Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Zico



👀 Hui Aku kembali


Bibir Asta tertarik naik ke atas gurat senyum mengembang di bibirnya yang merah merona, menandakan jika dia sedikit tergelitik melihat visual suaminya yang biasanya bak lakon dalam drama begitu sempurna, namum kini wajahnya dipenuhi ruam merah.


"Mengapa kamu tersenyum? Bahagia sekali melihatku seperti ini?"


Asta menggelengkan kepala namun ia tak bisa menahan tawanya sendiri, kemudian ia menutup satu mulutnya untuk menyembunyikan senyumnya, sementara tangan yang lain masih mengobati kulit wajah Arga.


"Bahagia sekali, ya? Melihat aku yang seperti ini. Lihatlah ketampananku 0,5 % sedikit berkurang akibat ulahmu!"


"Loh, kok aku?"


"Jelas saja, kamu tidak mengatakan jika aku bisa menyuruh adamson atau yang lainnya memanjat pohon rambutan itu!" terang Arga, kesal.


"Ya terus, aku yang salah, iya?!" Asta mulai kesal mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Arga, seolah ia bisa menangkap jika Arga tidak iklas mencarikan buah rambutan yang ia mau.


"Bukan, bukan begitu, sayang." Arga mulai menangkap gelagat kemarahan Asta, kemudian ia mencoba merubah nada bicaranya menjadi lembut.


"Tidak perlu membujukku, aku sudah tidak mau makan rambutan lagi!"


"Loh kok ...." Arga mulai kebingungan membujuk sang istri.


"Sudah, aku ingin melanjutkan tidurku saja!" Asta mulai kesal dengan suaminya.


"Dasar wanita, maunya menang sendiri," gerutu Arga lirih.


Asta membalikkan badan mendengar perkataan Arga yang lirih itu, seolah ia mempunyai pendengaran super.


"Apa kamu bilang?!" tanya Asta, menyipitkan mata.


"Ah, tidak-tidak. Aku hanya ngobrol dengan diriku sendiri," jawab Arga.


Asta menarik napas kemudian berbalik badan dan berjalan kembali.


"Kasian sekali, kamu terlalu sibuk bekerja, sehingga membuatmu setres," ledek Asta.


"Aku setres karena kamu, wanita!" gumam Arga dalam hati, menahan kesal namun berusaha tetap tersenyum.


Ponsel Asta berdering lagu EXO Love Shoot menggema di kamar dengan nuansa merah muda itu. Ya, bisa dibilang Arga adalah penggemar fanatik EXO yang sering di sebut EXO-L dengan member bernama Suho, Chen, Do, Sehun, Kai, Chanyeol dan Baekyung namun bias Asta hanya Sehun dan Kai saja.


Tampak di layar ponsel nama Ayah memanggil ....


Cepat-cepat Asta menjawab panggilan sang ayah.


"Halo, Ayah?" jawab Asta.


"Hallo nak, adikmu berangkat menuju ibu kota untuk melanjutkan study di sana, Zico mendapat beasiswa disalah satu perguruan tinggi di sana, bisakah ia tinggal di rumahmu, Nak?" tanya sang Ayah dari balik ponselnya.


"Ya, tentu saja. Asta akan membantu menjaga Zico di sini," jawab Asta.


"Bagaimana dengan kehamilanmu?"


"ayah tahu dari mana jika Asta hamil?" Asta sama sekali belum memberi kabar sang ayah jika ia hamil. Namun dari mana ayahnya tahu?


"Arga yang memberi kabar bahagiamu, kepada ayahmu ini, Nak."


"Oh, bagus-bagus, ia memang suami siaga, Ayah," kata Asta, sementara matanya melirik tajam ke arah Arga dan membuat Arga bergidik ketakutan dengan tatapan wanita galak di depannya ini.


"Kalau begitu nanti ayah minta tolong, jemput adik kamu di stasiun, ya!" pinta sang ayah.


"Tentu saja, ayah. Ayah jaga kesehatan baik-baik ya, Asta sangat rindu."


"Iya, ibumu merawat ayah dengan baik. Oke sudah dulu, ayah akan pergi ke pasar."


"Iya, ayah."


Asta mengakhiri panggilannya.


Asta mendekat kepada Arga yang berdiri di pojok dekat dengan meja berhias, ia membusungkan dadanya seolah sedang menantang laki-laki tegap nan gagah itu.


Kemudian ia menempelkan tubuhnya kepada suaminya sendiri, sementara ia mencoba mensejajarkan wajahnya kepada sang pujaan hati.


"Mengapa kamu beritahu ayah, soal kehamilanku?" Asta menyipitkan mata, mengintrogasi Arga yang memasang tampang sok polos.


"Ah, itu. Kan berita bagus. Tentu harus kita beritahu keluarga kita, bukan?"


Asta mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Arga kemudian menggigit lembut tepi mulut Arga dengan lembut, membuat mata laki-laki itu menyalak kaget, wanita hamil yang nakal pikirnya dalam hati.


"Apa melotot-melotot?!" tantang Asta.


"Tidak, aku hanya ...." Arga tak melanjutkan kalimatnya, sementara tangannya memegang bekas gigitan Asta tadi.


"Zico akan melanjutkan studinya di kota ini, ayah meminta kita membantu menjaganya."


"Bukankah ia sudah beranjak dewasa, untuk apa kita repot-repot ikut mengasuh adikmu itu?" tanya Arga.


"Adikku adalah adikmu, seharusnya kamu tidak berkata seperti itu, Arga?"


"Iya ratu, aku mengerti. Aku tidak bisa menolak semua keinginanmu, karena aku mencintaimu." Arga memeluk tubuh istrinya dengan lembut dan mengecup kening sang istri.


"Ayo makan rambutan!" ajak Asta.


"Iya, tapi jangan banyak-banyak. Nanti perutmu sakit, sarapan dulu, baru makan buah itu!"


"Iya, honey bunny sweetie, aku."


❇️❇️❇️❇️❇️


Arga sudah bersiap menjemput Zico ke stasiun, sementara Asta terus merengek ingin ikut, namun Arga menolak hingga sang istri merajuk dan menangis.


"Aku bosan di rumah, aku ingin jalan-jalan dan keluar," rengek Asta, menunjukkan raut muka masam.


"Bayiku ingin ikut? iya?" ledek Arga menirukan suara anak kecil.


"Ayo, ikut. Kali ini aku akan mengajakmu keluar dan menjemput adikmu."


Wajah Asta berubah secepat kilat menunjukan raut bahagia yang tiada tara.


"Oia sayang. Kita baru beberapa kali bertemu dengannya. Apa kamu yakin dia mau tinggal di rumah kita?"


"Pasti mau, dia mau tinggal di mana lagi?"


"Oke baiklah, ayolah!"


Asta dan Arga berangkat menuju stasiun dengan ditemani Adamson sebagai sopir mereka. Asta sangat senang karena ia bisa menghirup udara bebas sore itu. Bukan karena ia tidak boleh keluar rumah, karena akhir-akhir ini Arga begitu sibuk dengan urusan penyelidikan Cherryl, sehingga membuatnya tak sempat menemani sang istri pergi, sementara Asta tidak mau pergi keluar rumah tanpa Arga.


"Suka?" tanya Arga


"Hu'um." Asta mengangguk pelan.


"Kalau begitu kita makan di luar bersama adik mu, oke!"


"Ya, oke," jawab Asta singkat.


❇️❇️❇️❇️❇️


Zico keluar dari kereta, menoleh ke kanan dan ke kiri, ia bingung tidak tahu arah kemana ia akan pergi.


Ia memilih mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kakak tirinya, Asta.


"Halo, Asta. Kamu di mana?"


"Iya, sebentar lagi aku sampai, kamu duduk-duduk saja di situ!" perintah Asta dari balik ponselnya.


"Oke, tuan putriku," goda Zico.


"Gila, kamu!" hardik Asta, kesal.


Selang beberapa menit kemudian, Arga dan Asta datang. Senyuman mengembang di bibir Zico seolah ada kelegaan di dalam hatinya, maklum saja ia hanya beberapa kali menginjakan kaki di kota ini.


"Hai adik, apa kabarmu?" tanya Asta.


"Jangan panggil aku adik! Usia kita hanya terpaut beberapa tahun saja," ucap Zico..


"Manusia ini benar-benar tak memiliki sopan santun, ya!" gerutu Arga, kesal.


"Ayolah kita pulang, pasti kamu lelah, yakan?" Asta melepaskan gandengan Arga dan memilih menggandeng tangan Adiknya itu.


Arga sangat kesal melihat tingkah sang istri, dia merasa pasti kasih sayangnya akan terbagi dengan Zico.


.


.


.


.


.


Bersambung


❇️❇️❇️❇️


Melody dalam kita


Cinta mengalun indah dalam ingatan


Membangun harapan dalam ucapan


Tenggelam dalam bait yang penuh akan kenangan


Meminta malam menemani dalam pencarian akan rembulan


Meski kata kita sudah musnah dalam harapan


Namun cinta memaksa hati untuk bertahan


Tenggelam dalam batas yang sudah punah


Menghilang dalam harapan yang terpisah


Serta menangis dalam hati yang gundah


Cinta terdiam menatap mata yang tergenang


Sendu rembulan dalam penatian yang padam


Hidup namun mati bukan untuk dikenang


Hingga akhirnya memeluk harapan dalam buaian yang kelam.


Pada akhirnya, Kita dan Cinta hanya sebuah harapan yang terbuang.


Oleh


TOPAZ, 20 JULI 2020


Jangan lupa like komen dan Vote, agar author semangat up!


papay ....


Salam cinta


Novi Wu