
Boss Come Here Please! 133
Mata Frea berkaca-kaca mendengar ucapan Zico yang meyakinkannya, jika mereka sebenarnya telah di satukan Tuhan meskipun dengan cara berbeda.
"Apapun yang terjadi, jika itu takdir maka ia akan menemukan jalan untuk menemukanmu," imbuh Zico, meninggalkan kecupan mesra di kening Frea.
Lalu tiba-tiba Zico tersenyum, memandang tubuh polos Frea yang hanya tertutup selimut sebatas dada.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Frea, kesal.
"Akhirnya. Terimakasih Tuhan, engkau telah mengabulkan penantianku selama ini!" seru Zico.
"Hah ... Maksud kamu?"
Zico memeluk tubuh Frea lalu menciumi bibir Frea dengan kasar dan serampangan yang membuat mata Frea terpejam.
"Aku memilikimu! Seperti mimpi! Kamu sungguh sulit untuk diraih."
Mereka saling mendekap dan berpelukan layaknya suami dan istri pada umumnya. "Sejak pertama aku bertemu denganmu, waktu kamu menyelamatkan Yufen dariku. Aku sudah mencintaimu, dan selalu mencintaimu sejak saat ini dan semakin bertambah seiring seringnya kita bersama, kapan kamu mulai mencintaiku?"
"Mhhhhh ...." Mata Zico naik ke atas, seraya berfikir. "Ketika kamu meninggalkanku pergi, aku baru mengetahui rasa dari kehilangan. Aku hampir gila karena itu, bahkan kakiku lemas saat itu dan tidak bisa pulang ketika melihat pesawat yang kamu tumpangi lepas landas," imbuh Zico.
"Aku pernah memintamu menikah denganku. Tapi apa ...." ucap Frea dengan nada lirih.
Zico menangkup pipi Frea yang tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Melabuhkan bibirnya dan mengaitakan lidah mereka dan membuatnya menari-nari di dalam rongga mulut Frea, saat Zico melepaskan kecupannya, Frea malah menekan pundak Zico sambil terus mencercap dan mengerasap bibir tipis Zico yang menurutnya kenyal dan manis.
Laki-laki itu tersenyum tipis mendapatkan perlakuan seperti itu. Tak lama Frea kembali melepaskan panggutan bibir Zico, napasnya tampak terengah dan matanya seketika membuka.
"Aku mencintaimu, Frea!" ujar Zico dan mengecup kening istrinya. "Setelah sampai ke kota kita. Aku akan meresmikan pernikahan kita, aku berjanji." Memeluk tubuh Frea dengan sangat erat.
******
Esok hari, ketika matahari masih malu-malu menampakkan cahayanya yang rupawan, Frea dan Zico berpamitan untuk kembali ke camp pengungsian. Karena mereka telah menyelesaikan tugasnya sebagai syarat bisa pergi dari sini.
Frea sebenarnya masih ingin berada di sini, bersama orang yang baik dan tulus dengannya meskipun mereka baru saja saling bertemu. Namun mereka sudah seperti keluarga sendiri.
Gadis itu memeluk tubuh istri tetua yang ia anggap sebagai ibu, karena ia benar-benar berperan seperti ibu untuk Frea, menjaganya saat masih berada di desa ini. Frea bersyukur bisa merasakan kehadiran seorang ibu meskipun hanya beberapa saat saja.
Para penduduk desa melepas mereka dengan sedih dan berderai air mata, sementara semua laki-laki mengantarkan mereka berdua hingga sampai ke camp pengungsian dengan sebuah perahu secara beramai-ramai.
Sesampainya di camp pengungsian semua orang menatap mereka dengan tatapan aneh seolah Frea dan Zico adalah orang aneh yang baru keluar dari suatu tempat. Namun memakai pakaian adat desa pedalaman yang sangat jarang tersentuh manusia bahkan mereka jarang berbaur di dunia luar. Sehingga mereka mengira Frea dan Zico adalah penduduk desa pedalaman itu.
Tiba-tiba dari kejauhan sosok yang tidak asing bagi mereka berdua berlari ke arah Zico dan Frea dan langsung mememeluk Zico dengan erat.
Namun Zico bergeming tangannya terus menggenggam tangan Frea, pada saat Yufen melepaskan pelukkannya kepada Zico ia terus menatap tangan mereka yang saling mengait satu sama lain.
"Ada apa ini?!" sembur Frea seolah ia sedang murka, melihat sepasang kekasih yang tangannya saling terpaut.
"Aku telah menikah dengan Frea," jawab Zico, santai.
Frea hanya diam dan menundukkan kepala seolah dia merasa bersalah pada Yufen. Karena telah merebut tunangannya.
"Apa?! Bagaimana bisa?" tanya Yufen dengan nada tinggi.
"Kami telah menikah dengan adat salah satu suku di daerah sini."
Yufen mengkerutkan dahi seraya berfikir, dengan kasar ia melepaskan gandengan tangan sepasang suami istri tersebut.
"Tidak sah!" seru Yufen.
Zico meraih tangan Frea kembali dan menggenggamnya semakin erat. Agar Yufen tidak bisa memisahkan tangan mereka.
Yufen menatap mereka berdua dengan tatapan menyeringai senyuman sinis terukir jelas di bibir. Ia berkata dengan nada yang pongah dan dagu sengaja ia angkat naik seolah sedang menilai Zico dam Frea.
Sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta itu tetap bergeming enggan memberi tanggapan atas ucapan yang di keluar dari mulut Yufen.
"Kalian mau melihat jasadku?" imbuhnya Lagi.
Mata Frea langsung menatap wajah Yufen dan berkata, "Jangan lakukan hal bodoh, Yufensia!"
Yufen mengkerutkan kening seolah tidak tenang dan kembali mondar mandir di depan Frea dan Zico.
"Kalian yang mau! Dan kamu, Zico!" tangan Yufen langsung menunjuk ke arah muka laki-laki itu. " Mana janjimu menikahiku!"
Zico malahan mengangkat bahunya seraya memasang wajah datar seolah ia ingin menunjukan ketidak tahuannya.
"Kapan aku mengatakan hal demikian? Aku bertunangan denganmu tapi tidak pernah berjanji menikahimu!"
Yufen terkekeh, lalu menunduk dan memegang kedua lututnya sendiri dan sedektik kemudian ia mengibaskan rambut dan kembali menunjuk muka Zico dengan jari telunjuknya.
"Kamu bilang tidak ingin menikah tapi mau bertunangan?! Omong kosong macam apa ini?" tanya Yufen dengan nada tinggi.
Sedetik kemudian Yufen mengeluarkan sebuah pisau lipat yang tampaknya sejak tadi sudah ia siapkan di saku jasnya. Ia lalu mengarahkan pisau itu di pergelangan tangannya sendiri seraya mengancam.
"Kamu ingin melihatku terbujur kaku di sini, Zico?" kata Yufen lirih.
"Yufen jangan lakukan itu!" teriak Frea memasang wajah khawatir.
"Diam kamu wanita j*lang!" umpat Yufen kepada kakaknya sendiri.
"Biarkan saja dia, Frea. Aku yakin dia tidak akan berani!" Zico menenangkan Frea agar ia tidak khawatir.
"Kamu bilang aku tidak berani?" Tangan Yufen teriris darah segar keluar dari sana meninggalkan luka mengaga di tangan Yufen.
"Yufen!" teriak Frea.
Pandangan Yufen seketika kabur, ia tergeletak tak berdaya di atas rumput hijau dengan tangan penuh darah.
Dengan cekatan Zico mengangkat Yufen seraya berlari menuju tenda rumah khusus rumah sakit healty life.
Beberapa dokter dan perawat menatap kedatangan mereka dengan tatapan aneh. Karena sejak beberapa hari mereka tidak melihat Zico dan Frea, sampai semua orang mencarinya kemana-mana, dan kini mereka datang dengan Yufen yang bersimbah darah.
"Ada apa, dok? Dan dari mana saja anda?" tanya seorang dokter kepada Frea yang nampak kebingungan.
"Jangan pikirkan saya! Tolong tangani dokter Yufen sekarang!" perintah Frea bertindak sebagai seorang atasan.
Semua dokter sibuk menangani luka Yufen yang masih tak sadarkan diri.
•
•
•
Bersambung.
Semoga pernikahan mereka selamat, ya? Semoga mak Lampir itu tidak merusaknya.
😭😭😭😭
Jangan lupa tinggalin pendapat kalian di komentar, 'ya!
Like dan Vote juga aku tunggu
Terimakasih dan Papay.