
Arkan mengambil kursi dekat Beto dan duduk di samping Beto dengan tenang sedangkan Beto biasa saja.
Arkan berdehem.
Padahala Aura mematikan Arkan sudah membunuh keberanian orang di ruangan ini untuk bicara.
"Kalian yang memperhatikan leher istriku, Pus up seratus kali dan lari di tempat tiga puluh menit." Seketika ada sekitar enam orang keluar dan berlari ke ruang olah raga.
"Kalian yang sempat menatap wajahnya tanpa berkedip Lari di tempat sampai, Hansimon mengatakan berhenti," ucap Arkan lagi, ada sekitar tiga orang keluar dan mengarah larinya ke ruang olah raga juga.
Tinggal empat orang Rettrigo dan Hansimon disana ada Beto didepan Komputer. Seketika Diyo muncul dari bawah meja. Kaget, tiba-tiba ada Arkan duduk di samping Beto.
"Bos," ucap Diyo.
Arkan menatap Diyo sejak tadi sambil bicara memberi hukuman yang di tatap baru bicara dan sadar sekarang.
Tahu arti tatapan Arkan Diyo memperlihatkan memori komputer dan kabel.
Arkan beralih pada Beto. Diyo pergi keluar ruangan untuk mengambil alat lain mengganti memorinya ke tempat yang mudah di bawa.
Komputernya Diyo sebenarnya sudah banyak menghasilkan banyak retasan data lalu setelahnya memberikan laporannya pada Arkan atau Hansimon. Sekarang langkah Diyo mengarah bukan ke ruangannya, yang jadi tempatnya yang di tujuannya adalah ruangan Hansimon dan Arkan sekarang.
Kembali ke Arkan dan Beto.
Arkan masih diam menatap Beto yang bekerja.
"Terimakasih karena Lo, ibu gue bisa oprasi kangker payudara," ucap Beto masih dengan menatap layar dan jarinya mengutak atik keyboard dengan tombolnya.
Arkan berdehem. Beto juga sama seperti Diyo hanya beda senior dan juniornya.
"Ada banyak hal yang perlu lo hadapin kalo gue berhasil ngerusak sistem secorpion yang lama," ucap Beto tiba-tiba.
"Yaa Gue tahu, itu juga yang gue mau, Lo kerjain gue tunggu disini sekarang," ucap Arkan dengan tenang memainkan ponselnya.
Rettrigo yang sibuk dengan kerja seketika di minta Arkan laporan yang selama Arkan pergi. Seketika Rettrigo menyerahkan berkas amplop coklat.
Foto isinya.
Diyo kembali lagi setelah memberikan memori komputer ke ruangan Hansimon atau Arkan dan mengambil Memori yang baru juga menyalin beberapa data ke Salah satu Flasdisk, datang memasuki ruangan yang ada Arkan Rettrigo dan Beto, Flasdisk tiga buah di tangannya di berikan pada Arkan semua.
Satu buah Falshdisk Arkan berikan pada Beto untung mengisi beberapa hal penting seperti Dokumen yang didapatnya.
Hansimon selesai memfotokopi berkas menyerahkan yang asli pada Arkan.
"Ini Surat tanda lo training anggota Tenggkorak, kalo kerjaan lo bagus Gue kasih lo kerjaan tanpa kontrak," ucap Arkan dengan serius.
Beto menatap tak percaya. Seketika tersenyum lebar dan berkaca kaca sedih wajahnya.
"Makasih banyak, Lo bantu gue banget Bang, Maaf karena gue jahat sama Dinda selama ini gue berani di hukum kalo gue nyentuh Dinda barang sedikit pun sekarang," ucap Beto panjang dengan nada sedih terharu.
"Santai aja, Ini mau Dinda, Lo tahu Dinda bini gue, Jaga dia jangan buat Maulana bisa deket, Dan untuk tamparan dan beberapa bentakan juga bahunya...." Sambil berdiri.
Plaaak....
Seketika Arkan menampar Beto Hingga sudut bibirnya berdarah Rettrigo kaget bukan maen, Didepan matanya Arkan menampar orang baru yang jelas-jelas Baru saja di sahkan di Tengkorak di tampar tanpa emosi.
"Ok, Gue terima, Makasih," ucap Beto yang masih merasa nyeri di pipi dan perih di sudut bibirnya.
Seketika Arkan duduk kembali dan diam dengan tenang.
Memainkan ponselnya untuk memeriksa email kerja yang masuk.
*
Dinda dan Gressia juga Silla membawa Dinda tour ruangan dan kastil Tengkorak. Seperti tempat mata-mata dan juga tempat orang yang bekerja di bawah kepemimpinan tinggi.
Mampir keruangan Olah raga perempuan dan sebelahnya hanya di batasi dinding kaca tebal seperti cermin dua muka tapi, tidak bisa melihat ke ruangan sebelahnya ya... dinding kaca lebih tepatnya.
Satu tempat olah raga seketika ramai dengan orang orang yang olah raga.
"Loh bukannya mereka yang tadi yang ada di ruangan itu, Silla mengangguk malu, Kak Gres Jelasin aja," ucap Silla.
"Eh.. Non-Nona.. eh itu Bos yang memberi hukuman karena mereka lancang, enggak tahu alasannya hanya itu yang saya tahu," ucap Gressia malu.
Dinda mengangguk. Seketika Dinda tersenyum tahu ada yang menoleh.
Tanpa sadar jika di belakang mereka ada Hansimon memantau.
"Kalian yang menoleh menatap nona yang tersenyum dua kali lipat hukuman," ucap Hansimon ketika sudah masuk keruangan itu.
Sudahlah mereka akan sangat sehat hari ini sampai detik terakhir. Lihat saja keluar tempat olah raga mereka juga akan terlihat bugar, atau terlihat mengenakan infus karena kekurangan cairan.
Kapok Sudah Mereka! Karena Nyonya Prawira datang ke markas mereka gak tahu jika nyonya Prawira sangat manis cantik dan sejuk di pandang apa lagi mengikat rambutnya biasa juga memperlihatkan leher putihnya.
Mana wajahnya cantik natural, Mereka yang tidak salah jika mengagumi tapi, Ketika pemilik kecantikan itu berdiri di belakang seperti pengawal kegelapan, Habis sudah nyawa mereka, Hukumun akan menghabisi kecerobohan mereka karena berani menikmati dan mengagumi cantik dan eloknya wajah istri bosnya.
Di ruangan Latihan bela diri dan seperti arena ring tinju itu Dinda datangi dan melihat ada yang sedang beladiri. Seketika Gressia gigit jari semoga bukan para pria lagi disana.
"Eh.. Ada cewek juga, ternyata," ucap Dinda, ada Veronica dan ada Anasty.
"Nona," sapa mereka bersamaan.
Dinda canggung sekali dipanggil nona oleh perempuan yang ada di depannya jika Gressia Dinda sedikit biasa Rettrigo juga sedikit terbiasa jika dua orang perempuan itu cukup malu dan tidak nyaman.
Dinda tersenyum lagi mengangguk dan berjalan mengelilingi isi Markas.
Mereka bertiga menjelajahi tempat biliyar dan pingpong juga tempat lainnya kamar mandi saja mereka lihat tapi, pintunya saja. Lantai Dua mereka naik keatas dan melihat hanya ada beberapa ruangan dengan sekat Kaca bening dan hitam.
Dinda melihat ruangan biasa dan satunya Ruangan dengan sofa seperti ruangan atas. Ada pintu lain.
Dinda melangkah mengelilingi meja kerja Arkan tanpa sadar dan melangkah membuka pintu. Seketika Gressia ingin menghentikan tapi, deheman kecil Arkan membuat Mereka menoleh.
"Biarkan saja," ucap Arkan.
Seketika mereka mengangguk dan masuk ikut dengan Dinda yang masuk keruangan senjata Arkan.
Arkan mengambil berkas yang di perlukan lalu turun lagi ke bawah bicara dengan Rettrigo dan Beto ada Diyo juga.
Oh.. untuk yang mendapatkan hukuman mereka di beri kelonggaran istirahat dan tidak boleh muncul lagi sebelum Arkan dan Dinda pulang nanti.
Masuk ke dalam seketika lampu menyala. Suara seperti perempuan tapi, robot sepertinya duga Dinda lagi.
"Bentornato signore." suara dari robot itu dengan bahasa Italia [Selamat datang kembali Tuan]
Dinda menatap takjub dan jarinya menyentuh logo tengkorak dengan mawar hitam.
"Inserire la password." suara robot perempuan dengan bahasa Italia [Masukan Kata Sandi]
Dinda tidak tahu dan menoleh pada Gressia.
"Memang apa isinya," ucap Dinda pada Silla yang memberikan kartu aksesnya pada Gressia yang di ambil tadi di meja Arkan yang tadi Arkan suruh pakai.
Gressia menempelkan kartu itu seketika semua terbuka dengan lembut tanpa suara berisikan gemuruh dan ada nada seperti suara ting, tapi tidak terlalu nyaring.
Mata Dinda membulat sempurna.
Senjata dan semuanya lengkap ada busur panah ada belati dari ukuran besar sampai kecil ada pisau lipat dengan logo tengkorak dari perak dan pistol dengan berbagai jenis ukuran dan tipe dan ada juga peluru ada pistol yang ada ukiran khususnya.
Tapi, Pistol di kotak Kaca yang dilindungi sinar pengaman berwarna merah seperti mengelilingi kotak kaca kecil itu
Dinda hanya melihat tidak ada yang di sentuh sampai ada Cermin besar seketika tangan Dinda menyentuhnya sedikit. Seketika itu Cermin berubah bentuk menjadi kotak-kota kecil dan membuat jalanan panjang berwarna putih.
Dinda menoleh kesana kemari melihat isi ruangan itu. Kakinya melangkah masuk dan melihat isi ruangan.
Gelap tapi, ketika berjalan masuk Dinda melihat tangga menurun kebawah.
Sembari berjalan di tangga besar seperti teras itu satu persatu lampu menyala.
Kandang Binatang buas ada Srigala besar ada Singa besar ada Macan tutul besar juga ukuran sedang, ada Macan kumbang semua hewan Karnivora daratan dan di bawah cahaya Biru ada kandang elang dan garuda ada Burung pemakan daging semuanya ada, karnivora udara kali ini.
Dinda sampai di bawah adalah kandang Buaya yang bersih dan ada Kandang ehh Akuarium di tutupi tralis Besi karnivora air.
Akuarium dengan Belut listrik tiga ekor dan besar berada di akuarium lain ada Ikan berbentuk aneh dan ubur-ubur.
Listrik di dapat dari tiga Belut besar dan seketika Dinda menginjak lantai mendekat akuarium.
Silla mencegahnya karena di bawah situ ada kaca yang berisi Akuarium belut listrik, untung sedikit kalem. Coba kalo lagi gak Mood marah semua tuh belut Listrik.
Dinda melihat lampu merah menyala berbetuk persegi mewarnai kaca yang berisi akuarium belut listrik di bawah kakinya.
"Mereka gak di kasih makan," ucap Dinda seketika membuat Gressia dan Silla saling tatapan. Kacau sudah hari ini. Istri Bosnya ini sangat unik dan penasaran tingkat tinggi.