Arkan Dinda

Arkan Dinda
Hanya permainan



Di rumahnya Rayhan.


Rasya Yin datang bersama Yolan dan Rama yang membukakan pintu karena Bundanya sedang ada didapur bersama Bibi dan pengasuhnya.


"Hallo bolehkah aku masuk," ucap Rasya pada Rama yang terdiam menatapnya dari bawah.


"Boleh silakan duduk Tante," ucap Rama dengan sopan.


Rasya tersenyum melangkah masuk mengikuti Rama dan Rama pergi ke belakang meninggalkan Rasya dan Yolan di ruang tamu.


"Bunda!" Panggilan Rama. Dari dapur istrinya Rayhan datang dan melihat bersama Rama siapa yang datang.


"Ah.. Iya.. Bi Tolong buat minumnya," ucap Bundanya Rama pada Bibi yang membawakan air putih lebih dulu.


Bibi pergi lagi kebelakang dan Rama bersama Bundanya duduk menyapa Rasya Yin dan Yolan.


"Maaf Apa anda sibuk Aku terlalu menganggu anda?"


"Ah.. Tidak aku santai ada perlu apa ya.. Tapi, Maaf sebelumnya siapa anda? Atau anda teman kolega suami saya?"


Rasya terkekeh mengambil air putih dan meminumnya sedikit.


"Apa Rayhan tidak cerita?" Rasya menatap Rama dan Bundanya.


"Dia putranya Rayhan? Apa ada putrinya dirumah?"


"Ah.. Tidak Dia sedang sibuk kuliah dan si bungsu biasa menemaniku di rumah."


Rasya tersenyum.


"Aku Rasya aku salah satu orang yang Alano pernah kenal Ambar juga tahu aku, Dan aku juga bibinya Dinda aku Kakak sepupu Dhanu. Maaf ya aku datang sepertinya waktu kurang tepat."


Istrinya Rayhan tersenyum ketika bibi membawakan semua suguhannya.


"Ah iya.. Tidak masalah aku senang kamu datang, dan ya.. darimana tahu alamat ini, atau kamu sudah menemui Dinda?"


Rasya tersenyum mengangguk.


"Iya.. Aku kemari untuk melihat kabar keponakan ku. Selama ini aku jarang menengoknya setelah dirinya naik kelas dua sma dan waktu meninggalnya Dhanu dan istri pertamanya itu aku juga baru tahu dua hari lalu dan aku juga tahu jika ternyata Dinda sedang hamil, wajahnya begitu mirip Dhanu dan bola matanya mirip ibunya."


Saling mengobrol dan bicara. Hingga Rama pergi ke kamarnya setelah pamit. Rasya meletakan cangkir tehnya.


"Aku kemari ingin memberi tahumu. Mungkin malam ini akan ada bahaya. Sebenarnya aku adalah VanDase. Suamimu masih mengikuti Secorpion sampai sekarang. Apa kau kenal Utami, Dia salah satu orang yang memiliki hutang budi denganku dan Ketua King Devil dan Ketua Dark moon.


Maaf jika aku membuatmu terkejut dan ucapanku kurang sopan."


"AAh.... Tidak aku justru senang kau memberi tahuku, apa ada yang terjadi dan apa aku bisa membantumu?" Istri Rayhan sedikit semangat membahas ini dan Rasya sepertinya senang melihat Istrinya Rayhan sangat bersemangat.


"Utami ingin menyingkirkan Dinda dengan menggunakan aku dan dua ketua mafia itu aku tidak memberi tahunya dan tidak ada yang tahu kecuali anggota tengkorak Secorpion dan King Devil dan Dark moon kalo aku adalah keluarga Dinda. Aku mengikutinya untuk menuntaskan hutang budiku dan dirinya, Hanya memperlihatkan jika aku benar melakukan permintaannya sisanya akan menjadi urusanku."


"Ah.. Rasya berarti kamu tidak akan membunuh atau melukai Dinda kan?"


"Tidak lah Nyonya Raxen Aku tidak begitu gila hingga mau membunuh keponakanku sendiri aku hanya memberi tahu ini padamu dan untuk berjaga-jaga jangan beritahu Rayhan dan satu lagi. Mungkin nanti malam dia akan pulang dengan keadaan babak belur jadi bersiap saja jika tidak pulang sampai tengah malam susul saja ke tempat Arkan."


Rasya dan istri Rayhan tersenyum.


Dari luar datang Rayhan bersama dua orang menyusahkannya karena meminta makan di kantornya.


Setelah salam Rayhan menoleh melihat istrinya sedang bicara dengan... Eh.. Bahaya tanda bahaya langsung berbunyi pasti ini ada apa-apa. Rayhan langsung menghampiri istrinya.


"Sayang..."


Rasya dan istri Rayhan menoleh.


"Oh sudah pulanh, Ah.. ada tamu lagi. Apa mau menginap juga aku akan siapkan kamar."


"Ah.. Bagus itu Nona Raxen aku ingin menginap makan dan tidur disini kami ini tunawisma gelandangan anda tidak kasih kami naik mobil butut yang sebentar lagi akan hancur." Frozo memulai dramanya. Daniel hanya berdecak malas.


"Rasya.. apa kau juga mau menginap?"


"Ah.. Apa itu boleh dengan pemilik rumah?" Raut wajah Rasya Yin ada sesuatu yang disembunyikan.


"Tidakk.. Mereka semua bukan gelandangan sayang jangan Sayang, jangan terima mereka usir saja dari rumah," ucap Rayhan yang ketakutan.


Rasya terkekeh. Daniel malah melangkah masuk ke ruang tv bermain bersama Rama.


Menyapa Rama juga.


Istrinya mengabaikan Rayhan dan pergi menyiapkan segalanya untuk tiga teman Rayhan.


Setelah pergi istrinya raut wajah Rayhan akan mengamuk.


Menatap Frozo yang makan kueh didepan Rasya dan mengambil air minum Yolan yang tidak di sentuh.


Rayhan berdecak malas dan pergi mengurus istrinya.


Frozo menatap curiga ekspresi Rasya yang tenang dan tersenyum manis.


*


Setelah pulang dari jalan-jalan Dinda melihat Arkan terus tegang.


Tidak berani bertanya Dinda memilih Diam.


Malam ini Rayhan datang ke rumah Arkan setelah pukul delapan malam bersama anak buahnya dua orang ada Rettrigo dan teman-temannya dan ada Gressia dan Kiran


Yuda dan teman-temannya Arkan juga ada mereka berkumpul di sini. Rayhan yang langsung menerobos masuk langsung mencengkram kerah baju Arkan kasar.


"Kau... Kenapa tidak bilang apa jadinya jika kalian kenapa-kenapa?" Suara Rayhan marah menatap Arkan.


Dinda dan Gressia juga Kiran ada di garasi belakang jadi tidak tahu jika ada ke ramaian dirumah depan.


"Om."


"Ya.. Dia datang kau tahu Daniel dan Frozo juga Dia datang Rasya Yin ketua VanDase apa dia datang padamu juga di restoran Lorenzo. Gegabah sekali."


"Sekarang gak disini Kalian semua kecuali Rettrigo dan Kuta disini." Rayhan melepas cengkraman kerah Arkan dan mengajak untuk mengikuti mereka.


Arkan dan lainnya pergi keluar dan Rettrigo dengan Kuta bersama lima orang anak buah Kuta menunggu rumah Arkan.


Di Tanah lapang luas di terangi cahaya lampu mobil dan motor.


Arkan turun bersama Rayhan dan dua anak buahnya lalu teman-tan Arkan. Senjata siap di tangan mereka masing-masing Arkan juga di belakang punggungnya.


"Kau membawanya," ucap Frozo dengan tato ular dan tato berwarna di lehernya, ketua Dark moon.


"Nak... Maaf tapi, ini semua karena hutang budi dengan Utami Aryanay jika tidak aku tidak akan melakukan ini, kondisi keponakanku juga hamil," ucap Daniel ketua King Devil.


"Setidaknya kita melakukannya dan mencobanya apa itu bisa? Rayhan kau bisa mengurus dirimu?" ucap Frozo lalu meludah sembarang.


Rayhan tidak bisa mendekat. Rasya Yin ternyata mengambil alih menyerang Rayhan


"Kau bercanda. Aku tidak ingin melawan nenek-nenek!" Kesal Rayhan ketika Ketua VanDase Rasya Yin menggunakan belati melengkung menyerang Rayhan.


"Ayolah buat permainan ini seru," ucap Rasya seketika menyerang Rayhan dengan lincah dan gesit.


Arkan fokus pada Frozo dan Daniel yang mengincar titik lemah Arkan. Sayang gerakan Arkan lebih cepat menutupi semua daerah rawan dan melindunginya.


Daniel tersenyum sudah hampir terbatuk dirinya tapi Arkan menghela nafas lelah biasa.


Frozo maju menghantam Arkan dengan berutal seketika gerakan cepat tidak terlihat ternyata tangan kanan Frozo terdapat Belati.


Arkan sadar cepat menghindar menggunakan tendangan berputar yang keras membuat Frozo jatuh menghantam tanah keras. Lalu Daniel yang kini maju. Berkelahian hampir sama sepadan.


Dengan cara cepatnya Mereka berdua sama sama menodongkan pistol di depan wajah. Seketika itu Rayhan menoleh dan menatap terkejut.


Fokusnya hampir teralih .


Serangan Ketua VanDase hampir membuat kulit wajah Rayhan tergores.


Hampir!


Dengan serangan balasannya Rayhan akhirnya bisa membuat Rasya berlutut.


"Well... cukup baik ternyata. Tapi, Aku tidak bisa menyianyiakan peluru kesayanganku," ucap Daniel dengan sorot dinginnya.


"Aku juga tidak akan membiarkanmu menyentuhnya, Walaupun kau pamannya dan Ketua VanDase adalah Bibinya."


Sama sama menghela nafas ngos-ngosan.


Seketika Arkan melangkah maju dan mendekatkan pistol lebih dekat ke wajah Daniel.


Door...


Dor...


"Selesai. Aku sudah membuang dua prluru," ucap Daniel yang ernyata mengarakan tembakan keatas udara.


Seketika Arkan menurunkan tangannya dan meringis sobek di bibirnya.


"Buang semua bodoh," ucap Frozo kesal karena Daniel hanya melepas dua tembakan.


Dari arah lainnya Pak Jersey datang dan dengan santai memberikan air untuk mereka minum. Arkan berbalik menatap aneh.


Memangnya ini sedang karnaval kenapa malah membagikan minuman?


"Ini hanyalah pengalihan dan kurasa Utami suaminya tertangkap atas penggelapan Dokumen pemerintah dan membuat beberapa anggota Dewan bersenang-senang. Selamat tugas kalian sudah sempurna Jadi apa kalian berubah pikiran." Pak Jersey bicara dengan santai sambil berdia di hadapan Daniel dan Arkan.


Arkan membuang pelurunya keatas dan terdiam menatap semuanya. Suara pistol memekakkan telinga di suasana santai membuat Arkan sedikit panas.


"Jelaskan Om!" Kesal Arkan menatap Rayhan kesal.


Rayhan terdiam.


"Tanya pada Mereka bertiga Pak Jersey dan aku hanya diminta untuk melakukan ini atau pusat akan melakukannya untukmu dan keselamatan Dinda taruhannya."


Arkan masih tidak mengerti.


"Aku yang akan jelaskan," ucap Daniel.


"Kami mempunyai hutang Budi pada Utami dan kau tahu hutang nyawa itu sangat berharga jadi kami membuatnya seperti sudah lunas, aku baru tahu jika kaulah sebenarnya pemimpin tengkorak. Farles menghianati kalian dan juga Blackrose dan Secorpion juga mengancammu karena dendam mereka, sekarang kau bisa merubah pandangan terhadap kami, kami memang mendirikan Could Nine lagi tapi, Giovano masih menjadi pemiliknya kami tidak merubah suapa pun jika kau mendengarnya ada yang di gantikan itu salah, Yang benar kami membangunnya lagi setelah tahu jika Kau putranya Alano kandung masih hidup. Kami bangga dan, aku dan Rasya senang karenamu kami tidak repot menghukum Alderos payah. Kau tahu kami orang sibuk, terimakasih telah menjaga keponakan kami. Aku senang jika kau berjalan di jalan yang benar dan membuat oraganisasi gelap ini berdiri dibawah keamanan internasional dan negara lain mengesahkan keberadaan kalian."


Masih panjang sekali pembicaraan Arkan dan Daniel hingga malam semakin larut Arkan kembali dengan badan yang begitu lusuh.


Dinda menunggu dengan cemas di ruang tamu Kiran dan Gressia hanya bisa diam.


Tidak lama pintu terbuka Arkan dan teman-temamnya masuk bersama Om Rayhan tidak lama terdengar suara mobil masuk ternyata istrinya Rayhan dengan wajah marahnya menenteng pistol tidak ada yang bisa menghalangi Dokter yang marah.


"Minggir kalian!" Marahnya.


Semua sedang duduk di obati seketika Istrinya Rayhan membuka Pintu dengan kasar dan melihat suaminya babak belur.


"KAU MAU MATI AKU AKU CONGKEL JANTUNG DAN GINJAL MU HA?"


Rayhan terdiam wajahnya sedikit takut. Dinda terkejut.


"Tante disini ngapain bawa itu," ucap Dinda.


"Tante mau bunuh Om Kamu, Di bilangin gak ada kata pulang luka-luka, terus apa Secorpion Mafia Apa dia mau aku bantai ha? Sini aku tembak sekalian biar mati disni."


Baru kali ini mereka melihat wanita secantik setenang Istrinya Rayhan bisa mengamuk dan semengerikan ini, Arkan saja terkejut. Jangankan Arkan, Rayhan sudah takut sejak tadi tidak bisa bicara apapun.


"Om?" Arkan memanggil Omnya dan seketika Rayhan berdehem.


Berusaha tenang Rayhan berdiri dan menghampiri Istrinya.


"Jangan deket atau aku tembak!"


Rayhan tidak mengindahkan dan memilih maju dan mengambil pistolnya.


Seketika.


Plaak...


Rayhan langsung memeluk Istrinya dan membawanya pulang semua yang ada di ruangan itu diam tertohok. Mereka saling berdehem.


"Eh.. Gue balik aja makasih obatnya Ran," ucap Bagus dan Yuda mengangguk.


"Iya makasih," ucap Rian.


"Gue juga kayaknya kak Indri bakalan ngomel sebelum itu gue harus sampe rumah duluan," ucap Panjang Lorenzo seketika Ponselnya berdering nama kak Indri, Mak Lampir. Lorenzo mengaduh dengan wajah khawatir berjalan sambil memegang perutnya yang di pukul keras


Dinda mengizinkan dan Yuda juga Kiran pamit semua yang ada di rumah Rayhan juga pulang termasuk Gressia.


Tinggal Arkan dan Dinda. Arkan melepas jaketnya dan membuka kaosnya lalu meletakannya di tempat cucian kotor dekat mesin cuci.


Dinda menyusul Arkan.


"Kakak gak kenapa-kenapa apa mereka ngelukain kakak. Kakak maaf Dinda belum sempet cerita."


Arkan berbalik seketika menatap Dinda serius berjalan maju dan Dinda mundur perlahan.


"Gerah!"


"Ah.. Apaa-apa nya yang gerah kok.. Enggak aku bismppp"


Malam itu terlewati lagi Arkan melakukannya dengan Dinda lelah tubuhnya masih sangat terasa tapi ketika melihat Dinda semakin cantik malam ini walau dengan Kaos kebesaran dan celana panjang tering. Arkan sangat tergoda apa lagi wanginya Dinda malam ini membuat Arkan senang dekat.