
Arkan baru saja pulang kerumah di pukul satu dini hari. Arkan membuka gerbang sendiri seketika pak Joko dan temannya pelayan lelaki datang.
"Biar kami Den," ucap mereka.
Arkan mengangguk dan beralih pergi ke mobilnya.
Sampai didalam garasi dengan baik dan terparkir rapih. Arkan turun dari mobil dan menguncinya lalu menekan sidik jarinya dari kontrol pasword di dekat pintu garasi,pintu garasi tertutup otomatis, sebelumnya terbuka dengan otomatis karena ada sensor cahaya yang tahu jika mobil itu adalah mobil Arkan dan mobil yang biasa terparkir di garasi.
Hanya garasi dengan koleksi mobil Arkan yang ada didalam sana, yang semuanya kakeknya belikan hadiah dari juara kelas, juara olimpiade, dan lomba lainnya. Yang terbaru adalah motor Sport hitam lis merah motor itu, karena bisa membawa investor besar melebihi target, dalam waktu sehari.
Bagi Arkan semua itu biasa dan tidak bermakna apapun.
"Aden baru pulang," ucap Bibi Asisten rumah tangga yang seketika menyapa,
yang setiap harinya bersama neneknya atau asisten neneknya jika di rumah dan dimana pun nenek pergi keluar rumah.
Arkan mengangguk.
Sambil berlalu melewatinya.
Terlihat sekilas jika Bibi Asisten rumah tangga atau kepala pelayan perempuan itu baru saja mencuci karpet besar bersama teman-temannya yang lain.
Tercium juga bau harum ketika Arkan melewatinya.
Itu biasa Arkan tahu karena malam hari biasanya mereka akan mengganti, Arkan juga kurang paham tentang istirahat para pelayan di rumah Kakek neneknya karena ukuran rumah yang besar dan kolega yang datang juga bukan kolega biasa melainkan kolega yang terkenal sekaligus sangat terpandang yang datang bertamu atau sekedar bicara singkat dengan singgah minum teh.
Melangkah ke dalam kamarnya Arkan langsung membersihkan tubuhnya dan pergi untuk tidur. Beruntung tugas sekolah atau perusahaan sudah selesai siang tadi ketika di bengkel dan kemarin juga menyicilnya.
*
Di sekolah.
Arkan baru saja keluar dari ruang belajar yang ada di dalam perpustakaan di istirahat pertama sekolah.
Dinda seketika memanggil Arkan sambil berlari seketika tidak bisa menghentikan dengan cepat laju larinya Dinda menabrak Arkan hingga hidung dan dahinya sakit. Arkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Aduh... maaf," ucap Dinda menatap wajah datar dan dingin Arkan.
"Kakak... aku buat kueh kering rasa coklat.. kakak mau, Ambil kak," ucap Dinda dengan ceria dan semangat mengulurkan bungkusan itu pada Arkan.
Arkan menatap hal itu dengan datar.
"Gue gak suka coklat, lo makan aja sendiri," ucap Arkan dengan kasar lalu berbalik pergi.
Seketika Dinda menarik tangan Arkan dengan berani dan membuat Arkan berbalik menghadapnya. Arkan menatap tangan Dinda dengan tajam.
"Eh.. maaf.. maaf.. kak," ucap dinda dengan takut dan cengenegsan.
"Ambil aja kak aku udah cape buatnya," ucap Dinda dengan tersenyum manis.
Seketika Arkan mendorong bekal itu dengan kasar dan Dinda menahannya agar tidak jatuh.
"GUE GAK SUKA DINDA!" Suara Arkan dengan membetak Dinda didepan wajahnya.
"Oh.. gak suka ya udah kalo gitu Dinda beliin yang lain aja kakak pasti gak akan ada istirahatnya karena olimpiade tinggal besok, ayo kak," ucap Dinda dengan berani menarik tangan Arkan lagi.
Seketika tangan Arkan berpindah memegang tangan Dinda menarik Dinda mendekat padanya, seketika mata tajamnya menatap wajah Dinda dari jarak yang dekat .
"Dinda, dengerin gue, gue gak suka perhatian lo, jangan peduliin gue lagi, ngerti lo!" Kata Arkan dengan tajam, Arkan pergi dari sana meninggalkan Dinda sendiri yang menatap punggung Arkan menjauh.
Ada rasa kecewa yang merubung di hati Dinda.
Rasa yang sulit di gambarkan, ada banyak kata kalimat bermunculan di pikiran Dinda.
Apa maksudnya beliin helm?
Terus bukain tutup botol Dinda kan ngasih bukan minta tolong bukain?
Terus maksudnya di anterin pulang dua kali, apa dong?
Semua jawaban pikiran Dinda adalah Semuanya hanya hal biasa dan bukan Perhatian lebih.
Disini di kantin Dinda duduk sendirian menatap wadah bekalnya memutar-mutarnya. Beberapa murid lainnya yang sekarang sedang berada di luar kantin, maka dari itu kantin sepi.
"Gak.. papa Dinda, lo pasti kuat, Kak Arkan marah karena lo maksa. Jangan maksa lagi, Ayo Dinda makan aja ini kuehnya," ucap Dinda dengan nada kecewa hampir sedih pada dirinya.
Bruug.. Pukulan diatas meja membuat Dinda menoleh ternyata Kiran dan Rita kakak kelas. Kiran penyebab gebrakan meja membuat Dinda terkejut, malah tersenyum lebar tanpa rasa berdosanya.
"Eh.. kak Rita, Ran lo sama kak Rita sih?" ucap Dinda berbisik. Rita tersenyum.
"Kenapa gue gangguin kalian ya.. ya udah gue pergi aja deh," ucap Rita. Seketika Dinda menarik tangan Rita. Dinda tersenyum lebar dan Rita duduk kembali.
"Enggak kak enggak gitu maksudnya cuman kakak kan kakak kelas kenapa mau deket-deket sama kita?" ucap Dinda dengan malu menatap Kiran dan Rita lagi.
Rita menatap Dinda dan Kiran dengan lembut.
"Yaa elah Dinda... Lo gue kita orang...manusia makan juga nasi kalo kesel juga bisa marah dan nangis, Santai aja kali... Kalo sama gue," jelas Rita dengan ramah dan kebalikannya justru Dinda canggung Jika Kiran dia mah cuek saja.
"Gue kesini mau minta maaf, karena bentakan Arkan. Arkan gak maksud kayak gitu tapi, lo harusnya jangan terlalu deket sama Arkan. Arkan itu gak suka cewek deketin dia dan kejar-kejar dia," ucap Rita. Rasa kecewa lagi-lagi datang, hatinya hampir sakit mengingat bentakan Arkan tadi.
Dinda menunduk lesu seketika mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum lebar.
"Maaf kakak kayaknya gak usah di bahas Dinda ngerti kok," ucap Dinda dengan terpaksa tersenyum.
Di dalam Lab. Arkan sedang duduk dengan mengutak atik komputer lalu tak lama Bu Ayu datang.
"Gimana Arkan?" Ucap Bu Ayu dengan wajah ramah.
"Sudah selesai bu," ucap Arkan sopan. Tidak lama keluar hasil printernya dan beberapa lembar soal dan juga beberapa data diri untuk di isi peserta olimpiade.
"Makasih ya, oiya abis ini kamu dateng ke Pak Udin beliau ada perlu sama kamu, untuk hari ini kamu di bebaskan belajar di kelas fokus olimpiade, oiya dan besok kamu berangkat pagi jam stengah tujuh udah di sekolahan ya." Jelas Bu Ayu.
Arkan mengangguk mengerti. Bu Ayu pergi meninggalkan Arkan yang sedang membereskan barang lainnya yang Arkan gunakan.
Keluar dengan menutup pintu dan menguncinya Seketika sebuah sepatu dan pemakainya berdiri di samping Arkan.
"Kalo lo gak suka jangan kasar dong," ucap Justin.
Justin yang datang untuk menghampiri Arkan.
"Gue tadi suruh Rita buat minta maaf, atas nama lo, gue juga tahu lo pengen minta maaf tapi, gengsi iyakan," ucap Justin.
Arkan berbalik menatap Justin lalu berjalan melewati Justin.
"Lo denger?" Kata Arkan dengan datar.
"Ya jelas denger sekaligus liat orang gue mau nyamperin lo dan liat Dinda duluan nyamperin lo," ucap Justin.
"Beruntung cuman ada gue kalo ada anak-anak lain abis lo di bully, Lo sendiri bilang jangan kasar sama cewe lah.. lo sama Dinda aja ngebentak," ucap Justin. Seketika Arkan menghentikan langkahnya.
"Gue mau ngomong penting , nanti pulang sekolah Lo, Bagus Lorenzo dan Yuda di luar sekolah," ucap Arkan. Lalu berjalan pergi.
"Eh.. Ya ampun yee deh.. gue sampein ke mereka." Kata Justin setengah berteriak.
Justin selalu paham Arkan tidak mau membahas tentang Dinda karena tidak ingin saja, lalu seketika mengalihkan pembicaraan, haah justin tidak terkejut dengan sikap Arkan satu ini.