Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Ritual Siang Jilid 2



Demi apa aku up lagi? Yah demi kakak2 readers akulah.


Jangan lupa Vote, like dan komen, yah.


Selamat datang dikehaluan tanpa batas bersama Novi Wu.


Pesan bermakna di Part ini, jangan lupa baca setelah buka.


Wkwkwkwkwkwk....


Pov Author.


Arga berguling ke samping tubuh istrinya setelah menuntaskan dahaganya atas tubuh mungil Asta. Asta tampak meringkuk di balik pelukan laki-laki tampan itu. Di atas dada bidang ia meletakkan kepalanya, Sambil bergelayut manja.


"Bagaimana? Suka?" Arga melirik ke arah sang istri.


"Suka apa?"


"Ritual siang," goda Arga, memasang senyum menyeringai licik. Tetapi senyuman itu tidak bermakna untuk meremdahkan martabat sang istri, melainkan untuk menggodanya.


"Woh ... ini mulut tidak bisa direm!" Asta menepuk bibir suaminya dengan lembut. Karena saking gemasnya dengan godaan Arga itu.


Mendapat perlakuan dari Asta, membuat Arga semakin gemas dan memeluk tubuh istrinya itu lebih erat, menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Asta yang putih dan harum beraroma stowberry itu meninggalkan tanda merah di atas pundak Asta . "Kamu, selalu punya sejuta cara, agar bisa membuatku gemas," ujar Arga sembari memeluk sang istri dengan serampangan kemudian mencium Asta dengan begitu brutal.


"Stop-stop, Arga! Aku tidak bisa bernapas."


Arga tak mau berhenti menciumi istrinya itu. Sementara Asta tetap diam tanpa perlawanan. karena pasrah sehingga ia harus memutar cara agar Arga berhenti melakukan aktifitasnya itu


"Ayo berkebun, kamu sudah janji padaku, 'bukan?" tanya Asta, menghentikan ciuman suaminya dengan mengingatkan janji Arga setelah ritual siang ini.


"Mmm ... nanti dulu, kita mandi dulu." Arga menghentikan ciumannya setelah mendengar kalimat ajakan dari sang istri.


"Baiklah aku mandi terlebih dahulu, kamu nanti, 'oke! " Asta beranjak dari tempat tidur, dan menutupi tubuhnya yang polos seperti bayi dengan bedcover berwarna biru dongker yang sejak tadi sudah acak-acakan karena ritual siang yang mereka lakukan.


"Eits ...." Arga menarik ujung bedcover yang menutupi dada Asta. "Untuk apa kamu menutupi tubuhmu di hadapanku, bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku lihat dan aku rasakan?!" seru Arga semakin menarih ujung kain tebal itu untuk menghentikan perlarian sang istri.


"Lepaskan Arga! Aku malu, bisakah kamu melepaskanku sekarang!"


Arga menggelengkan kepala dengan lembut dan jari telunjuk menghadap ke depan. " no ... no ... no, aku akan memandikan bayi kecilku hari ini."


Asta mengkerutkan dahi karena bingung dengan kalimat yang dilontarkan sang suami.


"Bayi? Siapa bayi itu?" tanya Asta bingung.


"Bayiku, tentu kamulah," jawab Arga menarik dengan kuat ujung bedcover itu sehingga membuat Asta kembali ke posisi tidur karena tarikan kuat dari sang suami, sementara pertahanannya roboh, sehingga dadanya terekspos bebas.


"Aaaa ...." Asta berteriak mencoba menutupi dadanya lagi.


Arga terkekeh melihat tingkah sang istri yang begitu terlihat salah tingkah. "Kamu ini kenapa, kenapa malu, aku sudah hapal tiap inchi tubuhmu, aromamu, manis tubuhmu, aku hapal semua, Asta."


Asta mencoba menutup mulut laki-laki itu dengan telapak tangannya. "Diam, Arga jangan ulangi kata-kata itu, aku malu!"


Arga yang awalnya hanya terkekeh berubah menjadi tertawa terbahak-bahak. "Kenapa sih, harus malu? kamu tahukan aku sudah pasti suka semua tentang kamu terlebih parasmu dan tubuhmu. Tubuhmu mengandung magnet maha dasyat yang mampu menarikku, meskipun aku dan kamu berada di ujung dunia yang berbeda, namun aku dapat menemukanmu dengan mudah, karena magnet itu, Asta."


Mendengar gombalan Arga membuat pipi Asta memerah, karena malu. "Apa yang membuat pipimu memerah, Asta?" tanya Arga lagi.


"Ah ... tidak." Asta menggelengkan kepalanya perlahan, karena salah tingkah.


"Cie ... malu ya?" Arga mencubit hidung istrinya dengan lembut.


"Stop! Aku akan mandi sekarang!" Asta beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan santai menuju kamar mandi membiarkan tubuhnya yang polos terekspos dengan begitu nyata di hadapan laki-laki nakal itu.


"Hei, tunggu!" Arga berlari berupaya mengejar sang istri yang mulai dekat dengan kamar pintu mandi.


Dengan beberapa langkah saja Arga mampu menangkap pundak Asta dengan mudah. Namun Asta berupaya melepaskan diri karena ia tahu maksud dari Arga mengejarnya.


"Lepaskan aku Arga, aku bisa mandi sendiri!" teriak Asta, melepaskan diri.


"Tidak bisa, ritual siang ini harus dituntaskan hingga selesai keakar-akarnya, Sayang."


Sedetik kemudian mereka sampai di dalam kamar mandi secara bersamaan.


"Arga, cukup kamu keluar!"


"ckckck ... beginikah caramu kepadaku, yang telah memberi kenikmatan padamu, Sayang?" goda Arga dengan menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Tidak, aku ingin mandi sendiri. Aku mohon," rengek Asta.


"No ... no ...no, aku akan memandikan bayi kecilku ini," goda Arga mencengkeram pundak perempuan di hadapannya itu dengan lembut dan mengarahkannya menuju bawah shower guna mengguyur tubuh mereka dengan air hangat siang itu.


Di bawah rintikan air hangat itu, Arga menempelkan tubuhnya kepada sang istri. menghirup sisa-sisa aroma lembut yang masih tertinggal di tubuh Asta.


Dengan perlahan dia memberikan shampoo di atas rambut Asta, mengusapnya perlahan dan lembut, Arga benar-benar sayang dan penuh perhatian kepada sang istri. Membuat hati Asta selalu terenyuh dengan apa yang di lakukan sang suami terhadap dirinya.


"Aku kadang, takut jika perlakuanmu yang seperti ini akan berubah seiring berjalannya waktu. Aku takut jika akan menjadi Wina yang kedua suatu saat nanti," ujar Asta seolah memberi kalimat penekanan untuk Arga.


Arga mengecup kening istrinya dengan lembut~


Woh ... Bersambung dulu yak 😪


TERSELIP SEBUAH PUISI~


Kumelangkah...


Dalam dekapan senja..


Menatap lembah yang masih perawan..


Mengais sisa-sisa tawa yang tercerai-berai..


Dalam kebun mawar yang elok..


Menambatkan hati yang letih....


Mengusaikan petualangan yang perih..


Memuaskan dahaga di telaga cinta..


Kumenemukan...


Hanya setangkai mawar kelopak merah jambu..


Di antara ribuan kelopak berseri..


Tempat bercengkrama kumbang dan kupu-kupu..


Hanya setangkai..


Mawar elok tanpa duri..


Harum semerbak mewarnai hari..


Hanya dirimu yang kunanti...


Setangkai mawar tanpa duri...


Tetaplah jadi mawarku...


Bontang, Kalimantan 22 Mei 2020


Jo whylant ~ Author Dunia Abimanyu.


 


Haloow temen-temen...


Jangan lupa, Like, Komen dan Rate bintang 5 yah!


Karena itu semangat buat Novi saat nulis cerita ini.


Terimakasih untuk temen-temen yang sudah mendukung Novi sampai saat ini.


Dan semua Vote yang temen-temen berikan buat Novi 🤗


Oia Aku ada beberapa recomendasi Novel Fav yang sering aku baca nih, siapa tahu temen-temen akan suka.


Judul\= U and I: Love Story Romance


Pena\= Souvarrel Hellvaelumgradiaxus.


Judul\=Pujaku Mayang


Pena\=Azis Beck


Judul\= Pedang Naga Api


Pena\=Ricky Wicaksono


Judul\= Penjelajah Malam


Pena\= Sudrun


Judul\= Legenda Sang Monster


Pena\= Adhy Artha


Judul\= Radio Kampus Oren


Pena\=Sofyan Ferry


Judul\= Tragedi Mengubah Hidupku


Pena\= Asep Gunawan


Gumawo


Novi Wu.Â