
Jantung ku berdetak begitu kencang karena perlakuan Arga,maklum saja dalam ingatanku aku tak pernah sekalipun tersentuh laki-laki manapun.Tapi aku tak pernah mau menjamin jika sebelum aku hilang ingatan mungkin saja aku sudah pernah bercumbu mesra dengan Arga.
Arga masih enggan melepaskan pelukannya,yang hanya bisa aku lakukan hanya menahan nafas karena begitu gugub.
Sesekali ia meraba ku di bagian tubuh tertentu sehingga membuatku sedikit menggeliat karena geli.
Melihat respon positif,ia makin melemparkan tipu dayanya."Asta,Aku merindukan mu".Ujarnya sambil meletakan keningnya di atas keningku.
Aku membuang muka karena aku tak ingin langsung menatap mata Arga.
"Arga,bisakah kamu melepaskan ku?".Aku sedikit menggerakan pundakku agar ia tau aku sedikit tak nyaman karenanya.
Arga melepaskan pelukannya sehingga aku dengan leluasa dapat berbalik arah dan memunggunginya.
Tanpa di sangka Arga malah merengkuh pinggul ku dan memeluk perutku serta menempelkan tubuhnya ke punggung ku."Lepaskan,Arga!".
"Tak mau,aku tak mau".Ujar Arga manja seolah seperti anak kucing yang sedang mengharapkan kasih sayang ibunya.
"Tapi aku benar-benar tak nyaman".
"Menurutlah,Asta.Aku tak akan menyakitimu.Tidurlah dengan posisi seperti ini jika pelukan ku membuat mu tak nyaman".ia berbisik manja tepat di telingaku,sehingga seketika membuat telinga ku memerah.
💖💖💖
Entah karena saking begitu nyamannya di bawah kuasa pelukan Arga,aku tertidur hingga lelap.
Dan ketika kami bangun,hari sudah berganti menjadi gelap,ku coba buka mataku,sedikit berembun ku pejamkan mataku sekali lagi lalu ku buka kembali,aku melirik perutku tangan Arga masih bergelayut di sama tanpa melepaskan aku sedikit pun.
Dengan hati-hati aku membalikan tubuhku,sehingga kami saling berhadap-hadapan.
Dibawah ketidak berdayaan Arga ketika tidur,kupandangi laki-laki yang mengaku sebagai suamiku ini.Ia begitu tampan,wajah putih dan mulus tanpa terhalang kumis,sepertinya ia rajin mencukur kumisnya sendiri,hidung mancung serta bulu mata lentik.
Tiba-tiba.....
"Muahhh".
Arga mengecup bibirku dengan secepat kilat,sehingga aku tak menyadari jika ia sudah terbangun dari tadi.
Aku mendorongnya kuat-kuat."Apa kamu tak waras?".
Ia tersenyum namun masih dengan memejam kan mata."Mengapa kamu menatap ku?.Pasti sedang Falling in love ya".Goda Arga.
"Diam kamu!".
Dengan cekatan Arga menghentikan ku dengan memegang pergelangan tangan ku.
"Mau kemana?".
"Aku mau buang air kecil,apakah kamu mau ikut?".
"Boleh jika kamu menawarkannya".Ia beranjak dari kasur lalu membopongku dengan begitu kasar.
"Hei ... Aku bercanda!,Turunkak aku!.Aku bisa sendiri".Aku terus berteriak dan meronta-ronta meminta agar di lepaskan.
"Asta,menurutlah.Aku sudah menyerahkan pekerjaan ku pada ayah demi menemani mu hingga kamu sembuh".Ujarnya.
"Tapi kamu tak perlu begini juga kan?".Masih meronta.
Ia tetap bergeming lalu menduduk kan ku di atas closet.Lalu ia berdiri mematung memandangiku.
Ketika aku ingin membuka celdam ku,aku melirik ke arahnya."Apakah kamu tak ingin keluar?".
"Bagian tubuh mu yang mana yang belum pernah aku lihat,rasakan dan ku kecup?.Semua sudah".Godanya lagi sambil tertawa puas.
"Pergilah dulu,aku tak akan bisa,jika kamu masih disini!".Titahku menahan celdam ku.
Tidak aku akan berbalik badan jika kamu malu,aku tak akan keluar,aku sedikit trauma dengan kecelakaan mu tempo hari,yang membuatku hampir kehilangan mu".Ujar Arga.
"Baiklah,berbalik!".Perintahku.
Ia menuruti kata-kataku dan berbalik badan."Sudah?".
"Belum,wait tetap pada posisi mu!".seolah takut jika Arga tiba-tiba membalikan badan.
Setelah selesai,Arga membopongku kembali ke atas kasur dan mendudukan ku di sana,ia melirik ke perutku."Apakah kamu lapar?".
"Lumayan".
"Baiklah,aku akan meminta Wisnu agar ia mengantarkan makanan".
"Sekertaris Wisnu?".Aku berseru ketika aku mendengar namanya.
"Apakah kau ingat Asta?".Ucap Arga penuh antusias
"Tidak.Hanya saja aku seperti memiliki ingatan baik dengannya".