Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Hadiah Mengecewakan



Asta masih menitikan air mata karena terlalu sakit dengan kejutan yang Arga buat untuknya.


Sementara Arga memandang lekat wajah wanita hamil di hadapannya ini. Ia benar-benar menyesal, kejutan yang ia buat bukan membuat Asta senang tapi malah menambah sakit hati istrinya.


Arga lupa jika wanita hamil memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, karena di semester pertama wanita mengalami tiga serangan hormon sekaligus.


Yang pertama hormon progesteron mempersiapkan rahim untuk menerima sel telur yang sudah dibuahi dengan cara merelaksasi otot rahim dan mencegahnya


berkontraksi.


Yang kedua hormon estrogen berperan meningkatkan aliran darah yang penting untuk memberi makan bayi.


Yang ketiga human chorionic gonadotropin atau hCG dikenal sebagai hormon kehamilan yang berperan memberi hasil berupa garis positif.


di samping perubahan hormon lainnya, tentunya para lekaki harus mengerti betul itu.


"Maaf sayang, jika aku membuatmu terluka. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Arga, dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Apakah kamu mabuk? Aku bahkan tadi mencium bau alkohol di tubuhmu!"


"Ya, aku minum." Arga mau tak mau menjawab pertanyaan istrinya.


"Tuh kan, benar. Kamu mabuk, aku sudah pernah bilang padamu, jangan mabuk!"


"Iya-iya maaf, aku hanya meminum satu teguk, agar aktingku terlihat sempurna," ujar laki-laki itu.


"Lalu siapa yang memapahmu tadi?!"


"Oh, itu pegawai baruku."


Asta terperanjat kaget. "Apa?! Jadi dia sekertaris baru?!"


"Bukan-bukan sayang. Ia adalah pengganti Cherryl yang hari ini aku jembloskan ke penjara," jelas Arga.


"haaa, jadi Cherryl kamu laporkan kepolisi?"


Arga mengangguk lalu memegang pipi istrinya. Dengan sigap Asta menepis tangan Arga. "Sebentar dulu, kenapa Cherryl masuk penjara?"


Arga menghela napas. "Ya karena ia telah mencuri uang perusahaan untuk keuntungan pribadi." Arga tampak lelah menjelaskan kepada istrinya.


"Ih, kamu kenapa sih? Seperti tak mau menjawab perkataanku."


"Karena aku malas membahas wanita itu."


"Lalu, dia jadi ketua tim promosi di perusahaan kamu?" Mata Asta terus memandangi tubuh Fiona yang sedang berdiri di antara Wisnu dan Adamson.


"Iya sayang, dia team leader beauty concultan dan beauty advisor di kantor kita."


Asta menganggukan kepala seakan mengerti kata-kata Arga. "Lalu dia ...." Belum sempat Asta menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Arga memotong kata-kata Asta.


"Apa lagi?" Arga menghela napas.


"Ih, aku belum sempat ngomong, kamu memotong kalimatku!"


"Lagipula apa lagi, sih? Kamu cemburu? Tenang saja. Walau ada 1000 gadis cantik di depan mataku, aku hanya akan melihatmu, meskipun suatu saat kamu berubah menjadi gendut dan jelek."


"Oh, jadi kamu mendoakan aku gendut?!"


Arga menggelengkan kepala. "Bukan begitu, ibu negaraku. Kamu akan selalu menjadi wanita tercantik di dalam hidupku," rayu Arga berharap Asta akan memaafkannya.


"Jangan mencoba merayu, aku tak suka," celetuk Asta.


"Astaga ... Arga sabar-sabarlah," gumam Arga dalam hati.


"Ayo kita tiup lilin kita," ajak Arga, meraih tart yang sejak tadi dipegang pelayannya.


"Siap-siap, satu ... dua ... tiga."


Mereka berdua meniup lilin yang ada di atas tart yang di pegang Arga secara bersamaan.


"Semoga langgeng Mr. Arga dan Nyonya Asta, bahagia selalu," celetuk Wisnu.


Kemudian ia mendekat ke arah Asta dan memberikan sesuatu kepada Asta, sebuah kontak terbungkus kertas kado berwarna merah muda.


"Apa ini, sekertaris Wisnu?" tanya Asta heran.


"Itu hadiah kecil dari saya, semoga nyonya Asta menyukainya."


"Lalu mana untukku?" tanya Arga.


"Ah, saya lupa mempersiapkan hadiah untuk Mr." jawab Wisnu canggung.


"Sungguh kamu pilih kasih. Siapa yang membayarmu?" tanya Arga.


"Anda, tapi tetap saja. Anda dalam kendali nyonya Asta," kata Wisnu dengan maksud mengejek bossnya sendiri.


"Oh, ya kamu benar juga ya."


Sekarang giliran Adamson memberikan kotak sedikit lebih besar yang terbungkus dengan kertas kado serupa dengan Wisnu. Sepertinya mereka berdua mempersiapkan ini semua secara bersamaan.


"Kalian semua jahat padaku," kata Arga, kesal.


Asta dengan cekatan membuka kado dari Adamson dan Wisnu, ia tampak semangat dengan kotak terbungkus di depan matanya.


Ia membuka bungkusan milik adamson yang ternyata isinya adalah sekotak manisan mangga yang tampak menggiurkan.


"Wah ini sepertinya sangat enak, terimakasih tuan Adamson," kata Asta ramah.


Setelah itu ia melanjutkan membuka kotak kado dari Wisnu. Yang setelah di buka ternyata isinya adalah 3 buah batang coklat favorid Asta.


"Astaga, aku suka sekali dengan coklat ini. Bagaimana sekertaris Wisnu tahu?"


Ehem ...


Arga tampak berdehem menyunggingkan dagunya supaya Wisnu berkata bahwa Argalah yang memberi tahunya. Namun Arga kali ini benar-benar menelan pil pahit karena harus menerima rundungan dari sang istri dan para bawahannya.


"Saya selalu melihat nyonya suka membeli coklat itu ketika anda sedang berbelanja," jelas Wisnu.


"Oh, begitu." Kemudian Asta melirik sinis ke arah sang suami yang tampak berdiri mematung di sebelahnya.


"Mana hadiah untukku?" tanya Asta, melirik ke arah suaminya, matanya seolah hendak mencabik-cabik tubuh Arga.


"Asta, kita sedang ulang tahun pernikahan. Secara tidak langsung, kita ini sedang merayakan bersama. Mengapa kamu seolah sedang menyambut euforia seperti ini hari spesialmu sendiri?" gerutu Arga, kesal. Lalu ia bersedekap.


Arga meraih bingkisan itu, kemudian membukanya, ia sangat sumringah melihat kado kemeja putih dari sang istri.


"Kamu sudah mempersiapkannya?"


Asta mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arga.


"Oia sayang. Aku ada hadiah untukmu, tapi ada syaratnya. Kamu harus tutup matamu dengan kain terlebih dahulu," perintah Arga.


"Baiklah kalau begitu." Asta nampak pasrah karena penasaran dengan hadiah apa yang akan di bawa oleh Arga untuknya.


Arga memasang kain penutup untuk Asta. Ia melingkarkan dan mengikat penutup itu di kepala sang istri.


"Nah, sudah siap?" tanya Arga.


"Ya, aku selalu siap, ayo kemana kita akan pergi, Arga?" tanya Asta, penasaran.


Tiba-tiba Arga membopong tubuh istrinya. "Untuk apa kami menggedongku, Arga. Aku bisa berjalan sendiri."


"Aku tidak mau kamu terjatuh dari tangga karena harus berjalan dengan mata tertutup," ucap Arga.


asta menuruti perintah laki-laki itu, kemudian ia melingkarkan tangannya pada leher suaminya. Kemudian mencium bibir Arga. Cup ....


Arga nampak kaget, bukan karena melihat perilaku Asta yang bisa berubah 180 derajat, namun karena ia menciumnya di depan para bawahannya, padahal ia biasanya tak mau memperlihatkan keintiman mereka di tempat umum meskipun Arga memintanya. Kini Asta berbeda lebih bar bar dan berani.


"Sayang, masih ada Wisnu dan yang lainnya di sini," Arga menghentikan langkahnya.


"Memang tidak boleh ya? Rindu dengan suami sendiri," ujar Asta.


"Ya, boleh. Tapikan ...."


"Tapi apa? Aku mau itu," rengek Asta.


"Itu apa?" Arga melanjutkan langkahnya.


"Itu yang tadi," jawab Asta.


"Tadikan udah, kok mau lagi?"


"Memang tidak boleh?!" Asta mulai tersulut emosi.


"Iya, sehabis ini kita tempur, oke?"


Asta mengangguk manja.


❇️❇️❇️❇️❇️


Sesampainya di depan pintu rumah, Arga menurunkan Asta.


Di hadapan Asta ada sebuah kotak besar yang terbungkus dengan kertas berwarna serba merah muda.


Arga menyuruh asta memegang sebuah tali untuk kemudian menariknya agar kado itu terbuka. Arga membuka penutup mata Asta.


Pandangan Asta tampak kabur, kemudian ia memejamkan mata lalu kemudian membukanya kembali untuk mengembalikan penglihatannya.


"Apa ini?" tanya Asta menoleh ke arah sang suami.


"Kado untukmu," jawab Arga.


"Besar Sekali, apakah isinya rumah kecil?" tanya Asta heran.


"Mana ada rumah sekecil ini, Asta," ucap Arga dengan memasang muka datar.


Asta tampak cekikikan melihat sang suami yang mulai kesal karena celetukannya.


"Kamu tarik tali itu!" perintah Arga.


Asta kemudian menarik tali itu.


wallaa ....


Kotak itu terbelah menjadi empat bagian kemudian ratusan balon berwarna merah muda keluar dari sana dan terbang ke langit. Setelah balon itu habis, tampak sebuah mobil mungil keluaran terbaru berwarna merah muda terparkir di dalam bekas bungkusan tersebut.


Asta tercengang kaget, bukannya bahagia, ia malah kesal dengan kado yang di belikan Arga.


"Apa ini Arga?"


"Untukmu," jawab Arga santai.


"Pasti mahal?"


"Tidak. Sama sekali tidak mahal, aku tak sampai menjual rumah untuk membeli ini," jawab Arga, pongah.


"Sombong kamu! Kembalikan mobil itu, aku tak mau menerimanya!" Asta pergi meninggalkan Arga yang masih kebingungan dan kecewa.


"Apa yang salah? Bukankah semua wanita menyukai kemewahan?" gumam Arga dalam hati.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Hai jangan lupa like dan komen ya, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya, agar Novi lebih semangat update. Karena Vote kalian adalah semangat untuk Novi.



Aku ada grup chat, loh. Kali aja kakak-kakak bersedia masuk ke sana. Bisa ngobrol sama aku secara langsung loh. Yuk....


Love u All


Salam cinta


Novi Wu.