Arkan Dinda

Arkan Dinda
Menemukanmu



Selesai acara kelulusan semua pergi dan pulang kerumah masing masing.


Tapi, tidak dengan Beberapa kakak kelas yang masih ingin berfoto bersama teman-temannya.


Seketika itu dari kejauhan Dinda melihat Arkan duduk sendirian dan ketika ada yang mengajaknya berfoto Arkan menolak.


Lalu Syifa datang dan mengajak Arkan berfoto seketika itu juga Arkan mau.


Dinda bertambah lemas. Huh... pemandangan yang sangat manis sangat indah hingga muak, tanpa alasan Dinda kesal. Tapi, tetap di nikmati mata Dinda.


Di tambah semua teman-teman Kak Arkan juga foto bersama dengan Kakaknya Syifa. Dinda bertambah murung, Tidak nyaman di hatinya tapi, tetap memperhatikan itu.


Dinda harus rela sebentar lagi Kak Arkan gak akan bertemu dengannya jadi buat kenangan aja, bagaimana kalo Dinda ngambil Foto dari jarak jauh.


Dinda diam-diam mengambil foto Kak Arkan yang duduk di sana.


Lalu menyimpannya di galeri ponselnya. Setelah itu berpura-pura tidak tahu.


Arkan menyeringai dengan wajah yang bahagia tapi, tidak ada yang tahu kenapa dan tidak ada yang melihat hanya Arkan sendiri kalo dia sedang menyeringai bahagia.


*


Libur panjang Tiba.


Dinda sibuk bekerja di butik mamanya Kiran bersama Kiran dan pegawai lainnya.


Di tempat lainnya belahan bumi lainnya Arkan sedang sibuk menghadiri rapat penting di Jerman.


Dan beberapa perusahan besar yang ada di Jerman.


Tiba waktu pulang Arkan menginap di hotel.


Seketika itu. Arkan bersenggolan bahu dengan Citra. Citra Rosella.


"Eh.. Maaf. Arkan loh disini juga," ucap Citra basa basi. Arkan menatap lalu beralih menatap lain arah dan pergi meninggalkan Citra.


Arkan Masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dari dalam terlihat di atas meja sudah tersedia berbagai macam makanan. Arkan memilih pergi ke kamar mandi dan mendinginkan tubuhnya dengan air dingin di bak mandi.


Lima belas menit berlalu Arkan keluar dengan wajah dan tubuh segara. Arkan kembali disibukkan dengan urusannya. Seketika itu Ketukan pintu terdengar. Lalu telepon dari Lorenzo. Arkan mengakat telepon dengan tombol hijau.


"Kan gue liat Citra sama kembarannya disini." Kata Lorenzo di sebarang telepon.


"Lo jangan buka pintu, itu jebakan," kali ini lorenzo dengan suara seriusnya.


Arkan mundur tiga langkah dari pintu.


Seketika itu.


Orang yang ada didepan pintu berusaha mendobrak pintu Arkan, tidak terbuka!


"Gak ada pilihan lain, Lo semua siap di tempat," ucap Arkan dengan tenang, pada sambungan teleponnya dengan lorenzo yang belum terputus.


Seketika itu Arkan mengantongi ponselnya.


"Masuk," ucap Arkan membuka pintu dan melihat Citra dengan dua orang berbadan besar.


"Arkan kita ketemu lagi, Apa kabar, Oiya.. Gimana sehat gimana kalo kita bicara berdua diluar," ucap Citra. Masih berdiri didepan pintu.


"Rosella payah, Cari anak kecil kalo mau lo ajak main." Seketika itu dari dua tempat Justin dan lorenzo datang. Mereka membuat dua orang berbadan besar tidak berdaya. Seketika itu Veronica bawahan Hansimon membuat Citra bertekuk lutut.


Seketika Citra menangis.


"Aduh.. Sakit.. Maaf.. Aku gak maksud. Ini bukan aku yang mau tapi kakak, jangan sakitin aku aku gak mau kakak terluka jadi aku mohon Kak Arkan lepasin aku," ucap Silla dan bukan Citra Rosella.


Arkan tersenyum miring.


"Brengsek... Lo gak bisa nipu kita Citra," ucap Lorenzo yang kesal dengan derama dari perempuan didepannya. Seketika Silla terkekeh.


"Bisa juga kalian bedain gue sama Silla," ucap Silla yang memang benar dia Rosella. Tangisan palsu itu terganti dengan raut wajah menatang dan berani.


Seketika itu Veronica memabawa Rosella masuk dan mengikatnya dengan kencang duduk di kursi.


"Dengar baik-baik, Walaupun lo ngebuat Dinda aman liat aja dia gak bakalan aman seterusnya pada waktunya....Lo...bakalan liat jasadnya," ucap Rosella seketika membuat rahang Arkan mengeras menatap Citra Rosella dengan tatapan intimidasi. Seketika semua berbalik membelakangi Arkan


Arkan memakai sarung tanggannya dan mencengkram kuat rahang bawah Citra.


"Jaga mulut lo kalo ngomong Lo cewek gue gak bisa habisin lo disini, Tapi Gue bisa buat Keluarga lo di hukum seberat-beratnya." Seketika Arkan selesai bicara Citra tertawa keras


"Bodoh ... Lo Lo tahu lo berhadapan sama Gabriel Qnciz itu bokap gue dan gue kesini karena gue cinta sama lo, gue suka, gue gak sudi Dinda cewek biasa itu deketin lo, denger itu!" ucap Citra dengan marah terlihat lehernya menarik urat.


"Heh.. Bagus gue gak perlu tanya tanpa sadar Lo kasih tahu identitas bokap lo dan sekarang waktunya Bokap lo berhadapan sama Gue." Arkan menyeringai senang wajah tampan itu kini puas.


Veronica berbalik dan membekap Citra dengan tisu Alkohol dosis tinggi.


Tidak lama dua pegawai hotel yang sebenarnya anak buah mafia tengkorak itu masuk membawa koper besar dan juga pendorongnya. Citra sudah pingsa dengan kedua orang yang sudah tidak sadarkan diri dengan bius itu juga di bawa.


Mereka keluar bersama dari penginapan Hotel hari ini sampai sini rapat Arkan di Jerman.


Lalu pergi Ke Swiss esok hari.


Perjalan bisnis dengan bonus di ikuti penjahat itulah yang Arkan lakukan sekarang.


*


Bersemangat di pagi hari dengan cuaca cerah Dinda berlari pagi dengan riang berlari mengitari kompleks rumah lalu kembali lagi dan menyapu halaman lalu bersiap berangkat kerja bekerja.


Sudahlah pergi saja dengan ojek.


Dinda Pergi dengan ojek tapi tidak ada.


Seketika Diyo datang.


"Nona tumpangan gratis, Baru datang baru di cuci," ucapnya pada Dinda dengan riang Dinda naik dan dan bersiap berangkat, tak lupa helm pemberian Arkan Dinda pakai.


Sampai di di butik setelah beberapa menit sampai.


Dinda mengucapkan terimakasih dan masuk kedalam. Di luar Diyo berbalik dan menghampiri orang di balik Tiang Lampu.


"Sini lo," ucap Diyo menarik orang itu dan membawanya ke tempat sepi.


"Secorpion? siapa yang kasih lo perintah," kata Diyo ketika melihat tato secorpion di tubuhnya.


"Tuan Rayhan," ucapnya dengan tenang.


Diyo menatap dengan serius seketika melepas cengkraman lehernya dam mengambil gambar wajah itu dengan ponsel.


Seketika menelpon Hansimon.


"Haah.. iya.. Siapa, Dia... Kebiasaan!" kesal Diyo.


Seketika Diyo menarik ke arah orang itu dan membawanya berdiri dan membersihkan pakaiannya dengan menepuk-nepuk.


"Sory.. Siapa nama Lo?" ucap Diyo.


"Panggil aja Gue Laron," ucapnya.


Diyo terkekeh.


"Lo gak ada sebutan nama samaran lain lo namanya Laron serius lo," ucap Diyo tertawa terbahak.


"Iya," Sahutnya seketika Diyo diam berdehem dan kembali serius.


Mereka saling pergi meninggalakan masing-masing tanpa pamitan.


Sekarang di pesawat jet pribadi milik Kakek Arkan.


Arkan menatap dua orang yang Citra bawa seketika sadar.


" Bagi Satro, Lo! Fadli Adiyodho, Lo!" Arkan berucap menatap keduanya dengan tenang yang menatap balik ke arahnya benci.


"Lo geng Secorpion, Lo punya istri yang harus lo nafkahin dan oprasinya harus segera berjalan, Kalo misalkan Lo Bagi Satro, Kalo gue hentiin pengobatan istri lo dan buat istri lo menderita, Gimana?" Ucap Arkan dengan tenang dan tatapan wajah menatap kertas dihadapannya.


"BRENGSEK.... LEPASIN ISTRIKU, AKU AKAN LAKUKAN APAPUN JANGAN SENTUH ISTRIKU."


Lorenzo menggeleng berdecak. Justin dan Lorenzo berdiri di belakang Arkan.


"Ngapa lo, Mabok pesawat geleng-geleng?" ucap Justin aneh.


"Ada yaa... Gue bolak balik naek pesawat di bilang mabok pesawat, Gue cuman gak ngira yang ada didepan kita itu Arkan," ucap Lorenzo seketika membuat Justin berpikir dan diam menatap Arkan yang sedang mengintrogasi orang didepannya.


Arkan tidak menghiraukan bentakanya dan beralih perhatian pada Orang bernama Fadli.


"Lo salah satu anggota Blackrose laki-laki, Gue tahu kalian kerja sama, Jadi Lo mau mulai dari mana ancamannya, Ibu nenek keluarga terdeket, Oh... Anak kecil di panti asuhan Mariana," ucap Arkan seketika membuat kedua orang di hadapannya menarik urat marah di lehernya sdengan sangat jelas.


"BRENGSEK!!!"


"So... Ck.. bermain ancaman bukan diriku sebenarnya tapi, tak masalah jika untuknya," ucap Arkan tertuju dan bermaksud untuk Dinda. Segera semua selesai dan Gabriel harus bertemu dengan Arkan.


Tidak ada suara dan mereka semua diam Arkan menghitung detik di jam tangannya.


"Baiklah, Lakukan saja," ucap Arkan pada Justin seketika Lorenzo dan Justin memberikan rekaman vidio di dua tempat berbeda dan dua orang berbeda usia.


Dua orang lelaki di hadapan Arkan seketika mengeluarkan keringat dingin dan merasa tak karuan pusing.


Di kursi belakang mereka Citra baru sadar dan langsung memberontak.


"BAIK KAMI AKAN IKUTI PERINTAHMU," Kata mereka bersamaan.


Arkan menatap datar keduanya.


Lorenzo dan Justin memberikan hal tak terduga yang membuat kedua raut wajah lelaki bertubuh besar di depan Arkan langsung tersenyum dan mengangguk dengan setulus hati. Mereka masih memegang tab yang Justin dan Lorenzo berikan.


"Kami akan lakukan apapun terimakasih," ucap orang berbama Bagi Satro.


"Terimakasih Tuan," ucap orang bernama Fadli.


Arkan berdehem menatap keduanya. Justin mengambil kedua tab itu.


Tak Lama pesawat mendarat di tempat yang bukan tujuan Arkan tapi, untuk menurunkan kedua orang ini. Meminta beberapa orang bawahan Hansimon menjemput mereka. Arkan sudah lebih dulu membuat penerbangannya tidak masalah, dengan memperkirakan semuanya dan tidak akan mengganggu lalu lintas udara karena pendaratannya yang Tiba-tiba.


Setelah mengantarkan keduanya Arkan kembali melanjutkan pesawatnya saat itu juga dengan tenang. Untuk pilot tidak akan bicara apapun pada Kakeknya Karena Pilot itu adalah salah satu Teman seangkatan Yuda yang mengenal Arkan dan Yuda di dunia Mafia.


Jadi anggap saja jet pribadi dengan milik Bratadika ini adalah milik Arkan seutuhnya.


Diding pesawat jet pribadi ini bisa di ajak untuk menyembunyikan kejadian ini dari kakeknya.


Sekarang tinggal Citra di dalam pesawat, Urusan ini akan lebih panjang karena satu perempuan selain Veronica bersama Arkan.