Arkan Dinda

Arkan Dinda
Keluarga kalangan atas



Arkan mengajak Dinda pulang setelah lebih baik. Kini keduanya sedang istirahat mengobrol di samping kolam. Arkan juga ingin mendinginkan kepalanya dengan berenang.


Arkan minta Dinda membuatkan makan siang untuknya dengan senang hati Dinda memasaknya. Hanya sekedar sup wortel dan Tahu telor kecap masakan sederhana yang Dinda bisa.


Sebelum ke kolam renang Arkan pergi kekamar mengganti pakaiannya dan melihat ruang kamarnya apa ada yang berubah dari masuk rumah dan Dinda yang membereskan kopernya Arkan masih sangat teliti di barang rumahnya, di pandang dengan cermat sampai satu barang yang terlihat aneh.


Kotak pensil atau tas pouch Dinda yang hilang. Arkan melihat lebih jelas. Mengingat tas Pouch Dinda yang selalu ada di dekat lemari tv bersamaan dengan buku gambarnya. Dinda sering menggambar apapun ketika sedang tidak ada kerjaan atau ingin dan meminta izin Arkan untuk meletakannya di lemari tv Arkan bilang jika di ruang kerja nya saja tapi, sepertinya Dinda tidak melakukannya meletakan wadah pensil warna itu disana.


Rumah, Hanya orang tertentu yang bisa masuk rumah pintar Arkan, untuk Rettrigo dan Gressia sudah di kenali rumah pintarnya tapi, hanya di halaman. Ketika tidak ada orang dirumah dan Nenek atau kakek datang Rumah sudah tahu dan kenal dengan Kakek ataupun nenek. Jadi yang bisa masuk hanya Arkan Dinda Kakek dan Nenek tapi, kalo orang asing masuk sendirian tidak bersama salah satu dari mereka itu tidak bisa.


Tapi, jika Thaliya yang firasat Arkan bilang adalah hari dimana Thaliya datang bersama nenek.


Barang-barang yang ada di rumah ini bisa saja di ambil tanpa sepengetahuan lemari tv, lemari biasa dan meja sofa juga biasa hanya rumah pintar bekerja untuk keamaman dan kenyamanan. Tidak termasuk untuk bendanya sekali lagi, tapi... kalo orang yang dari luar mau masuk pasti tidak bisa dan dari Dalam mau keluar tidak bisa jika tidak bersama Arkan Dinda atau Kakek dan Nenek.


Jika Pak Johan tidak mungkin Karena pak Johan datang selalu bersama kakek pertama datang rumah ini hanya ada Arkan, Dua kali datang kemarin bersama Nenek kakek.


Arkan kembali melangkah ke kolam renang lalu menjatuhkan dirinya ke air perlahan, berenang setelah pikirannya sibuk berkelana memikirkan kejadian dan penyebab masalah Hari ini. Seyakinnya Arkan jika Thaliya yang melakukan ini.


Dinda datang dan meminta Arkan menyicipi somai saos cabai buatan sendiri.


*


Arkan meminta Dinda untuk makan juga. Dinda yang mengangguk ketika Arkan sudah selesai makan.


"Kakak gak ada capeknya abis dari luar kota sekarang malah berenang panas lagi cuaca!" Sambil duduk memainkan air kolam di tepian.


Seketika Arkan memunculkan kepalanya dari dalam kolam entah kapan dan bagaimana Arkan bisa masuk kedalam Kolam setelah duduk dan makan siang di kursi santai dekat meja. Dinda terkejut dengan kecupan singkat Arkan ketika muncul tiba-tiba dari bawah kolam. Seketika berubah selain kecupan.


Tangan Dinda meremas bahu Arkan. Seketika Arkan melepasnya.


Akhirnya berenang bersama lagi. Kali ini berenang sungguhan bukan berenang yang kayak itu, pas waktu itu, gimana ya jelasinnya Argh Gitulah pokoknya.


Tidak terasa waktu cepat berlalu Hari ini sudah Seminggu Arkan Di rumah selama seminggu itu Dinda juga masih sekolah dan libur jika Hari minggu Arkan juga bolak balik Kampus jika ada jam Dosen mengajar jika tidak ya ke bengkel jika tidak ke bengkel ya Ke rumah Ngantor rumah ala Arkan.


Di depan butik. Arkan nenek dan Dinda sampai. Mamanya Kiran datang menyambut Neneknya Arkan lalu mengajak masuk.


"Gaun pesta dan setelah jas untuk Arkan, Sudah?" Ucap Nenek dengan ramah pada Mamanya Kiran.


Mamanya Kiran dengan bangga meminta pegawainya mendatangkan beberapa gaun ke ruangannya dan setelan jas untuk Arkan.


Dinda dan Arkan juga Nenek di mintai nenek mencoba semua pakaiannya.


Arkan mencoba sambil di perhatikan Nenek. Nenek langsung suka pada setelan jas pertama. Anak lelaki yang tampan sekarang sudah menjadi suami dari seorang perempuan. Nenek menatap takjub sikap Wibawa dan aura kepemimpinan terlihat bersinar jika Arkan menggunakan setelan formal ini sekarang.


Dinda mencoba beberapa gaun sampai pada gaun wana biru dongker dengan permata yang cantik.


Gaunnya sopan dan panjang sampai menutupi bawah mata kaki Dinda tangannya juga agak panjang.


"Kalian harus datang di acara keluarga karena keluarga kakek kalian ingin kalian hadir dan jangan permalukan dengan absensi kalian yang terpenting datang dan bisa pulang ketika kalian lelah, Dan jangan lakukan hal aneh disana," ucap Nenek seperti Dinda adalah yang akan membawa masalah untuk Arkan Dinda menunduk merasa di kucilkan.


"Sudah kalian bisa pulang Nenek masih ada urusan," ucap nenek lalu menatap wajah Ayu Dinda ketika pandangan Dinda turun kebawah.


Di motor yang berjalan melintasi jalanan raya Dinda dan Arkan pulang kerumah dengan membawa paper bag.


Dinda merasa ini aneh dan juga hal ini seperti tidak membuat Nyaman tapi, kalo gak di buat nyaman Kak Arkan akan tahu dan malah membuat Kakek marah lagi.


Malam Harinya Dinda Arkan keluar dengan mobil tanpa sopir. Pergi ke Hotel Posidion. Mendatangi halaman depan yang langsung di sambut Pak Johan.


Arkan masuk lebih dulu sebelum Dinda lolos pemeriksaan Lalu Dinda bisa masuk. Jadi Arkan tidak tahu jika teman-temannya datang karena Arkan sudah didepan aula ballrom sekarang.


Dua orang membuka pintu mempersilahkan sebelumnya memberikan sidik jari agar di kenali.


Seketika Arkan selesai memberikan sidik jari Rama lewat dengan dua gadis kecil Lala dan yang satu Belle.


"Kak.. Liat cantikkan," ucapnya bergaya dengan wajah sombong dan kaca mata. Memamerkan jika dua perempuan cantik ada bersamanya.


Arkan menatap dingin dan mendengkus malas.


"Kakak berarti masih kalah ganteng dari Rama, Masa cuman sama Kak Dinda dong huuuh, gak laku, kaya Rama nih keren, Ayo cantik kita masuk."


Sambil berlalu pergi dengan gaya sombongnya. Dinda menghampiri Arkan.


"Sabar kak," ucap Dinda. Enggak siapa yang kesal, Arkan tidak kesal hanya saja Arkan merasa di sindir karena hanya bisa bersama satu perempuan, bukan maksudnya tidak bisa memiliki banyak perempuan tapi, Dinda adalah satu bukan untuk di duakan.


Untung Rama anaknya Om Rayhan kalo gak dah Arkan gantung di pintu masuk tamu, Untung juga ini acara keluarga, jadi tenang Arkan. Rama itu bocah cabe rawit, pedes banyak nyindirnya sekarang, mentang-mentang deket.


Arkan menggandeng Dinda masuk berbaur dengan semua keluarga kalangan atas yang terlihat sangat gelamor.


"Kak aku disana aja," ucap Dinda. Arkan menoleh dengan tempat yang Dinda tunjuk.


Apa maksudnya? Itu tempat di pojok dekat makanan dan pelayan Dinda ini pasti minder sekarang.


"Kayaknya Dinda gak bisa berbaur deh," ucapnya lagi malu. Arkam menyentuh tangan Dinda dan tersenyum lalu menariknya seperti memeluk lengan atasnya.


"Sebentar." Katanya dengan lembut menatap Dinda.


Bercampur dengan keluarga lainnya dan saudara dari ibunya Arkan lalu Saudara dari Om Rayhan dan Bundanya Rama yang juga hadir.


Ternyata acara pernikahan tapi hanya resepsi karena pernikahannya sudah di kantor urusan agama.


Seketika datang Thaliya dan memeluk Dinda seketika menatap wajah Arkan berbinar.


"Kalian dateng Arkan aku pinjem Dinda," ucap Thaliya.


Seketika Arkan dan Dinda saling menatap Dinda mengangguk dan pergi bicara dengan Thaliya.


"Terimakasih," sahut Thaliya lalu mengajak Dinda pergi dari sana Kakek memanggil Arkan memintanya mendekat.


"Ini adalah cucuku keponakan Raxen, Kalian belum seberapa tahu," ucap Kakek menjelaskan.


"Ternyata sangat tampan," ucap wanita setengah baya dengan kekehan diakhirnya.


"Apa anda bermaksud mencari istri kedua Tuan muda," ucap lelaki dengan santai sambil memegang sirup jeruk di salah satu tangannya.


"Kurasa aku bisa membicarakan itu dengan kalian nanti," Sahut Kakek dengan tenang dan seperti itu hanya guyonan.


"Aku rasa tentang Istri anda yang masih sekolah itu menggunakan alat atau obat supaya tidak hamil, Tapi, ada benarnya dari pada dia di katakan hamil karena pergaulan bebas. Tapi, tidak baik juga menunda, bagus mendapatkan keluarga kaya bisa sekolah dirumah tanpa repot."


Arkan hanya Diam tidak ingin bicara sepatah katapun.


Kakek juga hanya bisa tersenyum ketika pembicaraan mulai mengarah pada keluarganya.


Di sini kursi lain Dinda duduk bersama Thaliya.