Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Klaim Frea



Asta mengerjapkan mata, menoleh ke kaca besar yang tertutupi oleh gorden hitam tipis namun ia masih bisa melihat suasana luar. Matahari sudah merendah menuju barat untuk menenggelamkan diri. Kemudian wanita 21 tahun itu menoleh ke arah jam dindin besar yang berada di atas televisi. Waktu telah menunjukan pukul empat sore. Ia beranjak dan mengambil ponsel yang sengaja dia letakan di atas meja, tadi.


Dengan langkah tergesa wanita cantik itu keluar dari kamar tersebut. "Sayang. Aku harus pulang, Zico pasti sudah menunggu. Ia belum tahu betul arah jalan pulang." Asta berkata dengan satu tarikan napas karena panik.


Arga memandangi Asta dengan seksama. Lalu tersenyum kecil. "Apanya yang lucu?" tanya Asta sedikit sebal.


Arga beranjak dari tempatnya duduk menghampiri istrinya, meraih tas Asta kemudian merogoh isi di dalamnya. Ia mengambil sebuah sisir kecil dan ikat rambut dari dalam sana. Membalikkan tubuh wanita yang tengah hamil itu ke depan.


Arga menyisir rambut sang istri dengan lembut. "Rambutmu acak-acakkan. Jangan tergesa, kita pulang bersama." Arga mengikat rambut Asta dengan lembut dan rapi. Setelah selesai ia membalikkan tubuh Asta kembali untuk berhadap-hadapan dengan dirinya.


Asta mencoba melirik rambunya sendiri lalu tangannya memegang kepalanya untuk memastikan apakah benar-benar rapi.


"Wah, kamu berbakat juga bekerja di salon," ledek Asta sambil tersenyum simpul.


"Jika aku bersamamu, aku bisa menjadi apa saja. Dokter, pekerja salon, tukang kebun, chef dan sebagainya. Asal itu semua aku lakukan untukmu." Arga mengeluarkan jurus gombalnya.


"Uh, so sweet honey." Asta benar-benar terbuai dengan rayuan sang suami, lalu memeluknya dengan lembut.


Ceo kosmetik tersebut, meraih tangan istrinya dan berjalan bersama. "Kamu tidak malu berjalan keluar dengan menggandeng tanganku?" tanya Asta.


"Kenapa aku harus malu, menggandeng tangan istriku yanga cantik ini. Lagi pula kamu adalah anugrah Tuhan yang patut aku jaga, kita disatukan oleh Nya. Tentu aku tak akan melepaskan genggaman ini sampai maut memisahkan." Arga mulai menggombal lagi.


"Aku mual mendengar kalimat yang terucap dari mulut manismu itu," ledek Asta mematahkan semua gombalan Arga.


"Ini anak, digombali malah bicara seperti itu. Mematahkan semangatku saja!" Arga memencet hidung istrinya karena gemas.


"Ih, sakit!" Asta memukul lengan sang suami.


❇️❇️❇️


Zico keluar dari kampus, menunggu Asta yang sudah berjanji menjemputnya hari ini.


Dari kejauhan Frea tengah mengintainya seolah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya, ia tengah duduk di kursi taman tak jauh di mana Zico berdiri.


Zico bergeming tak memperdulikannya,


bahkan untuk menatapnya pun ia enggan.


Frea melepas sepatu hak tingginya, kemudian berjalan pincang menghampiri Zico. "Kamu menunggu siapa? Angkutan umun tidak pernah lewat sini, kamu harus berjalan jauh ke sana!" ucap Frea memulai perbincangan.


"Bukan urusanmu!" jawab Zico ketus.


"Jangan galak-galak! Awas nanti kamu suka aku!"


"Aku tidak akan pernah mau suka bahkan melirikmu pun aku enggan!"


"Awas dicatat malaikat! Aku bisa lihat


di dahimu, ada kalimat di sana,"


"Kalimat apa?!"


"Kalimat, jika kamu adalah jodohku!" Frea terkekeh mendengar kata-katanya sendiri.


Zico terdiam tak menjawab kalimat Frea, karena ia mengangap Frea gadis tak waras yang mencoba memperdaya dirinya.


Mobil sedan hitam berdiri di depan mereka, kaca mobil itu terbuka, Frea sedikit menunduk untuk memastikan siapa yang ada di dalam mobil itu, sementara Zico langsung masuk ke dalam mobil di bangku belakang.


"Hai, Mr. Arga. Anda mengenal Zico?" tanya Frea ramah.


Rupanya Frea mengenal Arga karena ayah dari Frea adalah dokter plus rekanan bisnis ayah Arga.


"Iya, Frea. Zico adalah adik dari Asta, istri saya." Arga pun tak kalah ramah.


"Oh, begitu," jawab Frea wajahnya berubah ekspresi seolah sedang menemukan harta karun di dalam.


"Kamu kenapa Frea? Mana sepatu kamu?" tanya Asta, penasaran.


"Kaki saya terkilir akibat ulah Zico tadi dan sopir ayah saya sepertinya lupa menjemput hari ini, jadi saya menunggu taksi dari sini," kata Frea tanpa dosa.


"Kamu anak baru sudah buat ulah, ya?!" omel Asta.


"Aku tidak membuatnya terjatuh, siapa suruh dia mendesak tubuhku!" jawab Zico ketus.


Asta turun dari mobil, kemudian menuntun Frea masuk ke dalam mobil di bangku belakang. "Ayo kami akan mengantarmu hingga kerumah,"ucap Asta, ia merasa bersalah.


"Sudah aku bilang kita akan berjodoh," bisik Frea, sambil tersenyum anggun.


❇️❇️❇️


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah besar dengan gaya arsitektur modern dengan cat didominasi warna abu, merah dan putih.


"Nah, Frea. Kita sudah sampai di rumahmu. Kamu bisa turun di sini," ucap Arga, menghentikan mobilnya.


"Zico, bantu Frea turun!" perintah Asta.


Zico memasang muka masamnya, pertanda ia tengah jengah dengan kelakuan Frea sejak pagi. Ia membisikkan suatu kalimat kepada Frea. "Kamu tahu? kamu adalah gadis paling menyebalkan di dalam hidupku!"


"Kamu tahu, aku pastikan. Kamu akan jatuh pada pelukkanku!" balas Frea.


❇️❇️❇️


Malam hari terasa syahdu, bulan bulat sempurna, seolah ingin menujukan segala pesonanya untuk semua mahluk yang ada di bumi, jika ia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang terindah.


Sementara angin sepoi berhembus menambah keromantisan yang sengaja Arga ciptakan untuk istrinya. Mereka berdua duduk di atas ayunan kayu sembari menunggu makan malam tiba.


Dengan mengelus perut istrinya Arga berkata, "Sayang, baik-baik di sana! Jangan menendang perut ibumu kuat-kuat, ya. Nanti ibumu sakit!" ujar Arga membisikkan suara lembut ke perut sang istri.


"Kalau anak kita prempuan, akan kamu beri nama siapa?" tanya Asta dengan mengelus rambut suaminya.


"Hmmm ... siapa ya? Aku mau nama Selena, jika anak kita laki-laki akan aku beri nama Alan," ucap Arga.


"Apa arti nama Selena?"


"Selena dalam bahasa


karakteristik artinya menarik dan perhatian."


"Kalau Alan?"


"Alan dalam bahasa Karakteristik artinya mandiri, kritis terhadap diri dan orang lain."


"Mengapa kamu suka nama itu?"


"Entah, suka saja. Lalu kalau kamu apa?"


Asta terdiam dan sedikit berfikir.


"Aku lebih suka bahasa sang sekerta. Kalau laki laki Birendra yang artinya pemimpin para ksatria, kalau prempuan Lavanya yang berati Rahmat sang pencipta," jawab Asta.


"Kenapa kamu lebih suka nama sanskerta, sedangkan ibu jaman sekarang lebih memilih nama modern untuk bayinya?"


"Sejak kecil aku sangat tertarik dengan nama-nama seperti itu, entah kenapa. Jadi setiap mainan yang aku punya selalu aku beri nama misal Prabu, Abhimanyu, Mahanta, Kalya dan sebagainya."


Arga memeluk tubuh istrinya. "baiklah jika anak kita laki-laki kita beri nama dia Birendra jika prempuan kita beri nama Lavanya, sesuai apa yang kamu inginkan, Sayang."






Bersambung


Hai gaes jangan lupa Like komen, Vote BChP.


Vote, Like dan Komen adalah semangat bagi author untuk terus berkarya.


Terimakasih sudah membaca hingga bab 100 ini.


Lope Sekebon


Salam


Novi Wu