Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Batalnya Pertunangan



Boss Come Here Please! 126


Suara yang riuh tiba-tiba berubah menjadi hening. Sepi seolah menyelimuti pesta pertunangan tersebut ketika suara itu meraung di antara keramaian.


Suara seorang wanita yang seolah ingin menunjukan sesuatu, tapi entah siapa dia.


Semua orang otomatis memalingkan wajah mereka ke arah wanita itu.


Di ujung pintu masuk berdiri seorang wanita dengan perut yang besar mengagetkan semua orang.


"Kamu ingin bertunangan dengan wanita lain, Honey?! Ketika kamu telah berjanji menikahiku dan bertanggung jawab atas kehamilanku!" teriak wanita itu.


Semua mata langsung menelanjangi laki-laki yang memegang tangan Frea, seketika Frea menghempaskan genggaman tangan Sammy.


"Siapa dia, Sam?!" Frea meraung ingin rasanya berteriak, ia seolah dipermalukan dihadapan halayak ramai oleh wanita itu.


Seketika Sammy berjalan cepat ke arah wanita tidak dikenal itu dan menyambar tangannya kemudian pergi entah kemana.


Semua orang nampak riung sambil bergunjing atas kejadian ini. Sang MC pun memecah keramaian ....


"Sepertinya ada kesalahan tehnik," ucap sang MC dengan tersenyum canggung.


Frea berjalan turun dari panggung dan mencoba berlari. Seorang memegang tangannya dan berkata pelan, "Mau kamana?"


"Bukan urusanmu!" jawab Frea ketus.


Zico melepaskan tangan Frea agar dia bisa menenangkan diri. Tuan Arav yang melihat kejadian itu seketika napasnya tersengal dan memegangi dadanya sendiri sehingga menimbulkan kekacauan. Hal itu membuat Frea memalingkan badan dan melihat ayahnya. Ia berlari ke arah Ayahnya yang sudah tak sadarkan diri.


"Ayah!" Frea berteriak.


Semua orang melihat dengan tatapan khawatir dengan keadaan Tuan Arav. Zico dengan cekatan menelepon ambulance agar calon mertuanya mendapatkan pertolongan dengan cepat.


****


Tak membutuhkan waktu lama, ambulance telah sampai sebab rumah sakit Healty Life tidak jauh dari rumah tuan Arav.


Akhirnya ayah Frea telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis, sementara orang tua Sammy tampak tidak bisa berkata apapun atas kejadian yang anak mereka ciptakan. Antara marah, malu dan kecewa kedua keluarga merasakannya. Terutama Frea orang yang paling di rugikan.


Frea ingin ikut masuk ke ambulance, namun ibu tiri dan Yufen melarangnya untuk ikut serta dengan meraka untuk menjaga ayahnya. Seolah mereka ingin menciptakan jika Frea anak yang tidak berbakti kepada ayahnya dan menjauhkan diri dari laki-laki yang telah membesarkannya itu.


Frea menatap nanar ayah yang mulai dipasangi alat terutama ventilator, hingga sampai melihat pintu ambulance tertutup dan pergi.


Frea tak mampu membendung air matanya sendiri, ia menangis sejadi-jadinya sementara para tamu berhamburan untuk pulang kerumah masing-masing.


****


Asta dan Arga menatap Frea dari kejauhan, mereka merasa iba karena sejak dulu ia selalu melihat Frea tidak pernah bahagia dengan hidupnya.


Zico yang berdiri tidak jauh dari mereka memandangi wanita yang ia cintai itu dengan perasaan sedih, ingin sekali ia memeluknya tetapi Zico sudah berjanji tidak akan mengusik Frea dan mengganggu ketentraman hidup Frea.


"Hei ... Bakiak! Apakah ini sikap laki-laki sejati melihat gadis yang ia cintai bersedih?!" ledek Arga, mencibir adik iparnya itu.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Zico benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Hampiri dia, peluk dan hibur dia!" perintah Asta.


"Apakah aku boleh melakukan yang seperti itu?" tanya Zico kebingungan.


"Semua itu ada ditanganmu! Aku hanya bisa berkata, perjuangkan cintamu atau kamu akan menyesal selamanya!" tutur Arga.


"Ayo kita pulang sayang," ucap Asta, lalu mereka pergi menjauh dari Zico yang masih berdiri mematung dan membisu.


****


Perlahan Zico menghampiri Frea yang masih menangis sendiri. Frea kaget ketika tiba-tiba Zico datang dan memeluknya, ia pun tak tinggal diam, Frea memberontak ketika Zico hendak memeluknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Frea mendekap tubuh itu dengan begitu kencang, aliran darahnya yang menegang kini seolah mencair dan beredar seperti semestinya, air matanya yang seolah ingin ia hentikan tanpa ia sandari tumpah dan membanjiri kedua pipinya.


"Tenanglah! Aku bersamamu, Frea," tutur Zico, tangannya mengelus lembut rambu Frea.


Setelah beberapa saat, Frea nampak sudah sediki tenang, dengan inisiatif disi sendiri Zico menawarkan diri untuk mengantarkan Frea ke rumah sakit.


"Ayo jenguk ayahmu, aku takut jika ayahmu sadar kemudian tidak melihatmu, beliau akan bersedih."


Frea mengangguk setuju, dengan bergandengan tangan mereka menuju mobil Zico dan pergi melesat menuju rumah sakit.


Selama perjalanan tangan Zico terus menggenggam tangan berkuku merah Frea, tangan yang lembut dan hangat itu sengaja ia genggam untuk menenangkan hati pemiliknya.


Sesampainya di rumah sakit, semua dokter tampak riuh tidak terkecuali Yufen.


Dia melihat Zico yang datang dengan Frea seketika marah seperti tidak terkontrol.


"Mengapa kamu datang bersamanya?!" dengus Yufen menatap sinis kepada Frea yang berjalan di samping tunangannya.


"Dia kakakmu dan anak kandung ayahmu. Memang apalagi yang aku inginkan? Tentu saja membantunya untuk sampai di sini," jawab Zico santai.


Frea lebih memilih berjalan dan mencoba menjauh dari pasangan itu untuk menuju ruangan rawat ayahnya.


"Mau kemana kamu!" Yufen merampas tangan Frea dan mencengkeramnya kuat-kuat. Membuat Frea sedikit meringis kesakitan.


"Lepaskan aku dokter Yufen! Aku adalah atasanmu! Aku bisa memecatmu sekarang jika aku mau!" seru Frea membuat seisi koridor itu menoleh ke arahnya.


Secara impulsif Yufen melepaskan tangan Frea, sebagai pencitraan dirinya. "Maafkan saya dokter Frea," ucapnya seolah menghormati kakaknya itu. Padahal ia hanya membentuk citra dirinya sendiri.


Frea berjalan melewati mereka berdua menuju ruangan VVIP di mana keluarga pemilik atau rekanan rumah sakit itu dirawat ketika sakit.


Sesampainya di sana ia masih harus di hadang oleh ibu tirinya yang sudah berdiri menunggu suaminya di depan pintu. Saat Frea akan masuk, sang ibu turu dengan kasar berkata dengan lantang.


"Mau kemana kamu perempuan j*lang!"


Frea menatap wajah sang ibu tiri dengan pandangan merendahkan.


"Aku? Aku adalah salah satu dokter di rumah sakit ini dan kebetulan aku adalah atasan di sini. Tentunya aku ingin melihat keadaan pasienku terlebih lagi dia adalah ayahku!" ucap Frea sinis.


Bak disambar petir, ibu tiri Frea kaget mendengar Frea mengatakan hal seperti itu. Mendapat keberanian dari mana ia berani berbuat kurang ajar kepadanya. Tanganya mengepal penuh dendam dan kebencian terhadap Frea namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini di tempat umum, terlebih lagi di rumah sakit ini.


Frea masuk kedalam di mana para dokter sedang menangani ayahnya dengan serius.


"Bagaimana keadaan ayah saya?"


Seorang dokter dengan pandangan cemas berkata, "Ada penumpukan timbunan lemak di dinding arteri koroner."


"Bagaimana bisa, ayahku terkena jantung koroner?" gumam Frea dalam hati.





Bersambung


Apakah Tuan Arav akan selamat? Kalian inginya bagaimana? Jawab Ya atau Tidak dikolom komentar, ya! Karena aku akan menyaring keinginan para pembaca untuk aku wujudkan.


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.


Terimakasih dan Papay