Arkan Dinda

Arkan Dinda
Kebahagian mereka



Dinda menatap ponsel yang tidak kunjung mendapatkan notif balasan pesan dari Arkan. Kemarin sekarang pun tidak ada yang di balas.


Tidak ada satupun pesan Dinda di balas kak Arkan.


Dinda diam hingga Lala membawa pewarna pensil dan juga kertas putih. Dinda menyimpan kembali ponselnya kedalam tasnya.


Kiran datang bersama Larisa membawa teh dan juga makanan yang Ibunya Belle bawa.


Selain ada mereka Rita juga disana. Lorenzo dan Bagus pergi keteras bicara berdua sekaligus dengan memirikan ponselnya dengan posisi bergantian, Bermain game.


"Tante ini tante ini Lala sama Kakak Belle," ucap Lala tiba-tiba Dinda langsung menerima uluran barang dari Lala.


"Eh..." Dinda menarik Bahu Lala.


"Waah Lala ngomongnya lancar, pinter," ucap Dinda mengusap kepala Lala.


Lala tersenyum.


"Iya dong aku kan di ajari Mama biar bisa lancar ngomongnya," ucap Lala dengan bangga.


"Bagus dong Lala bisa ngomongnya lancar, nanti kita maen bareng lagi ya, tapi, besok aku ada ujian sekolah," ucap Belle.


"Iyaa.. Belle kapan-kapan aja kan bisa nanti- nanti Ade Lala juga harus belajar biar pinter kaya Kakak Belle," Ucap Larisa dengan lembut dan tersenyum.


Belle terdiam dengan ekspresi berpikir, raut wajah lucunya terlihat menggemaskan.


"Ehm... Mama Kita bisa kan ya abis Belle pulang sekolah Belle maen sama Lala ngajarin adek Lala," ucap Polos Belle seketika mendapat anggukan sang Mama.


"Yee.. Kita bisa belajar Bareng," ucap Belle seketika memeluk Lala dan Lala tersenyum membalas pelukan Belle.


Rita bangkit dari duduknya ketika yang lain sibuk mengobrol dan bicara Rita menghampiri Bagus dan Lorenzo di depan.


"Gue mau ambil buku gue gus besok ujian catetan gue udah selesai belom lo salin," ucap Rita tanpa basa basi.


Bagus menoleh.


"Hem.. Belom keknya gue baru separo nyatet." Katanya sambil matanya fokus lagi ke layar ponselnya.


"Oh.. Buku Ta, Ada di rumah gue, gue belom selesai nyatet Gue minta kemaren sama Bagus ntar pulangnya gue kasih, lo kan pulang bareng gue aja," ucap Lorenzo enteng.


"Yaah. Zo.. lo ih.. Gemes gue ama lo Bilang ke Zo, Gue itu harus belajar," seketika Rita kesal dan melipat tangannya dan pergi seketika Lorenzo menari Kiran Lorenzo menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya.


Seketika itu wajah Rita dan Lorenzo berjarak dekat.


"Zo." Seketika suara Rita gugup dan menjeda dengan meneguk ludahnya kasar. Wajah Lorenzo lebih dari kata sempurna pahatan luar biasa dari jarak dekat ini.


"Gue seneng lo santai ama gue," ucap Lorenzo menjauh dari Rita dan melepaskan tangannya.


"Maaf, Gue gak sengaja, abis lo susah banget di cari di kelas di uks katanya lo keluar kantin gak ada, terpaksa gue ambil aja langsung dari Bagus," ucap Lorenzo dengan wajah mengemaskan.


Rita bersemu merah pipinya.


"Haa.. Apaan sih gak jelas, Iyee lo pake aja besok pagi di sekolah lo kasih gue," ucapnya.


Rita melangkah masuk seketika itu wajah Lorenzo berubah datar. Lorenzo berbalik seketika itu Bagus menatapnya horor.


"Ngaku lo, lo suka kaan . sama Rita kan," ucap Bagus.


Lorenzo menghela nafsnya kasar.


"Gak gue gak suka dan gak akan bisa. Rita berhak dapet yang terbaik gak kek gue yang terbuat dari barang mahal tapi dah pernah di gadein," ucap Lorenzo.


"Yaelah memelas amat cerita lo, Inget hidup itu harus baik gak boleh buruk apa lagi di buat buruk sama diri sendiri, Gue emang gini tapi, gue yakin kalo gue baik dalam hal apapun, Niat dan tujuan lo juga harus baik," ucap Bagus.


"Iya makasih nasehat lo," ucap Lorenzo pada Bagus.


Bagus menatap Lorenzo seketika menyenggol bahunya.


"Maen lagi, Kalah noh permaianan lo," ucap Bagus.


Seketika Lorenzo tersenyum.


Di dalam Kiran dan Belle berebut pewarna pensil seketika Kiran marah Belle juga marah.


Lala datang.


"Ih Kakak Sama Tante galak marahan terus Lala pusing, Nih Kakak sama Tante galak barengan dong," ucap Lala


Rita Luna dan Larisa menatap Lala dan Kiran juga Belle sedang menyelesaikan ribut dan masalahnya sedangkan Dinda diam saja di antara mereka asik menggamar sendiri.


"Taraa... Lala Liat gambar bunga Tante lumayan kan," ucap Dinda.


Seketika semua menatap hasil gambaran Dinda.


Kiran seketika tertawa terbahak bersama dengan Belle.


"Tante Itu bunga apa? jelek," ucap Belle.


Seketika wajah Dinda tersenyum mematung dan murung.


Anak kecil selalu jujur mereka kenapa gak bisa bohong sedikit.


Lala mengambilnya dan tersenyum.


"Makasih tante ini bagus," ucap Lala.


Seketika Dinda malu.


"Hahah.. Sama sama," ucap Dinda malu.


Seketika tawa Kiran dan Belle bertambah kecang.


Tawa mereka menular hingga ke Rita Larisa dan Luna ikut terkekeh.


*


Pagi hari cerah berangkat sekolah lagi untuk ujian tengah semester murid kelas sebelas dan sepuluh. Dinda berangkat dengan angkot lagi.


Di perjalan dinda diam hingga Angkot yang di tumpanginya tidak terasa sampai di depan Halte dekat sekolahannya.


Dinda membayar lalu turun. Lalu berjalan pelan memasuki gerbang utama sekolah.


Seketika Arkan melewatinya.


Aneh! biasa bareng?


Halah kebetulan aja kali. Pikir Dinda yang kadang membayang jika Arkan mengikutinya dan sampai sekolah bareng.


Dinda menghela nafas.


Udahlah Kak Arkan gak bakal ngikutin. Dinda terlalu percaya diri.


Sampai dan duduk di dalam kelas Dinda tidak beranjak hingga suara rusuh Kiran terdengar dan masuk.


"Selamat pagi Bebeb Dinda," ucap Kiran.


Seketika Dodi menyambar.


"Pagi juga sayang, dah sarapan?" ucapannya membalas ucapan Kiran.


"Dodi masih pagi Dod, gak sah rusuh deh," ucap Kiran kesal.


Dodi seketika berhenti di belakang Dinda dan meletakan tasnya di atas mejanya lalu melangkah ke kursi dekat Dinda didepan Kiran.


"Kiran lo kenapa sih, Gue ini deket lo ama abang lo, gue juga solid tan ama abang lo loh," ucap Dodi.


"Maaf ya Dodi guenya gak suka," ucap Kiran seketika Dodi bertepuk tangan.


"Ok... Bagus lo sulit di deketin, Gue bangga sama lo, Kita temen aja ran jangan sakit hati ya ran," ucap Dodi seketika pergi ala-ala suting drama setelah mengatakan balasan ucapan untuk orang yang menolak dan mencampakannya.


Kiran memiringkan bibirnya.


"Ih... Drama deh," ucap Kiran.


Seketika Dodi terkekeh.


Dinda mengeleng, ada aja ulahnya.


*


Dinda keluar dari perpustakaan dengan wajah yang santai seketika bu Siska memanggil Dinda


"Ehm... Iya Bu, gak juga sih bu, ada apa ya bu?" ucap Dinda.


Bu Siska tersenyum. Tolong kamu bantu saya bawa beberapa kertas dan barang ini ke mobil saya ya," ucap bu Siska.


"Oh.. iya, Bisa bu," ucap Dinda.


Dinda pergi membantu Bu Siska lalu setelah semua selesai Dinda pamit.


Baru akan melewati kelas sepuluh Dinda melihat Kak Syifa nya sedang berdiri didepan lab.


"Ngapaian berdiri sendiri." Tidak Lama ucapan Dinda terjawab dengan Arkan yang keluar dari sana dengan kemeja putih di keluarkan dari celananya dan juga menenteng beberapa lembaran kertas.


"Lo lama nungguinnya," ucap Syifa.


"Hem," deheman Arkan.


Dinda berdiri mematung diam disana.


Hem....ternyata Kak Arkan lagi sibuk buat ujian, pikir Dinda.


Cepat waktu berlalu begitu saja.


Sekarang waktu pulang sekolah. Dinda seketika di teleppn Syifa untuk datang kerumah karena ada tamu dan bibi sedang sakit tidak ada yang membantu Ibu.


Dinda yang baru pulang sekolah melihat pesan itu setelah memakai pakaian untuk kerja.


"Hallo," sahut Syifa ketika Dinda menelponya dan seketika menekan tombol hijau.


"Kak aku kerja dulu, bisa gak," ucap Dinda.


"Ehm.. Gak papa sih tapi, jam berapa balik," ucap Syifa.


"Nanti jam dua belas soalnya ini cuman sebentar karena nanti banyak kerjaan," ucap Dinda memberikan alasannya.


Syifa terdiam.


"Iyaa nanti gue kasih tahu mama Lo jangan terlambat kita keteteran ini," ucap Syifa tiba-tiba.


"Iya Kak," ucap Dinda.


Seketika telepon terputus.


Dinda langsung berangkat kerja ke butik mamanya Kiran dengan sepeda.


Karena darurat makanya harus cepat.


Tidak terlalu lama Akhirnya Dinda sampai.


Dinda langsung masuk dan Kiran langsung bersiap menariknya.


"Clientnya Mama gue ini orang penuh kesempurnaa semua harus sempurna jadi kesini itu cuman mau fiting baju penganti tapi, gak bawa pengantinnya, lo pikir aja," ucap Kiran.


Seketika Dinda tersenyum.


"Dah lah ayo kerja aja," ucap Dinda.


"Iya..." Seru Kiran.


Tidak lama Kiran dan dua pegawai mamanya kiran yang bertugas menyambut tamu langsung sigap.


Tamunya datang bersama mamanya Kiran.


Cut...cut... ini neneknya kak Arkan yang mau nikah nikah sama siapa, pikir Kiran.


Dinda terdiam ketika tahu siapa tamunya.


"Tante Amelia bisa tunggu di ruangan saya nanti saya bantu ambilkan beberapa disain terbaru," ucap Mamanya Kiran memanggil dan mengajak neneknya Arkan.


"Kiran dan Dinda segera bersiap," bisik Mamanya Kiran.


Nenek Arkan seketika melihat Dinda disini. Seketika itu wajanya terlihat tenang dan melirik sebentar lalu kembali menatap kedepan.


Di ruangan Mamanya Kiran.


Dinda dan Kiran lalu satu orang pegawai mamanya Kiran.


Mendorong beberapa model gaun terkini.


"Semua karya kamu selalu bagus Fiona, Gak salah aku langganan kamu setiap ada acara besar," ucap Neneknya Arkan.


"Tante amelia bisa aja," ucap Mamanya Kiran.


"Ehm ukurannya kayaknya yang itu deh," ucap Neneknya Arkan.


Seketika Dinda mengambilkan Gaun itu dan membawanya lebih dekat pada Neneknya Arkan.


"Ehm.. terlalu cantik," ucap Nenek Arkan yang melihat Gaun yang Di bawa Dinda.


Tanpa yang lain Tahu Nenek sedang mencocokan gaun itu dengan Dinda.


"Coba kamu ambil yang satunya," ucap Mamanya Kiran seketik Kiran membawa dua gaun ke dekat Dinda.


Setengah jam kemudian....


Ada tiga gaun yang sudah neneknya Arkan pilih.


"Ehm... Fiona boleh aku minjem salah satu pegawaimu buat nyoba gaunnya," ucap nenek Arkan didepan Dinda Kiran dan satu pegawainya.


"Boleh dong tante, Tante mau siapa?" ucap Mamanya Kiran.


"Dia yang tembem itu," ucap Nenek menunjuk Dinda.


Mamanya Kiran seketika menarik Kiran dan meminta Kiran mengajak Dinda keruangan fiting.


Di sini di ruangan fiting Nenek duk melihat Dinda memakai gaun yang tingga memasang bagian renda.


Nenek menggeleng untuk gaun pertama.


Mama Kiran segera menggantinya.


Lalu di gaun kedua nenek Arkan ragu.


Mama Kiran langsung menggantinya.


Dinda menatap Kiran dengan terpaksa tersenyum di gaun ketiga berwarna putih dan simpel juga bisa di gunakan untuk ke acara pesta.


Nenek Arkan itu membeli dan memilah gaun itu yang multi fungsi untuk beberapa acara.


Walaupun orang kalangan atas hingga bisa menyamai keluarga istana. Nenek tetap sederhana orangnya.


Nenek juga tahu rasanya menumpuk pakaian terlalau banyak, nenek lebih suka membelanjakan uang untuk keperluan baik dari pada membelanjakan hal tak berguna.


"Gaun ketiga ini benar-benar cantik Dinda pake ya," ucap Mamanya Kiran.


Ada senyum tipis di wajahnya.


Nenek bangkit dari duduknya.


"Tentu, Fiona."


"Ini untuk calon istri Arkan. Sebentar lagi akan ada lamaran, tapi hanya keluarga, aku tahu perempuan itu bentuk tubuhnya sama seperti Pegawaimu. Jadi simpan ukuran itu untuk kedepnya, Ok," ucap Nenek Arkan.


"Oh.. Baik Tante, aku simpan ukurannya," ucap Mama Kiran.


Dianda samar mendengar ucapan neneknya Arkan seketika perasaannya kacau dan Down.


Seketika Dinda menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya.


"Din... gue tahu perasaan lo, Yakinin diri lo kalo semua baik-baik aja, jangan sedih okay," ucap Kiran.


Dinda mengangguk menatap Kiran ketika merapikan gaun itu ketempatnya semula.


Dinda kebelakang memebawa Gaun yang tidak jadi di pilih dan beberapa gaun lainnya yang harus di rapikan di gudang kain.


Dinda seketika berdiri mematung berdiri tepat didepan dua manekin patung gaun yang tinggi yang di pakaian gaun pengantin yang indah dan salah satunya bisa bersira dalam gelap seperti bintang salah satunya di pakaian beberapa mutiara asli dan lengkap dengan gelang dan kalung indahnya.


...Kebahagiannya juga Kebahagianku, Senang untuknya Bahagia untuknya, Hidup terus berputar, ingat jika pernah mengatakan agar bahagia jika dirinya sudah menemukan jodohnya....


...~Dinda Alea...