
"Lepaskan aku, Arga. Kamu tak perlu berusaha sekuat ini!" Aku berusaha berontak agar Arga melepaskanku.
Namun nyatanya ia sama sekali tak ada niatan untuk itu, ia malah makin menjadi-jadi untuk memakaikan pakaian untuk ku.
Setelah semua selesai, Arga memandangku dari ujung kepala hingga kaki dengan raut muka puas karena melakukan kehendaknya padaku.
"Nah ... begini cantikkan?" ujarnya dengan tatapan penuh penilaian.
Aku hanya bisa memasang muka masam, sehingga membuatnya terlihat gemas dengan meraih kedua pipiku dan mendaratkan kecupan di bibirku.
Dan benar saja, aku selalu menikmati ini semua. Entah mengapa.
"Oke mari kita jalan-jalan agar kamu tak merasa bosan, Asta."
Aku memang merasa sedikit bosan, namun entah mengapa berdiam diri di dalam rumah berdua dengannya cukup bisa membunuh kebosanan ku.
"Kamu mempunyai tujuan?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggelengkan kepala tak tau tempat mana yang ingin kutuju.
Arga sedikit berfikir karena tak mendengar jawaban dariku. "Bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan?."
"Apakah di sana menyenangkan?" tanyaku dengan penuh antusias.
"Tentu, kamu bisa menaiki berbagai wahana di sana. Dan itu tujuan favorid ku sewaktu kecil ketika akhir pekan," imbuh Arga.
"Baiklah, aku mau."
Arga mengelus rambutku dengan lembut. "Sebentar ya sayang, suami mu ini belum ganti baju," ujarnya santai lalu memandangi tubuhnya yang tanpa sehelai benang, seolah agar aku mengikuti pandangannya.
Aku baru sadar karena dari tadi ia bicara padaku masih dengan keadaa tela*jang bulat, sontan aku memekik karena kaget. "Aaa ... kau tak tau malu." Seketika itu pula aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Arga cukup tertawa puas karena melihat wajahku yang kaget dan mulai memerah, Dan itu membuatnya semakin berhasrat untuk menggodaku dengan kepolosan tubuhnya saat ini. "Bagaimana, Asta? apakah aku seksi?" godanya padaku.
"Pergi! kamu sungguh benar-benar menjijikan, Arga." Aku semakin memekik karena sentuhan intens yang Arga berikan, dan itu cukup membuatnya tak nyaman
Arga tertawa lepas dengan melihat wajahku yang memerah.
Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Tunggu aku disini, oke!" Pintanya.
Seketika aku memilih berlari untuk menghindarinya.
❇❇❇❇❇
Setelah beberapa saat Arga sudah selesai, ia menyuguhkan visual sempurnanya, dengan memakai kaos putih dipadu jaket biru dongker serta celana jeans hitam yang tampak melekat sempurna di kakinya.
"Wah ... apakah benar ia laki-laki yang menikahiku?" gumam ku dengan menahan air liurku sendiri karena terpesona dengan ketampanan Arga.
"Jika kau ingin menyentuh, sentuhlak aku. Bukankah kamu selalu begitu? menyentuhku tanpa permisi."
"Benarkah?" Bibirnya mulai mengusuri pelipisku hingga mendaratkan ciuman sempurna ke arah pipiku.
"Bagaimana jika nanti malam? hari ini kita bersenang-senang hingga malam, oke!" Aku memilih bergeming tak membalas kalimat terakhirnya.
❇❇❇❇❇
Kami tiba di basement apartement untuk mengambil mobil. Tiba-tiba tubuh Arga terdorong hebat sehingga ia melepaskan genggaman tangannya kepadaku.
Aku melihat seorang wanita cantik namun entah kenapa dengan keadaan berantakan seperti tak terurus memeluk suamiku dari belakang. Arga benar-benar murka, dan aku hanya bisa menutup mulutku dengan kedua tangan. Dari mana wanita ini berasal?.
"Wina mengapa kamu kemari?! kita sudah tak ada hubungan apapun lagi!" Arga berteriak kesal matanya melotot tajam ke arah wanita yang ia panggil bernama Wina.
"Siapa dia, Arga?" aku bertanya-tanya.
"Bukan siapa-siapa," jawab Arga singkat mencoba melepaskan pelukan wanita itu yang kini sudah memeluk Arga dari depan dan sepertinya enggan ia lepaskan.
"Aku merindukan mu, Arga. Aku benar-benar tak dapat hidup tanpamu, lihatlah aku tak terurus sekarang, aku mohon kembalilah padaku," rengek wanita itu.
Aku masih bingung dengan situasi ini, aku terus berusaha mengingat siapa wanita ini, hatiku bergetar hebat ketika ia memeluk suamiku di depan mataku sendiri, sungguh membuat mood ku naik dan turun.
"Arga siapa dia?" Aku benar-benar panik melihat Arga.
"Dia mantan istriku, dia tak waras. Lebih baik kamu kembali ke rumah! biarkan aku mengurus ini sebentar," ucap Arga dengan wajah penuh kemarahan.
"Wina ... Lepaskan aku, kita sudah selesai jangan ganggu kehidupan kami!" Arga benar-benar murka, wajahnya memerah ia mencengkeram kuat pergelangan wanita itu.
"Tidak, gara-gara wanita itu, kamu meninggalkan aku!" pekik wanita itu dengan tangan telunjuk yang dia arahkan padaku, aku benar-benar kaget melihat dan difitnah dengan dicap sebagai wanita perebut suami orang.
Air mataku mulai menetes melewati sela mataku dan tanpa aba-aba mulai membanjiri kedua pipiku. "Apa benar yang dikatakannya, Arga? aku adalah wanita perebut, aku merebutmu dari dia? jelaskan apa yang aku lupakan?!" aku berteriak sekuat tenaga, kepalaku mulai terasa sakit, seolah serpihan ingatan mulai bermunculan sekelebat di mataku.
"Omong kosong, kamu tak pernah merebutku, sayang!" seru Arga menenangkan ku dengan masih asik melepaskan pelukkan Wina.
"Tidak! dia telah merebut mu dari ku, sehingga kamu meninggalkan ku," ungkap wanita itu dengan wajah frustasi.
Kepalaku terasa berat seperti terhantam benda berat, seketika itu pula kesadaran ku menurun dan pingsan.
Kemudian Arga melepaskan wanita itu dan menghempaskan begitu saja. "Kau akan menerima pembalasan yang setimpal jika terjadi sesuatu dengan istriku!" Arga mengancam Wina, sehingga membuatnya benar-benar ketakutan.
"Ampuni Aku," pinta Wina lirih sembari tangannya tertelangkup ke depan seperti orang memohon.
"Seharusnya kamu tau aku, aku tak akan melepaskan musuhku begitu saja, ingat Wina kamu adalah target ku selanjutnya!" Arga mengancam wanita itu, sehingga membuatnya benar-benar takut.