
Dinda masuk dan duduk didepan meja Dokter bersama nenek. Bicara sebentar layaknya pasien dan dokter lalu mulai ke tahap pemeriksaan kesehatan dan juga Usg.
Nenek tetap tenang begitu juga Zalfa yang tenang tapi, merasa jika Nenek menyembunyikan sesuatu padanya.
"Siapa ayahnya pasti anak ini tampan sekali." Goda Zalfa pada Dinda.
Dinda tersenyum saja begitu juga nenek. Ketika melihat umur Dinda, Zalfa sedikit kaget.
"Umur kamu masih tujuh belas tahun sudah hampir delapan belas.. ehm maaf jangan tersinggung tapi, ini sangat rawan."
Dinda sedikit gugup dan takut. Nenek terdiam tersenyum menatap Dinda.
"Ada nenek sayang nanti Nenek juga jagain kamu," ucap Nenek dengan lembut.
"Makasih Nek."
Selesai pemeriksaan dan mendapatkan hasilnya lalu cetakan foto USG. Dinda tersenyum menatap hasil foto USG.
"Kapan terakhir ketahun kamu selama awal-awal gak kerasa apa-apa?" Nenek menatap Dinda yang terduduk di atas ranjang ruangan periksa.
"Gak kerasa apapun dan gak Tahu nek, Tahunya ya kemaren waktu di lapangan pengumuman lulus, Dinda ngerasa mual, gak tahu nya pas ke toilet muntah semua eh kira Dinda magh karena telat makan sama begadang belajar kemaren," jelas Dinda.
Zalfa memberikan resep dokter untuk menjalani kehamilan Dinda.
"Di jaga ya berat badannya." Zafa memberikan resepnya pada Dinda.
Dinda mengangguk terdiam.
"Dokter kayaknya Hamil juga?"
Seketika Zalfa mengangguk samar dan tersenyum. Nenek sebenarnya sudah tahu tapi, Nenek Diam saja tidak ingin memberi tahu Kakek. Biar kakek tahu sendiri.
Tidak ada yang mau memiliki menantu yang hamil di luar nikah dan Zalfa menutupi aibnya dari keluarga besar Arkan dengan baik.
Arkan langsung pergi kerumah sakit dengan mobilnya bersama dengan Om Rayhan setelah dari kantor ibunya Zalfa.
Dinda dan Nenek baru keluar seketika melihat Dinda dan langsung memeluknya.
"Maaf ya Papa gak bisa nunggun kamu di usg pertama sayang," ucap Arkan mengusap perut Dinda.
"Makasih Nek."
Arkan mencium tangan Neneknya dan mencium dahi Dinda.
"Kalian mau langsung pulang atau mempir?"
Nenek menatap Arkan dan Dinda bergantian.
"Kalo Mau mampir hati-hati jaga kesehatan."
"Nenek ada perlu sebentar ke Butik," ucapnya lagi lalu pergi.
"Makasih nek," ucap Dinda sambil mencium tangan Nenek dan Arkan juga mencium tangan nenek lagi.
Dari belakang Nenek ketika Nenek melangkah pergi, Rayhan dan istrinya datang. Nenek sudah pergi bersama asistennya keluar rumah sakit.
"Gimana sayang?" Melihat keadaan Dinda dan Arkan dengan wajah cemasnya. Istri Rayhan terlihat begitu sayang pada Arkan dan Dinda.
"Baik Tante. Dedeknya sehat ini juga ada resep dari Dokternya," ucap Dinda. Sambil menyerahkan resep Dokter kandungan pada Istri Rayhan.
Seketika membacanya Istri Rayhan tersenyum lalu sampai pada nama Dokter yang menangani seketika itu Istri Rayhan menoleh ke nama di pintu Poli kandungan.
"Mas," panggilnya sambil memberitahu Rayhan tentang Dokter kandungan Dinda. Istri Rayhan tersenyum menyerahkan kembali ke pada Dinda.
"Kayaknya Tante mau ada perlu sedikit sama Dinda ke apotek depan rumah sakit. Om mau pinjem Arkan sebentar, boleh?"
Istri Rayhan menatap Dinda meminta Izin. Dinda mengangguk dengan wajah tersenyum mengizinkan.
Dinda dan istrinya Rayhan pergi bersama.
Disini Arkan dan Om Rayhan berdiri berdua.
"Dia calon istri kamu." Om Rayhan tanpa basa basi menunjuk tempat dimana Zalfa ada dan memberi tahu ruangan Zalfa.
"Sampai sekarang Dinda belum tahu siapa yang mau menikah dengan mu?"
Om Rayhan menatap Arkan. Arkan mengeleng.
Arkan terdiam menatap ruangan itu dan masuk kedalam seketika Zalfa terkejut.
Zalfa menutup sambungan telepon di ruangannya dengan ramah.
"Silakan Duduk."
Arkan dan Omnya Duduk bersama.
"Ada yang bisa aku bantu untuk..." Zalfa menghentikan ucapannya dan terdiam ketika tatapan Arkan tidak bereskpresi apapun.
"Aku tahu tatapan itu. Aku tidak menyapa Nenekmu dan juga tidak menyapa perempuan tujuh belas tahun yang sudah hamil itu," ucap Zalfa panjang.
Arkan terdiam. Om Rayhan meletakan kedua tangannya di atas meja Zalfa.
"Siapa ayah dari anakmu?" Om Rayhan selalu tanpa basa basi.
"Eh.. " Zalfa terdiam bingung harus bicara bagaimana.
"Dia tidak ada disini, Dia orang yang tidak ingin anak ini, Dia bilang menyuruhku untuk mencari orang lain untuk menggantikan menjadi Ayah anak ini," ucap Zalfa gemetar.
Arkan menyeringai.
"Nama?"
Arkan menatap Zalfa tajam.
"Diego Yassya," jawabnya Gemetar.
"Aku tahu kau perempuan baik Zalfa tapi, jika kau membuat hubungan rumah tangga ku hampir hancur itu tidak baik," ucap Arkan dengan serius dan membuat Zalfa harus tetap tenang walau takut setengah mati pada tatapan tajam Arkan.
"Iya Aku tahu, Aku pun tidak ingin, jika aku bisa menyadarkan dia dan mau mengakui anak ini anaknya aku tidak akan mengganggumu tapi, Orang tuaku yang tidak setuju dan malah menjodohkanku dengan mu, Maaf Arkan. Aku tidak tahu harus bagaimana aku tidak ada pilihan, Aku ingin membawa anak ini pergi jauh tapi, anak orang tuaku selalu menjemput mengawasiku kecuali, Di rumah sakit, mereka hanya mengantar dan menjemput dan menjaga pintu masuk rumah sakit menyamar," jelas Zalfa.
"Kami tidak memintamu menjelaskan dan membuatmu menjadi tersangka hingga hampir mirip di introgasi di ruangan privat tapi, Kau menjelaskannya dan sudah terlanjur, Baiklah. Aku akan menyerahkan padamu Arkan, Zalfa wanita malang baru saja dua puluh tahun lebih sudah memiliki anak, Aku kasihan padanya jika kau terus menatapnya tajam." Rayhan beralih menatap Arkan yang fokus pada ponselnya seketika menoleh dan mengangkat ponsel ke telinganya.
Arkan menelpon seseorang.
Tidak lama Veronica dan Silla datang dengan santai kerumah sakit.
"Kau bisa keluar?"
Zalfa mengangguk. Om Rayhan terdiam.
"Ada Aku akan minta izin untuk menginap di teman kampus perempuan dan ada satu teman yang di percaya Ibuku," jelas Zalfa.
"Baiklah." Om Rayhan berdiri dan membuka pintu. Veronica dan Silla juga Anasty masuk.
"Anasty.. Kamu?"
"Nanti aku jelaskan Zal, yang penting kamu ikut kami sebentar."
Anasty menatap Zalfa dan menghampiri Zalfa.
Zalfa terdiam di tempatnya.
"Aku akan datang menemui kalian di tempat biasa dan jangan biarkan Baj*ngan itu keluar markas jadikan semuanya seperti tidak di mengerti nya."
Kalimat Arkan sebelum keluar dari ruangan itu bicara tanpa menatap Veronica Silla dan Anasty.
Arkan berdiri dari duduknya menatap Zalfa membenarkan Jasnya dan Om Rayhan yang juga pergi dari sana.
"Kami santai. Sampai kamu selesai tugas baru Kita pergi."
Anasty menatap Zalfa dengan penuh harapan.
"Ponakan Aunty yang sehat sayang nanti kamu bisa melihat bagaimana Ayahmu di hajar oleh orang yang pantas jika aku bisa aku akan menghajarnya."
Zalfa terkekeh.
Di Apotik depan Rumah Sakit. Dinda dan Tantenya Arkan baru keluar dengan membeli vitamin dan juga susu khusus kehamilan yang baik untuk Dinda.
"Tante kok aku ngerasa Dokter Zalfa kenal sama Nenek tapi, Kayaknya nenek pura-pura gak kenal sama Dokter Zalfa."
Tantenya Arkan tersenyum.
"Itu cuman perasaan kamu aja sayang, Siapa yang gak gugup kalo ketemu Neneknya Arkan, Satu rumah sakit tahu kalo Neneknya Arkan itu Ibu dari pemilik Rumah sakit. Salah satunya ini, dan ini cabang yang pertamanya."
Dinda mengerti mengangguk. Tadinya Dinda kira kalo ada hubungannya sama orang yang mau di nikahi Arkan, dari ucapan Kakek Semalam Dinda penasaran perempuan seperti apa yang mau di nikahi Arkan.