
Arga tampak kesal, bagaimana bisa aku mengingat nama Wisnu di alam bawah sadar ku namum melupakan ia sebagai suami ku.
Karena begitu gemas padaku. Ia menyentil dahi ku dengan jari telunjuk dan kelingkingnya. Dengan menipiskan bibir seolah puas.
stak....
"Aw ... sakit".pekik ku dengan mengusap-usap bekas sentilannya tadi.
Arga memasang raut muka masam seraya menggerutu kesal."bagaimana bisa kamu melupakan suami mu sendiri, namun tak melupakan laki-laki lain!".
"Aku tak tau,seolah ingatan tentang laki-laki bernama Wisnu itu sangat baik,sehingga alam bawah sadar ku mengenalinya".
"Sudahlah, aku telepon saja Wisnu, agar dia yang menemanimu, percuma saja aku disini, bahkan pertama kali menatap ku saja, kamu tak mengenali ku sama sekali", degusnya kesal. Ia beranjak dari tempat tidur namun entah kenapa di alam bawah sadarku aku tak iklas jika ia meninggalkan ku dengan orang lain.
"Tunggu",aku memegang pergelangan tangannya dan memasang wajah memelas agar ia tetap berada di samping ku.
Arga berhenti dan menatap tangan ku yang masih mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
"Apa?".
"Jangan pergi, aku hanya mengenal mu di kota ini, tak ada siapapun".
Ia kembali, sedetik kemudian ia tersenyum dengan sangat ramah sehingga membuat ku sedikit tak nyaman.
"Katakan, jika kamu tak mau jauh dari ku, membutuhkan ku, dan selalu mencintai ku", titahnya dengan rasa percaya diri tinggi.
Aku menggelengkan kepala karena enggan melontarkan kalimat menjijikan itu.
Arga menipiskan bibir, dan sekali lagi beranjak dari tempat tidur.
"Baiklah, aku membutuhkan mu".
Sekali lagi ia melontarkan senyuman menyeringai bak lakon jahat dalam film Home Alone.
"Baiklah nyonya Arga, mulai hari ini menurutlah kepada suami mu ini".
Aku hanya menganggukan kepala ku pelan,agar ia merasa puas dengan kalimat yang di lontarkan tadi.
💖💖💖
Setelah beberapa saat sekertaris Wisnu datang dengan membawa beberapa box makanan untuk kami, entah mengapa mulutku tiba-tiba melontarkan kalimat sapaan untuk sekertaris Wisnu.
"Selamat malam sekertaris Wisnu".
"Apakah nyonya Asta sudah sembuh?",tanyanya padaku.
Sebelum aku menjawab kalimat dari sekertaris Wisnu tiba-tiba Arga memotong percakapan kami.
"Wis, lebih baik kau segera pulang. Aku akan makan malam bedua dengan istriku".Ujar Arga dengan suara dingin.
Mendengar kalimat dari bosnya, sekertaris Wisnu tampak berdiri mematung, seolah tak berani bergerak karena takut.
"Baik mr. Saya akan pulang, selamat menikmati makan malam", Sekertaris Wisnu membungkukan badan dan pergi.
Sementara aku menolehkan wajahku pada Arga yang masih memasang muka masam,ia melihat ku dengan tatapan tajam.
"Sudah puaskah, nyonya Arga dengan pertunjukan mu?".Dengusnya kesal.
"Apa yang kamu bicarakan?,aku hanya menyapa sekertarismu, bahkan aku sama sekali tak memiliki ketertarikan padanya".
Dia masih cemberut dan memilih bergeming tak mendengarkan kata-kataku, dan meyiapkan makanan untuk ku.
"Makan ",Arga hendak menyuapi ku.
Aku mencegahnya agar tak melakukan hal aneh dengan menyuapiku, seolah aku tak bisa melakukan apa pun.
"Aku tak mau,aku bisa makan dengan tangan ku sendiri,Arga",aku menoleh kan wajahku ke kiri untuk menghalau suapannya.
Arga menipiskan mata,kemudian membanting sendok begitu saja "baiklah, lebih baik kamu di temani Wisnu saja, agar keintiman di antara kalian makin terjaga".
Arga mulai akan beranjak dari tempat duduk untuk meninggalkan ku, dengan cekatan aku berusaha mencegahnya memegangi pergelangan tangannya.
"Jangan pergi",pinta ku.
Ia kembali menoleh ke arahku "Cium aku terlebih dahulu".
"Tidak!".
"Oke kalau begitu aku pergi".
"Baiklah,aku mencium mu!",aku setengah berteriak dan terpaksa melontarkan kalimat yang paling tidak ingin aku ucapkan.
Arga berbalik arah dengan senyuman menyeringai seolah puas dengan perlakuannya padaku. Lalu ia menunduk kan kepalanya sendiri agar sejajar dengan wajahku,supaya aku leluasa mendaratan kecupan di dahinya.
Muah.........