Boss Come Here Please!

Boss Come Here Please!
#Kebahagiaan Hakiki



Hallo~


Selamat-selamat buat Asta, ude Hamdun aja neh.


Tetep semangat lanjut baca sampai bab ini yah, kakak kakak kecehku.


Selamat datang di dunia kehaluan tanpa batas bersama Novi Wu.


❇❇❇❇❇


Arga memandang tubuh istrinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur mereka. Ia berfikir, bagaimana bisa aku akan menjadi seorang ayah? Hingga detik ini ia benar-benar tak percaya. Jika dipikir-pikir dulu ketika ia menikahi Wina, bayangan memiliki seorang bayi mungil tak pernah terlintas dipikiran Arga.


Karena Wina lebih memilih karir, kecantikan dan tak pernah ingin repot dengan mengurus seorang bayi. Namun kini hal itu tak akan terjadi. Karena Asta hamil, dadanya sesak air mata seolah ingin tumpah namun ia berusaha untuk menahan itu semua agar tidak keluar.


Ia mengusap lembut rambut sang istri, wanita inikah yang akan menjadi rumah sementara untuk sang buah hati? Wanita inikah yang akan menyusui anaknya selama dua tahun? Dan apakah wanita ini yang akan rela menghabiskan waktunya hanya untuknya dan buah hati mereka? Membayangkan itu membuat Arga sangat bahagia. Ia perlahan mencium kening istrinya, membelai rambut sang istri, kemudian ia tak meninggalkan perut Asta hanya untuk mengusap dan membisikan kata. "Hai, nak. Aku ayahmu, semoga kamu sehat di dalam sana. Aku akan sabar menantikanmu," bisik Arga.


Asta mengerjapkan mata, pandangan kabur melingkupi kedua bola matanya, ia melirik ke arah perut dan mendapati Arga sedang berbisik lembut di sana. "Apa yang kamu lakukan, Arga?" tanya Asta heran.


Arga mendongakan kepalanya melihat ke arah sang istri. "Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu, sayang?"


"I'm fine," sahut Asta, lalu ia bergerak untuk duduk di atas kasur empuknya.


"Pelan-pelan!" perintah Arga, khawatir.


Asta mengkerutkan kening karena sedikit heran dengan kalimat perintah untuknya.


"Pelan-pelan, kenapa?"


"Kamu hamil, Sayang," jawab Arga, masih sibuk menyangga punggung sang istri.


"Aku hamil? oh, ya aku telat datang bulan dan tadi aku mual. Apa itu tanda aku hamil?" tanya Asta, penuh semangat.


"Ya, kamu sedang mengandung anak kita, jaga baik-baik, dia masih sangat kecil di sana." Arga mengusap perut sang istri dengan lembut.


Asta terus mengusap lembut perutnya."Sedang apa kamu di sana nak?"


"Sedang bobok, Mama," jawab Arga dengan suara mirip anak kecil.


Karena mendengar jawaban lucu dari sang suami membuat Asta gemas dan spontan memukul lengan laki-laki 35 tahun itu.


"ih, gemas!"


"Aw, sakit, sayang!" seru Arga menahan rasa sakit.


Asta terkekeh melihat kelakuan suaminya sendiri. "Sini, peluk aku!" perintah Asta dengan menyodorkan tangannya ke depan.


Tanpa basa-basi Arga meraih tangan Istrinya, dan memeluknya. Namun tiba-tiba ....


"Oekkkkk!" Asta tiba-tiba mual, itu membuat Arga terperanjat kaget dan melepaskan pelukan sang istri.


"Ada apa?"


"Kamu memakai parfum apa, sih?" tanya Asta, menutupi lubang hidungnya dengan tangan.


"Parfum biasa, parfum yang kamu suka," jawan Arga polos.


"Pergi sana! Lepaskan bajumu! Bau parfummu membuatku mual!" perintah Asta.


Arga spontan menciumi lengan dengan ketiaknya sendiri untuk memastikan apakah ada yang salah dengan aroma tubuhnya.


"Cepat!" teriak Asta.


"Iya-iya. Aku akan ganti baju sekarang," jawab Arga polos.


"Nanti buang saja parfum itu!" gerutu Asta kesal.


❇❇❇❇❇❇


Setelah beberapa saat Arga selesai berganti baju ia mencoba mendekati wanita pujaan yang sedang asyik menekan remote televisi guna mencari chanel yang tepat untuk ia nikmati. Namun tiba-tiba Asta tertegun pada satu iklan televisi di mana ada seloyang pizza dengan taburan keju melimpah di atasnya, itu sungguh menggugah nurani Asta untuk segera menyantap makanan asal itali tersebut. Sehingga mau tak mau ia tak akan segan meminta kepada suaminya yang mulai mendekat padanya.


"Arga, aku mau itu!" teriak Asta.


Seketika Arga menoleh ke arah jari telunjuk Asta. "Iya nanti aku belikan."


"Tidak! Aku mau itu sekarang!" seru Asta kesal.


"Iya, aku akan meminta Adamson untuk membelikannya untukmu," sahut Arga dengan mengeluarkan pesona senyum pengertian.


"Tidak perlu senyum! Aku mau kamu yang membelikannya sekarang juga, Sayang!" perintah Asta.


"Sayang, kamu tahu betul siapa aku, bukan? Aku tak akan pergi ke tempat seperti itu hanya untuk membeli seloyang pizza," jelas Arga, dengan penuh kesabaran.


Bukannya tenang, Asta malah semakin menjadi-jadi, ia menangis sesenggukan agar Arga mau membelikan apa yang dia mau.


"Aku mau kamu yang pergi dan membelikan makanan itu untukku, aku tidak mau orang lain!" seru Asta, dengan air mata mengalir deras melewati pipi mulusnya.


"Baiklah aku akan pergi, sekarang. Kamu tidak perlu menangis! Jaga kesehatanmu, kamu tidak boleh stres, Sayang!"


"Jika kamu tidak ingin aku stress, seharusnya kamu cepat pergi belikan makanan asal italia itu untukku," ucap Asta memasang wajah paling mengenaskan serta air mata tak berhenti mengalir di pelupuk matanya.


"Baiklak, aku pergi, usap air matamu, oke!" kata Arga khawatir.


❇❇❇❇❇


Setelah menunggu beberapa lama, Arga kembali dengan menenteng pizza pesanan Asta tadi.


"Lama sekali?!"


Arga menghela napas, menahan kesabaran menghadapi wanita hamil di hadapannya ini.


"Hmm...."


Dengan cekatan Arga membuka pizza yang ia bawa di depan sang istri. Dengan penuh antusias Asta mengambil pizza tersebut dan menggigit sedikit ujungnya. Mengunyah perlahan, lalu mengembalikan sisanya kembali ke tempatnya.


"Loh kok sedikit yang dimakan?" tanya Arga heran.


"Ya karena kamu terlalu lama, jadi aku sudah tidak ingin," jawab Asta tanpa dosa.


Arga sekali lagi menghela napas dan mengusap dadanya sendiri, sembari bergumam dalam hati.


"Sabar, Arga. Penderitaanmu ini akan berlangsung selama sembilan bulan."


.


.


.


.


Bersambung~


❇❇❇❇❇❇


Di bawah indahnya ukiran langit


Kutuliskan rasa dalam bait


Bagai benang yang dijahit


Bagai kayu yang dirakit


Tak terasa telah menetes peluh


Karena ternyata telah begitu jauh


Sampai pada tempat hati berlabuh


Pada jiwa yang tak pernah luruh


Namun apalah daya


Cinta hanya sebatas rasa


Yang terpendam dalam jiwa


Dan menyisakan hati yang luka


Dalam bait


Menggambarkan hati yang sakit


Menyisakan kenangan pahit


Yang makin lama makin membelit


Jujur kata dalam hatiku


Hanya satu kata yaitu “RINDU”


Yang entah mengapa mengarah kepadamu


Dan menyesakkan ruang pikirku


karawang, 11 Juni 2020


Mone~


❇❇❇❇❇


Hai temen-temen, terimakasih atas


Like, komen dan Vote yang kalian berikan untuk Boss Come here Please!


Itu semua adalah semangat Novi untuk terus menulis.


Baca karya Novi yang lain, yuk.


~The Love Story of a Water God


Genre Fantasi romantis


Menceritakan tentang dewa air yang menanti cinta seorang gadis manusia selama 2000 tahun. Baca dan tenggelamlah di sana.


~Love is Blind


Genre Romantis


Menceritakan tentang penantian seorang pria terhadap wanita pujaannya hingga ia menjada


Ini baru 2 bab, dan semoga berjalan lancar.


Gumawo


NOVI WU