudian Arga terduduk.
"Apa yang kamu takutkan? aku masih suamimu, aku masih pria yang kamu cintai, Asta."
Arga tampak marah medengar kata-kataku.
Kemudian ia beranjak pergi, berjalan dan membanting pintu dengan kasar.
Dari dalam aku mendengar ia sedang berbicara dengan seseorang, meskipun samar namun aku jelas mendengar kata-kata Arga.
"Jaga di depan pintu kamar ini! aku punya firasat jika, Asta akan kabur dariku," ujarnya lagi.
Aku tersentak kaget mendengar kata-kata Arga.
"Bagaimana ia tau niatku, jika aku ingin kabur dari sini?"
Aku terus memutar otak, aku harus melepaskan diri darinya. Tapi hati kecilku tak mampu pergi, aku sangat mencintainya. Namun logikaku menuntunku untuk pergi.
Pertarungan batin macam apa ini?
❇❇❇❇❇❇
Awok ... wok ... wok....
Jadi part selanjutnya biar greget nih yak.
Asta kabur?
Asta tetep stay dan sayang-sayangan terus sama Arga?....
Tentukan pilihan kalian yak...
🤣🤣🤣
❇❇❇❇❇❇
Hello temen-temen, jangan lupa like, komen, rate bintang 5 untuk Boss Come here Please! yah. Itu sangat penting buat Novi. Karena itu semangat untuk para author-author dalam menulis.
oia, Novi punya rekomendasi Novel seru dan keren dari sesama author.
Judul\= You and I : Love Story Romance.
Karya\= Souvarrel Hellvaelumgladriaxus.
judul\= My Heart is Only For you.
Pena\=Ergina Putri.
Judul\=Nothing is Impossible
Pena\=Septriani Wulandari
Judul\=Pujaku Mayang
Pena\=Azis beck
Judul\=Sebenarnya Cinta
Pena\= Fa. Queen
Eh ... Novi ada grub chat juga loh, kalian bisa lebih deket sama Novi di sana, bisa tanya apapun di sana, nagih update, kreji up, apapun itu kalian bisa lakuin di sana.
Novi tunggu yah temen-temen.
Gumawo
Novi Wu