Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Penolakan Zico



Boss Come here Please! 108


Hati Zico tersentak, bagaimana bisa seorang wanita dari kalangan atas memintanya untuk menikah dengannya. Lagipula mereka baru bertemu beberapa minggu. Hal apa yang sudah membuat Frea mempercayakan hidupnya kepada Zico pemuda dari kalangan bawah sepertinya.


"Ta-tapi." Zico tampak terbata ingin mengelak permintaan Frea.


"Tapi apa? Kamu tahu hariku terasa tercekik di rumah itu, bahkan tiap kali aku berdiri seolah aku sedang berpijak di atas paku." Frea sesenggukan menjelaskan kepada Zico.


Zico mengacak-acak rambutnya karena Frustasi, ia baru saja sedang merajut cita-cita menjadi seorang Dokter.


"Maaf Frea aku tidak bisa," tolak Zico.


Frea patah hati, dadanya sesak mendengar penolakan dari Zico yang tak mau menikahinya. Padahal ia sudah menaruh harapan besar kepada laki-laki itu.


Tiba-tiba Asta masuk membawa nampan berisi sarapan untuk Frea, nampan berwarna emas dengan piring keramik mahal berisi beberapa makanan di antaranya ayam bakar madu asam manis, nasi merah, salad dan jus jeruk untuk Frea. Mata Asta langsung menatap wajah Frea yang nampak memerah dengan mata tergenang air. Ia langsung memukup pundak Zico yang ia pikir sedang membuat Frea sedih.


Plak


"Apa yang kamu lakukan terhadap Frea!" hardik Asta lalu meletakkan nampan di atas meja sebelah tempat tidur Frea.


"Aw ...." pekik Zico mengelus pundaknya sendiri. "Sakit, asta!" imbuhnya lagi.


Mata Asta semakin melotot menatap wajah adiknya itu, seolah seperti seorang polisi yang sedang ingin mengintrogasi penjahat.


"Aku tidak melakukan apapun, Asta!" seru Zico masih mengelus pundak bekas pukulan Asta tadi.


Kemudian dengan nada memohon dengan berlinang air mata Frea meminta Asta untuk menyetujui pernikahan mereka.


"Kakak, restui pernikahan kami," ujar Frea.


Asta tersentak mendengar kata-kata Frea yang seolah tidak main-main itu.


"Restui untuk menikah? Tapi Zico baru saja masuk perguruan tinggi, Frea. Ia harus menggapai cita-citanya." Asta mencoba menolak dengan lembut agar ia tak melukai hati Frea.


"Kak, aku ingin lepas dari belenggu keluargaku yang ingin menjodohkan aku!"


"Iya, aku tahu sayang. Tapi bukan begini caranya." Asta mengusap rambut Frea untuk menenangkan gadis itu.


Frea tengah sadar jika Asta menolak keinginannya dengan cara halus, sementara orang yang ia cintai tidak ingin menikahinya.


Frea beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar tanpa memperdulikan mereka berdua, Zico menyambar pergelangan tangan Frea dan berkata, " Kamu mau kemana?"


Frea bergeming, tatapannya kosong ia terus berjalan seolah seperti mayat hidup tanpa nyawa.


Asta mengikuti Frea namun tidak mencoba menghentikannya, hanya Zico yang berusaha mencegah gadis itu pergi. Lalu mencegat di depannya dan menggoyang-goyangkan tubuh Frea agar dia sadar.


"Kamu mau kemana?"


Zico mencoba mengulangi pertanyaannya namun dengan tegas Frea menghempaskan tangan Zico yang menempel di bahunya.


"Aku akan menikahimu!" seru Zico tanpa pikir panjang.


Frea langsung menatap wajah Zico lalu tersenyum sinis. Ia merasa kata-kata Zico tak muncul dari dalam dirinya, melainkan karena takut melihat keadaan Frea.


Frea tetap berjalan dan menuruni tangga, Arga yang sedari tadi menunggu di bawah ia bersiap mengantarkan Frea pulang ke rumah.


Arga membuntuti Frea dari belakang, sementara Asta hanya bisa menahan kesedihannya dengan menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya. Ia takut jika Frea akan melakukan hal hal buruk.


*****


Sementara di rumah Frea ayah, ibu dan adiknya menunggu kedatangan Frea. Mereka sudah tahu jika Frea tengah berada di rumah Arga semalam.


Ayah Frea terus memendam kemarahannya dan mengepal tangannya sendiri. Ia terus mondar-mandir seolah sedang menantikan sesuatu yang menegangkan.


Arga telah tiba di kediaman keluarga Frea, ia turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Frea agar dia turun. Gadis itu terus menunduk ia terus menggenggam jari jemarinya, wajahnya terlihat masam dan air matanya pun tengah mengering karena telah menangis sejak tadi.


Ayahnya yang melihat kedatangan anaknya terus menatap putrinya dengan raut muka penuh dendam seolah sedang menatap musuh yang akan ia bunuh.


Frea terus menunduk tanpa melalukan perlawanan, ia sudah tak ada daya lagi ketika tadi Zico sengaja menolak keinginannya.


Sementara sang ibu tiri hanya tersenyum sinis di dalam hatinya tersimpan rasa puas karena suaminya membenci anak kandungnya sendiri.


"Sabar, ayah," bujuk Yufensia terus mencoba menenangkan ayahnya.


"Sabar bagaimana? Kakakmu ini bodoh, ditunangkan dengan keluarga kaya tapi malah pergi dengan orang lain!"


"Iya, Yufen tahu. Ingat kesehatan Ayah, ya!" ucap Yufen lembut mengelus dada ayahnya.


Frea tiba-tiba menengadahkan wajah, lalu berkata dengan lantang, " Baiklah, jika itu yang ayah mau. Aku akan bertunangan dengan Sammy, tapi dengan syarat, aku akan meneruskan pendidikanku di luar negeri, jika aku lulus, baru aku akan menikah!" seru Frea, ia mau tak mau mengiyakan keinginan ayahnya, karena jika ia menolak, sama saja bunuh diri, meskipun pada akhirnya dia harus menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, tapi setidaknya ia akan mengulur pernikahan itu.


"Baiklah, ayah setuju." Laki-laki setengah baya itu tersenyum puas, karena ia mendapatkan keinginannya.


Frea lari menuju kamar, ia tak kuasa menahan air matanya yang seolah bagai air terjun yang tidak pernah berhenti.


Ia berharap ini hanya mimpi, ketika semua orang yang ia percaya tidak menaruh simpati kepadanya, ia benar-benar hancur karena masalah ini.


Frea berpikir jika ia pergi melanjutkan study di luar negeri, ia bisa melupakan kejadian ini semua. Cintanya kepada Zico, rasa kecewa kepada ayahnya yang sudah berubah semenjak ibunya meninggal.


Tiba-tiba suara pintu kamar terdorong dengan hebat, ayah Frea masuk dengan wajah penuh amarah yang sangat mendalam, wajah dan matanya memerah rahangnya pun mengatat seiring dengan seruannya untuk mengusir Frea dari rumah.


"Bereskan pakaianmu! Kamu akan berangkat study sekarang, Frea!"


Suara Frea tercekat, bagaimana ia bisa pergi ia belum mendaftarkan diri ke universitas yang di tuju, bahkan ia belum mempersiapkan semuanya, namun ayahnya dengan sengaja mengusirnya dari rumahnya sendiri.


"Ayah?!"


"No! Jangan panggil aku ayah!"





Bersambung


Puisi Frea


Rasa yang ada tak pernah mengharap balas, karena jika kau dicinta itu memang pantas. Indah mata pada wajah jelita menebar jala asmara, menjerat semua insan terpikat.


Apalah daya hati ini yang begitu lemah pada tajamnya tatapan itu, sekali kau berkedip seribu kali aku terjatuh. Sekali kau berucap selamanya akan kuingat.


Kau adalah tujuan kemanapun kaki melangkah, kau adalah rumah tempatku tinggal bukan sekedar singgah. Tempatku mengawali dan mengakhiri hari.


Kau adalah selatanku, kau adalah barat dayaku, kau adalah utara timur lautku. Kemanapun langkahku pergi tujuanku tetap dirimu, meski kau tak pernah menyadari itu.


Aku Tahu


27 September 2020


*******


**Hello Terimakasi untuk dukungan kakak-kakak reader semua.


Jangan lupa like komen dan Vote


Agar author lebih semangat menulis**.


Salam hangat


Novi Wu