
Lima buku dengan masing-masing ada buku paketnya dan juga ada beberapa pensil dan pulpen.
"Ayo kak aku siap." Katanya dengan semangat empatlima.
Arkan menatap Dinda dengan wajah hangat dan ramah bersahabat tidak dingin tapi, wajah Dinda menunduk sibuk mencari soal dan pelajaran yang menurutnya sulit.
"Nah ini kak," ucap Dinda menunjukkan soal logaritma. Arkan melihat dan menatap soal itu memahaminya dalam sekejap mata lalu meminta Dinda untuk mengerjakan soalnya.
"Coba kamu kerjain yang menurut kamu gampang?" ucap Arkan datar.
Dinda mengambil buku yang di gunakan untuk mengerjakan tugasnya dan mulai menulis hingga selesai mengitung dan menemukan jawabannya. Dinda memberikannya pada Arkan. Seketika Arkan meminta pulpen Dinda memberikannya.
"Ini kamu tambahin kesini, dapet hasil kamu kali yang sebelah sini, jadi hasilnya." Jelas Arkan pelan. Dinda mengangguk.
"O..ok kak.. bentar coba duku," ucap Dinda mengambil bukunya. Mulai mengerjakan soal berikutnya lalu sampai soalketiga Dinda berhenti.
"Kak.. ini banyak banget," ucap Dinda memperlihatnan angka dan beberapa kata Log disana.
Arkan mengambil alih dan mulai memberikan contohnya Dinda memperhatikannya.
Mereka duduk bersebelahan jadi mudah untuk Dinda dan Arkan saling memperhatikan pekerjaan sekolah mereka.
"Aduh.. pusing," ucap Dinda.
"Sekerang kamu kerjaain sama kayak contoh itu cuman beda angkanya aja." kata Arkan dengan pelan.
Dinda mengangguk. Dinda mulai mengerjakannya ketika akan menghitung pembagian ratusan Dinda bingung.
"Kenapa?" Tanya Arkan.
Dinda tersenyum lebar.
"Gak bisa porogapit...pembagian yang angkannya besar-besar." Katanya dengan malu. Arkan mengambil selembar kertar dan mengajarinya.
Seketika ada telepon masuk di ponsel Arkan.
"Citra." Suara Dinda mengeja nama yang ada disana.
"Biarin aja," ucap Arkan.
Seketika mati layar panggilan berwarna hitam, lalu berlayar panggilan lagi dengan nama yang sama.
"Kak. Angkat aja gak papa," ucap Dinda mulai malas berisik.
Sebenarnya Dinda tidak suka dengan Citra kemarin waktu sekolah sebelum libur hari ini Dinda memang sempat melihat Cita terus berada di dekat Arkan dan dengan gampangnya mengelap keringat Arkan.
Dinda pergi waktu itu tidak jadi menghampiri Arkan yang baru selesai bermain futsal.
Dinda menunduk lesu sudah malas Dinda tidak ingin lagi belajar bersama Arkan.
Dinda langsung membereskan bukunya dan memberskan pulpen dan pensilnya.
"Kakak pulang aja, Kak Citra kan tinggal sama kakak," ucap Dinda. Seketika Arkan menahan tangan Dinda.
"Gak gue mau tunggu sampe ibu lo pulang," ucap Arkan tegas.
"Hem... Kak," ucap Dinda sambil melepaksan tangan Arkan.
"Ibu bakalan pulang besok sore atau pulang minggu depan, kalo dia mau pulang ya pulang kalo...gak ya gak," ucap Dinda lemas lesu dan matanya berkaca-kaca seketika. Wajahnya menunduk.
Arkan merasa risih dengan suara ponselnya. Arkan mengangkat panggilan dari Citra seketika Arkan memegang tangan Dinda ketika akan pergi.
"Kalo gitu lo dengerin gue, Telpon kalo ada apa-apa jangan percaya orang asing," ucap Arkan setelah selesai bicara di telpon dan mematikan panggilannya sepihak. Arkan langsung melepas pegangannya dan pergi setelah berpamitan.
Dinda menatap kepergian Arkan.
"Huh.. sama aja... susah banget punya waktu berdua, belajar kayak gini aja masih di ganggu, kalo buat dosa baru di ganggu gak papa." Dinda pergi ke kamarnya.
Lalu keluar lagi untuk mengunci pintu. Seketika akan mengunci pintu Dinda melihat ada dua orang berlalu lalang.
Mungkin hanya orang Lewat. Dinda mengunci pintu dan tak lupa melihat pagar ternyata sudah tertutup. Ya, sudah sekarang masuk ke dalam kamarnya.
Baru duduk di atas kasurnya untuk belajar Dinda melihat ponselnya ada pesan dari nomor asing.
"Lo harus jauhin Arkan, dia udah di jodohin sama gue dan makasih kerena lo kemaren gak muncul di hadapan gue, Lo udah tahu gue bukan ketika Gue ada di sekitar Arkan. Besok sekolah jadi adek kelas yang baik, jangan deketin calon suami gue," Pesan asing tersebut.
Dinda menghapus pesan itu setelah selesai membaca.
Pesan itu datang setiap hari semenjak Dinda diantar pulang Arkan untuk pertama kalinya.
"Cuman pengen deket sama orang ganteng rajin pinter dan ibadahnya bagus aja... saingannya udah kayak mau ikut pemilu, se Rt, Se RW.. Bikin ciut nyali," ucap Dinda menatap layar ponselnya yang memperlihatkan kotak pesan masuk kosong.
Arkan baru saja sampai di rumah dan menenteng dua helm masuk.
"Arkan keluar yuk!" ucap Citra dengan semangat.
"Capek." Kata Arkan sambil berlalu melewati Citra.
"Arkan jangan jadi anak yang ngecewain orang tua sekali aja. Bisa gak kamu?" ucap Kakek datang dengan tiba-tiba.
"Arkan." Panggil kakeknya dengan suara besar dan beratnya. Seketika dengan wajah dinginnya Arkan menoleh.
"Iya." Dengan sangat terpaksa Arkan mengiyakannya walaupun malas sebenarnya. Arkan naik ke atas ke dalam kamarnya tak lama keluar lagi dengan membawa helmnya.
"Loh.. kok satu helmnya buat aku mana," ucap Citra menatap helm di tangan Arkan yang hanya ada satu.
"Pinjem." Kata Arkan sambil berlalu.
"Ih.. Arkan kalo gitu pake mobil aja kenapa? kenapa harus naek motor aku pake rok nih." ucap Citra lagi.
Arkan tetep berjalan tanpa menghentikan langkahnya atau pun menoleh kebelakangnya.
Dengan terpaksa Citra meminta Pelayan mengambilkan Helm untuknya, dan syaratnya bersih juga wangi.
Sekarang Citra dan Arkan sudah berjalan di jalanan yang ramai dan padat lalu lintas di malam hari.
"Jaga jarak," ucap Arkan. Citra mendesis kesal melepaskan tangannya yang hampir melingkar di perutnya.
Sampai di pinggir jalan pecel lele. Arkan menghentikan motor dan turun.
"Ih.. kok kesini sih.. kita ke Cafe aja atau ke mall atau bioskop," ucapnya dengan nada marah dan emosi Arkan membuka helmnya dan menatap Citra dengan datar.
"Gue bilang gue capek! Apa lo mau gue bawa ke kuburan?" Suara Arkan datar dan dingin. Citra diam seketika menunduk takut.
"Iya.. udah deh gue mau kalo sama lo aja," ucap Citra dengan senang terpaksa.
Di rumahnya Dinda kelaparan tiba-tiba. Ketika itu rasanya Dinda ingin makan pecel lele di tempatnya langsung tapi, kalo penuh bawa pulang aja kali ya.
Dinda langsung bersiap dan pergi keluar.
Di warung pecel lele. Arkan menerima telepon dan langsung mengangkatnya.
Seketika Arkan langsung berwajah serius.
"Kamu kenapa? Kan aku bilang apa kamu itu kayaknya gak bisa disini mending ke restoran atau cafe aja gimama?" ucap Citra dengan wajah berseri. Arkan tidak menatap wajah Citra dan terlihat lebih acuh sangat acuh juga.
Citra langsung murung dan kesal.
'Sialan... apa sih maunya kenapa dia kayak gitu liat aja, batin Citra.'
'Pasti cewek jelek itu, batin Citra.'
Arkan menerima telepon dari Boby orang yang salah satu Arkan mintai tolong menjaga daerah komplek sekitar rumah Dinda dari jarak yang sempit dan memastikan Dinda aman dari jarak mereka tertentu. Mereka yang Dinda lihat, yang Dinda kira sebagai orang yang sengaja lewat itu adalah orang-orangnya Arkan, karena memang komplek itu jarang orang lewat.
Dinda keluar dari rumah dan sekarang sudah naik ojek menuju warung pecel lele yang ingin dirinya datangi.
Sampai di warung pecel lele Dinda memarkirkan motornya.
Sebenarnya ini langganan Dinda dan bisa pesan di aplikasi tapi, malas mending langsung ketempatnya saja.
"Pak saya pecel lele satu, teh tawar anget." Kata Dinda berdiri di samping orang itu, atau penjual.
Seketika akan duduk penjual yang tempat Dinda memesan tadi mengatakan jika Lelenya habis bagaimana kalo di ganti ayam. Dinda mengangguk tersenyum.
Dinda tidak tahu jika ada Arkan dan Citra disana.
Dinda duduk memainkan ponselnya. Dari tempat duduknya Arkan memperhatikan Dinda seketika wajah Arkan menhangat tapi, langsung berubah ketika pesanan datang dan makan bersama dengan Citra.
Citra yang kebingungan cara makan pecel lele. Menatap Arkan.
"Ini gimana makannya?" ucap Citra dengan manja.
Arkan diam saja berpura-pura tidak dengar.
"Ih.. Arkan." Suara Citra hampir membuat mereka jadi pusat perhatian.
Arkan menoleh.
"Cari di internet." Jawaban yang menyebalkan bagi Citra. Arkan acuh saja terserah Citra mau makan atau tidak.
Seketika Arkan menatap ke arah Dinda makan dengan lahap hingga tersenyum senang.
...Ada hal indah yang harus aku jaga....
...~Arkan Prawira....