
Sudut Pandang Penulis.
Arga berlari tak tentu arah namun ia tak mendapati Istrinya di manapun, ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi dan takut jika sang istri meninggalkannya.
"Kamu di mana sayang, aku bisa menjelaskan ini semua," gumam Arga dalam hati. Kemudian ia mengambil ponsel dari balik saku jasnya. Ia mencoba menelepon sang istri namun sama sekali tak ada jawaban.
"Ayolah sayang, angkat! aku akan menjelaskan semua," gerutu Arga setelah beberapa kali ia mencoba menelepon sang istri tapi tak mendapat jawaban, kemudian ia memutuskan kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya.
❇❇❇❇
Mobil Arga melesat cepat membelah jalanam ibukota sore itu dengan rata-rata kecepatan 180/jam ia menuju ke apartement guna mencari sang istri.
Setelah ia sampai di apartemen ia berlari sekuat tenaga menuju unit apartemennya.
Setelah sampai, ia membuka pintu dan mencari keberadaan sang istri yang sama sekali tak bisa ia temukan, dengan secepat kilat Arga menuju walk in closet untuk mengecek apakah Asta pergi membawa pakaian, namun ia tampak bernapas lega karena sang istri tak membawa apapun, dan ia pikir pasti ia akan kembali secepatnya.
Arga terduduk lemas di pinggir kasur empuk tertutup sprai berwarna pink cerah favorid Asta. Ya ... meskipun Arga tak menyukai warna-warna cerah, namun ia menuruti apa yang Asta inginkan karena ia sangat mencintai sang istri.
Arga tampak menghela nafas panjang, ia mengatur pernapasannya sendiri hatinya terasa kosong dan sakit, ia bersumpah akan membuat Wina menderita karenanya.
Pikiran Arga benar-benar kalut hingga ia berfikir untuk menghubungi Jonathan. Namun sama halnya dengan Asta, Jonathan enggan menjawab panggilan ponsel Arga.
Lalu Arga pergi menuju rumah Jonathan guna mencari istrinya, dia menanjapkan pedal gas dalam-dalam hanya untuk agar laju mobilnya kencang.
Dengan perasaan kalut dan frustasi dan sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri, selama perjalanan, Arga tampak melihat ke kanan dan ke kiri berharap sang istri ada diantara manusia-manusia yang berjalan santai di sana, namun tetap hasilnya nihil.
"Sayang ... aku merindukanmu, kembalilah padaku, kembali kepelukanku. Jiwaku terasa kosong saat kamu tak di sampingku," batin Arga dengan air mata sedikit berkaca-kaca karena kalut dan bingung.
❇❇❇❇
Sudut pandang Asta(Aku)
Aku memencet pintu gerbang rumah Jonathan. Tak lama wanita cantik setengah baya keluar dari dalam rumah. ia membukakan pintu untukku.
"Asta ... kamu kemana saja? sudah lama tidak mampir," tanya ibu Jonathan sambil membukakan pintu gerbang. "Ayo masuk!"
"Maaf bibi, kemarin Asta sakit. Jadi Asta memang tidak pernah keluar rumah."
"Oh begitu. Bibi merindukanmu," jawabnya sambil merangkulkan tangannya di pundakku.
"Jo ada, bibi?"
"Ada dia di dalam," jawabnya ramah.
Aku masuk ke dalam rumah Jonathan, aku dipersilahkan duduk di sudut ruang tamunya, rumah dengan nuansa classic dengan ornamen serba retro di mana-mana membuat rumah itu menjadi nyaman sekali.
"Hai, Ta. Tumben kamu kemari?" sapa Jonathan seperti agak kebingungan melihat kedatanganku.
Aku menghela napas, lalu tersenyum penuh ironi seolah menahan tangis dan rasa sakit yang amat dalam. Jonathan sepertinya tahu aku sedang ada masalah. Ia menghampiriku lalu duduk di sampingku.
Aku menunduk dan menggelengkan kepala pelan, tanpa sadar tangisku pecah tak terbendung, air mata deras membasahi pipiku tanpa bisa kukendalikan. "Ar-Arga jahat." Aku terbata tak menyelesaikan kalimatku.
"Jahat kenapa?" Jonathan tampak merasa iba, lalu memelukku dengan lembut seolah ia sedang melindungi adiknya sendiri.
"Aku-aku melihatnya bersama Wina, berciuman di dalam lift kantor Arga." Aku masih terbata dan terus menangis.
Ibu Jonathan yang dari tadi mengambilkan air minum untukku langsung tampak khawatir melihat keadaanku. "Kamu kenapa, sayang?"
"Sedang ada masalah bu, ia sedang bertengkar dengan suaminya," ucap Jonathan menjelaskan duduk permasalahanku.
"Sabar sayang, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
Suara decitan ban yang sedang mengerem diikuti suara gaduh membuyarkan pembicaraan kami.
Duar....
Kami pun terperanjat, dan otomatis menengok apa yang terjadi di luar sana.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tampak aku mengenalinya. Ya itu milik Arga, mobil itu menabrak tembok pagar rumah Jonathan yang nampaknya sudah rapuh.
Kami melihat Arga keluar dengan rambut acak-acakan dan baju terlihat kusut tak berbentuk. Ia melepaskan jasnya dan menyisakan kemeja biru muda yang tadi pagi aku siapkan.
"Itu Arga, kamu tak perlu keluar," Ujar Jonathan menatap wajahku yang tampak khawatir dan syok melihat Arga.
"Nak, Asta perlu menyelesaikan masalahnya dengan suaminya. Kita tak perlu mengaturnya," ujar sang Ibu bijaksana sembari mengusap pundak anaknya yang posturnya lebih tinggi darinya.
"Tapi, bu," Ujar Jonathan tak meneruskan kalimatnya dan melihat aba-aba ibunya yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.
"Asta, kamu perlu membicarakan baik-baik masalah kalian," ujar Ibu Jonathan.
Arga pun masuk membuka pintu pagar yang rusak akibat tertabrak oleh mobilnya, ia mendapatiku di sana. Spontan wajahnya tampak berubah lega. "Sayang." Ia menyapaku dengan senyum mengembang di wajahnya seolah memancarkan kebahagiaan yang amat sangat.
"Sayang. Ayo kita pulang," ucapnya lagi.
❇❇❇❇❇
Rekomendasi novel romantis fantasi keren.
Judul\= The Love Story of a Watergod.
Hai temen-temen terima kasih untuk like, komen, vote dan rate bintang 5nya.
Jika temen-temen berkenan, yuk masuk grub chat aku di Noveltoon ini, kita bisa membicarakan apapun di sana. Dan kalian bisa mengenal Novi lebih jauh.
Gumawo
Novi wu