
Dinda terdiam didepan gerbang ada perasaan enah setalah Kak Arkan pergi kak Arkan jauh darinya kak Arkan kapan akan seperti ini dan kapan akan seperti itu.
Dinda kira sudah mengenal Kak Arkan ternyata Belum.
Dinda ayo tunjukin Kakak Arkan punya Dinda tapi, apa itu gak egois.
Seketika Dinda melihat Arkan masuk sekolah dengan motor sportnya dan itu terlihat berbeda Kak Arkan begitu keren dan maco eh... tunggu bukan Dinda aja ada yang lainnya.
Haah... Malesin kalo dah mata para kaum hawa di sekolah ini gak kedip ngeliat Kak Arkan buka helm dan nyisir rambutnya pake tangan.
Liat Dinda bakalan buktiin Kalo kak Arkan punya Dinda ini demi hati Dinda, coba aja dulu.
Dinda berjalan masuk gerbang dan berjalan cepat mengikuti Kak Arkan.
Kiran yang baru keluar mobil Yuda seketik melihat Dinda.
"Napa tu bocah," ucap Kiran. Melihat kedepan seketika Kiran melompat kaget.
"Gue harus deket Dinda." Seketika Kiran mengejar Dinda.
Sapai Arkan sepuluh langkah dari pintu masuk koridor sekolah Dinda berdiri depan pintu menatap Arkan tangannya mengepal keras, Keduanya terlihat begitu merah dari kepalan tangannya sendiri.
"KAK ARKAN.... KAKAK CUEKIN DINDA KAKAK MARAH ATAU APA KENAPA, KAK!"
Teriakan Dinda mengema satu korIdor pintu masuk Dinda Mengepalkan tangannya kesal.
Arkan yang sudah menghentikan langkahnya seketika berhenti menoleh kesamping lalu berjalan lagi.
"KAKAK... LIAT KE BELAKANG, HIIIH... KAKAK MAU GAK JADI PACA DINDA SE-KARANG!" Sekatika langkah Arkan berhenti untuk kedua kalinya dan membalik badanya kebelakang. Dinda menatap Arkan marah. Wajah Dinda begitu lucu. Arkan tetap dengan wajah Datarnya.
"Kakak," ucap Dinda dengan senang dan berlari seketika tersandung kakinya sendiri dan jatuh dengan memalukan. Arkan terdiam menatap itu.
Haah.. Malu Dinda gak sanggup, tapi, demi Kak Arkan Dinda harus bangun!
Dinda Bangun dan berdiri seketika meringis sakit seketika itu Dinda tidak melihat Kak Arkan dan ada Maulana didepannya dan mengangkat Dinda tiba-tiba.
Kemana Kak Arkan kenapa malah Maulana Dinda gak nyangka ini tapi Dinda gak mau sama maulana.
"Maul apaan sih lo lepasin gue haaah... Tolong dong," ucap Dinda kesal heboh dan terus bergerak.
Tidak ada yang menggubris semua menatap Dinda aneh dan juga ada yang tertawa.
Dinda malah kesal dengan semuanya.
Seketika Dinda ingat hari ini adalah hari memalukan untuk dirinya.
Kiran yang melihat Dinda berteriak dan jatuh lalu diangkat Maulana malah bingung dan segera mengejar Dinda tapi, berhenti lagi karena ada Kak Rian.
Kiran menjaga jarak aman untuk mengawasi Dinda Maulana dan Kak Rian.
Seketika Rian datang dan membuat Maulana berhenti dan menurunkan Dinda.
Dinda kesal dan berbalik seketika berhenti dan melihat Rian didepannya.
Dinda terdiam
Eh.. kenapa begini akh... Bisa tidak Kak Arkan aja kenapa jadi ada dua laki-laki aneh ini.
Kesal Dinda rasanya ingin mencair jadi lumpur aja, dua laki-laki keren satu ganteng belasteran luar negri satunya anak berprestasi gak ganteng gak cool tapi nyaman di pandang. Dinda menoleh kesekitar seketika memumundurkan langkahnya.
Dinda kesal dan berjalan pergi seketika kedua tangan Dinda di tahan oleh Rian dan Maulana.
"Lo anak kelas dua belas baru! gak ada hubungan sama Dinda," ucap Maulana membela dirinya memegang tangan Dinda
"Aapa.. gak ada hubunga? lo juga bocah, Dinda nganggep gue kakaknya jadi gue yang berhak, walaupun gue anak baru Dinda deket sama gue jadi lepasin tangan Dinda," ucap Rian ketika akan mengangkat Dinda tapi di cegah Maulana.
"Ih... Apaan sih Stop!" Seketikamereka berhenti. Dinda menatap kesal seketika nyeri perih di lututnya terasa.
Aduh...
Seketika Itu Arkan datang dan membawa Dinda seperti seorang penculik yang membawa karung beras Dinda terkejut dan terus berontak. Tidak sadar jika Arkan yang mengangkatnya.
Dinda terus berontak hingga Arkan menurunkannya di UKS.
Di tempat tadi Kiran bernafas lega sedangkan Rian pergi begitu saja santai tanpa beban masalah. Sedangkan Maulana menatap kepergian Dinda dengan Dingin.
Disana ada Rita dan teman-temannya yang sedang piket.
"Gue tinggal," ucap Arkan pada Rita.
Rita mengangguk menatap Dinda dan Arkan.
"Kak," ucap Dinda ketika Arkan akan menjauh tangan Dinda juga menaraik tangan Arkan mencegahnya agar tidak pergi.
"Maaf," ucap Arkan dan berlalu keluar Uks.
Dinda diam apa ada yang salah dengannya Dinda kan gak bisa terlalu begini dan begitu apa Dinda keterlaluan.
Ih... Dinda malu-maluin deh! Dinda kesal pada dirinya.
*
Di sini di ruangan Kakeknya Tuan Dhanu Ayah dari Syifa dan Dinda duduk sambil meminum teh dan di taman ada Nenek Arkan dengan Ibu Dinda juga Syifa.
"Maaf ya, sepertinya Arkan terlalu merepotkan kalian," ucap Kakek pada Ayah Syifa dan Dinda.
Ayah Syifa dan Dinda tersenyum.
"Tidak masalah selagi setiap ada bahaya Arkan ada aku akan baik saja," ucap Ayah Syifa dan Dinda pada Kakek Arkan.
Di taman Ibu Dinda dan Syifa mengobrol ceria dengan Nenek Arkan tentang masa kecil Arkan. Juga tentang keluarga ayah Arkan. Arkan tidak tahu jika Kakek neneknya merencanakan permainan unik tapi, apa Arkan sadar cepat? Tidak tahu! yang jelas Kakek akan memainkan semua ini sampai Arkan biasa berdiri sendiri dan emosinya setabil.
Jika Arkan merasa jika dirinya harus menjadi anak baik agar kakek neneknya tidak sedih. Justru itulah yang Arkan mengerti dari permainan kakeknya.
Tapi, di balik itu semuanya sebenarnya Kakek neneknya sudah sangat senang mendapatkan Arkan hanya saja Kakeknya agak malu mengekspresikan ke bahagiannya pada Arkan. Hanya nenek yang terlihat sangat menyayangi Arkan.
Giovano dan Rayhan sudah membicarakan sesuatu pada Kakek.
Arkan tidak tahu.
Tidak lama sebuah mobil datang Istri Rayhan dan Rama datang.
"Assalamualaikum Nenek," ucap Rama dengan suara kers seketika pelayan nenek datang menghampiri Rama.
"Aden mau Bibi bantu," ucap Pelayan itu.
Rama menggeleng.
"Maaf bibi... dimana Ibu," ucap Istri Rayhan.
Rama dan Bundanya alias Istrinya Rayhan pergi ke rumah kaca tempat nenek dan juga ibu Dinda dan Syifa ada.
Mereka sedang bicara seketika menoleh dengan kedatangan Rama dan juga Istri Rayhan
"Assalamualaikum Nenek," ucap Rama dengan semangat. Nenek tersenyum seketika Istri Rayhan mencium tangan Nenek dan juga bersalaman dengan Ibunya Dinda dan Syifa
"Walaikumsalam. Kenalkan ini Menantu Raxen Brathadika kalian akan saling kenal jika sudah menjadi keluarga tapi, jika ingin sekarang juga tak masalah," ucap Nenek dengan ramah dan bershaabat.
"Nenek Liat Rama dapet seratus tadi rama di minta tanya jawab," laporan Rama pada Nenek.
Nenek mengambil kertas Rama dan melihatnya.
"Pinter sayang, Belajar lagi yang rajin kita nanem sayuran bareng kapan-kapan," ucap Nenek dengan semangat dan senang.
Seketika Rama berseru senang melompat.
"Asik nenek kita maen tanam tanaman, Bunda boleh kan Rama kesini lagi?" ucapnya pada Mamanya.
"Boleh sayang nanti kalo gak sibuk Kakak Arkan juga bantu," ucap Nenek.
Ibu Rama alis istri Rayhan tersenyum mengusap kepala putranya.
Mereka berempat bicara bersama Rama di bawa bawahan Bi Yum untuk ganti baju yang sudah di bawakan Bundanya.
Istri Rayhan mengajak Ibunya Dinda bicara. Lalu nenek. Mereka bicara sangat seru. Hingga tidak lama waktu berlalu sampai dua jam lebih.
*
Di sekolahan Dinda keluar dari uks dN berjalan pelan seketika itu Kiran mengagetkannya. Sampai di kelas memulai pelajaran seperti biasanya.
Kiran memandang wajah Dinda yang lesu lalu diam tidak berani bertanya.
Di tempatnya duduk Lia berbisik pada Kiran tentang Dinda.
Kiran menggeleng tidak tahu saja jawabannya.
Di ruangan kelasnya Maulana menatap datar guru yang menjelaskan materi papan tulis.
Lalu di Kelas. Arkan Rian di tarik Lorenzo untuk bicara dan nimbrung ngobrol bareng.
"Makasih," ucap Arkan menatap Rian seketika.
Rian terdiam.
"Iya.. Tenang aja lo," ucap Rian.
Rian terdiam melihat apa yang Arkan lakukan tadi.
Tapi, di pikiran Arkan. Arkan memikirkan keadaan Dinda. Tapi sekarang bukalah waktu yang begitu tepat banget.
Arkan menatap datar kedepan lalu terdiam dengan meletakan kepalanya diatas meja. Seperti biasa jika Arkan sedang malas bicara malas segelanya kepalanya akan di letakan diatas meja.
Di kelasnya Dinda juga melakukan hal sama meletakan kepalanya di atas meja.
Setelah guru mata pelajaran selesai memberikan materi.
Kiran membereskan bukunya. Sedangkan Dinda menghela nafasnya panjang dan kasar.
"Lagian sih lo ceroboh banget, malu sendiri kan lo," ucap Kiran dengan wajah Kasihan.
Seketika Dodi datang dan membawakan dua cup es alpukat tanpa susu untuk Dinda dan juga Kiran Lalu Lia dan Yeni datang merubung Dinda dan Kiran.
"Napa lagi dah, Beeud Galau bener," ucap Beto yang baru datang.
"Ih.. Beto lo nanya sama orang yang males ngomong percuma lo," ucap Yeni.
Seketika Dinda mengangkat wajahnya.
"Tenang Gaes.. Seorang Dinda gak bakalan pernah sedih, ingat Dinda adalah Dinda bukan Sad girl," ucap Dinda.
Seketika Semua berseru tak percaya.
"Yaa elah.. Enak ngomong gitu!" Seru Kiran.
"Pasti dalam, hatilo hancurkan," ucap Lia seketika membuat menatap Lia serius dengan wajah datarnya Lia mengatakan ucapannya itu.
Yeni seketika memukul bahu Lia.
"Cewek ngomongnya sadis juga," ucap Dodi.
"Iyaa.. Nih kayak Yang beb gue dong kalem manis," ucap Dodi membela Kiran.
Seketika Kiran jijik.
"DODI.... GELI GUE... JAUH LO DARI GUE," ucap Kiran memukul mukul lengan Dodi.
Suara pintu terketuk.
Citra masuk dengan santainya sendiri dan tersenyum manis.
"Boleh gue ngomong sama Dinda," ucap Citra.
Seketika semua menatap Dinda. Dinda berdiri menahan perih di lututnya.
Lalu pergi ke mana Citra mengajaknya bicara.
Kiran dan Yeni juga Lia menatap kepergian Dinda.
"Gue harus ikutin," ucap Kiran bangkit seketika berjalan mengikuti Dinda. Yeni dan Lia hanya diam begitu juga Dodi dan Beto.
"Gimana kalo kita menan Aja," ucap Yeni mengeluarkan ular tangganya.
"EH.. BUSET.. sekolah macam apaan lo bawa uler tangga ke sekolah," ucap Dodi.
"Apaan sih tahu gue lo ketu kelas. B aja dong lo kalo ngomong denging kuping gue."
*
Di belakang sekolah Citra terdiam lalu Dinda juga diam menatap Citra malas.
Citra seketika mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan vidio tentang Arkan yang memukuli seseorang dan juga Arkan yang duduk bersama para perempuan seksi.
Dinda menatap tidak percaya. Ini semua hal vulgar dan sikap Arkan seperti seorang yang haus *** di vidio itu.
Dinda terkekeh seketika membuat Citra tersenyum.