
Bohong! kakek tidak menjaga Dinda kakek justru membuat Dinda terluka lebih dalam dengan ulah Citra.
Kakeknya tidak pernah sedikitpun melihat perasaan senang sedih Arkan sedikit pun ketika Arkan sudah bisa berjalan sendiri. Kakek lebih suka menyusahkan orang dan membuat Arkan seakan harus terus berada di atas bersama kalangan mereka.
Ketika Arkan sudah bisa meraih prestasi besar membanggakan Kakeknya selalu meminta yang lebih, seperti hanya biasa katanya begitu.
Hingga tidak bisa mendapat uang jajan seperti biasa dan meminta Arkan membuka toko sendiri.
Beruntung Arkan punya tabungan Arkan bisa membuka sendiri.
Masih sekolah dasar diminta segalanya melakukan sendiri. Tidak ada yang boleh membantu Arkan kecuali, memang butuh sekali.
Nenek hanya bisa bersama tidak bisa berbuat lebih. Perintah kakek mutlak hingga Arkan harus menjalani ke bahagian di paksa kakeknya.
Arkan tidak masalah jika Kakeknya membuatnya jauh dari Dinda yang tidak tahu sejak kapan Arkan merasa jika senyum Dinda itu penting dan tangis Dinda itu menyakitkan.
Arkan belum punya kuasa Walaupun Punya Arkan tidak bisa.
Disini Arkan di kamarnya duduk bersandar pada kursi di balkon. Sibuk dengan pekerjaannya.
Di bawah Citra dan dan mama nya datang dan langsung di sambut kakek Arkan.
"Ehm.. Mah Aku ke tempat Arkan dulu ya," ucap Citra.
"Citra yang sopan. Kamu itu perempuan duduk sini sama mamah," bisik Mama Citra dengan melotot menatap Citra.
Citra lemas dan menuruti kata Mamahnya.
Kakek tersenyum tidak lama Nenek datang dan ikut bicara.
"Maafkan kesalahan Citra dan sikapnya ketika tinggal disini, saya sebenarnya ingin mengajukan pembatalan hubungan kerja kita karena saya dan Suami saya sepakat untuk tidak melanjutkannya." Kata mamah Citra dengan wajah sopan dan nada bicara yang lembut.
Kakek tersenyum mengangguk tidak lama datang pelayan membawakan suguhan untuk bicara dan untuk tamu Kakek Bratha.
"Citra kamu minta maaf dengan kakek, Kamu ini membuat malu keluarga aja, Kamu itu gak jadi tunangan dengan Arkan," ucap Mamah Citra yang membuat Citra malas.
"Ih.. Maah.. iya, Kek Nek, Maafin Citra, kalo Citra gak sopan selama disini, Mah.. Kan Citra maunya sama Arkan, Arkan kan juga suka sama Citra." Kata-kata Citra membuat Kakek terkekeh.
"Arkan ulang tahun Minggu depan datang saja ke Hotel Posidion, Aku mengundang kalian," ucap Kakek Arkan.
"Terimakasih, Kami sekeluarga akan mengusahakan untuk datang dan terimakasih juga atas bantuan dan pertolongannya," ucap Mama Citra.
Tidak lama Arkan turun dan langsung ke dapur untuk mengisi teko airnya dengan air hangat.
Citra yang melihat Arkan seketika Bangkit dan membuat mamanya Citra kesal.
"Citra," ucap Mamah nya Citra. Nenek menggeleng.
"Sudah biarkan saja." Suara nenek membuat mamah Citra bertambah malu.
Akhirnya Citra menghampiri Arkan yang sedang di dapur.
"Arkan.. Kamu mau apa, apa kamu mau Teh atau apa aku bisa bantuin kamu," ucap Citra.
Arkan tidak menanggapinya.
Arkan seketika pergi meninggalkan Citra.
Seketika itu Citra menarik tangan Arkan dan membuat Air di teko keluar dan mengenai pakaian kaos putih Arkan.
"Eh.. Maaf basah deh.. makanya kalo aku ngomong di jawab."
Arkan tidak menanggapi dan segera bergegas pergi.
Seketika suara kakek membuat Arkan menoleh.
"Arkan kemari Sapa Mamanya Citra," ucap kakek.
Arkan menurut dan menghampiri Mamanya Citra setelah meletakan teko air di atas meja makan,
Menghampiri Mama Citra dan mencium tangannya, menyapa lalu pergi setelahnya.
Seketika dengan cepat Citra di tarik Mamanya dan duduk di samping Mamanya.
"Ih mama..." Kesalnya.
" Sopan santun mu masih buruk ya," ucap mama dengan berbisik menyindir Citra, putrinya sendiri, Citra mendecih kesal. Arkan lanhsung pergi tanpa ingin duduk.
Mamah Citra terlihat kurang nyaman karrna ulah Citra di tambah Arkan yang tidak ikut duduk bicara.
"Maaf Yaa.. Sepertinya saya hanya akan menyampaikan itu terimakasih banyak." Senyuman di akhir Katanya Mamah Citra di sambut wajah ramah nenek dan kakek Arkan.
Citra dan ibunya pergi setelah berpamitan tinggal Kakek dan neneknya Arkan. Nenek bangkit dan akan pergi juga.
Seketika.
"Aku hanya ingin yang terbaik, Seharusnya kau senang dan tidak membuatku malah menyesal," ucap Kakek dengan Wajah datarnya. Sambil bangkit dari duduknya. Menatap kedepan.
Nenek diam saja dan pergi meninggalkan Kakek sendiri, tidak ada kata atau ucapan yang ingin nenek ucapkan.
Arkan pasti kesal hingga suanya saja tidak di keluarkannya sejak Pulang tadi, Nenek juga tau dari asisten pelayannya jika Arkan melakukan apapun sendiri Tidak ada satu pelayan pun yang membantu atau mendekat.
Nenek naik ke kamar Arkan dan mengetuk pintunya. Terdengar suara kunci pintu lalu pintu terbuka Nenek tersenyum Masuk nenek kekamar cucunya.
"Kamu sudah makan?" ucap Nenek.
Arkan mengangguk.
"Terimakasih karena kamu tidak membuat malu Kakek kamu, Nenek bangga, Kamu pasti sayang sama Kakek kan sampe kamu merasa bersalah karena membentak kakek tadi."
Nenek mengajak Arkan duduk dan menutup pintunya sedikit.
"Perintah kakek semuanya demi kebaikan kamu, jadi Turuti saja, Nenek kenal kakek tidak hanya lima Enam tahun saja, Nenek tahu kakek memang keras kasar, tapi, Kakek juga di siplin dan penyayang, hanya saja sayangnya kakek beda."
Arkan Diam saja mendengarkan neneknya bicara.
"Kamu bisa kan terima semua ke putusan kakek termasuk membuat gadis itu menjauh, Nenek harap kamu bisa pertimbangkan lagi untuk membelanya terus-terusan," ucap Nenek. Seketika Arkan menarik tangannya dari pegangan neneknya.
"Maaf nek, Arkan mau sendiri," ucapnya dengan wajah dan suara Datar tapi, masih dengan nada sopannya.
Nenek mengangguk mengerti, Nenek bangkit dan pergi meninggalkan Arkan sendiri di kamarnya.
Nenek keluar kamar Arkan dan menutup pintunya.
Arkan di dalam kamarnya kembali menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya.
Di tempat lainnya Dinda baru saja pulang dari Tempat kerjanya dan akan kembali ke rumah seketika melihat Kuta dan Gareng di depan pintu pagar Dinda dengan motor. Jelas Dinda kenal karena jam tangan itu yang Rettrigo tunjukkan sebagai tanda pengenal mereka.
"Nona Dinda." Sapaan Mereka ketika Melihat Dinda datang.
"Jika kami... Nona... kami ingin pergi sebentar dan minta bos untuk memberi izin kami, kami tidak bisa menghubunginya sejak tadi," sahut Kuta.
"Eh... Boleh lah memang kalian ingin apa?" tanya Dinda.
Kuta dan Gareng saling melirik.
" Ingin mandi dan makan," ucap mereka malu tapi, benar, asli. Mereka ingin Mandi dan Makan.
Dinda tersenyum menggeleng.
"Ya sudah kalian pergi saja," ucap Dinda dengan halus.
"Tapi, kami tidak bisa meninggalkan Nona karena Bos pasti akan marah begitu juga Rettrigo." Jelas Gareng dengan menyikut Kuta.
Dinda terkekeh.
"Kalian bawa baju ganti, Kalian bisa mandi dan makan di rumah gue," ucap Dinda.
Seketika Mereka saling berpandangan.
Mereka mengatakan iya, Nyawa mereka hanya hitungan jam jika mereka tidak ingin makan Mereka akan kelaparan dan bau seperti gelandangan.
"Sebaiknya Nona minta Bos izinkan," ucap Kuta.
"Eh.. Gimana ya," kata Dinda ragu. Gareng dan Kuta saling menatap.
"Masalahnya Kak Arkan udah lupa sama gue dan Dia gak inget lagi," ucap Dinda.
"Amnesia maksud Nona?" ucap Gareng seketika.
"Aiih.. gak mungkin itu, Bos itu gak mudah amnesia kalo nona tiada baru kita percaya. Atau luka di kepala belakangnya nya?" ucap Kuta.
Dinda mengangguk.
"Oh.. itu, Itu bukan apa-apa Nona itu hanya luka goresan." Sahut Gareng keceplosan.
Dinda terdiam Seketika Dinda tersenyum mengangguk. Dinda membuka gerbangnya dan mempersilahkan Mereka masuk.
Mereka masuk dan Dinda menunggu di luar.
"Kenapa tidak masuk nona?" ucap Kuta.
"Kalian berdua mandi saja bersama ada dua kamar mandi satu di kamar satu di dapur atau kalian bergantian di dapur juga tidak masalah. Gue juga ada makanan kalian bisa makan semuanya ada di lemari makan dan Lemari pendingin." Jelas Dinda.
Kuta dan Gareng mengangguk dan pergi masuk ke dalam. Mereka Di percaya Dinda dengan mudah. Kuta dan Gareng semakin suka dengan sikap Dinda karena tidak perlu waktu lama berpikir menerima orang asing. Mereka akan menjamin kepercayaan Dinda pada Mereka akan menjadi baik bukan menjadi hal buruk
Mandi kilat mereka berdua lalu Kuta mencari makanan Instan.
Di Depan. Dinda duduk di Ayunan sambil Menatap nomor telpon Arkan.
Dinda tidak tahu kenapa Kak Arkan menjauhinya atau Karena Dinda Aneh.
Tapi, Dinda kan berbuat sewajarnya, atau Dinda memaksakan kehendaknya. Tidak, Dinda hanya bertanya dan Kak Arkan tidak Marah.
Hanya Di rumah sakit Dinda dipermalukan dan Citra dan Kak Arkan akan Tunangan sebentar lagi apa Dinda harus datang sepertinya harus. Bukannya Dinda bilang sendiri kalo Kak Arkan bukan jodoh Dinda tidak masalah dan Dinda harus ikut bahagia.
Di kamarnya Arkan seketika menerima pesan masuk dari nomor Dinda.
"Kak... Kayaknya Kakak bohong tentang lupanya kakak sama Dinda. Kalo Kakak gak mau di rusuhin Dinda ngomong aja Dinda tahu diri juga kali," Pesan Dinda. Ditambah dengan emot tertawa terbahak di akhir.
"Kak Hari ini Kuta Sama Gareng pinjem Kamar mandi sama numpang makan, Aku kasih aja, Mereka katanya belum mandi sama Makan. Aku di kuar di halaman mereka di dalem Rumah," Pesan Dinda lagi.
Arkan membacanya dan Seketika Arkan mengetik beberapa nomor.
Sambungan telepon Arkan masuk pada Rettrigo.
"Halo bos." Sahut Rettrigo di sebrang sana.
"Jangan sampe Mereka ngomong sesuatu yang gak boleh mereka ucapin, Ngapain mereka pinjem kamar mandi dan numpang makan di Rumah Dinda." Suara Arkan terdengar marah pada Rettrigo. Retrigo berdehem menjauh dari ponselnya.
"Ma-maaf bos, tapi kita emang gak bisa gantian gitu aja karena Markas kemaren di serang jadi Kuta sama Gareng gak ada yang gantiin dan selama Lima belas hari ini Gareng Kuta belum bisa ninggalin tempat karena waktu seminggu itu rumah Nona terus dapet teror dan sebelum nona pergi kita harus beresin semua itu," jelas Rettrigo dari sambungan teleponnya.
Seketika Ponsel mati sepihak.
Arkan akan bicara pada Dinda tidak tahu hal ini kenapa Arkan bicarakan, setidaknya tangisan Dinda tidak Arkan lihat karena Arkan sangat benci dan marah jika Air mata Dinda keluar.
Arkan keluar kamarnya dengan jaket dan menenteng helm. Seketika Kakek menatap Arkan dari tempat duduknya di sofa dekat tangga.
"Mau kemana kamu, Ingat perjanjian kita, Jika kamu melanggar Kakek gak akan pernah bercanda untuk menyingkirkan penghalang di jalanmu," ucap Kakek.
Arkan menghentikan langkahnya dan menatap Kakeknya dengan sengit dan berbalik pergi. Sepertinya sia-sia Arkan akan melakukannya sekarang tunggu waktu tepat Arkan akan membuat semuanya mengerti.