
Membersihkan lapangan di jam pelajaran kosong sekolah terlihat kotor Pak Udin yang memberi perintah untuk dan demi kebersihan, bersekongkol dengan pak Yoyo
untuk meminta semua kelas sebelas membersihkan lapangan basket halaman taman dan juga Pak Yoyo mengajarkan untuk membersihkan taman dengan benar. Bagaimana rumput tidak terinjak ketika membersihkan dedaunan kering di pohon bunga yang masih ada.
Dinda mengambil dedaunan kering dari tanaman di taman bersama Lia dan Kiran Yeni dan Chintiya menyabuti rumput liar yang sekiranya mengganggu. Yeni menyapu dedaunan kering tidak jauh dari taman.
"Pak capek nih bentaran ya," ucap Kiran ingin istirahat.
Pak Yoyo menatap Kiran dan lainnya yang menatapnya berharap.
Dinda berdiri dan tersenyum
"Kantin ya pak, Boleh lah pak, iya pak boleh ya," ucap Dinda merayu seketika Lia Chintiya Yeni dan Kiran juga.
"Haah.. Kalian ini pasti banyak alasannya," ucap Pak Yoyo.
"Tanya pak Udin dulu," ucap Pak Yoyo. Seketika membuat mereka lemas.
"Ah.. Pak Yoyo Gak Solid masa iya tanya pak Udin kan yang deket Pak Yoyo. Boleh ya pak," ucap Yeni baru datang. Seketika Dinda Kiran dan Chintiya mengangguk.
"Iyaa pak," ucap Dinda dan Kiran bersamaan.
Pak Udin sedang berjalan kearah mereka.
"Gimana selesai?" Ucap Pak Udin pada Dinda dan teman-temanya.
"Taaara," seru mereka bersamaan.
Seketika Pak Udin melihatnya, Bagus bersih rapi, enak di pandang.
"Bagus.. Kalian boleh istirahat," ucap Pak Udin.
Haaah... Girang mereka bersamaan.
"Kantin ya pak Ya," ucap Kiran Dinda Chintiya dan Lia bersamaan.
Pak Yoyo dan Pak Udin kaget seketika terdiam yang lainnya juga seketika menoleh. Pak Yoyo pura-pura pergi dan meninggalkan Pak Udin sendirian.
"Ehm.." Sok cool Pak Udin berdehem.
"Sebentar lagi Bel tunggul Bel aja," ucap Pak Udin seketika membuat mereka lemas lagi.
Sepertinya final keputusan Pak Udin.
Sudahlah kekelas saja mereka.
Dinda dan lainnya pergi ketoilet dulu sebelum istirahat di kelas. Mencuci tangan atau sekedar benar-benar butuh toilet.
*
Dari toilet mereka pergi ke ruang kelas sebelas , ya kelas mereka sendiri.
"Beeuh.. Adem tenan Din coba deh lo di duduk sini di lantai." Seru Chintiya .
"Apaan Tenan..?" Seru Kiran.
"Beneran," jawab Yeni.
"Oh.. berarti artinya, Adem beneran...gitu?" ucap Kiran.
Dinda menoleh bersamaan Lia yang baru masuk kelas.
"Din sini," ucap Yeni.
Dinda menjajalnya ternyata benar dingin.
Berakhirlah mereka berempat duduk di lantai di bawah papan tulis tempel dinding. Ada ac sebenarnya tapi malas menyalakannya.
Tidak lama suara bel istirahat bunyi Seketika mereka berempat keluar kelas dengan cepat membawa sepatu mereka sambil berlari.
Teman-teman mereka yang baru masuk terkejut. Hingga Beto hampir di tabrak karena baru akan masuk kelas.
Semua teman kelas dan juga Beto menggeleng. Bener-bener anak cewek jaman sekarang! Batin mereka semua dalam hati yang terkejut dengan ulah Dinda dan teman-temanya.
Tidak ada kata malu jika perut menguasai otak mereka untuk ke kantin tapi, satu yang masih warah Lia.
Sampai di depan Kantin Dinda berhenti mendadak dan memakai sepatunya lalu mengantri makanan. Setelah Dinda lalu Kiran Yeni dan Chintiya setelahnya Lia masuk kantin tanpa ribet santai biasa saja.
Justin masuk bersamaan Lia.
Lia menoleh menatap Justin.
Lalu berjalan lagi. Justin terdiam dengan tatapan Lia.
Bener-bener dingin tatapan Lia, batin Justin di belakang ketika Lia sudah menjauh dan berjalan lima langkah didepannya.
Seketika nyamannya mereka makan seketika itu. Maulana datang dan membawakan minuman untuk Dinda.
"Cieee.. Maull gue juga kali," ucap Yeni dan disetujui Chintiya.
"Yee.. enak aja beli pesen sendiri lo," ucap Maulana pada Yeni.
"Lo mau lo aja Yen," ucap Dinda. Seketika Kiran mengambil lima sedotan dan di tusuk di cup es itu.
"Enak geh seger," ucap Kiran. Satu untuk bersama mereka minum bersama.
Dinda menatap Maulana.
"Maaf ya Maul, Dinda itu gak bisa minum sendiri sedangkan disini ada temen-temen kecuali, kalo Maul ngasih Dinda minuman waktu Dinda sendirian."
Kiran dan Lia Yeni Chintiya menganggukkan kepala sekali setuju.
"Ehm.. Gitu maaf ya, Gue cuman mau deket sama lo," ucap Maulana tanpa basa basi.
"Maaf ya, Maulana, Gue gak bisa," ucap Dinda lalu bergeser Kiran seakan paham dan bertukar tempat.
Menjadi Dinda diantara Yeni dan kiran dan Kiran ada diantara Dinda dan Maulana.
Dari jauh Arkan dan semua temannya bisa melihat Dinda dan seorang anak sering mendapat nomor dua di setiap mata pelajaran karena paling pintar antar kelas sebelas lainnya dan nomor satunya tetap Lia teman sekelasnya Dinda.
Seketika Dodi dan Begerak menggeser Maulana jauh dari Kiran.
"Minggir lo yang beb gue nih," ucap Dodi. Seketika Maulana mendengkus kesal.
Maulana pergi.
Arkan terdiam menatap Dinda yang sedikit-sedikit mencuri pandangan darinya. Seketika tertangkap basah Dinda beralih mencari alasan lainnya.
"Lo aneh Kan ada masalah apa lo sama Dinda kayaknya lo dah jadian sama dia," ucap Lorenzo.
"Lo ngatain gue Play boy, sengaja lo plesetin kan," ucap Lorenzo kesal.
Seketika Bagus rusuh.
"Diem lo Tin,"ucap Bagus karena Justin memasukan es batu ke dalam mie goreng Bagus.
Justin terkekeh senang.
"Kan enak Gus dingin-dingin asin gurih, mie goreng campur es batu," ucap Justin.
"Waah.. Tin otak lo miring nih," ucap Bagus.
Seketika Arkan meminum airnya dan menatap ponselnya menarik ke atas seperti mengulirkan layar ponselnya dengan telunjuknya.
"Gue gak bisa bilang, Kalian kalo gue minta tolong bisa gak?" ucap Arkan. Seketika serius membuat Lorenzo serius seketika Bagus dan Justin juga. Tatapan Arkan benar-benar serius.
Rian seketika baru datang dan duduk dengan seenaknya diatas meja.
"Gak perlu minta tolong gue tahu maksud lo," ucap Rian.
Seketika Lorenzo menatap Rian.
Rian turun dan duduk di samping Lorenzo.
"Kita bakalan jagain Dinda," ucap Justin seakan mengerti.
Lorenzo dan Bagus mengangguk.
"Tenang gue paham itu." sahut Bagus
*
Waktu pulang sekolah.
Arkan ingin menghampiri Dinda rapi, sepertinya tidak jadi.
Arkan menatap Dinda dari jendela mobil yang di gunakannya Arkan melihat Dinda bicara dengan Lelaki selain Rian atau teman kelasnya lelaki itu baru.
Arkan diam dan fokus untuk mengemudikan mobilnya keluar gerbang sekolah.
Dinda menatap Kak Arkan aneh. Tadi pagi Kak Arkan pake mobil dan sekarang Kak Arkan pergi gitu aja tumben. kenapa kok kayaknya aneh perasaan Dinda.
Tidak lama Kiran datang dan merangkul Dinda.
"Eh.. Maul... sorry Maul... gue ambil temen gue," ucap Kiran
"Ayo Dinda kita ketempat kerja baru lo kan kita bisa kerja sama," ucap Kiran pada Dinda.
Yaa Tempat kerja baru Dinda adalah butik tempat Mamanya Kiran kerja dan Kiran juga bekerja disana dan Kiran meminta Mamanya menerima Dinda. dengan senang hati mamanya mau setelah Kiran menceritakan tentang Dinda. Dinda sama saja seperti Kiran bagi keluarga Kiran.
Dinda mengangguk.
"Apa kak Arkan marahnya Dari pagi dia gak mau natap gue jangankan natap dia selalu buang muka dan kalo ngelewatin gue rasanya asing," ucap Dinda pada Kiran.
Aaah... Kiran lupa, jika Kak Arkan memberikan sesuatu pada Dinda tapi, tidak jadi karena Dinda sedang bicara dengan Mulana.
"Oh iya.. Nih ada pesen dari kak Arkan," ucap Kiran memberikan sekotak kecil.
Dinda menerimanya dengan bingung.
"Buka Ini," ucap Dinda sambil berjalan bersama Kiran Kiran mengangguk antusias dan memberikan persetujuannya.
"Ya iyalah masa ya mok gitu aja, mati penasurin lo ntar," ucap Kiran di lebay lebaikan.
Dinda membukanya ternyata sebuah gelang. Dinda melihat ada namanya di sebuah kotak kecil di ukir dengan nama Dinda Alea. Tulisan dan bentuk hurufnya cantik dan indah warna talinya juga cocok dengan kulit Dinda.
Sampai di mobil Kiran Dinda masuk dan duduk bersama Kiran.
Dinda tidak sabar hingga memakainya dan memotretnya lalu menyimkannya pada Arkan.
Di sini Di rumah Arkan baru saja turun dari mobil mendengar ponselnya berdering ketika akan mengangkatnya ternyata pesan dari Om Rayhan.
Arkan membukanya ternyata itu vidio. Ketika membukanya ternyata Rama.
"Kakak aku gak bisa ngetik aku pencet ini ternyata bisa buat vidio. Kakak aku mau maen tempat kakak boleh gak. Bunda sama Papa lagi di luar," ucap Rama.
Arkan menelponnya.
Seketika di rumah itu Rama melihat layar panggilannya adalah foto Arkan.
"Halo Kakak," ucap Rama secepatnya.
"Iya.. boleh," sahut Arkan.
Seketika Rama bersorak.
Arkan tersenyum tipis dan mematikan panggilannya.
Arkan melanjutkan langkahnya masuk.
Arkan lagi lagi menerima panggilan masuk dari Justin.
"Kan Lo gak ke bengkel?" ucapnya ketika panggilan terhubung.
"Gue ada urusan penting," sahutnya tanpa basa basi.
"Oh.. Ok ," sahut Justin kembali.
Telpon tertutup Arkan melangkah lagi masuk ke dalam hingga merasakan dinginnya rumah yang sepi. Arkan melangkah hingga ke dalam kamarnya.
Seketika melempar masuk jaketnya ke dalam keranjang dan meletakan tasnya di kursi Arkan melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu melaksanakan sholat asar lalu makai pakaian formal.
Setelah itu Arkan baru duduk. Setelah selesai memasang Dasi Arkan menatap laci nakasnya. Arkan duduk di tepi kasur dan melihat foto kedua orang tuanya.
Seketika Ingatan Arkan jatuh pada kejadian Dinda memecahkan bingkai kacanya dan mengatakan dengan suara pelan tentang foto itu.
Arkan melihat wajahnya sama seperti Ayahnya dan kulitnya sama dengan ibunya putih.
Arkan kembali menyimpan foto itu dan bergerak keluar kamar dengan pakaian formal dan tas kerjanya.
Seketika ada pesan masuk dari Dinda. Arkan menatap pesan itu berupa foto.
Arkan ingin mrmbukannya, Seketika terlihkan dengan lar panggilan kakek.
Arkan mengangkatnya.
Telepon kake meminta Arkan segera datang.