Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Bawa Aku Pergi



Frea menatap wajah Asta dengan pandangan memelas, ia harus meyakinkan Asta jika ia tidak bisa lagi pulang ke rumahnya. Ibunya akan terus membujuk ayahnya untuk menjodohkannya lagi.


"Ta-tapikan, sayang ...." Asta mencoba mencegah keinginan suaminya untuk mengantar Frea pulang ke rumahnya.


Arga menghampiri istrinya lalu mengecup lembut rambut beraroma stowberry yang selalu melekat pada tubuh Asta.


"Tenang saja. Aku akan menghandle semuanya sendiri." Arga menenangkan istrinya agar wanita hamil itu tidak mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu.


"Zico, antarkan Frea ke kamar tamu!" perintah Asta.


*****


Malam semakin larut, ketika Arga hendak memejamkan mata dan ingin berdamai dengan mimpinya, tiba-tiba pekikan dari istrinya membuatnya kaget.


"Sayang!"


Arga terperanjat, lalu menatap wajah istrinya yang berbicara sambil menatap langit-langit kamar mereka.


"Apa? Kamu benar-benar mengagetkanku."


Asta menoleh menatap wajah Arga dengan memasang raut wajah serius. Ia memicingkan mata seraya berucap.


"Bagaimana jika keluarga Frea membalas dendam kepada kita?"


Arga menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan seolah ia ingin menenangkan diri mendengar kalimat dari istrinya itu.


"Apa yang kamu khawatirkan sungguh tidak berdasar, mana mungkin keluarga Frea berani melawan keluarga Dewantara. Kami bisa dengan mudah mengakuisisi rumah sakit mereka."


Lalu Asta menatap wajah sang suami yang nampak hanya memasang raut datar.


"Apakah keluargamu seberkuasa itu?"


"Ya, kami memang seperti itu. Dan kamu adalah istri satu-satunya pewaris tunggal Dewantara grup." Lagi-lagi Arga menyombongkan diri dan keluarganya.


"Terserahmu saja, aku mau tidur!" Asta membelakangi tubuh Arga yang sedari tadi menghadapkan diri kepada tubuh Asta.


Arga mendekat lalu mengecup pundak istrinya, wangi yang selalu menjadi candu bak zat sikotropika itu selalu terngiang di otak Arga. Wangi manis nan menggemaskan yang keluar dari tubuh wanita yang ia miliki itu sudah menjadi dopping untuknya.


"Sayang ...."


"Hemm ...." Asta menjawab sekenanya tanpa membalikan badan ke arah Arga.


"Kita telah lama tak melakukan hubungan yang membuat kita semakin solid sebagai suami istri." Arga merengek kepada Asta, meminta sesuatu yang biasa seorang istri berikan untuk suaminya.


"Hem ... Aku sedang malas dan tidak bernafsu untuk itu, Arga."


Arga memasang wajah masam, lalu menarik ujung piyama sang istri.


"Apa sih?"


"Ingin!"


*****


Langit gelap mewarnai hari ini, rintikkan hujan menambah kesyahduan dan dingin yang menusuk tulang telah teresidu menciptakan rasa menggigil di tubuh Arga yang lupa mengenakan pakaian sejak pertarungannya dengan Asta semalam.


Ia meraba samping tempat tidurnya, lalu mendapati istrinya sudah tidak ada di sampingnya, sehingga membuat Arga gusar jika di pagi hari saat ia membuka mata seharusnya istrinyalah yang pertama kali ia tatap.


"Sayang!"


Arga berseru menengok ke sana dan kemari, lalu beranjak mengenakan piyama tidur berwarna merah maroon. Ia mengecek kamar mandi yang telah kosong kemudian ia memutuskan untuk keluar kamar. Menuju dapur mencari keberadaan Asta.


Asta sudah berdiri di depan kompor tengah melakukan sesuatu, sementara para juru masak tengah melakukan kegiatannya masing-masing tanpa memperdulikan apa yang nyonya rumah itu lakukan.


Arga melirik sedikit ke arah mereka lalu berjalan menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang.


"Selamat pagi, bidadariku." Arga mengecup rambut Asta seperti yang biasa ia lakukan tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang mungkin saja para perkerja itu menatap mereka dengan tatapan iri.


"Kamu sudah bangun?" tanya Asta tetap melakukan aktifitasnya.


"He'em, aku mendapatimu tidak ada di tempat tidur dan itu membuatku sangat gusar," ucap Arga manja.


"Ih, kamu sudah tua tidak pantas manja begini, Arga! Mandi dulu, sana!" perintah Asta.


"Mandikan aku, sayang!" jawab Arga, setengah merengek.


"Kamu tidak malu ...."


"Untuk apa malu, anggap saja di dapur ini hanya kita berdua."


Para pekerja menahan tawa sambil tetap melakukan aktifitas mereka, meskipun sesekali mereka melirik ke melihat kemesraan calon ayah dan ibu tersebut.


Zico berkacak pinggang melihat kedua kakaknya tengah memamerkan kemesraan kepada para bawahannya. "Dasar tidak tahu malu!"


Arga menoleh ke arah Zico yang memperlihatkan seolah ia sedang muak dengan tungkah Asta dan Arga.


"Hei, bakiak! Bilang saja jika kamu iri dengan kemesraan kami!"


"Kenapa harus iri?" Zico berkilah, lalu menunagkan segelas susu yang sengaja ia ambil di dalam lemari pendingin.


Zico pergi meninggalkan Asta dan Arga dengan perasaan kesal menuju kamar tamu.


Perlahan ia mengetuk kamar Frea.


Frea sama sekali tidak menyaut ketuka apa lagi membukakan pintu untuknya. Hal itu membuat Zico takut dan segera membuka pintu tanpa memperdulikan apapun.


Perasaan lega bercampur senang ia rasakan ketika melihat Frea masih berdamai dengan mimpinya.


"Frea." Perlahan ia mengguncangkan tubuh gadis itu. Berharap ia bangun. Namun apa yang terjadi raut wajah panik terukir jelas di wajah ayu Frea. Ia mengigau.


"Jangan! Lepaskan aku!" ucap Frea tanpa sadar.


Melihat keadaan Frea membuat Zico khawatir dan mengguncang tubuh Frea semakin kuat. "Frea ... Frea!"


Frea terbangun langsung memeluk tubuh Zico dengab erat. Keringat dingin keluar dari tubuh Frea.


"Kamu bermimpi?"


Zico khawatir, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya kepada Frea, Frea menangis sejadi-jadinya.


"Aku takut," ucap Frea diiringi isak tangis.


"Takut kenapa?"


"Aku tidak ingin pulang, apalagi bertemu ibu tiriku dan Yufen."


Zico melepaskan pelukan Frea menatap wajahnya dengam serius.


"Yufen? Dia itu gadis baik dan lembut, bahkan kamu merundungnya sejak pertama masuk kuliah," kata Zico, menyanggah anggapan Frea.


"Aku yang hidup dengan mereka, aku yang merasakan bagaimana kelicikan mereka, saat mengadu domba aku dan ayahku."


Frea semakin terluka karena mendengar perkataan Zico, sementara Zico tidak bisa serta merta percaya begitu saja, ia harus menastika betul-betul perkataan Frea.


"Nikahi aku, bawa aku pergi!" pinta Frea.






Bersambung


------------


Hai....


Para pejuang Rindu


Yang tergopoh-gopoh memanggul rindu


Sudah berapa kali ia meredam rindu


Rindu yang selalu menyayat kalbu


Ketika keinginan bertemu semakin menguar


Tak tahu apa yang harus dilakukan


Jarak pemisah adalah alasan rindu terjalin indah


Bahkan rangkaian notifikasi pesan tak bisa mewakili bahkan mengobati


Kata orang rindu itu indah


Tapi bagi para pejuang rindu, hal itu sungguh menyiksa


Tak ada penawar racun untuk rindu


Haruskah aku terpuruk sendiri sebagai pejuang rindu?


Novi Wu


Semarang, 23 September 2020


------------


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE yah Teman-Teman.


Love U All


Novi Wu