Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
Wanita Hamil



Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca dan menunggu hingga bab ini.


dan terimakasih atas like, komen dan vote kalian, tanpa kalian novel ini adalah remahan rangginang.


Selamat datang di dunia halu tanpa batas bersama Novi Wu.


Maaf Slow update.


❇❇❇❇


Menatap bundaran pizza yang hanya termakan sedikit, membuat Arga sedikit kecewa. Padahal ia membeli makanan itu dengan sedikit susah payah karena harus sedikit antre tadi.


Sesuai mandat sang istri ia harus membeli makanan khas itali itu seorang diri tanpa harus menyuruh orang lain. Dalam benak Arga berpikir. "Apakah wanita hamil selalu menjengkelkan seperti ini?"


Arga memandang sosok sang istri yang masih asyik menatap layar televisi, sebenarnya ia kesal namun lagi-lagi kekesalanya terkalahkan oleh cintanya yang buta terhadap wanita ini. Tiba-tiba Asta menolehkan wajahnya kepada Arga dengan memasang muka datar.


"Arga, kamu bilang akan berkebun denganku. Aku menginginkan mangga muda sekarang," ucap Asta.


"Ha-a, mangga muda? Untuk apa kamu memakan mangga muda? Sedangkan kita mempunyai mangga yang sudah matang, tinggal kita menyuruh pelayan mengantarkan kemari, tak perlu repot-repot memetik sendiri, sayang." Arga secara tidak langsung menolak permohonan sang istri. Alih-alih menurut, Asta malah memasang muka masam yang benar-benar tak enak dipandang.


"Apakah kamu tak mau menuruti perkataan wanita hamilmu ini, Arga?" tanya Asta dengan nada suara penuh penekanan sehingga mau tak mau Arga tak ada daya lagi untuk menolak keinginan permaisuri hatinya ini.


"Baiklah-baiklah, aku kalah."


Seketika itu pula Asta terlihat tersenyum ceria, seperti matahari pagi yang memancarkan sinar silaunya.


"Sini aku gendong, menuju tempat yang kamu inginkan," ucap Arga dengan nada lembut tak dibuat-buat.


Asta mengulurkan tangannya yang manja ke pada laki-kaki yang hampir menginjak 36 tahun itu. Saat Arga mulai mendekap tubuh Asta, dan hendak mengangkat tubuhnya, tiba-tiba Asta mual dan memuntakan isi perutnya kelantai.


Hoekkk....


"Kenapa, sayang?" tanya Arga khawatir.


"Aku tidak tahu, sepertinya anakmu ini sangat membencimu, sehingga mencium aroma tubuhmu saja ia benci, hoekkk ...." Arga menekan tengkuk Asta supaya ia mengeluarkan semua yang ia makan sejak tadi. Asta menghela napas sejenak dan lemas setelah memuntahkan isi perutnya. Sedangkan Arga melepaskan pegangannya pada tengkuk Asta.


"Kamu istirahat saja, tak perlu pergi kemana-mana!" perintah Arga. Namun lagi-lagi Asta menatap wajah laki-laki tampan itu dengan tatapan menyeringai yang begitu sadis dan bengis.


"Apalagi? Kamu baru saja muntah. Kamu sedang sakit, sayang," Imbuh Arga Lagi.


"Apakah aku terlihat selemah itu?! Sehingga kamu bilang kamy bilang aku sakit?" Mata Asta semakin melotot tajam manatap tubuh laki-laki tinggi itu.


Sementara Arga hanya bisa menghela napas, mengatur emosinya sendiri menghadapi ibu hamil di hadapannya ini.


"Baiklah ayo!" Arga menuntun tubuh istrinya agar bangun dan berjalan sendiri.


"Bagaimana dengan kotoran di lantai itu?" tanya Asta menunjuk ke arah bekas muntahannya tadi.


"Nanti aku suruh pelayan membersihkannya."


❇❇❇❇❇❇


Sesampainya di kebun mangga yang tepat berada di samping rumah besar ini. Mata asta benar-benar terbelalak kaget, banyak sekali buah mangga yang begelantungan di atas pohon. Di kebun itu terdapat 5 pohon mangga sedangkan tak jauh dari pohon mangga itu ada pohon apel dan jeruk dan buah-buah tropis lainnya. Karena Arga sangat menyukai buah sehingga ia mengelilingi rumahnya dengan kebun buah seperti ini.


"Arga aku ingin memanjat!" seru Asta penuh antusias.


Arga menahan tubuh istrinya yang hendak memanjat pohon mangga itu.


"Eit, mau kemana kamu?"


"Manjat!" seru Asta kesal.


"Kamu lupa, di dalam perutmu ada anak kita yang masih mungil?"


Asta menghentikan langkahnya dan mengelus perutnya yang masih kecil dengan lembut. "Maafkan ibumu, Nak," ucap Asta lirih.


"Kamu duduk di tikar itu!" perintah Arga, rupanya para assistant rumah Arga sudah menyiapkan perlengkapan mereka seperti tikar di sertai sekeranjang makanan dan minuman. "Apakah kamu menyiapakan ini semua? Ini seperti piknik yang aku inginkan, Arga."


"Benarkah? Aku selalu bisa membaca pikiranmu, bayi kecilku," goda Arga.


"Hmmm ....".


Arga melepaskan jas yang melekat sempurna di tubuhnya, kemudian ia juga melepaskan sepatunya yang tampak masih mengkilat kemudian tak lupa ia menggulung kemeja berwarna putih yang ia kenakan sejak pagi kemudian ia bersiap memanjat pohon mangga di depannya itu.


Arga masih tak habis pikir kenapa ia mau saja menuruti keinginan wanita hamil itu, menuruti segala yang ia mau, bahkan hal tergila memanjat pohon mangga hanya untuk mengambil buah tropis yang masih mentah ini. Padahal sejak kecil ia tak pernah melakukan hal seperti ini, karena dulu hidupnya hanya habis untuk belajar les dan hal-hal berguna lainnya.


"Yang mana yang kamu mau, Sayang?!" ucap Arga setengah berteriak.


"Yang itu, di sampingmu!" Asta menunjuk ke salah satu buah yang tepat di samping Arga. Arga mengambil beberapa buah dalam satu tangkai kemudian ia turun.


"Huffttt." Arga menghela napas karena berhasil turun dengan selamat.


"ini, pesanan kamu, Ibu ratu." Arga menyerahkan mangga itu kepada istri.


Wajah Asta tampak berbinar, air liur seolah hendak keluar dari sela-sela bibirnya.


"Apakah kamu suka?" imbuh Arga, lagi.


Asta hanya mengangguk penuh semangat.


"Apakah kamu tak ingin memberi kecupan kepada suamimu ini?"


Asta menatap tajam kemudian melirik bengis ke arah Arga. " Kamu mau aku mengeluarkan isi perutku kembali? Kamu tidak lihat tadi bagamana cara anakmu ini membencimu dan tak mau dekat denganmu?" ucap Asta, sadis.


"Baiklah," jawab Arga pasrah.


"Dan ingat, tidak ada bercinta lagi dalam waktu sembilan bulan!" desis Asta.


"Haaa ...." Arga nampak kaget.


"Kamu tega melihatku seperti tadi?"


Arga menggelengkan kepala lemas, melihat tingkah menjengkelkan Asta.


"Kupaskan mangga ini!" perintah wanita itu.


"Ha ....? Baik ratu, hamba akan mengupas mangga ini untukmu." Arga duduk di atas tikar, mengambil pisau yang tergeletak di atas keranjang makanan berbahan rotan itu.


Ia mulai mengupas sedikit demi sedikit, Arga tampak serius dan tenang melakukan hal yang seumur hidup jarang ia lakukan, apalagi melakukan untuk orang lain.


"Kok ....?" Arga bertanya namun tidak jadi.


"Kamu membuatku gemas, ingin sekali mencium dan memelukmu, Arga."


"Kamu bilang, akan muntah jika berdekatan denganku?"


"Mhhh ...."


"Mhhh? Artinya?" tanya Arga.


"Aku rindu kamu, ingin memelukmu, mendekapmu, dan merasakan itu," jawab Asta tanpa ragu.


"Itu? Kamu bilang tak akan melakukannya hingga sembilan bulan kedepan," tanya Arga, mengingatkan ucapan Asta tadi.


"Jadi kamu menolak keinginanku!" seru Asta, kesal.


"Apakah wanita hamil selalu plin-plan," gumam Arga kesal.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


❇❇❇❇❇❇❇


Kekasihku


Pejamkanlah mata sejenak, resapilah...


ketika cinta datang menyentuh


semuanya akan terasa baru


Cinta... sungguh kata yang indah


namun adakalanya dia meninggalkan luka


karena terkadang tak berujung bahagia


Bagi para sang pencinta


lirik lagu dan bait puisi sering tercipta


untuk mengutarakan isi di dalam hati


yang datang tanpa mereka sadari


Seperti aku yang saat ini


sedang merasakan dan mengalami


tanpa pernah aku mengerti


mengapa semua ini harus terjadi


Hai cinta!


Dengarkanlah aku yang memanggilmu


sebab tak ingin menatapmu dari jauh


mendekatlah, berikan aku sebuah pelukan


meski itu hanya sebuah bayangan


Cinta...


Tahukah kamu, aku sangat butuh itu


walau besarnya cuma setitik debu.


Oleh Adhy Artha ❤


Author Legenda Sang Monster.


Palu, 26 Juni 2020


❇❇❇❇❇


hai kakak-kakak 🤗


Novi punya dua novel baru loh


Judulnya


~ The Love Story of a Water God


Menceritakan kisah cinta dewa air dan manusia.


~ Love is Blind


Menceritakan cinta beda usia antara laki-laki muda dan perempuan yang sedikit lebih tua😂


Jangan lupa Like Komen dan Vote.


Matur nuwun


Novi Wu