Arkan Dinda

Arkan Dinda
Keluar kota



Masuk kedalam rumah setelah sampai tadi. Sampai di dalam,


baru saja menatap Kakek dan Nenek yang duduk di meja makan.


Arkan dan Dinda berdiri diam di tatap kakek.


"Kamu bantu nenek, saya mau bicara dengan Arkan," ucap kakek pada Dinda.


Dengan anggukan pelan Dinda berjalan kedapur pegal kakinya di tahan.


Di ruangan kerja Kakek menyerahkan proyek luar kota.


"Kamu urus proyek itu sampai selesai. Bagaimana malam pertamamu apa sudah kamu lakukan," ucap Kakek dengan wajah datar.


Arkan terdiam menatap berkas yang sedang di bacanya.


"Kakek akan pergi sebentar lagi, jadi makan malam bersama."


Arkan mengangguk saja dengan ucapan Kakek.


"Kuharap kamu bisa mendapatkan keturunan dari perempuan itu, jika belom bisa Kakek masih ada calon terbaik untuk menggantikan perempuan itu."


Perkataan Kasar Kakek tanpa sadar Dinda dengar. Dinda masuk sebelumnya mengetuk pintu dan meletakan teh.


"Sepertinya kamu tidak butuh pembantu istrimu bisa bekerja dengan baik bukan, lagi pula alat elektronik rumah ini juga banyak membantu kebutuhan rumah tangga." Kata kakek lagi.


"Sudah Kek," ucap Arkan dengan datar.


"Kamu istirahat di kamar kalo udah selesai bantu nenek," ucapan Arkan lagi, membuat Kakek menatap datar Dinda dan ekspresi Dinda saat ini sangat tegang dan takut salah.


Dinda hanya bisa mengangguk menuruti ucapan Arkan tapi, di luar nenek sedang sangat sibuk.


Dinda pamit keluar dan membantu nenek.


"Aku tidak sangka ternyata kamu bisa seperhatian itu pada perempuan jelek itu," ucap Kakek dengan nada bicara mengejek.


Arkan tidak nyaman dan ingin marah tapi ini kakeknya.


"Semoga kau tidak membuat Proyek ini berantakan, Jangan sampai mempermalukan keluarga ingat baik-baik nak," ucap Kakek dengan wajah datarnya.


Arka bergeming di tempat duduknya.


Di dapur Nenek sudah selesai dan Dinda juga sudah membantu sampai selesai.


Seketika Nenek menggeser dua kantung perlengkapan hamil.


"Jangan di tunda kalo bisa sekarang sekarang ya nak," ucap Nenek dengan wajah ramah dan senang.


Dinda tersenyum paksa mengangguk saja tapi dalam hati Dinda ingin mengatakan tidak.


*


Sepulangnya Nenek dan Kakek yang tidak jadi makan malam karena Pak Johan mengubungi kakek.


Dinda dan Arkan kembali berdua lagi. Dinda langsung duduk berselonjor di sofa dan meletakan kaki lebih tinggi dari kepala.


Arkan melangkah keluar lagi dengan kunci motor dan ponsel di telinganya.


"Mau kemana lagi kak," ucap Dinda yang melihat Arkan pergi keluar.


"Sebentar," singkat Arkan Dinda hanya diam.


Terdengar suara motor Arkan menjauh Dinda kembali diam dengan rumah yang sepi dan kosong.


Semuanya rapi dan terurus Dinda denger kalo Kak Arkan pindah kesini gara-gara Kakeknya dan Dinda juga.


Kok Dinda merasa bersalah ya apa Dinda memang pembawa musibah. Seharusnya Ibu sama Ayah gak usah nganggep Dinda, kan gini jadinya Kak Syifa sendiri Dinda juga.


Kakeknya Kak Arkan juga kayaknya gak suka banget sama Dinda tapi, kenapa sama Dinda di nikahin cucunya. Terus yang waktu itu, Kok rasanya gak nyaman banget.


Kak Arkan keluarga nya terpandang Dinda yang cuman mirip orang idup numpang, gak enak banget.


Atap ini rumah ini Dinda tatap keatas lampu gantung yang sempurna di letakan diatas di gantung di rumah yang mewah dan bagus. Tidak seperti lampu lima wat yang ada di garasi rumah Dinda.


Hah.. Lucu apa begitu cara kerja barang yang cantik dan indah.


Sudah tidak cantik dan Indah di buang ke tempat yang sama nilai rendah dengan barang bekas pakai.


Lalu kedudukan Dinda apa sama seperti barang itu.


Hamil?


Haah... Nenek meminta Dinda untuk hamil.


Bangkit dari baringannya di atas sofa Dinda pergi kedapur membongkar barang yang di bawa Nenek.


Ada susu ada vitamin panduan olah raga dan buah juga sayuran ada ubi-ubian.


Lengkap!


Dinda tersenyum paksa. Sedih banget Dinda diminta cepat hamil Apa gak bisa Dinda bermain-main di luar sana lebih lama sebagai gadis.


Habis ini pasti besok di tanyain lagi kenapa gak hamil pakai pengaman ya kok belum hamil.


Dinda duduk menatap sekotak susu rasa coklat, vanila dan rasa mangga.


Senang di nikahi idola sendiri tapi semuanya terlalu cepat, baru kemarin nikah sudah minta hamil juga.


Meletakkan kepalanya diatas meja dan tak lama Dinda kembali bangkit dan membereskan semuanya, tidak lupa Dinda menyimpan semuanya di tempat yang benar lalu pergi ke kamar untuk mandi lalu bersih bersih.


Setelah selesai Dinda pergi ke taman belakang untuk duduk dan membaca browsingan internet.


Tidak lama setelah itu waktu magrib Arkan kembali lagi. Dinda sudah selesai masak. Tapi, Arkan tidak menanggapinya dan melewatkan Dinda begitu saja.


Arkan masuk kekamar dan mandi lalu keluar lagi ke ruang kerjanya Dinda duduk sendiri di depan meja makan.


"Apa gak laper. Hem.... kan bilang apa percuma juga masak masakanmu itu gak enak Dinda." Dinda makan sendiri dan memakan masakannya yang rasanya lumayan sambil menangis.


Setelah selesai makan Dinda menyimpannya di lemari dan melihat Arkan di kamarnya.


Sangat sibuk.


"Kak," ucap Dinda pelan.


Seketika Arkan menoleh pada ponselnya.


Dinda beralih duduk di sofa depan tv.


Tungguin aja kali.


Dinda duduk sambil menonton tv.


*


Tengah malam. Dinda pergi ke ruang kerja Arkan lagi mengetuk pintu dan masuk.


"Kakak gak makan atau mau minum," ucap Dinda.


Arkan yang sudah terlanjur sibuk dan fokus lupa jika ada Dinda di rumah ini.


Dinda tidak mendengar apapun. Melangkah pergi berbalik keluar seketika sebuah tangan menarik Dinda dan berbalik memeluk Dinda.


Terkejut.


Jelas sekali Dinda kaget.


Tiba-tiba berputar terus di peluk Arkan.


"Maaf Apa aku gak nyadarin kamu dari tadi," ucap Arkan seketika Dinda menggeleng didalam pelukan Arkan dan menangis.


"Hiks.. Kakak lupa gak makan gak minum," ucap Dinda masih sedih. Menghentikan tangisnya.


Arkan lupa Dinda sedang tidak setabil.


"Ayo tidur," ucap Arkan lembut. Usapan di kepala Dinda membuat Dinda mengangguk.


Seketika rasa Lapar Arkan ingin makan.


"Kamu masak apa tadi, hm?"


Dinda terdiam sambil mengusap air matanya.


Menatap kebawah.


"Kayaknya gak enak, gak usah di cobai, palingan udah basi," ucap Dinda asal dan malu masakannya di cicipin Arkan.


Tapi Arkan tidak menghiraukannya dan melangkah keluar ruang kerjanya dan membuka lemari makan.


"Ini enak." Katanya dengan tulus, Dinda membantu menyiapkannya.


"Udah makan gini aja gak usah di siapin." Katanya dengan perasaan merasa bersalah dan meminta Dinda duduk saja.


Dinda gak menurut dan menunggu Arkan duduk baru Dinda duduk.


"Maaf Ya kak gangguin Kakak lagi kerja," ucap Dinda merasa bersalah.


Arkan mengambil sesuatu di lemari lain sambil mendengarkan Dinda seketika melihat susu kehamilan.


Wajah Arkan berubah dingin.


"Dinda takut kalo kakak gak selesai," ucap Dinda.


Arkan terdiam dan menutup kembali lemari itu dan beralih pada Dinda.


Arkan mengajak Dinda duduk dengan pelan.


"Nenek tanyain kamu apa tadi," ucap Arkan serius.


Dinda menunduk takut.


Aura Kak Arkan kalo lagi serius buat merinding aja.


Dinda masih diam Arkan beralih sambil makan.


Menunggu Dinda bicara.