
Aku sesekali melirik ke arah Arga, yang masih bergelayut gusar karena adegan demi adegan yang ada di film berjudul The Nun tersebut.
"Benar-benar amat sangat menjengkelkan, badan tinggi besar, bahkan terlihat kuat tapi takut dengan film horor" gumam ku dalam hati.
"Asta, aku takut matikan film itu Asta, ku mohon!!" seru Arga sambil sesekali membenam kan wajahnya ke dadaku.
"Kamu mencari kesempatan padaku?!" aku sudah tak tahan dengan kelakuannya, sehingga aku mengeluarkan suara tinggi untuk menghentikannya.
Kemudian ia tersadar dengan tingkahnya dari tadi, dan duduk tegap seolah sedang berakting kuat, "Asta aku mengantuk, bagaimana jika kita tidur dan matikan film itu, oke" perintah Arga.
Dengan cekatan ia meraih remote televisi yang dari tadi ia ketakkan di atas meja lampu, lalu ia menekan tombol power untuk mematikan televisi tersebut.
"Mengapa harus di matikan?" aku memasang muka masam, karena benar-benar kecewa dengan tingkah Arga.
"Aku mengantuk, tidur saja ya! besok kita jalan-jalan,oke! " titah Arga kemudian menarik selimut dan memeluk ku agar aku juga ikut tertidur dengannya.
❇❇❇❇
Sabtu, 13 maret 2020.
Matahari mulai menyingsingkan aura cahaya teriknya, sinar yang muncul dari balik celah gorden berwarna merah metalic menerpa kulit wajahku yang masih terlelap sehingga mendorong ku untuk mengerjapkan mata karena pancaran sinar matahari yang sudah mulai meninggi.
Kulirik jam yang berada di sisi dinding sebelah kanan waktu menunjukan pukul 10 pagi, kutatap kesamping kiri ku. Kulihat Arga masih terbuai dalam mimpi indahnya sambil sesekali memancarkan senyum menyeringai, entah apa yang ia mimpikan.
Aku beranjak dari tempat tidur, menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat buang air yang sudah berada di ubun-ubun.
Aku menghela nafas lega, dan kembali menuju kamar untuk membangunkan Arga yang sama sekali tak bergerak karena terlalu lelap.
"Arga bangun!" ku goyang-goyangkan tubuhnya pelan. Namun hanya gerakan seadanya yang ia keluarkan sambil meracau.
Aku memilih untuk keluar kamar untuk menyiapkan sarapan, entah kenapa setelah benerapa hari keluar dari rumah sakit tubuh ku terasa sangat bugar. Mungkin karena Arga terlalu memanjakan ku sehingga membuatku cepat pulih.
Tak berapa lama suara gaduh terdengar dari arah kamar kami, mungkin saja Arga bangun namun tak mendapati ku berada di sampingnya sehingga membuatnya gusar.
Arga secelat kilat berlari keluar kamar dan turun ke tangga, matanya langsung tertuju pada satu titik dimana aku berdiri sambil asik mengerjakan sesuatu di dapur.
"Kamu sedang apa?".
"Aku lapar, jadi aku membuat sarapan pagi ini," jawabku sambil masih asik dengan peralatan dapur.
"Hentikan! lebih baik kita sarapan di luar," ujar Arga sambil melepaskan semua barang yang sedang ku pegang.
"Tidak, aku ingin masak!"
"Baiklah, aku yang masak. Kamu cukup menunggu di sana!," lagi-lagi dengan serampangan ia menggendongku begitu saja dan di dudukan di kursi dekat dengan meja dapur.
"Kamu ini, kenapa sih? "
"Aku hanya tak ingin kamu lelah," ucapnya kemudian memegang kedua pipiku dan meninggalkan kecupan manis di bibirku.
"Biarkan aku masak, kamu lupa jika suami mu ini adalah chef terkenal di negara ini" imbuhnya lagi.
"Kamu chef ? bukan kah kamu adalah CEO dari perusahaan kosmetik terkenal?".
Arga menaikan kedua bahunya dan pergi menuju meja dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Aku tak yakin dia bisa masak," gumam ku dalam hati.