
Dinda mengambil ponsel Citra yang memeperlihatkan vidio itu.
"Lo ngancem gue," ucap Dinda dengan menantang.
Nada bicaranya pada kakak kelas sudah tidak sopan.
"Pertama lo, Kak Citra dengerin gue! Awalnya gue emang segan sama lo dan Kak Syifa sekarang Gue masih segen sama Kak Syifa gak sama Lo, Gue kelitana mals berurusan sama lo bukan karena takut, Kalo lo pinter lo bisa bedain kata males dan kata takut, gue yakin lo paham, ngerti!" Kata Dinda dengan berani. Mengembalikan ponsel itu pada Citra.
"Heh.. Gue duga lo pinter juga, gak mudah but lo terpengaruh, tapi kejadian malam itu lo pasti mikirin kan," ucap Citra seketika berhasil mengubah raut wajah Dinda yang tenang sekarang sedikit murung.
Enggak Dinda gak bisa berburuk sangka Dinda gak liahat sendiri jadi Dinda belum bisa percaya banget.
"Yaah.. Terserah lo lama-lama Males gue, inget gue males cari masalah sama lo," ucap Dinda seketik Kiran membanting Dinda membenturkan punggung Dinda ke tembok.
"Oiya.. Lo gak bisa depetin Arkan gitu aja karena Gue juga gak bisa dapetin dia. Lo seharusnya mati, Tembakan itu buat lo payah, Gue sengaja buat bunuh lo tapi, Arkan malah ngelindungin Lo, Gue juga kirim orang buat lo keritis di rumah sakit tapi, gagal dan itu Karena Arkan," ucap Citra membuka semuanya membuat Dinda menatap Citra tajam dan marah.
"Apa lo baru tahu, Ck... gue kasih tahu, Arkan itu bantu lo nolongin karena Arkan Bos Geng gelap, ngerti lo," ucap Citra lagi.
Seketika Dinda tertawa terbahak-bahak.
"Haha.. Lo mau ngeracunin atau nyuci otak gue Kak Citra," ucap Dinda.
Dinda menatap Citra dengan wajah mengeras seketika.
"Lo jangan pernah ganggu kebahagian Kak Arkan, Lo senggol kebahagiannya Lo berurusan sama gue," ucap Dinda. Seketika Citra balik menjambak rambut Dinda.
"Heh.. cewek urakan. Asal Lo tahu gue sengaja kirim semu teror itu ke elo, Gue sengaja nyebarin undangan tungan gue sama Arkan yaah... Walaupun gak jadi, Gue sengaja semua ngelakuinnya Gue pengen liat lo tertekan Gue pengen liat lo Mati perlahan," ucap Citra pada Dinda.
Dinda harus berani, gak bisa lemah didepan cewek kayak Citra gini, pikir Dinda.
"Sayang lo gak bisa buat mental gue sepenuhnya down, Lo liat Gue bisa berni kayak sekarang karena gue emang harus nyamain kedudukan kebaranian gue di depan cewek Murahan kek Lo," ucap Dinda dengan berani.
Seketika Dinda menarik tangan Citra menjauh tapi, tidak bisa seketika itu suara langkah membuat mereka bergeming.
Dinda menatap Citra dengan sengit dan citra malah menunjukan wajah santainya.
"Lo cuman cewek rumahan lo gak tahu arti murahan kata-kata kasar yang lo ucapan, gue yakin lo cuman ikutan kata orang," ucap Citra.
Seketika Dinda di benturkan lagi punggungnya kedinding sempat sebelumnya sudah menjauh dari dinding.
"Heeh.. Bocah perhatiin cara nantanglo sama siapa, Lo di jalan dan lo ada didalem rumahpun gue bisa bunuhlo," ucap Citra.
Seketika Dinda memukul perut Citra.
Terlepas jambakannya Dinda pergi seketika Seseorang menarik tangan ternyata Justin dan ada Rian.
"Lo berdua ada disini, Kita gak ada urusan sama lo," ucap Citra dengan wajah acuh.
"Lo pergi," ucap Justin pada Dinda. seketika Dinda pergi. Seketika itu. Citra dan Rian berurusan.
"Lo ngadep gue aja," ucap Rian seketika Citra melangkan pukulannya tapi di tangkap Oleh Justin.
"Queen Rosella, itu nama lo di dunia gelap," ucap Justin.
Seketika Rian menyeringai aneh.
"Hah, Tahu ya, Hem pinter ternyata berani juga kalian sampe sana," ucap Citra dengan wajah senangnya dan menyisir rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Lo sebaiknya diem! urusan gue cuman mau sama Dinda jangan sampe keluarga kalian habis malam ini," ucap Citra.
Seketika Bagus dan lorenzo datang mereka membawasesuatu di dalam tas kecil.
"Cuman jaga-jaga aja sapa tahu dia berkenan di tahan," ucap Lorenzo serius.
Citra seketika menatap tenang dan pergi seketika itu Justin menarik Citra dan membawanya ke gudang terbengkalai dan mengikat Citra juga menutupi wajahnya.
Sebelumnya Dinda terus berontak kasar terus meminta lepas. Seketika Citra bisa lepas tapi tersandung tali sepatunya dan tertangkap.
"Gue gak mau, Lo dan srmua gue gak bakalan diem Lo gak tahu berhubungan sama siapa," ucap Citra dengan marah, ketika tangannya di ikat.
"Oh yaa Gue gak takut sekali gerak mungkin tengkorak gak balan diem Blackrose," ucal Lorenzo dengan wajah bengisnya.
Citra menatap kesal melepaskan diri tapi sulit mereka menggunakan lakban untuk mengikat tangannya dan membuat jarinya juga sulit bergerak. Dan lengannya juga di ikat bersama tubuhnya dengan lakban.
Sialan, Kesal Citra.
"Lepasin gue, Kalian siapa?" ucap Citra marah.
"Lo tahu setelah lo udah sampe tujuan,"ucap Rian.
"Gue kira sulit ternyata gampang juga nangkep Ratunya Black Rose, Emang ya..." Seru Bagus.
"Berhubung Black ros lagi Down bisa kali yaa.. Ratu di tangkap dengan mudah, Anak manja," ucap Lorenzo.
Justin berjongkok didepan Citra yang menatapnya benci.
"Asal Lo tahu Citra, Arkan kasih perintah ke kita-kita dan Kalian juga keluarga lo bakalan tahu siapa yang paling buruk Lo atau orang yang selalu lo burukin, Penjara menanti lo, umurlo juga cukup buat masuk penjara," ucap Justin seketika memakaikan penutup Kepala.
Rian dan Bagus menghitung waktu seketika Citra lemas dan berhenti berteriak dan seketika ambruk.
*
Seketika Citra pingsan karena sarung kepala itu ada bius kadar rendah yang cukup sampai tempat tujuan.
Justin melihat jam tangannya.
"Gak lama bius habis lo hubungin Gress," ucap Justin pada Lorenzo.
Seketika Lorenzo segera menelpon Gres.
Dalam perjalanan Gres langsung berbalik arah.
Sampai Gres di depan sekolah setelah beberapa menit dari tempatnya macet.
Dinda yang baru saja pergi seketika menabrak Yeni dan Rita. Mereka membawa Dinda ke Uks. Wajah Dinda terlihat tegang.
"Minum Dulu Din," ucap Rita. Tidak lama Kiran datang dengan tas Dinda.
"Lo gak apa-apa," ucap Kiran dengan panik.
Dinda menggeleng.
"Gak! gue baik, Gue mau berdua sama Kiran," ucap Dinda seketika Yeni menganggukinya dan mereka pergi meninggalkan Dinda dan Kiran.
Dinda mencerikan segalanya yang Citra katakan dari A sampai Z Dinda tak melewatkan hal apapun.
"Ehmm Kayaknya Gue bisa tanya Kak Yuda sekarang lo gak papakan, Gue gedeg juga ama tu mak lampir ternyata dia ada hubungannya sama geng gelapnya Kakak gue," ucap Kiran seketiK Dinda menatap Kiran aneh.
"Eh.. Lo belum tahu ya, Nanti juga lao tahu, ceritanya puwanjang banget," ucap Kiran di lebih-lebihkan. Seketika Dinda menatap Kiran lalu terkekeh bareng.
Receh juga ternyata mereka memang sulit serius kadangkala sedang dalam pembicaraan serius.
Seketika Dinda menatap keluar jendela.
Bel pulang sekolah Dinda dan Kiran keluar bersama Mereka berjalan keluar ketika semuanya sudah jarah ada murid yang berada di kelas juga sekolah.
Tiba-tiba mereka bertatapan mata Dinda dan Arkan.
Dinda segera memalikan wajahnya Arkan justru tenang dan tatap memandang lurus tidak mengikuti arah pandangan ke Dinda yang berjalan menjauh.
Arkan terdiam ketika Dinda mendekatinya sulit di jelaskan suasana hati Arkan.
Arkan tahu jika ini salah tapi, pembatas itu benar-benar harus ada dengan tegas.
Dinda berusaha dekat Arkan menjauh sekarang bukan sekarang, Tapi, jika Arkan ingin Arkan akan menjauhi Dinda.
Apa Dinda keterlaluan? menurut Dinda tidak keterlaluan tapi, Kak Arkan sepertinya memang menjauh, dengan sendirinya Dinda seperti merasa sangat bersalah. Tapi, sikap Kak Arkan pada Dinda sulit di tebak misterius, Kali ini Dinda benar-benar gak tahu kenapa dan bagaimana perasaan Kak Arkan padanya sekarang.
*
Arkan sampai di rumah seperti biasa karena mampir bengkelnya yang sekarang hampir jarang-jarang di datangi Arkan.
Arkan yang baru selesai sholat isya dan sedang berdiri lalu duduk sudah beberapa menit suara ketukan pintu terdengar.
Ternyata Bi Yum pelayan neneknya.
Mengatakan jika Kakek memanggil Arkan keruangannya Malam ini.
Arkan langsung mendangi ruangan Kakek, sampai lalu masuk dan duduk di sofa dekat meja. Kakek membawa dua dokumen besar dan meletakannya di hadapan Arkan duduk di sofa single samping Arkan
"Kamu hanya bisa memilih ini atau..."
"Kakek tidak memaksa tapi, jadilah anak yang berbakti untuk kami yang berharap besar untukmu."
Bohong Kakek hanya ingin untuk kakek, Arkan akan apa, Arkan harus bagaimana Kakek yang tentukan.
Lagi-lagi dan Lagi Arkan harus menyesuaikannya dengan kehendak Kakeknya.
Arkan akan menyimpan semua keingin Arkan dan memilah mana keinginan yang penting di wujudkan jika tidak ada ya tidak ada yang di wujudkan.
Arkan menatap dua berkas besar didepannya.
"Ambilah atau kamu?" ucapan Kakek terhenti dengan Gerakan mata Arkan menatap wajah Kakeknya.
Arkan beralih mengangguk sekali lalu mengambil kedua berkas itu. Berdiri.
"Lusa kakek akan periksa hasilnya," ucap Kakek dengan suara datar dan dinginnya. Ketika Arkan berdiri.
Arkan mengangguk sekali dengan wajah diamnya.
Arkan melangkah pergi keluar.
Seketika.
"Kakek tahu kau bersamanya malam itu ternyata ucapan Kakek tidak terlalu kamu indahkan ya," ucap Kakek dengan wajah menatap kedepan dan Arkan seketika menghentikan langkahnya di belakang Kakek.
"Iya, Maaf," ucap Arkan yang salah menurut kakeknya dan menurutnya berkata maaf karena menentang perintah Kakeknya.
"Berarti kamu sudah kalah banyak dan mulai hari ini sampai lulus pun kamu tidak akan pernah melihat wajahnya," ucap Kakek telak dan final tidak ada bantahan.
Arkan diam mematung menatap ke bawah.
"Baik kek," ucap Arkan dengan nada sopan dan ekspresi dinginnya.
Kakek memejamkan mata menghelana fasnya dan bersandar.
Arkan kembali melangkah pergi keluar ruangan kakeknya dan bertemu dengan Neneknya yang akan naik ke tangga.
Nenek menoleh melihat Arkan nenek tersenyum.
Arkan juga mengangguk sekali tersenyum singkat tipis seperti tidak tersenyum.
"Sudah makan, Kenapa tidak makan malam bersama," ucap nenek.
"Tidak Nek," ucap Arkan lembut.
Arkan melangkah lebih dulu melewati neneknya. Lalu neneknya menatap Arkan yang berlalu setelahnya.
Nenek terdiam.
"Bi Yum apa ada cara lain membuat suasana Hati seseorang berubah," ucap Nenek membuat Bi Yum asisten sekaligus Pelayan pribadinya langsung.
Bi Yum terdiem menunduk.
Di kamarnya Arkan diam.
Menatap keluar seperti biasa Balkon adalah tempat tenangnya di rumah sambil belajar dan mengerjakan tugas kakeknya.
Arkan disini diam.
Seketika ada pesan masuk.
Arkan menatap pesan yang Dinda kirimkan.
"Hanya ini saja dia tidak bosan bertanya dan aku sudah malas menjawabnya," ucap Arkan menatap pesan itu dengan wajah sedikit berekspresi ceria. Isi pesan tentang bertanya kabar dan hal yang tak penting menurut Arkan.
Arkan tidak ingin jauh dari Dinda tapi, kesempatan suasana dan lingkungan menjauhkannya sangat jauh.
Mungkin jika ada pilihan lainnya Arkan akan melakukannya tapi, Arkan harus menerima akibat juga hasilnya yang buruk. Menentang orang tua dan perintahnya yang baik, tentu hasilnya akan buruk.
Hanya kakek nenek yang Arkan punya jika Hidup tidak sesuai keinginannya maka jangan harap jika hal itu akan mulus dan lancar seperti jalan tol.
Arkan menghela nafasnya dan terdiam di tempatnya duduk di kursi menghadap semua tugasnya dan kakinya melurus dan sambil membaca dengan cermat semuanya setelah meletakan Ponselnya.
*
Dinda duduk diam didepan rumah Bagus bersama Kiran karena permintaan Lala Dinda harus menemaninya bicara dan bermain tidak lama Dinda datang Keponakan Justin Belle datang bermain bersama bersama ibunya.
Seketika Rita datang. Jadilah rumah Bagus ramai. Nenek Bagus juga tidak terlalu tidak suka biasa saja karena nenek Bagus juga bosan hanya sendirian jadi Bagus membuat rumahnya ramai hanya kadang-kadang.
Selagi ada Lala dan Larisa itu biasa saja, ramai sih tapi tak terlalu tidak seperti sekarang.