Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Prank



Maaf jika tidak sesuai jadwal up yah, Teman-teman karena aku ada jadwal Real live yang tidak bisa aku tinggalkan. Semoga kedepannya bisa update tepat waktu. Terimakasih untuk supportnya. Tanpa kalian Novel ini hanyalah serbuk kayu.


Novi Wu


Author halu.


❇❇❇❇


Waktu menunjukkan pukul 18:00 tidak seperti biasanya, Arga tampaknya malam ini sedikit pulang terlambat. Asta mercoba beberapa kali menghubungi laki-laki itu. Namun tetap saja tak ada jawaban meskipun tersambung.


"Kemana sebenarnya, Arga? Mengapa tak memberi kabar?" gumam Asta dalam hati. Sunggu perasaan yang campur aduk antara marah dan khawatir. Tak seperti biasanya Arga selalu menghubungi dirinya jika ingin pulang terlambat.


Beberapa kali wanita hamil ini juga mengirim pesan pendek ke ponsel suaminya, namun sama sekali tak ada balasan. Entah apa yang sedang di lakukan lelaki itu.


❇❇❇❇


Hingga waktu menunjukan pukul 23:00 Arga belum juga datang, mata Asta mulai berat, ini sudah jamnya untuk memejamkan mata, namun alih-alih memejamkan mata, ia tampak masih sibuk memikirkan Arga. otaknya dipenuhi tentang kemana imamnya pergi? Sedang apa? Di mana? dan dengan siapa? Otak Asta bermain-main dengan khayalan yang tak masuk akal.


Sesekali ia memandangi ke arah luar jendela kamar, guna memastikan apakah suaminya akan pulang. Bahkan ia terus menggigit kukunya sendiri karena khawatir.


23:30 hampir tepat tengah malam, padahal ini adalah detik-detik menuju universary satu tahun pernikahan mereka. Bukannya merayakan atau makan malam romantis, Asta harus direpotkan dengan hatinya yang gundah karena laki-laki 35 tahun itu.


Sorot lampu tampak perlahan muncul dari kejauhan. Mobil sedan keluaran terbaru itu muncul. Ya, Arga pulang.


Wajah yang sebelumnya lesu kini berubah sumringah. Asta langsung bergegas keluar kamar untuk. Menuruni tangga putar berwarna coklat di rumah mewah itu.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia memandang lekat ke arah sang suami yang masuk ke dalam rumah dengan cara berjalan yang sempoyongan. Di sebelahnya seorang wanita cantik nun seksi memapahnya, sementara Wisnu berjalan di belakang mereka.


Lidah Asta kelu tak mampu berkata-kata lagi. Ada apa ini? Apa yang Arga lakukan? Siapa wanita cantik yang memapahnya? Pikiran buruk menggerayangi otak Asta. Seolah ia bisa merasakan akan ada hal buruk.


Wanita itu meletakan Arga di sofa ruang tamu, sementar Arga tampak tak sadar dan terus merancau tanpa henti. Saat memandang wajah Istrinya matanya sayub setengah menutup lalu berkata. "Sayang, kamu belum tidur? Jangan banyak pikiran, nanti anak kita yang ada di perut ikut setres.


Asta menatap datar wajah sang suami yang terus merancau. Sesekali ia melirik wanita yang datang bersama Arga. Wisnu sepertinya merasakan kegundahan Asta sehingga ia sedikit menjelaskan tentang asal usul wanita itu.


"Maaf Nyonya, perkenalan ini Fiona ia adalah sekertaris baru Mr. Arga?"


"Sekertaris?" jawab Asta mengkerutkan kening karena heran. Atmosfir rumah itu terasa gelap seketika karena seolah tahu jika Hati Asta sedang diliputi amarah.


Dengan sedikit ragu Wisnu menjawab perkataan Bossnya itu. "Iya, Nyonya."


"Lalu apa guna kamu di sini? Untuk apa? Dan mengapa harus ada sekertaris lain?" Mata Asta terus memindai ke arah Fiona seolah sedang menelanjangi wanita cantik itu.


"Maaf Nyonya Asta, Wisnu sudah cukup lama menjadi orang kepercayaan Arga, sementara saya adalah sekertaris urusan kantor," jelas Fiona dengan penuh percaya diri.


Asta memandang Wisnu dengan tatapan menyeringai. "Jika kamu tak sanggup handdle pekerjaanmu, lebih baik kamu berhenti dari sekarang! Dan biarkan aku yang mencari penggantimu!" Suara Asta makin meninggi karena kesal.


Wisnu menunduk meminta maaf kepada wanita hamil di hadapannya ini. "Maafkan saya Nyonya. Ini perintah langsung dari Mr. Arga."


"Lalu apa ini? Mengapa dia jadi seperti ini?!" tanya Asta mulai marah, suaranya tetap meninggi bahkan wajahnya merah padam.


"Mr. Arga pergi ke tempat karaoke untuk menyambut kedatangan Fiona, kemudian tanpa sadar beliau minum dan mabuk."


Asta bersedekap, lalu menatap jengkel tubuh Arga yang acak-acakan. Ia sedikit menajamkan indra penciumannya dengan mengendus tubuh Arga, tercium bau alkohol di sana. "Eummmhh ...." Asta mengipas-ngipaskan tangannya ke arah hidungnya sendiri. "Bau sekali kamu, Arga!" seru Asta.


"Silakan kalian urusi boss kalian, aku lebih baik pergi tidur. Percuma saja aku menunggu hingga selarut ini. Namun aku hanya diberi pil kekecewaan. Kemudian ia pergi menuju tangga lalu naik menuju kamar.


"Penyakit Arga mulai kambuh, ia kembali ke kebiasaan dulu. Sungguh menjengkelkan, lebih baik besok aku pergi saja dari rumah ini," gumam Asta kesal.


❇❇❇❇


Sementara itu.


"Bagaimana aktingku?" tanya Arga kepada para anak buahnya.


"Sungguh sandiwara yang epic, Mr. Anda memang jagonya," jawab Wisnu.


"Tapi sepertinya anda dalam masalah besar, mr." timpal Adamson.


Arga mengangguk. "Ya, aku paham," jawab Arga singkat.


Arga melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Pukul 23:50 sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberi kejutan untuk bayi kecilku," ujar Arga.


Tak lama seorang pelayan muncul membawa roti tart cantik berwarna merah muda, warna kesukaan Asta, kemudian menyerahkan tart itu kepada Arga.


"Ayo kalian ikut aku! Aku tak kuasa menerima kemarahan wanita hamil itu seorang diri," perintah Arga.


Sepertinya Arga juga takut dengan murkanya Asta jika ia sedang marah.


Mereka berjalan perlahan menuju lantai dua. Dan tak lama mereka sampai di pintu kamar berwarna coklat besar yang terletak di sudut pojok itu. Suasana tampak tegang karena mereka takut dengan Asta.


Arga yang ada di barisan depan membuka pintu secara perlahan. Lampu kamar di matikan sehingga membuatnya gelap gulita dan hanya menyisakan lampu tidur yang remang-remang di dekat tempat tidur. Arga meminta Adamson menyalakan lilin angka satu yang sejak tadi belum hidupkan.


Ia takut jika Asta menumpahkan kemarahannya kali ini.


Arga memberi aba-aba kepada bawahannya.


"satu ... dua ... tiga ...." bisik Arga.


"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang," ucap Arga. Sementara Wisnu menyalakan lampu kamar Arga.


Asta bergeming dengan kehadiran mereka, ia tetep berbaring di bawah selimut membelakangian mereka.


Sementara Arga dan bawahannya saling melempar pandang karena kebingungan, melihat Asta. Arga menyerahkan tart kepada Wisnu. Kemudian menghampiri tubuh wanita hamil tersebut.


"Sayang," sapa Arga memegang pundak sang istri.


Air mata deras mengalir membasahi pipi Asta. "Sayang, maafkan aku," ucap Arga sekali lagi.


"Pergi kamu! Bersenang-senanglah dengan sekertaris barumu!" Seru Asta, marah.


"Maafkan aku sayang, aku hanya main-main," ucap Arga menyesal.


"Kamu pikir, hatiku hanya mainan, ha?!"


.


.


.


.


Bersambung ....


Tunggu part berikutnya.


❇❇❇❇❇❇


Aku termenung


Menatap noda-noda hitam


Sebening telaga tenang


Menghakimiku yang terpekur diam


Menunggu dalam resah dan gundah


Sisa tangan berlumur darah


Dalam saksi bisu tanah merah


Kala menanti datangnya makamah


Cermin Kehidupan….


Bentangkan layar putih pengakuan


Yang menjadi rahasia alam


Pada gelap dan kesunyian


Terhimpit kaca bening


Ujung harapan tak kunjung tampak


Kala aku bercermin ulang


Kembali aku terpekur diam


Someone


6 Juli 2020


❇❇❇❇


Terimakasih like komen dan Votenya teman-teman tanpa kalian aku bukan apa-apa.


Terimakasih


Novi Wu