
Lebih baik baca setelah buka puasa 😂
Maaf agak lama, author lagi sibuk sama Real life.... awokwokwok....
"Sayang rambutmu sudah kering, kamu mau apa lagi aku akan melakukannya untukmu."
"Terimakasih, aku akan ganti baju dan tidur," ucapku dengan sesekali menyisir rambutku dengan sepuluh jariku sendiri dan menatap bayanganku sendiri di depan cermin hias besar.
"Baiklah, aku akan ganti baju tidur." Ia meletakan hairdryer di atas meja, kemudian berjalan pergi menuju walk in closet. Sementara aku hanya mampu melihat bayangan punggung Arga dari balik cermin hias.
Laki-laki idamanku, kini manis dan menjadi budak cintaku, dalam hatiku, aku merasa ingin tertawa lepas, namun kutahan.
❇❇❇❇
Arga keluar denga baju tidur plus jubah tidur berwarna coklat gelap. Ia malam itu terlihat sangat tampan. "Halo ... nyonya Arga, tarik mulutmu yang menganga itu! kamu terlihat jelek jika seperti itu," ledek Arga bergegas menghampiriku.
Aku sedikit memajukan bibirku karena kesal mendengar kalimat Arga. Namun aku memilih diam dan beranjak menuju walk in closet untuk berganti baju dan tidur.
Seketika itu pula ia merengkuh pinggangku dan membopongku menuju *walk in closed*. Ia menurunkan tubuhku, lalu memepetkan tubuku ke tembok dengan tangan memagari kedua di sisi lenganku.
"Apa-apaan sih kamu?!"
"Apanya, lihat kamu terlalu galak, Asta. Tapi bukannya aku tak suka, tapi kamu malah semakin membangkitkan hasratku padamu."
Aku mencoba mendorong dadanya dengan menggunakan kedua tanganku, namun benar ia tak bergeser sedikitpun. Karena badannya yang terlalu atletis dan kekar.
"Cukup, Ga! sudah!"
"Sudah apanya? bahkan kita belum memulai apapun," goda Arga, ia masih mendesakku.
"Aku mau ganti baju, Arga. Kamu anak baik, duduk di sana, nanti aku nyusul, oke!" perintahku sambik jari telunjuk menunjuk arah tempat tidur.
Sementara mata Arga menuruti ke mana arah jari telunjukku mengarah, kemudian mengangguk mengerti.
"Jadi kita akan ada dua season setelah ini," ucapan mesum nan konyol yang selalu keluar dari mulutnya.
Wajahku tiba-tiba memerah mendengar ucapan dari laki-laki itu.
"Kenapa wajahmu memerah? kamu ingin? kamu mau? dan kamu sangat tergila-gila padaku bukan?" Ia kembali mendesakku untuk mengakuinya.
"Bukan, jangan mimpi kamu, Arga. Aku hanya ingin segera tidur. Jangan ganggu aku!"
"Baiklah, aku tak akan mengganggumu. Tapi...." Arga mendaratkan ciuman mesra ke landasan bibirku, kami saling mencercap dan mengesap satu sama lain lidah kami saling memanggut, hingga menumbuhkan sesasi bergetar diantara kami.
Ketika Arga melepaskan panggutannya, serasa ada sensasi tak iklas yang timbul dalam hatiku, seolah aku tak ingin lepas darinya.
"Kenapa? mau lanjut? kita lanjut di sana saja," ujarnya dengan tangan menunjuk arah kasur empuk dengan sprai berwarna merah maroon di sana.
Bibirku menipis karena kesal dan mencoba menepis rasa keinginanku untuk bergumul bersama Arga.
"Tidak, lebih baik kamu pergi!" Aku mendorong dadanya sekuat tenaga. Namun kali ini sepertinya ia menyerah dengan doronganku, dan mundur teratur meskipun tawa lepas menyungging dari bibirnya.
"Kamu sungguh kelinci kecil yang lucu, Asta!"
Aku tetap bergeming, dan memilih mengabaikan kata-katanya dan berganti baju.
Sementara Arga berjalan menuju tempat tidur dan menyalakan televisi.
❇❇❇❇❇
Setelah beberapa saat aku keluar dengan piyama tidur senada dengan milik Arga hanya saja piyama ini bukan atasan dan celana, namum terusan di atas paha dengan tekstur pendek tipis dan di tutupi jubah tidur yang menjuntai memanjang hingga selutut.
Arga melihatku dengan mata tak berkedip sama sekali. "Bisakah kamu, mengedipkan mata? aku tak nyaman melihat tatapanmu padaku yang seolah seperti serigala lapar yang siap memangsa korbannya."
Dia hanya mengeluarkan senyuman liciknya. Lalu menarik tanganku untuk masuk ke dalam pelukannya, dia memangku tubuhku mendekap lembut, sesekali ia meninggalkan kecupan di pipi dan bibirku.
"Inilah bahasa perasaanku untukmu, di hatiku selalu ada ruang yang dulu hampa, tapi kamu berhasil mengisinya, Asta. Dan aku pastikan aku tak akan melepaskanmu," pungkasnya dengan mata teduh yang terus memandangi wajahku.
Aku hanya diam mendengar kalimatnya, tanpa berkata apapun untuk mengiyakan atau menyanggah kata-katanya.
"Ayo ... tidur!" ajaknya.
Dia meletakan tubuhku di atas kasur, menidurkan tubuhku, lalu memelukku dengan erat, membenamkan wajahku ke lehernya yang jenjang, aku dapat menghirup wangi maskulin bercampur parfum yang ia pakai, yang sejak pertama menjadi aroma paling aku sukai selama hidupku. Dan kami mulai terlelap.
❇❇❇❇❇❇
Kupaksakan tubuhku untuk bangun dan terduduk, mengumpulkan kesadaranku yang tenggelam dalam tidur nyaman semalam.
"Di mana Arga, dan suara ribut apa di sana?"
Aku berkata dalam hati seraya berfikir.
Lalu tiba-tiba pintu terbuka, dan membuatku benar-benar kaget, Arga memegang pistol berwarna hitam. Mataku terbelalak tak percaya, laki-laki dingin namun sebenarnya lembut bisa berubah menjadi sejahat ini, untuk apa ia membawa pistol ke kamar? apa salahku? apakah ia akan membunuhku?
"Arga, apa itu di tanganmu?!" Aku berseru menatap arah tangan Arga yang membawa pistol itu.
Sesekali Arga menatap ke arahku, lalu kembali menatap ke arah luar kamar tanpa menjawab pertanyaanku.
"Bawa dia masuk ke sini!" perintah Arga dengan suara lantang nan tegas.
"Siapa?" gumamku dalam hati.
Tiba-tiba sosok wanita yang tak asing untukku muncul dari balik tembok dengan kedua tangan dipegang kuat oleh dua bodyguard Arga dengan kuat, sehingga wanita tak dapat berkutik sedikitpun.
"Dudukkan dia di depan mata istrikku, biarkan ia berlutut dan bersimpuh meminta maaf kepada istriku!" ucap Arga lagi.
"Arga, apa ini?! aku tak butuh permintaan maaf darinya, aku sudah memaafkannya," ucapku menatap Arga dengan ekspresi penuh kengerian. Bagaimana bisa suamiku yang biasanya hangat berubah menjadi bengis begini.
"Tidak bisa, dia sudah hampir memisahkan ku dengan mu!" seru Arga dengan wajah masih diliputi aura murka yang amat sangat.
Arga mengarahkan pistol ke kepala Wina yang sudah berlutut di depan tempat tidur di mana aku masih duduk.
"Katakan kamu minta maaf kepada istriku, Wina! atau aku buat kepalamu pecah dengan beberapa peluru yang ada di pistol ini!" perintah Arga dengan suara dingin.
"Arga, aku tak bisa," jawab Wina lirih.
"Bisa!" teriak Arga lagi dengan pistol masih mengarah ke arah kepala Wina.
"Cukup, Ga ... cukup!" kengerian meliputi pikiranku, bagaimana jika Arga membunuh Wina di depan mataku?
Bersambung 😁
Tunggu bab selanjutnya...
Awokwokwok.....
❇❇❇❇❇❇
Hello temen-temen, jangan lupa like, komen, rate bintang 5 untuk Boss Come here Please! yah. Itu sangat penting buat Novi. Karena itu semangat untuk para author-author dalam menulis.
oia, Novi punya rekomendasi Novel seru dan keren dari sesama author.
Judul\= You and I : Love Story Romance.
Karya\= Souvarrel Hellvaelumgladriaxus.
judul\= My Heart is Only For you.
Pena\=Ergina Putri.
Judul\=Nothing is Impossible
Pena\=Septriani Wulandari
Judul\=Pujaku Mayang
Pena\=Azis beck
Eh ... Novi ada grub chat juga loh, kalian bisa lebih deket sama Novi di sana, bisa tanya apapun di sana, nagih update, kreji up, apapun itu kalian bisa lakuin di sana.
Novi tunggu yah temen-temen.
Gumawo
Novi Wu