
Selesai masalah dengan beberapa orang yang menginginkan kedudukan Mafia tengkorak kini Arkan harus menyelesaikan masalah yang tidak ada habisnya dengan Dinda. Tidak tahu kapan Dinda akan membaik, perempuan jika sudah di tanggal rawan pasti akan sangat sensitif disinilah kesabaran Arkan di uji.
Di luar sana Pak Jersey dan Giovano saling menatap di layar laptopnya masing-masing.
"Semua bisa kau cari tahu bukan, Kenapa? apa devisi Dangerous mu sedang libur?" cibiran Giovano dengan wajah datar tapi, seperti tersindir juga untuk pak Jersey.
Pak Jersey menghela nafasnya.
"Serahkan saja pengaturan pada Arkan."
Seketika Giovano terdiam.
"Seharusnya tapi, melihat dia sudah menikah aku akan membaginya dengan Rian," ucap Giovano sekarang serius.
Pak Jersey mengangguk anggukan kepalanya.
Ya terserah mereka seperti apa mereka membuat tugas pertama mereka selesai dengan baik tapi tugas berikutnya akan melibatkan Rian dan Arkan lagi untuk kedua kalinya.
Dengan setatus Arkan yang sudah menikah apa baik, sekarang-sekarang ini, Email sudah di kirimkan, Arkan bukan orang pin plan dalam kerjaan serius dan berat tanggung jawabnya. Intinya kalo buat tanggung jawab besar Arkan tidak suka pin plan atau malah tidak akan akan di kerjakan jika yang memberikan tugasnya ragu.
Justru itu, Pak Jersey dan Giovano sangat Butuh Arkan dan Rian walau mereka pengaturannya tapi, mereka juga harus membantu para bawahannya.
"Kita sudahi pertemuan kita ini sekian," tutup Giovano lalu menutup Laptopnya Pak Jersey juga melakukan hal yang sama.
Pak Jersey sedang ada di tempat lain dan Giovano sedang ada di rumahnya. Perbedaan waktu, mereka melakukan pertemuan secara daring.
*
Dinda duduk diam di depan meja makan Arkan yang memasak kali ini, bukan karena kenapa-kenapa tapi lebih tepatnya mengapa?
Dinda sudah bosan total dan Arkan terus saja membuat Dinda marah, Arkan padahal hanya bekata biasanya Dindanya saja yang terlalu berlebihan.
Kak Arkan membuat hancur mood Dinda malunya Dinda masa yang masak Kak Arkan Dindakan istrinya, tapi, sudahlah Dinda gak bisa masak. Jadi serba salah menyesal.
"Kamu punya alergi?" Suara Arkan tiba-tiba membuat lamunan Dinda berubah.
"Enggak." Singkat Dinda yang masih kesal.
"Baguslah aku cuman ada seafood jadi kita makan ini malam ini, jangan marah lagi sayang, ayo makan."
Manisnya perlakuan Arkan apa ini yang di bilang pecundang? Tidak juga.
Apa ini yang dibilang tidak romatis? Hey.. Tuan Arkan Prawira Brathadika anda sudah sangat romatis anda tahu sudah membuat gadis didekat anda, satu meja makan dengan Anda wajahnya memerah malu. Ini mah namanya Romatis tanpa sadar.
Huuwaaa... Kak Arkan buat Dinda malu banget dasar! Kayak gini marah lama juga gak bakal bisa.
Makan malam yang tenang untuk pertama kalinya dan berdua ini berbeda dari sebelumnya.
Terdengar ketukan pintu.
Dinda segera bergegas membukanya setelah meletakan bekas makan di cucian piring. Arkan melangkah ke ruang tengah sambil memainkan ponselnya ternyata teman-temannya ketika notif dari sensor memberitahu jenis dan siapa yang ada didalam mobil yang baru saja datang.
"Iya sebentar," ucap Dinda membuka pintu seketika Dinda kaget karena yang datang teman-temannya Arkan. Mereka salam dan Dinda menjawabnya mempersilahkan mereka semua masuk seketika di belakangnya adalah pasukan perempuan dan dua gadis kecil yang pintar.
"Tanteee......" Suara mereka berbarengan dengan tenaga yang kuat teriakan mereka.
Dengan senyuman yang sangat lebar Dinda menyambut mereka dan seketika mereka heboh memeluk Dinda.
Didalam Arkan di tanyai oleh Justin tentang keadaannya dan Arkan menjawab jika baik semuanya Dinda juga sudah memintanya kedokter untuk menjahit lukanya.
"Lo sih sok banget, iya gue tahu lo itu emang kuat pak ketua tapi, Lo kan dah punya Bini ya kali Lo mati karena kehabisan darah dan habis berantem ama geng, gak lucu lah Belom ada sebulan lo nikah masalah aja lo deketin," cerocos Lorenzo seketika mendapat pelototan Arkan.
"Dahlah Yang penting Leader udah biasa dan sehat lagi," ucap Yuda.
Lorenzo Bagus Justin Rian mengangguk.
"Gue gak dateng pas lo sama Dinda turun keluar maaf ya Nih Giovano ama Pak Jersey nitip hadiah buat lo ama Dinda, gak lupa bininya Giovano nitip, Gue juga ada disitu kadonya," ucapan Rian menjelaskan barang yang di bawanya.
Arkan mengangguk menerimanya dan meletakannya di samping meja.
"Iya Dinda nih juga pada sekolah besok jadi kesini aja mereka karena kangen sama Tante cantik katanya, sedih katanya," ucap Larisa membuat Lala malu.
"Ih.. Om Belle Males deh Tante Isa ngomong-ngomong kalo kita kangen kan harga diri om, mahal tahu kayak gitu kan keliatan banget kalo kita sayang banget sama Tante cantik. Lagian Om Ganteng juga ganteng banget pasti Tante cantik gak di biarin lepas ya kan Om," ucap Belle polos membuat semua terkekeh.
"Belle mau kasih apa katanya tadi ribut mau kasih sesuatu sama Tante cantiknya." Kak Indri menatap Belle menyindirnya.
Belle dengan centilnya dan ngambek lucunya melangkah mendekati Dinda.
"Tante ini kartu yang buat Aku Tante indri Mama sama Tante Isa sama Lala bisa main di mall sepuasnya, Simpen tante ok," ucap Belle dengan lucu.
Dinda menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
"Ya Udah kalo semua baik kita pulang dulu makasih ya, Lagian gak bisa lama kan lo mau berduaan sama Dinda." Sindiran Bagus membuat Arkan jengah.
"Balik sono lo pada," ucap Arkan seketika membuat semua teman lelakinya tertawa terbahak melihat Arkan malu.
Semua kembali pulang setelah diantar sampai pintu dan mobil keluar Gerbang Dinda dan Arkan kembali masuk kedalam rumah.
Dinda kembali dengan mode santainya Eh.. tapi, aduh... kok sakit rasanya.
"Aw.. Aduh.... Kok sakit banget, gak biasanya," ucap Dinda pelan memegang pinggir sofa dengan kencang.
Arkan yang sadar Dinda berhenti seketika menoleh dan tenangnya melangkah mendekat.
"Ini sakit?" ucap Arkan memegang perut bawah Dinda seketika sakit berkurang perlahan dan Dinda yang tadi pucat seketika berangsur biasa. Arkan mengangkat Dinda tanpa aba-aba dan membawanya duduk berselonjor di Sofa.
Arkan pergi ke dapur mengambil kompres air hangat dan air minum hangat.
"Pakai ini dan minum pelan anget airnya," ucap Arkan memberikan itu semua.
Dinda terdiam dan malu.
Tak berapa lama semua tenang seketika Dinda melihat ponsel menghitung hari, Nah.. bener iya ini waktunya.
Aduh ada persediaan gak ya?
"Kak Mau keluar gak aku mau beli sesuatu stok bulanan Cewek abis kayaknya," Kata Dinda malu pada Arkan yang dudu di depannta memainkan ponsel.
"Hem... Kamu mau beli keluar," ucap Arkan santai dan tenang seketika menyimpan ponselnya.
Dinda mengangguk.
Arkan menghela nafasnya dan bergegas bersiap pergi.
Dinda yang sudah lebih baik juga bersiap.
Dengan memakai Hoddie saja sepertinya cukup lagi pula mini market, celana tereningnya hitam cukuplah. Masuk ke dalam garasi dan mengeluarkan mobilnya yang berwarna H kona hitam.
Dinda melangkah biasa setelah mengunci pintu masuk kedalam mobil.
Lalu mengikat rambutnya setelah duduk dengan tenang Dinda diam lagi setelah selesai mengikat biasa rambutnya.
"Eh.. Dompet kak bentar," ucap Dinda.
"Gak usah pake uang aku aja," ucap Arkan menatap Dinda.
Eh.. Uang kak Arkan, kok aneh ya.
"Ehm.. Kak Uang aku aja," ucap Dinda berusaha menolak.
"Kamu gak pinter nolak, Mau pake uang aku atau kamu gak keluar beli, aku aja yang beli sendiri," ucapan Arkan seketika membuat Dinda mengangguk takut.
"Iya.. Jangan lah iya deh uang Kakak aja," ucapnya dengan kesal dan cemberut.
Menjalankan mobil keluar dari halaman rumah.