
Arkan membaca semuanya tentang Dark moon dan King Devil lalu ada VanDase.
Arkan terdiam ketika sudah membaca laporan berkas tentang tiga kelompok itu.
Apa mungkin mereka juga membuat masalah. Pak Jersey tidak sengaja datang dengan menyebut Could Nine dan nama Ibunya Zalfa. Tapi, Pak Jersey bilang jika ini adalah misi lain tidak sama dengan sebelumnya. Perasaan Arkan mengatakan jika kali ini hanya akan ada pertemuan biasa tapi, di perlihatkan seperti akan di serang.
Arkan terdiam.
Di tempatnya Zalfa mendengar ibunya bicara dengan seseorang sepertinya wajah itu tidak asing dan seketika mengingatnya.
Zalfa menelpon Gareng untuk menunggunya di tempat biasa.
Ada selah waktu Zalfa keluar dengan anak buah ibunya dan di turunkan di apartemen Anasty.
Setelah itu meminta pulang mereka berdua. Mengangguk dan pergi meninggalkan Zalfa dengan Anasty.
Dari arah lainnya Luna datang dengan Justin dan tidak sengaja melihat Anasty dan Zalfa.
"Hay... Apa kabar, Kau tinggal di apart ini?"
Luna menoleh menyapa dan melihat Anasty dan Zalfa. Justin sedikit melirik. Anasty dan Zalfa mengangguk.
Sama sama masuk lift dan masuk kelantai berbeda. Sampai di lantai 106 Luna keluar.
"Eh.." Luna bingung kenapa Justin tidak keluar.
"Kak aku ada perlu dengan Anasty," ucap Justin.
"Oh ya, Nanti gue kirim nomer berapa apartnya," ucap Luna yang akan mengambil Belle di rumah temannya yang sedang belajar les juga.
Di dalam lift Justin menatap Zalfa dan anasty.
"Gue mau tanya sebentar. Apa lo ada sesuatu yang lo tahu, Maaf gue sembarang tapi, Ibu lo ada hubungannya sama organisasi gelap. Lo bisa jaga rahasia?"
"Iya. Gak papa tanya aja selagi gue bisa jawab gue jawab," ucap Zalfa.
"Okeh." Mengangguk Justin membuka ponselnya dan memperlihatkan logo dan gambar itu pada Zalfa dan Zalfa melihatnya.
Menyerahkan ponsel Justin pada Justin.
"Sebenernya pagi tadi pas gue mau ke dapur gue liat nyokap ngomong ke seseorang dia punya tato bentuk uler gitu dan tato lainnya gak jelas. Dan dia ngomongin Tengkorak Dark moon King Devil sama... VanDase. Pas gue mau duduk dapur gak tahunya ada perempuan kayaknya udah umur tujuh puluhan dia masuk dapur dianterin asisten rumah tangga minjem kamar mandi. Tapi, pas keluar kamar mandi di minta waktu gue buat bicara sama dia...."
Penjelasan Zalfa berhenti ketika pintu lift terbuka. pergi ke apart Anasty.
Ketika di buka ternyata Gareng sedang duduk membaca sesuatu di ponselnya dan segera mengganti setelan layarnya.
Menoleh melihat kedatangan Justin.
"Ehm..." Zalfa terdiam menatap Gareng dan Justin Justin menoleh.
"Gak papa Dia denger juga gak masalah," ucap Justin.
Duduk di sofa Anasty menyiapkan minum.
"Dia bilang kalo gue jangan pernah jadi kayak nyokap karena hubungan nyokap sama dia itu adalah hutang budi dan Nyokap bisa nyesel kalo sampe salah keputusan, intinya Gue gak boleh ada hubungan sama mereka perempuan umur tujuh puluhan tahun itu senyum ke gue dan bilang jaga bayainya Diego Yassya," jelas Zalfa.
Terdiam Justin dengan hal itu seketika Justin memijit dahinya.
"Ok Thanks gue makasih banyak sama lo," ucap Justin.
"Lo ada kenal seseorang?" Gantian bertanya Pada Gareng.
Gareng mengangguk.
"Ada namanya Rasya Yin dia gak pernah punya anak dan gak mau nikah gue tahu dia waktu gue pergi ke panti asuhan dan itu masa lalu," ucap Gareng tidak akan menjelaskan dimana rumah tinggalnya di daerah atau tempat lainnya dirinya bertemu dengan jelas. Ada Zalfa dan Anasty. Ada alasan sendiri kenapa tidak bisa tapi semua teman Arkan juga sudah tahu semua latar belakang anggota tengkorak lama ataupun Baru ya itu Beto.
"Ok."
Justin menelpon seseorang menjauh meminjam balkon Anasty.
Di markas Diyo menerima telepon dari Justin.
"Iya.. Apaa... Rasya Yin Lo yakin!"
Seketika Telepon terputus.
Seketika masuk panggilan di ponsel Arkan di garasi Arkan sibuk dengan mobil dan Motor sibuk di utak atiknya.
"Hallo."
"Kan!" Sahutan Justin.
Tidak lama Arkan menerima notif dari Diyo dan semuanya yang Arkan minta berikan informasi detail sudah diyo kirimkan.
"Gue dapet dari Zalfa," ucap Justin lalu menjelaskan tentang apa yang Zalfa ucapin dan Zalfa jelasin berbeda sedikit dan nama Rasya Yin Didapat Arkan dan di cocokan dengan informasi yang Diyo kirimkan.
Arkan memeriksanya di komputer yang ada di garasi.
Arkan menatap dalam diamnya foto itu mirip dengan seseorang yang tidak sengaja bertemu dengannya waktu menjemput Dinda di Masji waktu subuh itu dia juga sempat tersenyum.
"Ok.. Lakuin yang perlu anak buah Rian Gareng Kuta lakuin Selebihnya jangan gegagabah," ucap Arkan.
Seketika di matikan. Justin keluar dari balkon dan pamit pergi pada Anasty.
*
Setelah acara kelulusan hari ini Arkan dan Dinda pulang duluan dengan mobil berhenti di restoran Lorenzo karena Dinda ingin menyicipi eskrim sayuran yang sedang ramai di beritakan di internet.
Lorenzo cukup baik juga membuat Restoran besar makanannya selalu dengan menu andalan sehat ini.
Lorenzo datang.
"Eh.. Dateng lo?" ucap Lorenzo.
Lorenzo mengajak Arkan bicara sebentar dan Dinda menikmati Eskrimnya. Seketika seorang wanita cantik duduk didepan Dinda dengan dres ketat hitam dan jaket mantel abu-abu panjang menutupi betisnya dengan hak tinggi dan sarung tangan renda hitam tangan kanannya membuka kaca mata dan maskernya.
"Maaf aku boleh duduk disini, sayang aku ingin dekat jendela tapi, penuh."
Dinda mengangguk.
"Iya silakan."
Wanita itu diam menatap keluar jendela tidak lama datang pesanannya Eskrim tomat dan mint coklat.
"Wah.. ternyata kamu cantik ya, Aku kira kamu tidak terlalu cantik, Bagaimana kabar ibumu?" Seketika Dinda menghentikan makannya dan menatap wanita asing itu sebentar dan meminum air putih pelan.
"Siapa ya, saya gak tahu anda apa anda kenal saya dan... ibu.. orang tua saya?" Dinda memiringkan kepalanya sedikit menatap wanita itu.
Wanita itu mengangguk menanggapi ucapan Dinda yang bingung dan heran.
"Aku Rasya Yin aku Bibi Mu, Ayahmu meninggal aku datang terlambat. Maaf karena aku banyak urusan aku juga sangat menyayangimu waktu kau dalam kandungan. Berhubung Kau dan Asyifa memiliki hubungan yang baik, aku tidak jadi untuk menyingkirkan anak itu," ucapnya seketika sadar ekspresi wajah Dinda tegang
Rasya Yin terkekeh.
"Tidak, jangan di pikirkan aku tidak sejahat Rosella dan Gabriel tapi, Kau juga tidak perlu mencariku jika aku pergi, jika aku sudah tahu kau dengan siapa aku akan mendatangimu sendiri atau dia," ucapnya menunjuk seorang gadis yang duduk tidak jauh dari Dinda.
"Yolan itu namanya, kau rekam baik-baik wajahnya, tapi, kau sepertinya selalu aman keluarga Brathadika pasti melindungimu, Aku sebenarnya memiliki alasan untuk melihat mu tapi, aku juga harus membayar hutangku."
Dinda terdiam.
"Hutang apa dan Apa Tante Rasya bilang?"
Di mana Arkan dan Lorenzo bicara sekarang Arkan dan Lorenzo mendatangi Dinda lagi, dari kejauhan Arkan melihat Dinda sedang bicara dan tersenyum pada seorang perempuan Arkan kenal wajah itu.
Arkan mengahampiri dengan tenang dan Lorenzo mengikuti di belakang Arkan.
"Eh.. Tante Rasya ini Kak Arkan dia Suami Dinda," ucapnya. Arkan mengangguk.
Rasya mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah sepertinya Pertemuan kita cukup ingat perkataanku sayang dan beri tahu suamimu saja jangan yang lainnya."
Rasya dan Yolan pergi ke luar dari restoran itu seketika Lorenzo terkejut karena Arakn langsung berbalik mengikuti perempuan itu. Dinda terdiam.
"Lo disini aja, Oiya btw... Lo makin cantik ya," ucap Lorenzo.
"Makasih Kak," ucap Dinda.
"Iya sama sama. oiya tante? Lo kenal ama dia?"
"Oh itu katanya sih masih sodara sama ayah bilangnua sepupu ayah tapi, Dinda lupa kayaknya."
Lrenzo mengangguk.
Di depan Rasya juga Yolan dan Arkan berhadapan berdiri di samping mobil Rasya.
"Apa maksud tujuan Anda?"
Rasya tersenyum.
"Aku tidak terlalu ingin bicara denganmu tapi, setidaknya bawa istrimu ke markas tengkorak malam ini atau rumah kakekmu dan jaga rumahmu dengan baik aku tidak yakin jika dua idiot itu melakukannya malam ini, Dan ya, sudah lama aku tidak menemui Rayhan bisa minta tolong alamatnya," ucap Rasya santai.
"Nyonya anda tidak menjawab pertanyaan saya," ucap Arkan sedikit maksa.
Rasya tersenyum.
"Lakukan saja apa yang aku bilang aku ingin menjadi nenek jadi jangan kacaukan moodku," Arkan memberikan alamat Rayhan dan membiarkan Rasya pergi.
Di tempat lainnya Di kantor Rayhan duduk dua Orang dengan tato di masing masing lehernya dan salah satunya berwarna.
Pergelangan tangannya juga terlihat ada kepala ular hitam kecil.
"Lamanya aku tidak kemari. Oiya waktu malam kau datanglah jadi seperti pahlawan bagi putranya Alano. Aku harus berekting baik, sebenernya aku bisa menghabisi perempuan itu tapi, dia anak buah VanDase jadi aku tidak bisa asalan," keluhan Orang bernama Daniel.
"Ya ya.. Han.. Kau sudah kayak tidak biskah kau belikan aku batagor sama seperti Enam tahun lalu, Datang kemari aku tidak bawa uang!" Aduannya ada saja.
"Apa yang kau bawa," ucap Rayhan malas.
"Ini," Orang yang bicara ingin batagor itu Frozo dia mrngeluarkan dompet berisi Black Card Gold Card dan credit lainnya dengan isi tak main-main. Ada kartu Detnya yang berisiki uang dolar.
Bisnis aneh mereka isinya uang panas.
"Itu banyak uang mu," ucap Rayhan kesal sendiri.
"Ayolah aku datang dari Atartika sangat dingin disana bumbu kacang seperti di Indonesia tidak ada apa lagi makanan daging bulat dengan mie putih kuah kaldu hangat, Belakangan ini gizi buruk aku, hanya makan bongkahan es dan sampah es serut di atap, ayolah kawan," ucap nya lagi.
"Kalian menyebalkan seharunya datang membuatku kaya bukan malah meminta makanan saja," ucap Rayhan menelpon asistennya membelikan makanan yang ingin dua temannya mau.
Sambil menunggu makanan itu Rayhan dan Daniel dengan Frozo bicara mengenai Utami dan hutang budi apa mereka sampai Utami meminta bantuan mereka.
"Hanya nyawa, tidak lebih," ucap Frozo dengan mulut penuh bakso pentol.
"Brisik makanlah jangan bicara!"
"Hey.. Dia bertanya dasar setan!" kesal Frozo mengatai Daniel yang memasukkan sambal batagor kedalam kuah bakso Frozo.
Mereka membuat Rayhan menghela nafas berulangkali.
"Hey kalian sudah tua." Rayhan menengahi.
"Tidak Dia yang tua umurku masih empat lima dia lima puluh," ucap Frozo.
Tapi tubuh mereka seperti masih berusia tiga puluhan tahun wajah mereka juga segar dan awet muda tidak terlihat ada ubannya.