
👀 Aku kembali!
Arga mengikuti langkah sang istri yang kesal akibat hadiah yang ia berikan, mobil minicopper keluaran terbaru ia tolak mentah-mentah, entah apa yang Asta pikirkan?
"Sayang, apa yang salah dengan hadiahku?"
"Mengapa kamu membelikanku sebuah mobil? Kamu menghinaku? Kamu tahu sendiri, aku tak bisa menyetir mobil."
"Kan kamu bisa pakai supir, untuk mengantarkanmu pergi."
"Kalaupun aku pakai supir, sebenarnya mobil di rumah ini cukup banyak, kenapa harus ada mobil lagi? Sungguh pemborosan. Lebih baik uangnya di alihkan ke hal yang lebih bermanfaat, Arga," ucap Asta.
"Aku hanya ingin memanjakanmu dengan apa yang aku miliki saat ini."
Asta menghela napasnya dalam-dalam kemudian menghempaskannya kembali, ia memgentuh kedua pundak suaminya dengan tangannya yang lentik. "Jujur saja, aku tidak butuh semua itu, Arga. Cukup kamu selalu ada di sampingku saja, itu sudah cukup untukku. Dan terimakasih sudah memberi kehidupan yang nyaman seperti ini," ucap Asta.
Arga tidak pernah tahu, seberapa beruntungnya Asta memiliki dirinya, sehingga wanita itu berpikir ia tak ingin apapun lagi di dunia ini, karena sudah cukup semua hal yang ia inginkan sudah melekat pada diri sang pujaan hati yang ada di hadapannya saat ini.
Arga benar-benar sangat tersanjung mendengar kalimat yang Asta lontarkan, seolah ia benar-benar sangat di butuhkan.
"Tapi jujur saja, jika kamu ingin memberiku hadia, aku hanya ingin satu hal yang benar-benar aku inginkan saat ini," ucap Asta.
"Apakah itu ibu ratu. Hamba siap melayani ibu ratu sekarang juga," jawab Arga, tanpa ragu.
"Hmm, kamu benar-benar akan menurutiku?" tanya Asta ragu.
"Sepertinya perasaanku mulai tak enak." Arga bergumam dalam hati, karena melihat Asta mulai ragu tentang apa yang akan ia lontarkan. Namun meskipun permintaan Asta aneh-aneh Arga akan dengan sabar menuruti keinginan ratu hatinya itu.
"Arga ...."
"Iya, sayang," jawab Arga.
"Aku ingin buah rambutan." Permintaan Asta sungguh membuat Arga kaget, bagaimana bisa ia mencari buah itu di tengah malam seperti ini.
"Besok, ya? Ini sudah malam, Sayang," kata Arga mencoba menenangkan sang istri.
Asta mulai rewel, ia mulai merengek seperti anak kecil yang menangisi karena tidak dituruti perintahnya.
"Aku mau sekarang, pokoknya sekarang!" seru Asta, kemudian berjalan menghentakkan kaki menuju ke kamar.
Sementara Wisnu dan Adamson saling melemparkan pandangan, karena melihat wajah sang boss berubah memelas. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Karena jika Asta meminta sesuatu, itu berati hanya yang harus melakukannya.
"Maafkan kami Mr. Arga. Kami tak bisa berbuat banyak," ucap Wisnu, dengan nada merendah.
"Enak saja, kalian temani aku mencari rambutan! Ayo!" seru Arga. Jujur saja ia sangat kesal dengan Asta, lagi-lagi ia harus mengubur kekesalannya untuk sang istri dan calon buah hatinya.
"Ta-tapi Mr. ...." kata-kata Wisnu kalimatnya tercekat di mulut.
"Tidak ada tapi-tapian, kalian temani aku!"
"Baik Mr." jawab keduanya kompak.
"Baik Mr." Adamson dan Wisnu.
❇️❇️❇️❇️
Pukul 03:00
Asta masih belum bisa tertidur karena masih menunggu buah rambutan yang sedang di janjikan sang suami tadi.
"Kemana sih, Arga?! Sampai jam segini belum pulang," gerutu Asta, mondar-mandir karena cemas menunggu kepulangan Arga.
Hingga Asta tak kuasa menahan kantuk, Arga belum juga kembali dari mencari buah rambutan sampai mentaripun sudah muncul dari ufuk timurpun Arga belum kembali.
Asta menggeliat dan meraba tempat di mana ia biasa melihat Arga tertidur, tapi ketika ia mencari-cari tubuh suaminya ternyata tempat itu masih kosong sejak semalam.
Asta memasang wajah cemberut karena kesal. "Dia sebenarnya mencari buah atau ke tempat hiburan malam?!" Pikiran Asta dipenuhi hal-hal yang buruk tentang sang suami, seolah ia belum percaya seratus persen dengan Arga.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, tampang Arga yang awut-awutan menjadi hidangan pembuka pagi hari di ulang tahun pertama pernikahan mereka. Wajah dan tangan Arga tampak merah-merah mungkin ketika Arga sedang mencari buah rambutan ia di serang oleh ribuan serangga. Sementara itu kemeja yang belum sempat ia ganti sejak kemarin sudah koyak dan lusuh, rambutnya yang biasanya tertata rapi pun sudah tidak bisa di gambarkan lagi. Arga yang biasanya tampil rapi dan tampan paripurna kali ini demi istrinya ia rela menjadi seperti ini.
Asta kaget sejenak, lalu sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. " Ada apa dengan bibirmu? Mengapa terlihat merah dan bengkak?" tanya Asta masih tak bisa menahan tawa.
Arga memasang muka masam dan lusuh. "Ini semua demi hadiah untukmu, aku memetik buah langsung dari pohonnya. Dan di atas pohon itu banyak sekali serangga sampai-sampai aku tadi terjatuh dan sekarang badanku sakit semua."
"Tega-teganya kamu menanyakan buah? Padahal lelakimu dalam keadaan seperti ini?" kata Arga kesal kemudian menghela napas dan berjalan menuju sofa lalu duduk dengan menyelonjorkan kakinya.
"Ulu ... ulu. Suamiku. Pegal, ya? Capek? Sakit? sini aku pijitin," ledek Asta dengan menirukan suara anak kecil.
"mhhh ... gendong," jawab Arga tak mau kalah menirukan suara anak kecil sehingga membuat Asta bergidik.
Asta menepis tangan Arga. "Jijik!" seru Asta, geram.
ha-ha-ha-ha Arga tertawa terbahak-bahak.
"Sana mandi!" perintah Asta.
Arga dengan serampangan mengangkat tubuh Asta, dan membopongnya. "Ayo mandi bersama, kamu belum mandi, bukan?"
"Ih, aku bisa mandi sendiri. Lepaskan aku, lepaskan aku!" Asta berontak berusaha melepaskan diri.
"Asta, ingat bayimu! Jangan terlalu aktif bergerak, menurutlah pada rajamu ini!" perintah Arga.
Arga berjalan ke kamar mandi membuka pintu dan berdiri di bawah shower, dengan satu tangan ia menyalakannya, air hangat keluar dari sana dan mengguyur tubuh mereka.
"Kita belum melepaskan pakaian, Arga!" seru Asta.
Arga melepaskan tubuh Asta perlahan kemudian ia menanggalkan pakaian istrinya satu persatu, beberapa menit kemudian tubuh mereka polos seperti bayi tanpa sehelai benangpun sebagai penghalang.
Laki-laki itu menggosok tubuh istrinya perlahan menggunakan sabun, sementara Asta bergeming menikmati sensasi mandi bersama sang suami.
"Sudah lama aku tak memanjakanmu seperti ini, bukan?" tanya Arga.
"he'em," jawab Asta singkat.
Ritual mandi itu berlangsung beberapa saat. Arga terus membangun keharmonisan rumah tangga mereka, ia sebisa mungkin tidak terlalu sibuk di kantor agar selalu bisa menemani wanitanya supaya Asta tidak lari meninggalkannya dengan laki-laki lain seperti mantan istrinya dulu.
❇️❇️❇️❇️❇️❇️
Setelah semua selesai, mereka berdua berganti baju. Asta mengobati bibir dan kulit Arga yang bentol akibat ulah para semut yang menggigitnya ketika Arga memanjat pohon rambutan semalam.
"Ini lihat ulah para serangga itu, tubuhku jadi merah-merah," gerutu Arga kesal.
"Siapa suruh kamu memanjatnya sendiri?! Kamu punya banyak bawahan yang bisa kamu suruh. Lalu mengapa kamu sendiri yang melakukannya?"
"Tempo hari kamu pernah berkata padaku, jika kamu menginginkan sesuatu, aku harus melakukannya sendiri demi bayi kita."
"Hah, benarkah? Aku lupa dengan ucapanku saat itu. Kapan sih?"
"Astaga, wanita hamil ini! Untung lucu, kalau tidak sudah aku, hih ...." batin Arga kesal.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
❇️❇️❇️❇️
Hallo kakal-kakak terimakasih sudah menantikan chapter demi chapter dari Arga dan Asta.
Jangan lupa Like, komen dan Vote agar aku lebih rajin dalam update novel ini.
Karena Vote kalian adalah semangat untukku.
Salam cinta
Novi Wu