
Boss Come Here Please! 128
Suasana kota Apache saat itu sungguh mencekam, semua orang tampak panik banyak dari keluarga mereka yang hilang tidak di ketemukan.
Dengan langkah kaki gamang Frea berjalan di temani Zico yang terus mengikutinya dari belakang. Tak jarang ketika ia melihat anak kecil yang menangis ia juga akan ikut menangis meskipun tidak sampai sesenggukan, tapi hal itu cukup membuat Zico khawatir.
"Kamu baik-baik saja, Boss?" tanya Zico, menyentuh pundak atasannya itu.
Frea dengan pelan melepaskan tangan Zico dan berkata, "I'm oke."
Mereka masih terus berjalan hingga menuju barak bertuliskan Rumah Sakit Healty Life. Kemudian mereka masuk. Di dalam tenda yang cukup panjang dan besar itu ada beberapa alat-alat media penunjang untuk para dokter yang akan membantu para pasien yang ada di sana.
Tiba-tiba ada beberapa aparat pengamanan negara datang dengan kata-kata sedikit gusar, salah satu dari mereka berkata, "Dokter. Apakah anda bisa membantu kami menyisir wilayah yang terdampak tsunami sebagai tenaga medis di tempat?"
Zico dan Frea saling bertatapan seperti bingung satu sama lain, namun dengan tegas Frea berkata, "Baik, saya siap demi membantu negara!"
Zico yang sedikit tercengang mendengar kata-kata Frea merasa khawatir kemudian ia memutuskan untuk ikut serta bersama Frea dan para Aparat Keamanan Negara ke lokasi terdampak bencana.
*****
Karena tsunami belum sepenuhnya surut mereka pergi kesana dengan perahu karet yang di siapkan oleh Badan Bencana Negara.
"Mengapa tsunami ini sedikit aneh? Kenapa malah menjadi seperti banjir, pak?" tanya Frea penasaran.
"Kami juga heran, dok. Ada apa dengan ini semua, seolah tuhan sedang menunjukan kuasaNya untuk kita para manusia," jawab salah satu dari mereka.
Tiba-tiba kilat menyambar di sertai dengan hujan yang sangat lebat. Membuat mereka basah kuyup akibat air yang secara bersamaan jatuh menimpa bumi. Belum juga tsunami surut, namun Tuhan telah menurunkan hujan. Mungkin ini adalah rahmat sekaligus kuasa yang ditunjukan oleh Tuhan.
Angin membuat perahu mereka terombang-ambing tidak karuan membuat suasana di atas kapal karet yang berisikan delapan orang itu sangat mencekam.
"Ada apa ini, Pak?!" seru Zico dengan reflek memeluk Frea untuk melindungi gadis itu.
"Sepertinya ini bukan angin, tapi gempa susulan!"
"Hah ...." Belum sempat Frea menyelesaikan kata-katanya. Ombak besar datang menejang perahu mereka, sehingga membuat perahu karet yang membawa delapan orang itu terbalik hingga menenggelamkan semua kru.
Zico yang sejak tadi terus memeluk Frea dengan erat tidak mampu mempertahankan pelukannya, sehingga membuat mereka terpisah.
Dengan susah payah Zico berenang menuju permukaan agar lebih mudah mencari Frea yang terpisah darinya, karena jika ia mencari di dalam air akan sangat sia-sia karena air itu berwarna coklat bercampur dengan lumpur.
"Frea! Frea!" Zico terus berteriak di permuakaan kemudian kembali menyelam untuk mencari keberadaan Frea.
Napasnya tampak terengah karena mengikuti arus dan takut jika terjadi apa-apa dengan Frea. "Frea!" serunya lagi.
Sementara para Aparat Keamanan Negara itupun mulai berpencar karena ada beberapa temenanya juga yang ikut hilang di bawa arus.
Dengan sekuat tenaga Zico terus berenang mencari keberadaan sang gadis yang ia cintai, air mata tak terasa telah luruh membasahi kedua pipi pria itu.
"Frea! Di mana kamu?!" Zico berkali-kali memukul air karena telah frustasi.
"Freaaaaa!" teriaknya sekali lagi, namun tak ada sama sekali sahutan dari wanita itu. Frea benar-benar hilang di telan oleh air tsunami.
Sebuah lemari besar terhanyut di depan mata Zico, dengan susah payah ia meraih agar bisa naik dan mencari Frea dengan mudah. Butuh beberapa kali perjuangan karena beberapa kali pula lemari itu tampak terbalik. Namun akhirnya ia berhasil naik di atas lemari itu, dan terhanyut mengikuti arus untuk mencari Frea.
*****
Setelah beberapa saat terhanyut, Zico melihat manusia di atas dahan pohon yang tinggi, tampak sedang miringkuk di sana dengan memakai jas berwarna putih. Oran itu tampak sesenggukkan karena sepertinya ia sedang menangis.
"Frea!" seru Zico membuat gadis itu serta merta mendongakan kepalanya dan langsung menceburkan diri ke dalam air untuk menghampiri Zico, begitu pula dengan Zico yang melakukan hal yang sama dengan Frea.
Mereka saling berpelukan dengan erat. Tak henti-hentinya Frea menangis karena merasa lega, tubuhnya begitu menggigil dan ketakutan.
Zico mengecup kening Frea beberapa kali karena bahagia telah menemukan gadis itu.
"Frea berenang ke arah almari itu!" perintah Zico, melihat benda itu mulai hanyut terbawa arus.
Mereka berdua berenang dan dengan cepat untuk meraih benda yang terbuat dari kayu tersebut.
Setelah sampai, Frea dituntun oleh Zico untuk naik di atas almari tersebut. Frea berhasil naik, saat Zico akan naik tiba-tiba lemari itupun terbalik dan menenggelamkan mereka berdua karena tidak seimbang.
"Sepertinya hanya bisa dinaiki oleh satu orang, lebih baik kamu sendiri saja, biarkan aku berenang menuntun benda ini!" perintah Zico.
"Ta-tapi ...."
"Sudah, kali ini menurutlah padaku, Frea!"
Frea menuruti perintah Zico dan duduk mematung di atas almari kayu tersebut. Setelah beberapa saat mereka berenang dan hanyut, badan Frea mulai menggigil kedinginan. Frea terserang hipotermia karena memakai baju yang basah untuk beberapa waktu yang lama.
Zico begitu panik melihat wajah Frea yang pucat, bibirnya yang biasanya merah muda kini berubah menjadi putih dan badannya bergetar hebat.
"Frea kamu tak apa?" tanya Zico lirih.
Frea hanya bergeming tak menanggapi perkataan Zico. Tak berapa lama Zico melihat gedung dua lantai yang di atasnya tampak tak terendam oleh air sama sekali.
Dengan cepat Zico mengarahkan Almari itu ke arah gedung tersebut. Membantu Frea naik dan membopong tubuh wanita lemah itu ke dalam ruangan.
Mereka berdua dalam keadaan basah kuyup di ruangan itu juga tidak ada baju atau apapun yang bisa di pakai. Yang ada adalah sebuah taplak meja bermotif batik yang ada di atas meja. Sepertinya gedung itu adalah kantor pemerintah desa setempat yang terkena dampak tsunami.
Dengan cekatan Zico membuka baju Frea untuk membungkus badan Frea yang dingin akibat terlalu lama terkena air, setelah tubuh polos Frea terekspos, Zico tampak menelan ludah sesaat. Bagaimana pun juga dia adalah laki-laki normal, sejenak ia terdiam menyaksikan pemandangan indah di depan matanya sedetik kemudian ia tersadar bahwa Frea membutuhkan pertolongan, lalu Zico membungkus tubuh Frea dengan tiga taplak meja yang ada di atas beberapa meja. Namun yang terjadi setelah Frea di bungkus.
"Dingin ... dingin ...." Rintih Frea secara tidak sadar.
Dengan cekatan Zico membuka seluruh bajunya yang basah hingga tidak tersisa satu helai benang pun, lalu memeluk tubuh Frea agar hangat tubuh Zico tersalur kepada Frea sehingga badan Frea akan hangat oleh suhu badan Zico.
Zico beberapa kali menelan ludahnya sendiri dan menahan hasrat ingin menelan tubuh Frea saat gadis itu tidak berdaya.
Akan tetapi ....
•
•
•
Uwaowwwww ....
Makin seru nggak sih? BTW apa yang akan terjadi, 'ya? Tubuh mereka polos dan saling memeluk. OMG....
Beri kesan dan pesan kalian di kolom komentar, 'ya!
Jangan lupa Like komen dan Vote
Terimakasih dan Papay....