
Sampai di Supermarket Arkan memarkirkan mobilnya dan mengajak Dinda turun.
"Lah kak kan mau ke mini market aja kalo kemari aku pake baju gini mang gak malu maluin kamu, eh.. kalo gak Kakak jauhan aja dari aku, Tampangku kaya babu gini," ucap Dinda yang bingung karena Arkan mengajak ke super market dengan pakaian asalan seperti ini.
"Mau masuk atau aku yang milih barang kamu," ucapan Arkan berhasil membuat Dinda takut menggeleng cepat dan meraih lengan jaket Arkan.
"Enggak, jangan! Malu, jangan sentuh sentuh awas," ancamannya yang takut dan malu. Sebenarnya tidak masalah jika Arkan mau tapi, Dinda sangat malu yaah gimana ya sulit di jelaskan, malu aja gitu.
"Masuk atau pulang," kata Arkan Dinda terkejut dari lamunannya.
"Masuk," katanya langsung sambil melangkah duluan. Arkan menatap punggung Dinda yang melangkah masuk duluan. Arkan mengambil troli.
"Dinda pergi ke tempat itu ya," ucapnya sambil menunjuk rak kebutuhan perempuan.
Arkan menoleh kearah itu dan mengangguk.
Arkan pergi ke bagian kebutuhan dapur dan bahan pokok lainnya. Arkan juga membeli kebutuhannya.
Seketika seorang perempuan berdiri didepannya terolinya saling bersebelahan.
"Arkan, Haay.. Apa kabar kamu baik ajakan," ucap Perempuan itu.
"Arkan kamu diem aja apa kamu sakit kenapa kamu belanja sendiri harusnya kamu di temenin pelayan atau kamu lagi mau pindah apartemen, makanya belanjaan kebutuhan dapur? Dimana apartemen kamu, kamu kenal aku kan, Aku Violetta."
Cerocos perempuan bernama Violetta itu tidak berhenti berhenti sampai Arkan menghela nafasnya dan sesuatu di masukan dalam Trolinya.
"Kak aku ambil lima pack buat stok, nanti uangnya aku gantiin makasih ya," ucap Dinda yang baru datang.
Violetta merasa kesal. Karena Arkan lembut pada gadis disampingnya.
Seketika Arkan tersenyum.
"Kamu ini sama suami aja kayak sama temen kos, Gak usah sayang," ucap Arkan seketika membuat Dinda malu. Violetta makin panas.
"Suami istri, Kamu nikah Arkan? Gak.. gak mungkin masa ini cewek yang jadi Istri kamu, Tampilan kayak babu gini kamu bilang istri, Heh mb gak usah boong deh mb di bayar berapa sampe ekting didepan saya mantan pacarnyanya," ucap Violetta dengan wajah sombongnya.
Dinda meremas kecil lengan hodienya. Bingung situasi apa ini.
"Kamu butuh apa lagi?" Tanya Arkan tak menghiraukan ucapan perempuan itu.
"Ah.. Butuh apa, Kakak kenapa?" ucap Dinda menatap marah seketika Arkan mengambil tangan Dinda dan menggenggamnya. Terkejut karena Arkan mengajaknya berjalan sambil bergandengan.
Dinda sedih. Kak Arkan kok diem aja Dinda di katain.
"Kakak kok diem aja," ucap Dinda sambil mengikuti langkah Arkan dan menjauh dari perempuan itu.
"Kamu udah selesai," ucap Arkan mengalihkan pembicaraan.
"Kakak kenapa... ih Kaka kok ngalihin omongan lagi," kesal Dinda seketika membuat Arkan mencium tangannya.
Dinda terdiam dan terkejut karena tangannya baru saja di cium Arkan.
Di depan kasir Arkan terus memberikan barangnya dan menunggu Kasir selesai menghitungnya.
Diam-Diam mb kasir itu memperhatikan Arkan dan Dinda seperti pasangan lucu.
Kak Arkan gak tahu ya, perempuan tadi ini yang ngobrol sama Maulana dan perempuan yang sama yang nyebut nama Kak Arkan, ternyata cantik banget Dinda lebih baik diam aja, Dinda gak secantik perempuan tadi tampilan kek Babu gini.
Selesai belanja Arkan masukan belanjaannya ke bagasi mobil Dinda masuk kedalam mobil dan duduk diam.
Seketika Arkan masuk Dinda takut-takut menatap Arkan.
"Kak.. Maaf, Dinda buat malu ya, apa tadi kayak anak kecil, Ih Dinda bingung Dinda dikit-dikit marah Dikit-dikit nangis tiba-tiba. Kakak Jangan marah ya Hiks... Kakak gak ngomong apa kakak malu ya karena Dinda kayak anak kecil tadi," ucap Dinda sambil menangis.
Dinda mengusap air matanya dengan kasar.
Arkan menoleh setelah menghela nafasnya dengan halus.
Mengambil beberapa lembar tissu dan memberikan pada Dinda.
Seketika itu ingusnya di keluarkan. Arkan diam saja.
"Gak ada yang bilang malu-maluin kamunya sendiri yang ngerasa makanya besok belajar ngatur emosi kalo udah deket hari merahnya," ucap Arkan yang mengarah pada bulanan perempuan.
"Maaf kak, Dinda juga gak tahu ih... Kan kesel kalo Tahu juga Dinda gak gini, Kakak Juga tadi ngobrol sama perempuan tadi bilang mantan kakak ngatain Dinda babu kakak, Kakak diem aja Dinda di katain gitu," ucapnya mengeluarkan semua isi hatinya yang kesal tadi.
"Dah pulang Dulu dirumah baru di lanjut keselnya," ucap Arkan dengan lembut.
"Huaawaa... kakak Kenapa sabar banget jadi orang walaupun ketus waktu itu ngomong sama Dinda sekarang kenapa lembut banget buat bahaya hati Dinda aja." Kesalnya dengan suara bergumam yang Arkan tak jelas mendengarnya juga cepat sekali bicaranya.
Di luar supermarket yang gerimis Violetta baru saja selesai belanja dan menelpon seseorang.
" Lakuin sekarang aja, mereka lagi ada di luar," ucap Violetta di teleponnya.
Orang dengan helem hitam dua orang mulai melakukan aksinya.
Dalam perjalan yang tidak terlalu macet dan ramai kendaraan Arkan melaju tenang seketika tatapan Arkan menajam pada sepionnya.
"Kamu peke sabuk pengaman pegangan yang kenceng." Katanya setelah itu menambah kecepatan mobilnya dengan cepat. Dinda seketika merasa mual mobil melaju terlalu kecang dan membuat perut Dinda seperti di aduk-aduk.
Selap selip dan terus tancap gas sampai di dekat rumah Arkan memelankan mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Arkan langsung keluar mobil lalu membukakan mobil untuk Dinda.
"Kakak aku mau, huuwek," ucapnya terhenti dan muntah ditanah setelah turun dari mobil dan berjongkok di tanah. Semuanya keluar Dinda lemas dan pusing, sepertinya tapi , ternyata tidak ada.
"Eh.. maaf Sayang, kamu gak enak yaa perutnya," ucap Arkan ngilu karena Dinda hanya muntah angin dan cairan bening.
Dinda membuka matanya dan memijat dahinya.
"Kakak," berusaha bangun Dinda berpegangan pada tangan Arkan dan berjalan masuk ke teras Arkan membuka pintu dan beralih memasukakan mobil ke garasi dan mengambil belajaannya.
Setelah itu garasi tertutup dengan sensor sidik jari Arkan.
Dinda masuk setelah melihat Arkan melangkah kearahnya.
"Kak aku lupa ngajak Kakak mampir Kak bajuku yang lainnya masih di rumah Kak Syifa juga lagi sibuk Kuliah kerja," kata Dinda setelah mendudukan tubuhnya di kursi dekat meja makan sambil minum.
Arkan masih memikirkan pertemuannya dengan Violetta dan dua orang yang hampir membuatnya dan Dinda terjebak.
Arkan tidak bisa macam-macam jika ada Dinda di sampingnya.
Arkan menghela nafanya dan membereskan belanjaan. Dinda juga mencuci piring bekas makan dan masak tadi.
Selesai bersamaan Arkan memanaskan susu dan menuangkannya kedalam gelasnya.
Lalu mendinginkannya sebentar dengan mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kak itu orang yang sama yang ngomong sama Maulana," ucapan Dinda terjeda dengan Arkan meletakan ponselnya dan menatap wajah Dinda.
"Iya, kamu jangan terlalu dekat, Maulana juga yang nyuruh Lily sama-teman-temannya nyari masalah sama kamu," ucap Arkan. Dinda menatap heran kenapa malah jadi fitnah orang lain lagi.
"Kakak cari tahu ya," ucap Dinda menyelidik.
"Hem," sambil menatap ponsel dan mengambil segelas susu hangat lalu di minumnya sambil duduk di kursi meja pantri.
"Tapi, kalo Dinda ngejauh tiba-tibakan aneh.. " ucapnya menatap ragu Arkan.
"Mau aman gak!"
"Ya maau... Ih," kesal Dinda.
Arkan mencuci gelas bekas minum susu dan mengambil air biasa lalu meminumnya dengan duduk di kursi yang sama.
Dinda terdiam berpikir Tanpa tahu Arkan memperhatikan wajah berpikir Dinda.
"Tidur duluan kalo capek, aku masih ada kerjaan," ucap Arkan lalu mengambil air biasa lagi dan membawanya ke ruang kerja Dinda terdiam.
Laah.. Sendiri lagi Dinda kan asing sama rumah ini nanti kalo ada hantunya gimana apa lagi pas gelap.
Udah kayak anak kost numpang rumah orang bujang. Tidurnya misah mulu!