
Boss Come here Please! 120
Napas Frea terengah kakinya bergetar hebat dan bahkan jantungnya berdetak kencang seolah ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri saat Zico melakukan hal yang tak senonoh kepadanya. Bahkan rasanya ia ingin menampar Zico sekencang-kencangnya agar ia tersadar.
Frea masih mencoba berontak dengan kekuataan yang seadanya, berteriak pun tidak akan bisa membantu karena ruangan ini kedap udara, sehingga dari luar tidak akan mendengar suara Frea.
Zico masih terus mencoba merangsek untuk menyentuh gundukan kenyal yang ada di dada Frea, sekuat tenaga Frea menepis tangan Zico, tetapi sia-sia saja karena Frea kalah tenaga dengan laki-laki 28 tahun itu.
Dengan kasar dan serampangan Zico membuka baju Frea satu persatu dengan merusak beberapa kancing dan reseleting yang ada di rok dan bajunya sehingga menyisakan kain penutup berwarna merah yang menutupi area kewanitaannya dan gundukan kenyal yang ada di dadanya.
"Zico!" Frea berteriak, bukan untuk mencari bantuan tetapi agar Zico sadar dengan perbuatan yang ia lakukan. Akan tetapi iblis berbengkus napsu telah menjalar bebas merasuki otaknya, Zico hanya bergeming mendengar teriakkan Frea yang cukup menusuk telinga.
"Zico Please! Zico sadar!" Frea masih mencoba menyadarkan Zico. Laki-laki itu menekan kedua kaki Frea dengan dengkul kakinya agar Frea tidak lari, kemudian ia menanggalkan bajunya satu persatu.
Saat penekanan kakinya terasa melemah, dengan kekuatan penuh Frea mendorong tubuh Zico hingga terhempas di ujung Sofa. Kemudian dengan sisa kekuatan yang ia miliki Frea berlari menuju ke dalam kamar, tentu saja Zico tidak tinggal diam. Pria itu dengan wajah suram mencoba meraih Frea yang sudah berada di ambang pintu, dengan cekatan Frea menutup pintu kamar dan menguncinya, agar Zico tidak bisa masuk dan melakukan Aksinya.
Tentu saja Zico tidak tinggal diam napasnya memburu menggedor-gedor pintu kamar Frea, kejantanannya yang semula tegak kini telah layu karena kecewa.
"Zico ... aku akan memaafkanmu. Aku tidak akan melaporkan kepada pihak berwajib tentang apa yang kamu lakukan saat ini kepadaku. Pergilah aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Suara Frea bergetar, bulir air mata merangsek jatuh bertubi-tubi ketika mengucapkan kalimat itu. Bahkan kakinya saja masih bergetar karena mengalami pelecehan yang akan dilakukan oleh orang yang ia cintai itu.
Mendengar kata 'Aku tidak ingin melihatmu lagi' membuat Zico tersadar bahkan ia menampar pipinya sendiri atas kebodohan yang ia lakukakan kepada Frea, dengan tangan dan pipi yang menenpel di pintu kamar Frea, Zico pun meneteskan air mata menyesali perbuatannya. "Maafkan aku ... Aku sangat menyesal melakukan hal itu, Frea. Aku khilaf setan telah merasuki pikiranku tadi. Aku mohon maafkanlah aku."
Frea menarik napasnya dengan suara terisak ia berkata,"Aku telah memaafkanmu, Zico. Aku akan melupakan hal ini dan aku mohon jangan menampakan batang hidungmu lagi di hadapanku!"
Zico terlihat gusar mendengar kata-kata Frea, bagaimana bisa ia hidup tanpa Frea, bahkan selama delapan tahun ia berpisah dengan prempuan yang ia cintai ini napasnya terasa sesak untuk melawati hari demi hari tanpa Frea.
Laki-laki bodoh ini telah menyesal melakukan hal gila yang ia lakukan, ia benar-benar akan kehilangan gadis yang ia cintai saat ini.
"Lebih baik kamu pergi!" perintah Frea dengan suara lirih namun tetap bisa didengar oleh Zico yang berada di balik pintu.
"Ta-tapi ...."
"Pergi!" Frea berteriak untuk mengusir Zico dari rumahnya.
Zico pasrah dengan apa yang akan ia alami dengan mencoba mengambil jalur pintas untuk memiliki Frea.
Satu persatu ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai berwarna putih itu, kemudian ia mengenakannya. Ia berjalan keluar dengan langkah lemas menyesali perbuatannya.
Sementara Frea menangis tersedu dan menghempaskan tubuhnya begitu saja di kasur empuk terbungkus sprai berwarna hijau daun itu.
Ia berpikir sejenak, otaknya kacau jika mengingat kejadian yang baru saja ia alami ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
Lalu bergegas dan berjalan menuju kamar mandi, menyalakan air dan mengatur suhu hangat shower kamar mandinya. Tubuh polosnya kini telah basah, ia mengambil sabun beraroma cherry blossom favoritnya, ia menghirup kuat-kuat aromanya guna menenangkan otaknya yang sedang kacau.
*****
Zico berjalan lunglai tak tentu arah, ia merasa sangat bersalah melakukan hal demikian kepada prempuan yang ia cintai. Bagaimana jika Frea membencinya? Pikiran itu berputar terus menerus menembus otaknya, lalu ia masuk ke dalam mobil, kedua tangannya memegang stir kemudian ia membenturkan kepalanya ke arah stir mobil dengan begitu keras.
"Zico, kamu laki-laki bodoh!" serunya, dengan tangan memukul-mukul stir mobil kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya.
"Kamu bodoh, Zico! Bagaimana jika dia membencimu!" Zico mengutuk dirinya sendiri.
"Kamu pantas, mati Zico!" umpatnya lagi.
Laki-laki itu memasukkan kunci mobil kemudian menstarter mobil sedan hitam hasil jerih payahnya sendiri, ia menginjak pedal gas kuat-kuat sehingga menciptakan sensasi menyetir bak pembalap dan menguji adrenalinnya sendiri. Sepanjang jalan bulir air mata terus membasahi pipinya dan terus mengutuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba ia berhenti di pinggir jalan, lalu mengambil ponsel dalam saku celananya, menekan nomor Frea.
Frea tampak lama mengangkat panggilan telepon Zico, mungkin saja ia sudah tidak sudi menerima panggilan itu.
Zico kemudian mengirim pesan singkat kepada Frea agar ia setidaknya mau membaca isi pesan Zico.
Maafkan aku, Frea. Aku menyesalinya bahkan jika aku mati malam ini'
satu menit kemudian ponselnya berdering, nama Frea dengan akhir emoticon love tengah memanggil. Tanpa pikir panjang Zico mengangkat panggilan tersebut.
"Kamu di mana?!" ucap Frea dari balik telepon. "Jangan pernah melakukan hal bodoh!"
"Aku sedang di jalan. Tidak akan ada yang tahu umur manusia, Frea. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku takut jika umurku tidak sampai esok hari." Suara Zico tampak berat.
"Diam kamu! Kamu sedang kacau sekarang. Aku telah memaafkanmu. Tolong jangan lakukan hal bodoh!"
"Aku mencintaimu!" Zico menutup sambungan telepon Frea, dan itu membuat Frea sangat khawatir.
•
•
•
Bersambung
Ea ea siapa yang kecewa??????
Jangan lupa Like komen dan Vote, yak.