Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Kembali



Waktu telah berganti tahun tahun telah dilewati Arga, Asta dan Zico.


Kini Zico tengah menyandang status sebagai dokter spesialis jantung setelah menyelesaikan pendidikkannya.


Sementara Asta sudah bahagia karena memiliki sepasang putra dan putri bernama Rafa Dewantara dan Stefa Dewantara. Rafa anak laki-lakinya berusia delapan tahun semantara Stefa berusia enam tahun, mereka tumbuh dengan baik dengan orang tua yang harmonia.


Zico yang kini berusia 28 tahun ia telah bertunangan dengan Yufensia, mereka telah menjalin hubungan sejak empat tahun yang lalu. Sepertinya ia sudah melupakan bayang-bayang Frea.


Yufen dan Zico tidak pernah menyengka akan bertunangan secepat ini dan akan merencanakan pernikahan tahun depan. Sama-sama memiliki profesi sebagai dokter spesialis jantung membuat mereka bekerja di satu rumah sakit yang sama. Rumah sakit milik keluarga Frea.


seperti biasa Zico disibukan pekerjaan dengan memeriksa pasien satu persatu dengan ditemani beberapa dokter magang dan satu perawat.


Ketika ia sedang asyik membicarakan sesuatu dengan para dokter dan pasien tiba-tiba karena dia berdiri tepat di depan jendela, Arga melihat sekelebat sosok yang ia kenali.


Tanpa pikir panjang ia pergi berlari Zico berlari mengejar sosok itu, membuat para dokter magang dan perawat saling melempar pandangan karena bingung.


Zico terus berlari mengikuti wanita berambut coklat gelap yang rambutnya sengaja dikucir tinggi, ia tengah mengenakan celana jeans biru dan blouse bunga hitam dan putih, separu stilleto hitam dan tas hitam yang menyempurnakan penampilan wanita itu, ia terus berjalan anggun kemudian hilang di salah satu koridor hingga Zico tak mampu menemukannya.


"Di mana dia?" Zico memijit pangkal hidungnya lalu berkacak pinggang menengok ke kanan dan ke kiri. "Aku yakin itu Frea, dia sudah kembali?" Zico terus berkata lirih.


Lalu memilih kembali ke bangsal untuk memeriksa pasiennya kembali.


"Maaf tadi saya seperti melihat orang yang saya kenal" ucap Zico menghela napas, lalu mengeluarkan stetoskop dari saku jas putihnya.


******


Sementara itu di ruangan direktur rumah sakit.


"Ayah!" sapa Frea membuka pintu, ia sangat merindukan ayahnya karena delapan tahun ia tidak berjumpa, kini ayahnya sudah semakin tua, seharusnya ia harus sudah pensiun. ia ingin menyerahkan jabatannya kepada salah satu putrinya, namun selalu Frea yang ada dipikirannya.


Ayah Frea memeluk anaknya sendiri dengan penuh rasa haru. Sebagai seorang ayah, bohong jika ia tak merindukan putrinya. Lagipula ia sudah sangat bangga dengan Frea dengan lulusan terbaik universitas luar negeri. Kini ia pikir posisinya akan ia limpahkan kepada Frea. Sebagai direktur.


Direktur rumah sakit adalah pengelola dan memimpin serta mengadakan perencanaan, pengkoordinasian, pembinaan, pengawasan dan pengendalian operasional rumah sakit. Menetapkan, mengarahkan, mengkoordinir serta mengawasi pelaksanaan pokok pelayanan kesehatan di Rumah Sakit guna mencapai tujuan yang ditetapkan.


"Kamu sudah cukup mumpuni untuk memegang rumah sakit ini," ucap sang ayah.


"Ta-tapi ayah. Yufen juga lulusan terbaik di univesitas dalam negeri."


"Tidak, nak. Keputusan ayah sudah bulat. Kamu yang akan mengemban tugas ini. Ayahmu ini sudah seharusnya pensiun dari segala urusan rumah sakit."


"Aku pikirkan dulu, Ayah. Aku takut jika aku mengurus ini semua akan menjadi kacau."


"Kamu sudah siap, Nak. Ayah percaya kepadamu! Besok kamu mulai aktif, ok!" perintah sang ayah.


"Ta-tapi."


"Tidak ada tapi-tapian," tepis sang ayah.


Yufen telah tiba di ruangan ayahnya, ia ingin menyambut kakaknya. Ia membawa serta Zico bersamanya untuk memamerkan jika mereka sudah bertunangan.


Zico tercengang melihat kedatangan Frea, seolah ia sedang melihat mayat hidup.


Pupil matanya seolah akan melompat keluar ia tidak percaya jika wanita yang ia liat tadi benar-benar Frea.


Frea tersenyum ramah, ia sudah berubah menjadi wanita anggun dan mandiri. Ia juga terlihat tenang melihat kedatangan Yufen dan Zico.


Yufen menatap wajah Zico yang terlihat kaget, ia sangat tidak suka dengan suasana ini lalu wanita berumur 28 tahun itu menyambar tangan Zico lalu merangkulnya.


"Kakak, kami sudah bertunangan," ucapnya dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya.


Frea tersenyum tenang, ia tak lagi meledak-ledak seperti delapan tahun yang lalu. "Aah, kalian tidak mengundangku."


"Bagaimana bisa kami undang, kakak tengah sibuk denga study kakak, hingga tak ingin kembali kemari. Tentu bukan salah kami, bukan," ujar Yufen, menimpali kata-kata Frea.


"Ayah, aku kembali ke apartement. Aku ingin istirahat. Aku dari bandara langsung kemari menemui ayah karena rindu."


"Iya, nak. Kamu yakin akan tinggal di apartement sendiri?" tanya Ayahnya, sedikit khawatir.


"He'em ... Aku sudah terbiasa dengan kesendirian.Begini lebib baik. Bye bye Ayah."


Frea pergi berlalu ia tampak sedikit menunduk dengan Zico yang terus menatapnya dengan seksama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


*****


Frea keluar dari ruangan ayahnya dengan hati pedih laki-laki yang dulu berkata mencintainya kini telah menjadi milik adiknya sendiri. Namun ia tetap tegar dengan menarik napas mencoba membohongi perasaannya.


Tiba-tiba ia disapa oleh seseorang dengan berbaju stelan serba hitam. "Nona."


Frea menoleh menatapnya dengan bingung. Ia tak mengenal laki-laki itu. "Iya."


"Saya di minta bapak, untuk memberikan kunci mobil kepada nona," ucap laki-laki itu setengah membungkuk.


"Ayah saya?" Frea memegang dadanya untuk meperjelas kalimat orang itu.


"Iya betul, Nona. Mari saya antar ke mobil yang sudah ayah nona siapkan."


Frea mengukuti laki-laki itu, dengan langkah santai ia tetap berjalan anggun bak wanita sosialita. Frea terlihat seperti nona muda dari kalangan atas meskipun kini usianya menginjak 29 tahun.


*****


Sesampainya di basement rumah sakit, orang itu menunjukan mobil sedan hitam keluaran terbaru yang tampak masih mulus.


"Ini untuk saya?" Frea bertanya guna memperjelas ucapan laki-laki itu tadi.


"Iya nona, ini mobil untuk anda."


"Tapi ini terlalu mahal untuk saya."


"Mohon nona tidak menolak, ini adalah perintah dari ketua, ayah anda."


"Baiklah aku terima. Terimakasih banyak telah mengantarkan aku hingga kesini."


"Apakah nona masih mengingat jalan di kota ini."


"Of course, aku masih hapal dengan jalan kota ini. Thankyou so much," ucap Frea.


Ia berjalan menuju mobil itu, membuka pintu lalu masuk, tanpa pikir panjang ia menstarter mobil itu dan pergi membelah jalanan ibukota yang seperti ibu tiri bagi para perantau.





Bersambung....


Hai...terimakasih sudah membaca BChP S2 semoga kalian suka.


Terimakasi untuk Like dan komen positif dari kakak-kakak semua, karena itu semangat buat author.


Jangan lupa Vote juga, ya. Terimakasih


Salam


Novi Wu.