
Siapin mental yah! detik-detik menuju konflik. Biar greget gitu....
😁😁😁😁
Aku membolak balikan badanku ke sana ke mari, entah mengapa hari ini mataku amat sangat susah terpejam. Kupandangi punggung lebar Arga yang membelakangi ku. Ingin rasanya aku membangunkannya agar setidaknya iya memelukku dengan hangat agar aku dapat memejamkan mataku.
Sepertinya Arga menyadari pergerakan tubuhku yang mulai mengganggunya.
Tanpa ku ketahui ia berbalik badan menghadap ke arahku.
"Kamu kenapa? sakit?" tanyanya padaku dengan punggung tangan yang sengaja ia tempelkan ke dahiku. "Badan mu tak panas, apakah kamu kedinginan?" imbuhnya lagi.
"Aku hanya tak bisa tidur, tak tau kenapa?" sahutku dengan memasang wajah masam.
"Sini ... sini, biar aku peluk. Kamu pasti akan nyaman dan tidur lelap di pelukanku."
Seketika aku memeluknya, rasanya nyaman langsung merasuki tubuhku sehingga membuatku sekejap mampu memejamkan mata tanpa harus mencoba cara kuno menghitung anak domba seperti di film-film kartun.
❇❇❇❇
It's the love shot
Na nanana nananana
Na nanana nanana
Na nanana nananana
Oh oh oh oh oh
It's the love shot
Dering alarm ponselku membuatku bangun, kuraih ponselku yang sedari malam teronggok di atas meja lampu, kutekan layar sentuhnya dengan mata setengah terbuka untuk mematikanya.
Kulirik Suamiku yang masih tampak damai berkawan dengan mimpi indahnya sehingga membuatku tak kuasa untuk membangunkannya. Aku lebih memilih beranjak dari kamar tidur untuk membuatkannya sarapan pagi.
❇❇❇❇❇❇
Sudut pandang Arga
Arga menggerakan badannya, ia tampak mengkerjapkan mata sesekali mencari keberadaan istrinya.
"Dimana Asta?" Arga bergumam dalam hati, ia menyibakkan selimut yang memberi kehangatan ditubuhnya dan pergi mencari keberadaan sang istri.
Dia membuka pintu kamar, melihat dan mengamati kesegala arah. Hingga matanya tertuju pada satu titik, di mana sang istri berdiri sambil asyik memasak untuk mengisi kekosongan di perutnya, tak perlu waktu lama, Argapun beranjak turun untuk menggoda sang istri.
Entah mengapa menggoda sang istri adalah hal paling mengenangkan saat ini, membuat istrinya marah dan memasang muka masam, itu sangat menyenangkan.
Sudut pandang Asta(Aku)
benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan Arga, ia memelukku dari belakang. "Kamu mengagetkan ku, Arga."
Ia hanya menyunggingkan senyum kecil dan wajah licik bak penjahat. Ia membalikan dan mengangkat tubuhku hingga terduduk di atas meja dapur.
"Kamu ini apa-apaan sih, Ga?"
Ia hanya bergeming tak tak menjawab pertanyaan ku, ia malah asyik memandangku dengan pandangan sayu. "Itu masakanku bisa hangus, Arga!" imbuhku lagi kali ini dengan nada yang sedikit tinggi untuk memperingatkannya.
Dengan cekatan ia meraih kompor dan mematikannya.
"Ih ... kamu ini kenapa sih? tak bisa bicara, ya?"
Ia tetap bergeming hanya memandangiku tanpa makna. "Kamu ingin bicara apa? aku tak ada waktu untuk meladeni mu, Ga." Aku beranjak hendak turun namun dengan sigap Arga menahan tubuhku. "Ih ... kamu ini kenapa, sih?"
"Kamu cantik hari ini, sayang." Ia baru saja mau mengeluarkan beberapa patah kata dan berakhir dengan menghadiahi ku dengan kecupan sebagai morning kiss.
"Kamu apa-apan sih?" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku ia mengecupku lagi, sehingga aku berhenti bicara. Ketika aku hendak menarik nafas untuk mengeluarkan kalimat, ia mengecupku lagi dan lagi hingga beberapa kali, sampai aku dibuat cekikikan olehnya.
"Selamat pagi istriku," ucapnya dengan senyuman manis tanpa dosa.
Dengan masih menahan tawa aku memukul-mukul dadanya dengan lembut. "Kamu kenapa sih?"
"Menghadiahi istriku kecupan selamat pagi, apakah itu tidak boleh?"
"Boleh sih, tapi tak perlu sampai sebanyak ini bukan?"
" Hanya kecupan, bukan ciuman kalau ciuman mungkin kita harus melakukannya hingga beberapa saat."
"Ih ... kamu selalu begitu, pikiran mu ini, lebih baik disapu terlebih dahulu."
"Mengapa aku harus menyapu otakku? aku punya orang yang dapat aku salurkan hasrat ku. Bahkan Tuhan merestui itu lewat kesakralan pernikahan kita," ujarnya tanpa basa-basi.
"Sudah aku akan masak, kamu mandi dulu! kamu sudah cukup lama tak ke kantor, kasihan ayah sudah tua masih menghandle pekerjaan kantor."
"Tapi hari ini kamu kerjakan? setelah kuliah, kamu harus ke kantor untuk menjadi assistant ku, agar aku bisa terus memandangi mu," godanya.
"Iya ... iya, aku akan ke kantor, cepet mandi!"
"Asta, tapi aku ingin dimandikan oleh mu," ucapnya dengan nada merengek.
"Ih ... pergi sana!" Aku mendorong tubuhnya agar segera menjauh.