Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#S2 Tangisan Frea



Boss Come here Please 121


Malam semakin larut udara hari ini di ibukota sungguh menusuk tulang hingga mampu membuat sendi-sendi terasa linu dibuatnya. Padahal hari ini sama sekali tidak turun hujan.


Denting jam di dinding menunjuk pada pukul sebelas malam, waktu bagi sebagian orang untuk menarik selimut dan berdamai dengan mimpi indah. Setidaknya tidur bisa membuat penat mereka luntur dan sirna.


Jantung Frea terasa berhenti ketika telepon Zico telah terputus. Kakinya lemas bahkan untuk berjalan pun ia seolah tak sanggup. Ia terus menghibur hatinya sendiri bahwa Zico akan baik-baik saja.


Ia masih terus mencoba kembali menelepon Zico beberapa kali, akan tetapi laki-laki itu tidak menjawab panggilannya.


Napas Frea seperti tercekat seketika ketika Zico sama sekali tidak menggubrisnya. Hingga ia mencoba menghubunginya sekali lagi dan ....


"Halo." Akhirnya suara lemah itu menjawab panggilan Frea.


"Halo, kamu di mana dan sedang apa?" Selidik Frea.


"Aku masih di tempat yang sama jalan Bougenville, merenungkan kebodohanku."


Tiba-tiba Frea mendengar suara seperti benda saling bertabrakan diikuti dengan matinya sambungan telepon antara mereka berdua.


BRAKKKK ....


Tut ... tut ...


Dada Frea tiba-tiba sesak, napasnya memburu. Ia sangat kebingungan ketika mendengar hantaman benda keras tari.


"Zico ... Halo ...." Tangan dan kaki Frea bergetar hebat, wajahnya berubah pucat pasi ia terus menggigit kukunya dan jalan mondar-mandir ketika panik. Ia ingat tadi Zico berkata bahwa dia sedang berada di jalan Bougenville, cepat-cepat ia mengambil jaket untuk menutupi stelan baju tidur yang ia pakai, lalu menyambar tas yang sengaja ia taruh di atas meja.


Setelah sampai di bawah suasana ibukota saat malam bukannya sepi malahan semakin terasa ramai. Tanpa pikir panjang Frea menghentikan taksi yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun taksi yang mau berhenti untuknya.


Ia terus menggigit kukunya karena panik dan tak ada taksi yang mau membawa Frea ke tempat yang ia akan tuju. Hingga 15 menit berlalu. Dari kejauhan tampak taksi berwarna kuning tiba-tiba berhenti tepat di hadapan Frea.


"Nona apakah anda sedang menunggu taksi?" tanya sopir taksi tersebut.


"Ya ... saya sedang menunggu taksi."


"Masuklah! Saya akan membawamu di tempat tujuan."


Tanpa pikir panjang Frea masuk ke dalam mobil tersebut. "Antarkan saya ke jalan Bougenville, Pak!"


"Baik," sahut supir taksi tersebut.


*****


Tidak butuh waktu lama dengan kecepatan tinggi Frea mampu sampai ke jalan Bougenville dengan mudah.


Di tengah jalan Bougenville banyak polisi dan masya masyarakat berkumpul, ada bara api yang menyala-nyala disertai asap hitam yang warnanya tenggelam oleh kegelapan malam tampak membumbung tinggi.


Frea kaget bukan kepalang menyaksikan kejadian yang ada di hadapannya, hatinya terus berkecamuk napasnya memburu menyaksikan keributan yang ada di depannya.


Ia masih berpikir positif dengan menenangkan diri, ah mungkin sedang ada ujuk rasa dan berakhir dengan kerusuhan. Akan tetapi negara ini sedang keadaan baik-baik saja ekonominya juga masuk ke dalam 10 besar negara sedang berkembang dan itu sangat mustahil jika ada kerusuhan.


"Nona, kita tidak bisa jalan lagi, karena jalan telah di tutup oleh polisi. Ataukah kita harus mengambil jalan memutar?" tanya sopir taksi yang berumur kira-kira 40 tahun tersebut. "Tetapi ini sudah larut, Nona. Apabila kita memutar, akan memakan banyak waktu," imbuh supir taksi tersebut.


"Tidak perlu, Pak. Saya akan turun di sini?" jawab Frea, namun matanya tetap fokus ke depan ke arah keramaian itu.


Frea mengangguk pelan dan keluar dari mobil taksi itu. Matanya tidak pernah lepas memandang kerumunan polisi dan masyarakat sekitar yang tampak bergerombol.


Dengan kaki lemas dan berjalan pelan Frea mendekati kerumunan itu, hawa panas dari kebakaran mobil sangat terasa menyentuh kulit-kulit Frea.


Ia sengaja mendekati salah seorang untuk bertanya sesuatu sebelum ia mendekat ke arah sumber kerumunan tersebut.


"Permisi, pak. Ada kejadian apa di depan sana?" tanya Frea dengan suara bergetar.


"Ada kecelakaan mobil sedan dengan sebuah bus antar kota antar provinsi, Nona." jawab laki-laki itu. "Korban masih terjebak di dalam mobil yang terbakar itu, sepertinya ia seorang laki-laki dan di perkirakan sudah tewas," imbuh laki-laki itu.


"Mobil sedan, laki-laki?" Frea bertanya kembali dengan suara lirih, guna memastikannya.


Laki-laki itu mengangguk dan kembali berjalan menjauhi Frea. Frea menatap nanar pemandangan merah membara di hadapannya, tanpa di sadari bulir air mata telah jatuh membasahi kedua pipinya. Hatinya berkecamuk dan marah pada dirinya sendiri, bagaimana jika itu adalah Zico, laki-laki yang ia cintai.


Ia mencoba mendekat dan semakin mendekat, pupil matanya langsung menyambar mobil yang tengah terbakar dan ringsek dengan begitu parahnya. Frea terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kakinya semakin melemas bahkan ia sudah tidak mampu berdiri dengan sempurna. Itu adalah mobil Zico hanya saja plat nomor mobilnya telah tertutup api sehingga tidak bisa terlihat dan ia tidak bisa memastikan apakah itu mobil Zico.


Frea terduduk di atas aspal hitam, ia meratapi kesedihannya meskipun dia tidak bisa memastikan apakah itu Zico atau tidak.


"Zico! Zico!" Frea berteriak dan menangis sambil menutup wajahnya, polisi dan masyarakat yang mendengar teriakan Frea langsung berpaling dari api dan menatap Frea seketika.


Seorang polisi wanita menghampiri Frea dan bertanya, "Apakah anda mengenal korban?"


Frea membuka tangannya dengan isak tangis yang menjadi-jadi ia berkata lirih, "Saya rasa itu adalah mobil teman saya, sebelum menutup panggilan telepon saya, ia sedang berada di sini kemudian saya mendengar suara benda saling bertabrakan dan ponselnya tiba-tiba mati."


"Anda sabar saja, kami sedang mengupayakan pemadaman api itu, semoga saja itu bukan teman anda." Polisi wanita itu mencoba menghibur Frea.


Dari kejauhan berselimut kegelapan malam perlahan namun pasti sesosok laki-laki berjalan ke arah Frea.


Dengan mata sayup dan masih ditutupi oleh air mata mencoba mengenali sosok tersebut. Ia semakin mendekat dan mendekat.


Frea seperti mengenali laki-laki itu. "Zico?!"


Frea langsung berdiri dan berlari ke arah laki-laki itu, kemudian ia membenamkan wajahnya ke dada laki-laki tersebut dan memeluknya erat. "Kamu masih hidup?" tanya Frea.


Zico memeluk Frea erat dan mencium aroma cherry blossom yang masih tercium di rambut dark brown Frea. Dengan lembut Zico mengelus rambut Frea.


"I love you, Zico!" air mata masih membasahi kedua pipi Frea, lalu dengan tangannya, Zico mengusap air mata Frea dengan lembut.


Zico menyentuh wajah Frea dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir Frea dan berkata, "I love you too, Frea."





Bersambung.


Uluh uluh aku baper.


Jangan lupa like komen dan vote


😋😋😋