Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Mustahil Memiliki



Boss Come here Please 114


Frea terus memikirkan apa yang tadi ia perbuat kepada Zico, bahkan ia tak menamparnya dengan sangat keras, hati Frea sesak mengingat kejadian di depan toilet tadi.


Gadis itu memberanikan diri bertanya kepada ayahnya, "Apakah Ayah yang memaksa mereka bertunangan?"


"Ya ... Tidak ada pilihan lain, Ayah tidak mau mengambil risiko kehilangan salah satu putri ayah," jawab tuan Arav dengan nada lemas. "Ayah tahu, jika Zico tidak mencintai Yufen, tapi ayah terpaksa."


"Ayah, itu tidak adil untuk Zico!" suara Frea terdengar lantang, mungkin orang-orang di luar ruangan itu bisa mendengarnya.


"Kamu tetap tenang, Frea. Mungkin inilah jalan yang diberikan Tuhan untuk Zico dan Yufen." Suara tenang dari Arga tak mampu meredam Frea.


"Jodoh?! Cinta?! Itu terlihat naif sekali Mr. Arga. Apakah anda bisa menghabiskan sisa umur anda hidup dengan orang yang tidak anda cintai?!" Suara dingin penuh penekanan keluar dari mulut Frea, sehingga menohok hati Arga. "Anda adalah kakak dari Zico, bagaimana bisa anda berkata seperti itu?"


"Sebenarnya Zico yang mengiyakan pertunangan itu, karena dia tidak mau jika Yufen melakukan hal bodoh, lagi." Arga menjawab perkataan Frea dengan tenang agar Frea tidak semakin meledak-ledak.


Frea menatap tuan Arav dengan tajam, matanya menyipit, bibirnya tersenyum sinis.


"Bagaimana jika Yufen menginginkan jabatan ini? Dan mengancam bunuh diri lagi?" tanya Frea.


Ayahnya terlihat gusar mendengar pertanyaan Frea yang menohok, ia benar-benar bingung menjawab pertanyaan putri kandungnya.


"Yufen hanya menginginkan Zico." Arga menyahut pertanyaan Frea, gadis itu berbalik arah dan menatap Arga dengan seksama.


"Anda yakin?" tanya Frea menatap Arga. Lalu ia berjalan menuju sofa panjang berwarna merah dan duduk di sana. "Jujur saja. Aku sebenarnya sudah muak dengan ini semua, aku hanya ingin bebas, aku tidak ingin harta dari ayah cuma satu yang ingin aku lakukan, membuka klinik kecil-kecilan dan menikah dengan orang yang aku cintai," ucap Frea, tenang.


"Tapi nak. Ayah membutuhkanmu. Ayah hanya menginginkan kamu yang meneruskan rumah sakit healty life." Tuan Arav berkata sambil memegang dadanya yang sesak. Ia menahan kesedihan karena menyesali perbuatannya dahulu. Tapi ia tahu jika Frea tidak akan menaruh dendam terhadapnya.


Frea berdiri, lalu berjalan ke arah ayahnya, lalu memeluk pria tua itu dengan lembut. "Demi ayah, akan kukorbankan egoku. Aku bersedia untuk memegang rumah sakit itu dan bertunangan dengan Sammy." Suara Frea terdengar lembut, seolah seperti air yang menenangkan.


Ayahnya menghela napas lega mendengar kalimat yang keluar dari bibir anak gadisnya itu. "Jika kamu tidak menginginkan Sammy, Ayah tidak akan memaksamu."


"Tidak. Aku harus menepati janjiku pada keluarga Sammy. Terlebih lagi pada Sammy, ia telah menungguku terlalu lama," jelas Frea, melepaskan pelukan ayahnya.


"Tapi, Nak ...."


"Ayah, percaya padaku. Aku baik-baik saja."


*******


Matahari telah meninggi, Frea masih saja terlelap dan berdamai dengan mimpinya. Alarm ponsel telah berdering tepat pukul tujuh pagi. Ia mengerjapkan mata meraba ponsel yang di letakkan di atas meja lampu.


Iya terbangun dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Ia ingat hari ini adalah hari yang spesial di mana ia akan rapat di rekasi untuk penobatan dirinya sebagai direktur yang baru.


Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan shower guna membasahi tubuhnya, menggunakan shampoo dan sabun beraroma cherry blossom favoritnya.


"Ah ... aku mengenakan baju apa, kali ini?" gumam Frea dalam hati.


Setelah selesai mandi Frea keluar menggunakan kimono handuk merah, lalu duduk di depan meja rias ia bersiap merias diri dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer miliknya.


Ia telah bersiap menggunakan rok span hitam selutut dengan dipadu dalaman berwarna putih lalu tak lupa mengenakan blezer dengan motif bunga kecil dilengkapi dengan sepatu hitam dan tas yang warna hitam yang sengaja di tentengnya. Rambut di kucir tinggi membuat penampilannya sangat cantik dan anggun.


Lalu ia turun kebawah menuju mobil Volkswagen hitam terbaru pemberian ayahnya. Tak lupa ia mengenakan sunglasses agar terhindar dari sinar ultraviolet.


Ia menyetir mobilnya setenang angin, Frea tak mau harinya di awali dengan ketergesa-gesaan. Tak lupa ia menyalakan musik favoritnya. Lagu lawas milik westlife yang ia sangat sukai up town girl membuat harinya bersemangat.


Dengan langkah yang anggun dan cantik ia keluar lalu melepaskan kaca mata hitam miliknya, dengan tinggi semampai bak artis Frea berjalan tenang menuju ruang rapat.


Senyuman selalu ia perlihatkan selama perjalanan, Frea sekarang bukanlah ia yang dahulu, sekarang ia menjadi seseorang yang lebih tenang dan ramah.


"Selamat pagi, nona," sapa seorang pegawai cleaning servis rumah sakit.


"Pagi, semoga harimu menyenangkan." Frea menjawab dengan senyuman paling ramah yang ia miliki.


Di tengah jalan ia melihat Zico berjalan dengan dengan tatapan melihat padanya, seolah Zico sedang menelanjangi tubu Frea.


Namun wanita itu tetap bergeming dan terus berjalan tanpa memperdulikan laki-laki itu.


Tiba-tiba ....


"Apakah cintamu padaku telah memudar?" Zico berbalik badan dan berhenti.


Frea pun berhenti lalu sejenak ia menghela napasnya dalam-dalam. "Cintaku padamu tidak merubah, tetapi jika memilikimu adalah sesuatu yang mustahil. Maka perlahan aku melupakanmu."


Lalu wanita 29 tahun itu tersenyum dan kembali berjalan meninggalkan Zico yang tampak berdiri mematung.


Tak lama ia telah sampai di dalam ruang rapat, semua dewan direksi telah menunggunya tidak terkecuali ayah dan Arga.


Lalu ia duduk di sampin Arga, rapat pun telah di mulai. Vote pun telah di laksanaka. 6 dari 10 dewan direksi telah memilihnya untuk mengampu jabatan sebagai direktur utama rumah sakit healty life.


"Selamat, Nona." Semua orang memberinya selamat. Namun bukan kebahagiaan yang Frea rasakan, tetapi beban yang akan dia tanggung seolah telah menggerogoti pikirannya. Ia tahu bagaimana sibuknya sang ayah ketika megampu jabatan sebagai komisaris sekaligus direktur dari rumah sakit Healty Life.


"Ayah percayakan semua ini padamu, Nak." Ayah Frea berucap sambil memegang pundak anaknya.


"Selamat dokter Frea. Kamu pasti bisa!" ucap Arga, dengan menjabat tangan Frea.


"Terimakasih Mr. Semoga saya tidak mengecewakan kalian yang telah mempercayakan kepemimpinan rumah sakit ini kepada saya."





Bersambung


"Cintaku padamu tidak merubah, tetapi jika memilikimu adalah sesuatu yang mustahil. Maka perlahan aku akan melupakanmu."


'Frea'


Terimakasih teman-teman telah membaca sampai bab ini, temukan kejutan-kejutan selanjutnya.


Jangan lupa like, komen dan Vote agar author lebih semangat untuk update novel setiap hari.


Salam hangat


Novi Wu.