
Setelah malam itu pagi ini Arkan dan Dinda duduk berdua di meja makan. Dinda makan dengan perlahan. Diam senyap tenang tidak ada suara.
"Kak semalam ada apa kenapa kakak..." Suara Dinda terdengar takut Karena semalam memang Arkan tidur di ruang kerja dan meninggalkan Dinda yang sendiri di kamar sebelumnya memang Dinda sudah tidur tapi, terbangun ketika Arkan melangkah keluar kamar padahal tidak ada suara.
Arkan diam dengan pertanyaan Dinda.
Arkan harus mulai dari mana menjelaskan jika Diam, tidak akan baik.
"Sebenarnya semalam ada yang ingin berbuat tidak baik ada petasan dan kaleng di lempar depan rumah tapi, itu semua tidak apa-apa."
Dinda masih kurang puas dengan ucapan Arkan sekarang. Tiba-tiba Arkan pergi ke ruangan tepat di ruang kerjanya.
Dinda dengan perlahan bangkit dan membereskan bekas makan lalu mengikuti Arkan diam-diam. Sampai Dinda di dalam ruang kerja Arkan Dinda tidak melihat siapapun Dinda berjalan ke meja membaca cepat beberapa kertas dan melihat dengan fokus dan cepat siapa mereka.
Dinda beralih pada laporan kematian dan hasil pemeriksaan kedua orang tuanya.
"Seharusnya kamu gak sembarangan," ucapan Arkan membuat Dinda terkejut dan menoleh.
Nah.. ketahuan sekarang pikirkan alasannya.
"Haaha... enggak kak, kita berangkat ke sekolah aja sekarang," ucap Dinda mengalihkan pembicaraan dengan langsung meletakan semuanya dengan rapi.
"Eh.. Enggak usah aku jalan pake angkot aja," ucap Dinda lagi dengan masih berpikir. Jadi salah tingkah.
Seketika Arkan melangkah maju mendekat mengambil kertas-kertas yang Dinda pegang.
"Ehem... Ayo ikut aku, aku jelaskan sambil berangkat." Wajah datar tanpa ekspresi itu membuat Dinda mengangguk takut mengiyakan apa yang Arkan ucapkan.
"I-iya Kak," ucap Dinda gugup.
Keluar rumah berjalan menuju garasi. Arkan mengeluarkan mobilnya sampi keluar dari garasi Dinda diam menunggu tidak tahu harus apa.
Setelah mengeluarkan mobil Arkan turun dari mobil dan mengunci pintu manual.
Dinda mengikuti Arkan masuk mobil setelah mengunci pintu.
Di dalam mobil Arkan, Dinda terdiam lupa jika belum memasang sabuk pengaman. Seketika Arkan sadar Arkan memakaikannya.
Sejarak yang dekat wajah Dinda dan Arkan. Dari dekat itu jelas, Datar dingin pendiam didepan Dinda. Canggung pula sekarang.
Dinda ingin hiperaktif lagi tapi kenapa malu ya.
Ih.. Dinda biasa aja.
Tapi, jantungnya berdebar tak karuan.
Pintu gerbang di buka otomatis dan tertutup otomatis. Mobil melaju pergi.
Tidak ada ekspresi di wajah tampan Arkan. Fokus mengemudi.
"Kak... Apa yang kakak mau jelasin apa itu tentang kertas yang Dinda liat," ucap Dinda ragu takut sambil mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman dan ketika mata Dinda melihat jari-jari tangan Arkan mengeratkan genggamannya pada kemudi mobil wajah Arkan mengeras dan fokus menatap mobil. Dinda jadi takut.
"Apa yang sudah kamu baca?" tanya Arkan dengan suara yang mengintimidasi seperti membuat lawan bicaranya takut setengah mati jika bersuara.
"Ehem... Tentang Ayah ibu tentang dua cewek satu rambut meah satunya hitam satunya lagi tentang Kak Citra dan ternyata kembar ya kak, terus ada orang yang melaporkan ada orang mati dalam penjara juga tentang... tentang Maulana sama Beto," jelas Dinda takut tapi, berusaha berani menutupi rasa gugupnya. Aslinya mah mau pingsan sekarang!
"Apa kak Arkan marah? Dinda gak akan bilang siapa-siapa Dinda gak akan bocor! Maaf Kak," Katanya lagi.
"Tidak, Apa kamu kaget?"
"Haah.. kaget gimananya kak, Oh.. Ayah sama ibu, itu iya sih, tapi udahlah lagian Dinda udah ikhlas kok gak papa, lagian memang semua nya juga bakalan pulang kan," kata Dinda membuat Arkan menoleh melihat wajahnya sedih menghapus air mata menahan air mata agar tidak jatuh.
"Yang kamu lihat itu semuanya belum semuanya tapi, apa kamu bisa tahan kenyataan kalo yang terjadi gak sesuai sama yang kamu tahu selama ini," kata Arkan dengan wajah yang datar fokus menyetir.
"Iyalah kak lagian Ayah sama ibu udah gak ada kalo udah tahu gimana peristiwanya ya udah gak papa," ucap Dinda lagi terpaksa senyum tapi, wajahnya murung.
Jujur Arkan, Kata Gak Papa Dinda itu membuat Arkan merasa tidak nyaman.
Sampai didepan sekolahan Arkan memberhentikan mobil H.Kona putihnya.
"Makasih kak," ucap Dinda dengan tersenyum. Seketika Arkan menarik tangan Dinda menahannya.
"Bilang kalo kamu kurang nyaman," ucap Arkan lembut.
Dinda mengangguk dengan wajah pura-pura senang.
"Kakak jemput atau mau pulang sendiri," ucap Arkan manis.
Dinda malu seketika pipinya memerah.
"Haa.. Terserah kakak aja," ucap Dinda malu.
Turun Dinda dari mobil. Arkan melaju meninggalkan sekolah.
*
Disini Arkan gudang tua Arkan berjalan masuk sendirian setelah turun dari mobil.
Tersengar suara orang berjalan.
"Lama juga lo dateng," ucap Maulana dengan wajah licik dan sok bisa menantang dan meremehkan Arkan.
Maulana mendekat ke Arkan dan mendorong tongkat bassbal ke dada Arkan.
"Lo gak akan bisa milikin Dinda karena dia milik gue," ucap Maulana.
Arkan tanpa basa basi langsung memukul Maulana dengan berutal tanpa Ampun. Semua anak buah Maulana yang melihat itu hanya bisa mundur ketakutan tapi, di lain tempat tepatnya di lantai dua gudang tua, seorang perempuan cantik menatap Arkan.
"Haha...haaha lo gak akan bisa sama Dia lo nikahin Dinda terpaksa," ucapan Maulana seperti masih ingin di bogem Arkan Lagi.
Maulana bangkit dengan tubuh yang sakit Arkan juga menatapnya dengan wajah datar.
"Lo mengakui istri orang, Mulut lo gak ada gunanya," ucapan Arkan membuat Maulana kesal.
Mengatai Mulutnya yang tidak berguna karena terus-terusan membuat pengakuan jika Dinda miliknya padahal jelas jika Arkan yang menikahi Dinda secara sah hukum dan agama.
"Bye bye... gue mau sekolah dulu Lo urus orang ini," perintah Maulana untuk anak buahnya. Sok tengil.
Tanpa babibu mereka menyerang Arkan tanpa jeda Arkan melawan tanpa jeda juga.
Sialan...
Arkan terkena pukulan di bahu dan perut juga wajahnya.
"Woy.." teriakan Lorenzo sambil berlari menendang dan memukuli beberapanya Lalu Justin juga Bagus datang.
Mereka yang melawan Arkan seketika tumbang dan pergi dari sana.
Argh... Rintihan Arkan mencabut benda tajam di bahunya.
Membuangnya sembarang wajah dan darah di baju Arkan begitu menyeramkan.
"Lo gak papa, Kenapa lo ngelawan mereka sendirian sih," kesal Justin meberikan ucapan bertubi pada Arkan.
"Argh... Sssh.." Rintihan lagi untuk sobekan di perutnya.
Ngilu... Bener-bener sakit Justin dan Lorenzo tidak tahan segera membawa Arkan tapi Arkan menolak.
"Hari ini jemput Dinda jam Sepuluh sekolah bakalan bubar karena ada acara guru," ucap Arkan berjalan sendirian ke mobilnya tidak memperdulikan tatapan simpati temannya.
*
Dinda.
Dinda.
Suara di benaknya terus saja terdengar, Dinda menggebrak meja pelan, Kiran menoleh menatap Dinda aneh.
"Perasaan gue gak enak dari tadi mikirin kak Arkan," katanya dengan wajah di kesal dan gelisah.
Tidak lama Bu Siska datang setelah Dinda menutup mulutnya berhenti bicara.
"Anak-anak nanti semua guru akan ada acara tahunan jadi jam sepuluh semua di pulangkan," kata Bu Siska.
Berarti pulang cepet Hari ini.
Baguslah Dinda punya banyak pertanyaan untuk kak Arkan sekarang.
*
Dinda berlarian turun dari mobil angkot karena seseorang mengikutinya. Bersamaan Dinda sampai di rumah Arkan gerbang tidak bisa terbuka ada gerbang kecil Dinda masuk dan berlari masuk kedalam seketika berhenti didepan pintu teras.
Mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Darah," ucap Dinda yang sadar jika Dinda menginjak Darah.
Dinda melihat gagang pintu juga ada darah.
Dinda masuk perlahan. Sepanjang tetasan darah itu mengarah kedapur Mengikuti jejak darah hingga kedapur seketika Dinda terkejut menutup wajahnya.
"Tolong," ucap Arkan santai tapi, lemah duduk bersandar pada meja pantry.
Dinda membuka matanya perlahan mendekat.
"Kenapa bisa," ucap Dinda lemah melihat Luka Arkan.
"Argh... jangan," ucapnya ketika Dinda akan menyentuh luka dalam itu. Dengan cepat Dinda mengambil kapas dan segera membalut juga membersihkan darahnya.
"Rumah sakit kak," kata Dinda hampir menangis.
"Gak usah," jawabnya singkat.
Dinda kesal sendiri mengobati Arkan sambil menangis. Sudah lukanya dalam, Dinda mengobati juga di wajah Arkan.
"Ini semua pasti gara-gara Maulana, Dinda gak sengaja denger Maulana ngobrol sama cewek cantik yang nyebut nama Kak Arkan, Dinda langsung pulang dan gak bilang sama Citra Dinda gak tahu kalo di ikutin waktu dapet Angkot Dinda sadar kalo ada yang ngikutin pas waktu di depan Masjid sana Dinda turun barengan anak sekolah lainnya dan lari lewat gang sempit Sampe gerbang suara motornya kedengeran dan di dalem rumah liat darah, Kakak ngapain? Diapain aja sama Maulana sampai begini? Kakak jago bela diri sabuknya juga tinggkat tinggi, Hiks... Dinda gak tega liat kakak kayak gini kerumah sakit aja nanti ada yang infeksi, Hiks... Ayo kak."
Kasihan melihat Dinda menangis, akhirnya Arkan menurut.
*
Disini ruangan Dokter Bayu. Arkan di jahit lukanya dan di bersihkan. Dinda menunggu sambil mengamati. Hingga Selesai.
Arkan langsung pergi. Tiba-tiba Masuk Istri Rayhan Nyonya Raxen.
"Nak... Ya ampun kamu kenapa, Kenapa dia sayang," tanyanya pada Dinda yang duduk.
Dinda bingung.
"Gak Papa Tante," Kata Arkan.
"Gak bisa kamu harus dirawat kalo gini," ucap Istri Rayhan.
"Eh... Kayaknya Dinda aja Tan, Kakak Arkan lebih nyaman dirumah," ucap Dinda yang peka dengan ekspresi Arkan yang sudah tidak suka itu.
Terdiam.
"Ya udah kalo gitu gak papa Tante kasih izin," Kata Istri Rayhan menatap lembut Dinda dan menatap khawatir ke Arkan, bergantian.
Sampai di rumah, Arkan langsung merebahkan tubuhnya dan Dinda mengambil pakaian Arkan di lemari.
Kenapa bajunya kayak gini, oh disini. Tangan Dinda mengarah ke pakaian bersih kaos rumahan di lepitan sebelah kiri.
Setelah Arkan mengganti pakaiannya Arkan juga sudah makan dan minum Dinda sekarang yang mengajak Arkan bicara.
"Kakak kayaknya belum selesai ngejelasin ya..." Terpotong dengan suara ponsel Arkan.
"Halo Kan Dinda udah balik belom gue gak bisa jemput," ucap Justin di sebrang sana.
"Udah," jawabnya lalu mematikan ponsel.
Seketika Justin menatap horor kedepan.
Lagi-lagi Arkan memutus sambungan Teleponnya sepihak.
"Kak!"
"Kamu gak usah mikirin itu semua kamu udah tahu siapa aku dan kamu jangan banyak pikiran, Kamu bisa istirahat sekarang aku juga mau istirahat."
Kenapa malah di alihkan Dinda semakin kesal seketika Dinda menangis lagi, Kenapa menangis terus apa yang terjadi, belakangan ini nangis terus.
"Kakak..."
"Dengerin kenapa? apa ini kakak doang yang boleh mikirin? Dinda kan juga mau bantu kalo gini caranya Kakak bisa mati dan Dinda jadi Janda," ucapan Dinda yang kasar seketika mendapat pelototan Arkan.
Dinda tidak menghiraukannya dan keluar dari kamar seketika Arkan tertawa terbahak-bahak.
Arkan bangkit sambil tertawa lucu melihat Dinda yang marah.
"Hiks... Kakak egois banget dingin banget, Kan Dinda juga mau bantu malah di suruh istirahat, masalah juga aneh ih mending Dinda yang mati Aja," ocehnya memukul-mukul bantal sofa.
"Ngomong apa barusan," ucap Arkan.
"Gak Tahu," kesalnya lalu pergi ke dapur membersihkan bekas darah.
"Semuanya itu berhubungan sama masa lalu kamu dan aku dan orang tua aku, Aku juga belum tahu semuanya," ucap Arkan beralih ke dekat kulkas dan mengambil air minum.
"Terserah, males Dinda denger sana sekalian semuanya sembunyin dari Dinda dari pada Dinda tahu juga Kalo kenyataannya Kak Arkan juga punya mantan masalalu," ketusnya lalu pergi membuang semua tisu dan mencuci kain lap.
"Tunggu." Arkan meraih Dinda dan menatapnya tajam.
"Mau tanya Apa, Tentang mereka, Gak perlu tahu yang perlu Dinda tahu cuman belajar yang pintar," ucap Arkan lembut.
Seketika Dinda mendorong lengan Arkan melepaskan tangannya.
"Iya Tahu Dinda Oon Dinda beg* dah lah Cerai in Dinda aja gak masalah, Kalo mau cewek pinter lainnya di luar sana," Katanya lagi sambil berlalu.
Arkan hanya tersenyum.
Pasti akan datang bulan tebak Arkan karena emosi Dinda labil.
Tadi ceria perhatian terus sedih terus marah gak jelas.
...****************...
FlashBack......
Arkan pergi ke markas setelah mengantar Dinda meminta pada semuanya membagi tugas di jadwal yang sudah Arkan kirimkan pada Gressia dan Rettrigo. Kemungkinan Arkan akan keluar kota.
Dan benar ternyata Violetta yang Rian bilang belum meninggal, Violetta selamat dan sekarang bekerja sama dengan Maulana yang ternyata adik sepupunya.
Masalah Blackrose dan Scorpion sudah hampir selesai dan Sisanya Pak Jersey bereskan.
Laporan masuk setelah Arkan selesai bicara tentang dirinya yang akan keluar kota. Pak Jersey bilang jika Gabriel dan Citra Rosella mati karena salah satu sipir penjaga tahanan dan juga salah seorang napi bekerja sama membunuh Gabriel dan Citra Rosella, lalu hampir akan membunuh Rosella istri Gabriel tapi, tidak jadi dan malah membuatnya hilang ingatan.
Farles kematiannya karena seorang tukang masak penjara di bayar mahal seseorang dari luar untuk membunuh. Dari data yang cocok jika mereka mati karena balas dendam korban.
Lametta dan Farah mereka masih dengan hukumannya.
Setelah itu Arkan mendapatkan pesan dan pergi ke gudang Tua sendirian.
Temannya curiga dan mengikuti Arkan.
............FalshBack Off..........