Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Pulanglah




"Sayang, pulanglah bersamaku, aku merindukanmu," ucap Arga, tangannya mengulur ke depan untuk meraih tanganku. Cepat-cepat kutepis tangannya karena aku benar-benar tak ingin pulang dengannya sekarang.


"Lepaskan aku, Arga! aku muak denganmu. Jika cinta ini benar-benar menyakitkan. Lebih baik aku melepaskanmu, demi kedamaian hatiku, agar aku terus menerus tak merasakan sakit yang semakin hari semakin masif terjadi."


"Tidak ... kamu salah. Aku bisa menjelaskan ini semua untukmu, Asta," ujar Arga hendak meraih tanganku kembali.


Aku menangkat tanganku ke atas guna menghindari uluran tangannya. "Aku sudah tak mempercayaimu lagi, Arga. Sudah cukup! aku ingin kita bercerai," aku benar-benar marah, seolah semua rasa cintaku kepada Arga yang susah payah aku bangun. Kini runtuh bahkan hampir tak tersisa.


Mata Arga berkaca, bibirnya bergetar. "Lalu aku harus apa? aku sudah bilang. Aku tak mencintai Wina, kamulah wanita yang aku cintai dengan tulus, Asta," ujarnya lirih.


"Bohong! kamu tak pernah mencintaiku, bahkan di hatimu tak ada tempat untukku sedikitpun." Aku mencoba meredam air mataku yang seolah ingin mencoba mendobrak keluar dari kedua pinggir mataku.


"Harus bagaimana lagi, agar kamu percaya denganku, aku tak ada hubungan dengan Wina sedikitpun, aku sudah tak ada rasa dengannya barang secuilpun, aku sudah menyerahkan segenap hatiku untuk mencintaimu," ujar Arga ia mengacak-acak rambutnya dan menghadapkan tubuhnya ke belakang untuk menyembunyikan air matanya yang sudah mulai membanjiri kedua sisi mulusnya.


"Jika kamu tak mencintainya, lalu apa yang aku liat tadi? ketika bibir kalian saling berpangut bahkan di depan banyak orang, apakah kamu tak malu dengan perbuatanmu?!" tanganku mengepal erat, menahan kemarahan yang sudah merangsek dan menjalar ke otak jika aku mengingat adegan ciuman Arga dan Wina di lift tadi.


Arga berbalik badan, aku bisa melihatnya. Ia menangis. Ia menangis untukku. "Lalu ... aku harus menjelaskan apa lagi? dia memaksaku, dia yang mencoba menciumku. Pada saat ciuman itu berhasil ia daratkan, pada saat itu pula pintu lift terbuka, aku syok dan kaget ketika kamu melihatku seperti itu."


"Cukup, sudah cukup! aku tak mau mendengar alasan apapun, aku tak ingin! lebih baik kamu pergi sekarang, aku akan tetap di sini, dan aku besok akan pulang ke rumah ayahku."


"Untuk apa kamu di sini? akulah tempatmu bersandar, akulah tempatmu pulang dan akulah orang yang paling mencintaimu, Asta," ujarnya Lirih.


"Tidak, aku akan pergi. Lebih baik kamu pergi sekarang!" aku membalikkan badanku, hendak masuk ke dalam rumah Jonathan. Namun lagi-lagi Arga menahan tanganku dengan kuat dan menarik tubuhku dengan serampangan sehingga punggungku menempel pada dada bidang Arga, kemudian dengan cekatan ia memelukku dari belakang dengan sangat erat.


"Lepaskan aku!" aku berteriak mencoba melepaskan diri dari pelukan Arga.


"Aku tak akan melepaskanmu, ayo kita pulang, kamu adalah tanggung jawabku, Asta."


"Tidak!" Arga membalikan tubuhku lalu ia membopongku ke atas pundaknya seperti membopong kayu kering dan aku masih meronta dan terus menerus memukul-mukul punggungnya.


"Lepaskan dia!" Seru Jonathan, matanya menyorot tajam ke wajah Arga yang berusaha membawaku pulang. "Jika ia tak mau pulang, anda tak perlu memaksanya, tuan Arga," imbuh Jonathan lagi.


"Dia istriku, ditanggung jawabku, lalu apa urusannya denganmu?"


"Jika dia tak mau, lepaskan saja dia. Anda tak perlu memaksanya seperti ini!"


Arga menurunkanku. "Kamu menantangku, anak muda!" Arga berjalan ke arah Jonathan, dan Jonathan pun siap menantang Arga. Mata mereka saling beradu hati mereka dipenuhi dengan kemarahan maha dasyat.


Arga bersiap mendaratkan pukulan ke arah sisi pipi kanan Jonathan. Sebelum ia sempat memukul Jonathan, aku berteriak untuk menghentikan pertengkaran mereka. "Arga, cukup. Aku akan pulang denganmu!"


Arga dan Jonathan langsung serempak menengok ke arahku, namun beda ekspresi. Jonathan dengan wajah kecewanya, sementara Arga tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.


"Tapi, Ta. Dia," ucap Jonathan lemas.


"Kamu tak akan bisa melawanku, anak muda," ujar Arga meremehkan.


Tangan Jonathan mengepal menahan amarahnya untuk Arga.


Arga berbalik badan lalu menggadeng tanganku dengan lembut dan berjalan keluar.


Sementara aku menengok kebelakan, menggumkan isyarat permintaan maaf untuk Jonathan dengan menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara. "I'm sorry, Jo."


Dan kami masuk ke dalam mobil, lalu pergi.


❇❇❇



Recomendasi Novel Fantasi romantis bagus.


Judul\= The love Story of a Water God.


Hai temen-temen terimakasih telah menunggu kisah Arga dan Asta dan membaca sampai part ini.


Terimakasih untuk Vote, Rate, komen dan Like kalian karena itu bentuk appresiasi kalian untuk novelku, dan berubah menjadi energi semangat untukku.


Jangan lupa masuk ke Grub Chat Novi Wu.


Gumawo 🤗🤗🤗