
Boss Come Here Please! 140
Nah semua pada lega, ngga mungkin, 'khan. Aku buat konflik tanpa tujuan 😐
Jangan su'uzon dulu mamak-mamak 🤧
***
Semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga. Yufen tengah memicingkan matanya menatap benci sepasang suami istri itu. Karena Arga dan Asta adalah salah satu kerabat, mereka juga ikut serta di dalam diskusi penting itu.
"Sejak kapan kalian menikah?!" Mardella membuka percakapan dengan bahasa yang amat ketus.
Frea mengambil napas panjang, dan siap membuka mulutnya, namun ....
"Kami menikah di pulau, kami dinikahkan oleh tetua adat setempat," sahut Zico mendahului Frea.
"Hah ..." Mardella terkejut, sepertinya Yufen tidak menceritakan apapun kepada dirinya. Padahal setiap polah tingkah Frea tidak luput dari Yufen dan langsung melaporkan kepada tantenya itu.
"Ya ... kami sudah mendaftarkan pernikahan kami kemarin." Entah mengapa sejak Frea membuka mulut ia sudah memiliki keberanian untuk melawan Mardella. Seolah pengakuan Frea adalah sumber kekuatan untuknya.
"Kalian yakin, sah?" tanya Mardella lagi.
"Anda pikir, semua orang di pulau itu menikah dengan cara apa? Anda pikir mereka berzina?!" jawab Zico.
"Kalau begitu kita resmikan saja pernikahan mereka," potong Arga, lalu menatap mata Arav dengan saksama. "Anda setuju bukan, Ketua?"
Arav mengangguk pelan, dan berkata dengan lantang, "Ya ... aku akan persiapkan pesta pernikahan di sebuah gedung mewah, bukan konsep garden party lagi. Aku memiliki trauma dengan konsep ini," ucap Arav.
Zico terus menggenggam tangan Frea hingga membuat wanitanya terus merasa nyaman dan dilindungi. Selama ini ia tidak pernah bisa melindungi Frea karena wanita itu tidak pernah memberinya kesempatan untuk itu.
"Suamiku, apa kamu yakin?" Mardella masih berusaha memisahkan Frea dan Zico dengan segala caranya. "Kamu ingin Yufen bunuh diri lagi?"
"Seharusnya Yufen dibawa ke psikiater agar tidak melakukan hal gila lagi!" jawab Arav dengan nada suara tinggi, dan membuat istrinya tiba-tiba terdiam.
Yufen pun lebih memilih pergi dengan kekesalan yang menumpuk di dalam dadanya.
"Kamu mau kemana, Yufen? Mengakhiri hidupmu lagi? Ayah akan menyiapkan pemakaman mewah untukmu!" seru Arav ketika melihat Yufen angkat kaki dari ruangan itu.
"Arav!" Mardella berteriak dengan lantang. "Bagaimanapun juga dia adalah anakmu, dan dia juga keponakanku, kamu tidak bisa melakukan hal seperti ini!"
"Bukankah selama ini ketua selalu menuruti keinginan Yufen? Bahkan demi anda dan Yufen, ketua selalu berbuat tidak adil kepada Frea," potong Arga.
"Anda siapa berani-beraninya ikut campur urusan keluarga kami?!" desis Mardella memicingkan matanya kepada Arga.
Arga berdiri, merapikan jasnya dan berkata dengan lantang, "Saya? Apakah anda lupa siapa saya? Saya Diarga Dewantara, pemilih d'Beauty Grup dan salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit Healthy Life! Anda lupa?" terang Arga, ia sedikit merasa kesal dengan kepongahan yang dimiliki Mardella dan berani-beraninya mempertanyakan dirinya.
"Ya ... aku tahu tentang kekayaanmu yang tidak akan pernah habis, tapi aku mempertanyakan siapa kamu di dalam keluarga ini?!"
"Kami adalah keluarga Frea! Frea adalah adik iparku, aku sangat beruntung jika Frea yang menikah dengan adikku!" sahut Asta.
"Kami permisi ketua, sepertinya kehadiran kami sudah tidak diharapkan di sini," ujar Arga, menggendong anak gadisnya pergi.
"Bukan begitu, Tuan Arga! Maafkan atas kelancangan istri saya," ujar Arav mencegah Arga dan keluarganya pergi.
Keluarga kecil Asta pun lebih memilih pulang ke rumah dan tidak mengikuti emosi dari Mardella, toh mereka telah bernapas lega karena akhirnya Frea berani mengungkapkan cintanya kepada semua orang.
***
Langitmu berganti malam, Frea dan Zico memilih untuk tidak pulang ke apartment dan lebih memilih menginap.
Frea duduk di depan cermin menatap pantulan suaminya yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Zico ...."
"Hmmmm ...." Zico tampak asyik memandang layar ponselnya.
"Kamu sedang apa?"
Frea beranjak berjalan ke tempat tidur, lalu tidur dan bergelayut manja di sebelah Zico. Pria itu memandang lembut ke arah istrinya.
Perlahan Zico mengecup tengkuk istrinya, ia menghirup kuat-kuat parfum cherry blossom yang selalu Frea kenakan.
"Aku selalu mencintai harummu, Frea."
Frea pun tersipu malu, ia tidak menyangka bahwa kini ia dapat terang-terangan memeluk dan bercumbu dengan suaminya tanpa ada rasa ketakutan.
"Kamu suka kita yang sekarang?" tanya Zico.
Frea mengangguk dengan seutas senyum manis mengembang di bibirnya.
"Seharusnya kamu memiliki keberanian ini sejak dulu." Zico mencubit hidung istrinya itu.
"Kak Asta yang memberiku keberanian ini," jawab Frea.
"Asta memang kakak terbaik, walaupun ia bukan kakak kandungku, tapi dia selalu menyayangiku seperti adiknya sendiri."
Sekali lagi Zico meniup telinga istrinya itu dengan lembut, yang menciptakan sensasi geli untuk Frea. Seketika wajah Frea memerah karenanya.
Napas Zico memburu tatkala tangannya mulai menari-nari di atas kulit mulus Frea, ia menyentuh secara perlahan dan mengambang meninggalkan sensari aneh dan membuat Frea mengg*linjang karenanya.
Zico menghembuskan napasnya ke leher jenjang istrinya dan mencercap hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana, sementara Frea hanya bisa memejamkan mata menikmati permainan suaminya itu.
Malam itu terasa dingin, suasana sangat mendukung bagi mereka untuk menuntaskan hasratnya, ini adalah kali kedua mereka akan melakukan hubungan suami istri.
Tangan Zico seakan berbicara memainkan permainannya sementara Frea hanya bisa meliukkan tubuhnya, bagai gitar spayol.
Dua anak manusia yang terpaut dalam ikatan sakral pernikahan itu, sekarang sedang menjalani perannya masing-masing untuk semakin menyatukan cinta mereka.
Zico mencercap lembut bibir istrinya, rasa manis memenuhi ruang mulutnya, seolah Frea tengah menikmati sebuah permen manis dan membuat salivanya juga menjadi semanis madu. Napas mereka saling memburu, ranjang pun seolah ikut menari-nari seiring dengan ritme yang di ciptakan oleh Zico.
Untuk malam ini Zico mengambil kuasa atas diri Frea, bermain halus dan lembut untuk menyenangkan hati istrinya itu.
Mereka saling memejamkan mata, berayun mengikuti irama yang seolah menyatu dengan suasana malam ini.
Teriakan-teriakan indah sudah tidak terhitung lagi dan menciptakan keringat yang menyatukan tubuh mereka berdua.
Mereka berdua menuju puncak nirwana secara bersamaan, menikmati setiap detik gelora yang mereka ciptakan, malam yang begitu indah bagi sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara.
Tubuh mereka lunglai dengan berpelukan untuk mengotrol napasnya kembali.
"I love you." Zico meninggalkan kecupan sayang untuk istrinya. Lalu memeluk erat tubuh istrinya itu dengan perasaan bahagia dan lega, karena kini mereka telah bersatu untuk selamanya.
•
•
•
Bersambung
Hai teman-teman aku mau buat visual untuk Zico dan Frea, temen-temen maunya visual seperti apa?
Artis Indonesia, Artis Korea, Artis Thailand, Artis China atau bule?
Tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar, 'ya?!
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote seiklasnya.
Terimakasih dan Papay....
Buat Temen-temen yang suka dark romance yang bikin tegang dan menguras emosi, Mr. Mafia cocok untuk kalian.