Arkan Dinda

Arkan Dinda
Arkan Adalah...



Dinda dan Arkan berada di dapur.


Malas masak sebenernya tapi, Dinda lapar.


"Kak aku masak mi organik ya," ucap Dinda dengan merayu Arkan.


Arkan diam tidak menjawab.


"Ya udah, makan aja Dinda lagian gak masak apa-apa pake nasi ya," ucap Dinda menjawab pertanyaannya sendiri. Arkan masih diam saja.


Arkan berbalik meletakan tumis sayuran yang ada udangnya di atas meja makan.


"Pake sayuran," kata Arkan singkat.


Semangat empat lima Dinda mengangguk. Ok lah...


"Selesai," seru Dinda sambil membawa sepiring mie goreng organik nasi satu piring dengan mie. Tidak lupa menyendok tumis yang Arkan masak.


"Kakak.. kok pinter masak?" Ucap Dinda sambil mengunyah makanannya.


"Belajar," sahut Arkan singkat dan selesai makannya lalu berbalik mencuci piringnya sendiri dan bekas masaknya sendiri. Lalu kembali duduk menemani Dinda makan setelah selesai membereskan bekas makan Arkan sendiri.


Dinda mengangguk anggukan kepalanya.


"Kak, Di luar sana yang aku liat suami lebih banyak di layani istri, Suami di luar sana juga banyak gak bisa masak kalo masakan istri gak enak ada juga yang marah-marah," ucap Dinda. Pertanyaan Tiba-tiba itu Arkan dengarkan dengan baik, Dinda juga bisa bertanya seperti itu karena Arkan kadang tidak mau meminta tolong Dinda dan sering melakukan semuanya sendirian.


Seketika Arkan memberikan segelas Air pada Dinda.


"Mereka itu beberapa, sebenernya juga ada yang sama kayak kamu situasinya," ucap Arkan menanggapi Dinda.


Dinda terdiam, memang iya, bener Kak Arkan bilang.


"Kakak selama ini maunya masak sendiri dan enak-enak masakannya, gak pernah nyuruh Dinda terus yang masak, kayak gimana gitu rasanya.... Kakak gak pernah minta Dinda masakkin, apa kakak gak suka masakan Dinda? Ya emang sih Dinda gak pernah bener masaknya," ucap Dinda.


Seketika Arkan meletakan ponselnya dan meletakan sebelah tangannya di atas meja.


"Sekarang aja kakak Luka malah minta masak sendiri, Mau nolak kakak masak aja gak berani, Dinda takut dosa juga lagian ujung-ujung kalah debat ngecibir, Dinda juga..." Seketika berhenti dengan suara gelas di letakan diatas meja dengan kasar.


"Kamu terlalu banyak mikir, Aku tahu kamu pasti kasihan dan khawatir tapi, aku gak terbiasa duduk diem ngeliat kamu kecapean. Kamu kalo hari minggu pasti kerjain semuanya, Karena kamu gak mau terus-terusan bergantung sama robot rumah tangga. Aku ngertiin kamu, Gak mau ya aku di bilang egois, Aku ngelakuin semua karena alasanku sendiri, Kamu jangan merasa gak enak," jelas Arkan pajang lebar dengan serius.


Dinda sedikit malu haru tersenyum senang semua perasan bercampur aduk. Ini adalah pasangan terbaik diantara pilihan yang ada.


Dinda terdiam.


"Makasih kak tapi, lain kali minta pelayanan terbaik Dinda dong kak, Kalo kakak ngelakuin semua sendiri terus guna Dinda apa..." ucap Dinda sedih.


"Masakan kamu itu enak, aku suka, tapi, kalo kamu gak kecapean kamu bisa masakin aku, Aku lebih suka makan masakan kamu dari pada masakan aku sendiri dan masakan orang lain. Guna kamu itu istri bukan Asisten rumah tangga," ucap Arkan seketika membuat Dinda kembali merasa terbang. Bolehkah Dinda menjerit dengan kencang sekarang, iya.. rasanya Arkan terlalu lebih baik untuk Dinda yang kurang baik.


Suasana hening sementara, selesai makan Dinda membereskan bekasnya dan kembali duduk bersama Arkan.


Sekarang disini di sofa. Sambil menonton tv. Arkan juga duduk di samping Dinda tangannya yang satu yang tidak terluka berada di belakang kepala Dinda.


"Kakak gak mau cerita sesuatu ke Dinda." Seketika Ucapan Dinda membuat Arkan menggeleng.


"Gak usah ungkit masa lalu gak penting." Kata Arkan setelah beberapa detik diam.


Dinda kembali diam. Sudahlah diam saja waktunya tidak tepat.


*


Malam ini Dinda dan Arkan tidur seranjang. Dinda belum tidur dan sulit tidur karena selama ini yang Dinda tahu tentang Arkan sedikit.


Tidak tahu kenapa sekarang penasaran.


Dinda berbalik berbaring seketika melihat wajah Arkan tidur miring ke arahnya. Berarti tadi Dinda yang memunggungi Arkan.


Kak Arkan tidur beneran, Mukanya lelah banget, tapi sempurna ganteng!


Dalam hati Dinda masih mengagumi wajah tampan Arkan, walau sedang tidur, Dinda yang memperhatikan wajah Arkan merasa ingin terus tersenyum karena wajah tampan di hadapan Dinda membuatnya selalu menjadi perempuan terbaik dan Dinda tidak pernah merasa sebahagia ini kalo kak Arkan disekolah waktu itu.


Kak Arkan benar-benar menjaga ucapannya, sampai sekarang Dinda tidak, Kak Arkan sentuh .


Dinda melangkah turun pelan melewati tangga. Lalu berbelok keruangan kerja Arkan.


Dinda membuka pintu dan menyalakan lampu. Terlihat rapi sekali padahal setiap hari Arkan memakai ruangan ini.


Dinda kira bakalan banyak banget tumpukan kertas. Ternyata gak ada!


Dinda berjalan menyusuri ruang kerja sekaligus ruang baca itu melewati beberapa buku lalu melihat Komputer Arkan, Dinda merasa ingin menyalakannya. Ketika di nyalakan Tidak ada kata sandi. Mudah!


Dinda membuka semuanya dan melihat apa isinya sambil duduk Dinda terus membuka beberapa hal yang ingin Dinda tahu dan berkas apa saja yang bisa Dinda mengerti dan tanpa sadar terbuka karena salah klik.


Dinda beralih dari komputer ke rak buku dekat dengan lampu berdiri.


Mengambil album foto yang terlihat besar dan berat. Dinda membukanya. Semuanya ada disana Dinda melihat masa kecil seseorang lalu masa kecil Arkan dan ada foto seperti ayah ibunya Arkan. Ada selembar foto yang sama yang Dinda senggol itu.


Terlihat ada foto anak kecil perempuan dan satunya laki-laki.


Jika Dinda tahu anak laki-laki itu Arkan dan perempuan itu Dinda gak tahu.


Dinda meletakan kembali buku besar itu seketika melihat buku catatan berwarna coklat pink dengan motif daun.


Sambil berucap, Permisi-permisi, Dinda mengambilnya.


Setelah di buka dan membacanya Dinda menangis dan merasa tidak ingin melanjutkan tapi terus Dinda baca. Sampai terakhir Dinda melihat foto Arkan dan ayah ibunya. Meletkan kembali buku itu di tempatnya, Dinda melihat kotak berisi sesuatu.


Tidak berat tidak terlalu ringan. Penasaran! Dinda membukanya.


Tangis Dinda pecah dalam dekapannya isak tangis Dinda hanya di dengarkannya sendiri.


Dinda membereskan kembali dan melangkah ke jendela.


Menatap keluar lalu menutup horden lagi.


Dinda merasa bersalah Dinda terlalu sombong untuk selama ini yang di lakukannya Dinda juga kurang banyak bersyukur.


Keluar dari ruang kerja Arkan Dinda mengambil Air minum setelahnya pergi lagi kekamarnya.


*


Membaringkan tubuhnya dan menatap wajah tenang Arkan yang masih terlelap.


Dinda seketika menangis lagi.


Tidak semua bisa bahagia, walaupun kita melihat mereka lebih diatas kita, belum tentu mereka bisa merasa bahagia.


Mengecewakan orang yang pernah memperlakukan kita dengan baik sama saja membunuh dengan memutilasi dirinya.


Kita juga bisa bertanggung jawab atas perbutan kita jika sampai bisa membuat orang yang kita kecewakan berubah dari dirinya yang asli.


Kegelapan di waktu lampau masih belum cukup membuat seorang menjadi berdiri tegak seperti sekarang layaknya sebuah rantai kekang yang membuat leher terjerat seperti binatang.


Ada sebuah hal yang tak terlihat tapi, bisa membuat seluruh raga ini hancur.


Tidak ada hal positif ketika semua ruangan penuh dengan hal negatif.


Dinda tahu siapa Arkan sekarang bagaimana Arkan selama ini dan bisa sampai sekarang.


Dinda sedih kenapa kemarin Dinda membuat Arkan seperti di kucilkan di rumahnya sendiri dan tidak mendengar penjelasan Arkan.


Dinda juga terlalu malu sekarang, setelah Arkan mengambil Dinda menjadi istri. Dinda merasa kaku dan tidak bisa terlalu hiperaktif seperti dulu tapi, jika Dinda berbeda kalo berada didepan Arkan. Dinda gak yakin gak bakalan gak balik ke Dinda cerewet lagi.


"Aku sayang kamu, I love you," ucap Dinda pelan mengecup dahi Arkan dengan Air matanya. Seketika Dinda masuk dan mimpinya dengan memeluk Arkan menghindari lengan Arkan yang terluka.


Tanpa sadar Arkan tersenyum Ketika sesuatu sedang memeluknya dan membuka matanya.


Dinda itu punya rasa penasaran tinggi belakangan ini. Arkan tidak masalah jika Dinda mencari tahu tentang dirinya. Arkan membuka mata dan menatap ke langit kamarnya.


Semuanya sengaja Arkan biarkan.


Tapi, sayang Dinda mencintainya sudah sangat lama karena Arkan dulu pintar di sekolah, Sekarang mengatakan cinta dengan mencium dahi Arkan setelah tahu masa lalu kelam Arkan.