
Boss Come here Please! S2 Bab 113
Frea masuk ke dalam toilet dan menutup pintu, ia berdiri di balik pintu toilet memegang dadanya sendiri napasnya naik turun menahan emosinya. Sekuat-kuatnya Frea ia tetaplah seorang prempuan lemah jika di hadapkan dengan laki-laki yang ia cintai.
Tanpa terasa air matanya menetes, ia tersadar lalu dengan cepat ia mengusap air matanya itu. Lalu berjalan ke wastafel. Ia berdiri sejenang di depan cermin dan memandangi bayangannya sendiri.
"Frea, kamu terlihat lemah jika kamu menangis. Tetaplah kuat!" Ia menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.
Ia membuka kran, dan memcuci tangannya sendiri, ia mengambil bedak untuk touch up riasanya yang mungkin saja luntur akibat air matanya.
Ia benar-benar menjadi orang lain di rumahnya sendiri, bahkan ayahnya sudah lama sejak ibunya meninggal berubah menjadi orang lain untuknya.
Dan lagi ibu tirinya yang sejak dulu tidak menyukainya, hingga kini tetap saja membenci Frea. Mungkin ia merasa jika takut jika ayah Frea menyerahkan hartanya kepada Frea. Tapi anehnya ibunya sangat menyayangi Yufensia, ia bingung sebenarnya ada cerita apa di balik hubungan mereka.
Frea menarik napas kuat-kuat dan menghelanya perlahan untuk menenangkan diri. "Frea, kamu harus tetap tenang!" ucapnya lirih.
Gadis cantik itu keluar dari toilet, Zico sudah tidak ada di tempatnya tadi, mungkin ia telah kembali ke pelukan tunangannya.
Langkah anggun dengan lenggak lenggok yang gemulai serta suara sepatu yang lembut membuatnya terlihat seperti seorang wanita kelas atas yang sangat sempurna, tetapi nyatanya di pundaknya tersimpan beban berat yang amat sangat tidak mudah untuk di pikul oleh seorang prempuan seperti Frea.
Ia telah sampai, ternyata keluarganya sudah berada di ruang makan, ia kembali berjalan menuju kesana dengan masih menenteng clutch bag putih yang sejak tadi menemaninya. Ia duduk di kursi kosong yang bersebelahan dengan ayahnya sementara di depannya adalah ibu disamping ibunya ada Zico dan Yufen, Frea berdampingan dengan Asta dan kedua anaknya.
"Bagaimana kuliahmu di sana, Frea? Aku dengar di sana banyak sekali penganut **** bebas, bagaimana denganmu?" ucap Ibu tirinya membuka percakapan mereka, namun ayahnya gergeming melihat anaknya di hina di depan matanya.
"Aku?" Frea sedikit terkekeh. "Aku di sana untuk belajar, bukan untuk memuja **** bebas!" ucap Frea lembut, namun terselip nada penekanan di sana.
"Aku dengar kamu juga lulusan terbaik di universitas light of the nation, Frea?" potong Arga, mencoba mengalihakan pembicaraan mereka.
"Ya ... Sebenarnya sangat sulit untuk itu, kak. Tapi karena keberuntunganku aku bisa menyelesaikan studiku dengan cukup baik." Asta menjawab pertanyaan Arga dengan sopan.
"Jadi dengan kualitas pendidikan dan kecerdasan kamu tentu kamu sudah bisa memimpin rumah sakit ayahmu," kata Arga, menatap Frea dengan seksama. "Bukan begitu, ketua?" tambahnya lagi, kali ini menatap ayah Frea.
"Iya, aku mempesiapkan Frea untuk ini. Aku memintanya kuliah di Light of the Nation agar ia mampu dan mumpuni memegang tonggak kekuasaan rumah sakitku," jawab ayah Frea.
"Sayang, bagaimana bisa anak ini menjadi penerusmu, kamu masih ingat betapa tidak bergunanya dia dulu, kamu jangan mengambil risiko, sayang!" potong ibu tiri Frea.
Asta pun menimpali perkataan ibu tiri yang jahat itu dengan perkataan yang menohok. "Nyonya, anda ibu dari Frea, bagaimana bisa anda mengudutkan anak anda sendiri di hadapan semua orang? Meskipun anda ibu tiri, seharusnya sikap anda tidak seperti itu."
Ibu tiri Frea pun diam seribu bahasa, namun beda halnya dengan Yufen dengan suara lembut premuan itu menyanggah kata-kata Asta, "Kata siapa ibu tidak menyayangi kakak? Sejak dulu kakaklah yang selalu di sayang, coba lihat ia sampai kuliah di luar negeri, karena bujukan ibu kepada ayah."
Padahal nyatanya dipikiran ibu tiri Frea saat itu adalah membuang Frea, syukur-syukur jika Frea tidak kembali selamanya, namun nyatanya Frea bisa menunjukan kepada dunia jika ia telah berubah.
"Sudah cukup mari kita makan!" perintah ayah Frea menghentikan percakapan mereka.
******
Mereka telah menyelesaikan makan malam,
"Mr. Arga dan Frea, bisakan kita bicara di ruang kerja? saya ingin membahas sesuatu," pinta ayah Frea.
"Baik Ketua, silakan." Arga menjawab dengan nada tenang lalu mengukuti ayah Frea, sementara Frea lebih memilih membuntuti di belakang Arga.
Mereka telah sampai di dalam ruang kerja.
"Apa yang akan kita bicarakan ketua Arav? Sepertinya ini masalah serius." Arga mencium bau-bau kerahasiaan diantara Frea dan ayahnya.
"Saya minta kepada Mr. Arga, untuk membujuk dewan direksi untuk memilih Frea di rapat direksi besok. Saya tahu jika semua dewan sangat segan dengan ketua Dewantara dan anda, tentu akan sangat mudah jika anda membujuk mereka untuk Frea."
"Tapi ibu tiri Frea juga memiliki pengikut yang memiliki saham yang lumayan banyak di sana," ucap Arga, sedikit pesimis.
"Tapi tidak sebanyak rekanan bisnis anda. Saya percayakan ini semua kepada anda."
"Ayah, sebenarnya Frea belum siap untuk ini, Frea merasa Frea belum pantas memimpin rumah sakit Healty Life." Frea terlihat tidak percaya diri untuk ini semua.
"Kamu sudah siap, Frea. Ayah percaya kepadamu, ibumu ingin Yufen yang memegang rumah sakit, tapi hati nurani ayah tidak percaya jika dia yang menjadi direktur1."
"Why, ayah?" Asta mengkerutkan dahi, karena heran mendengar perkataan ayahnya. "Bukankah ayah lebih menyayangi Yufen, dari pada Frea?"
Arav memegang pundak anaknya, lalu mengelus pipi putrinya yang sudah lama tidak ia sentuh dengan kasih sayang, Hati Frea terenyuh dengan sentuhan lembut dari sang ayah yang sudah lama tidak ia dapatkan.
"Ayah."
Frea memeluk ayahnya dan disambut pelukkan terbuka tuan Arav. Pria tua itu telah sadar jika ia telah melakukan hal yang buruk dengan putrinya.
"Kenapa harus aku, ayah. Aku pikir Yufen bisa memimpin rumah sakit dari pada aku." Frea masih mendekap erat ayahnya.
Tuan Arav melepaskan pelukan anaknya. "Psikologis Yufen belum siap. Ayah mulai ragu kepadanya sejak kejadian empat tahun yang lalu."
Frea memandang ayahnya dan Arga secara bergantian. "Apakah ada yang penting yang telah aku lewatkan?"
Arga menghela napas panjang, kemudian mendekat ke arah gadis itu. "empat tahun yang lalu Yufen mengancam Zico, jika ia tidak menerima cintanya ia akan lompat dari gedung berlantai enam, kampusnya. Hari itu adalah hari kelulusan mereka, dan ayahmu meminta Zico untuk bertunangan dengan Yufen." Arga menjelaskan sebab musabab Yufen dan Zico bisa bertunangan.
Frea kaget ia tampak terkejut tak percaya ia menutup mulutnya sendiri dengan jari jemari lentiknya dengan kuku berwarna merah.
•
•
•
•
Bersambung
Terimakasih sudah membaca BChP S2
Nantikan kejutan mereka selanjutnya.
Jangan lupa like komen dan Vote, agar author semangat update tiap hari
Salam hangat
Novi Wu