Arkan Dinda

Arkan Dinda
Dinda dan Rian



Suasana pagi yang hujan Dinda tetap datang kesekolah ketika hujan sedikit rintik.


Lalu gerimis dengan angin ketika di perjalanan hampir sampai ke sekolahan Dinda sengaja datang dengan angkot karena malas dengan ojol. Lagi pula ongkosnya bisa buat yang lain. Pakai motor sendiri, Malas Dinda.


Bonusnya naik angkot adalah tidak basah.


Dinda turun dari Angkot seketika Hujan terlihat hampir deras. Segera Dinda berlarian masuk ke halaman kelas, teras kelas maksudnya.


Dinda membersihkan, menepuk pelan bagian baju yang basah lalu merapikan sedikit bajunya.


"Dinda." Kiran datang dan menepuk bahu Dinda pelan.


"Apaan." Sahut Dinda.


Kiran seketika meringis.


"Enggak Ayo masuk," ucap Kiran. Dinda mengangguk


kini di dalam kelas Dinda duduk di kursi Lia dekat jendela. Menatap tetesan air hujan di kaca jendela.


"Ye lah sedih amat lo Din?" ucap Yeni.


"Nimbrung sini sama kita-kita.. kalo gitu ketara banget beban hidup lo berat... banget!" Tambah Yeni dengan merangkul Dinda.


Mengerlingkan matanya. Sambil menaikan turun alisnya Yeni membujuk Dinda.


Kiran juga sedang tidak bisa apa-apa karena Dodi mengganggunya.


Dinda mengangguk dan ikut bergabung.


Seketika Rian masuk kedalam kelas Dinda.


"Dinda?" ucapnya dengan menatap seluruh kelas Dinda.


Seketika yang merasa namanya di panggil menoleh.


"Eh.. Kak Rian kan," ucap Yeni.


"Kok nyari Dinda sih kak, Ada Yeni lo disini," ucap Yeni seketika Beto berseru membuat Yeni mendengus kesal.


"Deim lo To." Kesal Yeni.


Rian terdiam menatap Dinda yang tidak menganggapnya.


Seketika Kiran menyenggol bahu Dinda.


"Ih.. Dinda.. tuh," ucap Kiran.


Dinda diam saja.


Seketika Rian melangkah mendekat dan mengetuk meja Dinda. Dinda menoleh keatas menatap wajah Rian dari tempatnya duduk, wajah yang hangat tengah tersenyum ceria menatapnya.


"Oh.. sosweet banget sih.. Din lebih baik gue saranin sama Kak Rian aja.. Dia itu pasti lebih dari apa pun di bandingin Kak Arkan," ucap Chintya seketika.


Kiran mencubit Chintiya.


"Ih Sakit tahu Ran," ucap Chintiya lebay.


"Hele...h lo jago karate di cubit gitu doang sakit menye lo, mentang mentang ada kak Rian," ucap Yeni seketika Chintiya mendengus sebal.


"Stop.. kok ributin Kak Rian sih Disini ada ketua kelas kita paling ganteng Dodi. Ya gak Dod," ucap Beto.


Dodi mengangguk menyombongkan diri.


"Maaf tapi, gue udah jadi milik Neng Kiran seorang," ucap Dodi.


Seketika Kiran memukul Dodi dengan buku yang ada di tangannya.


"Dodi... gilaa.. lo gilaa.. Ogah banget gue, ngomong lo ngelantur, waaah.. lo kurang ajar bilang gitu, nanti kalo ada yang salah paham Lo gue kasih makan ke kandang buaya juga lo," ucap Kiran kesal. Dodi langsung mengaduh aduh sakit tapi, bisa tertawa.


"Ihkkk.. Dodi," ucap Kiran ketika bukunya di tahan Dodi. Seketika Lia dan Yeni juga Chintiya bersorak membuat Kiran malu dan ingin bersembunyi. Sedangkan Dodi malah terlalu bangga, memang muka muka kayak Dodi ini terlalu percaya Diri.


"Gue keluar bentar ran," ucap Dinda pada Kiran.


"Eh.. Din.. Iya, cepet balik sebelum kutu kupret dudukin kursi lo," ucap Kiran menunjuk Dodi biang masalah.


Seketika Dodi merau pipi Kiran.


"Haah... Dodi...." Kesal Kiran mencapai ubun ubun Dodi langsung berlari menghindar mengelilingi barisa tengah didalam kelas.


Kiran mengejarnya dengan kesal. Rasanya ingin menjambak Dodi hingga rasa kesalnya hilang. Bukannya takut Dodi malah kesenangan dan tertawa.


Yeni dan Lia hanya tertawa sedangkan Beto dan Chintiya melanjutkan permainan mereka. Sadar Chintiya dan Beto main berdua Lia dan Yeni juga ingin ikut. Seketika itu Dodi kena dan akhirnya bisa Kiran jambak dan seketika itu Kiran melepasnya.


"Ih... bau... apaan ini," ucap Kiran.


"Itu parfum rambut, Wangi kok, napa lo gak suka biar gue ganti lagi besok," ucap Dodi seakan Kiran perduli dengan bau krim rambutnya.


"Bodo amat." Kata Kiran langsung pergi ke kursinya dan minta tisu pada Chintiya. Chintiya memberikannya.


Dodi lemas menghampiri Kiran seketika Kiran malas menatapnya.


Kembali mereka bermain.


Sekarang Dinda dan Rian yang bicara berdua di depan ruangan kebersihan dekat uks.


"Mau ngomong apa sih kak, Dinda bilang males deket-deket kakak," ucap Dinda dengan wajah datar dan menatap ke lain arah.


"Maaf." Seketika Dinda menatap Rian.


"Gampang kakak minta maaf sedangkan aku, gak... kakak jahat," ucap Dinda. Pergi begitu saja.


"Gue tahu gue salah setidaknya lo harus maafin gue, gue juga tahu lo pasti lagi di jahuin Arkan kan," ucapan Rian benar seketika Dinda berhenti dari langkahnya tapi, tidak berbalik dan terus kembali berjalan lagi.


Dari dalam uks Arkan dan Bu Siska keluar dengan membawa kotak obat ada Citra juga bersama mereka.


Bu Siska melihat Rian hanya menatap Rian mengangguk tersenyum Lalu Citra melewati Rian. Setelahnya Arkan Arkan menyeringai.


"Mine." Suara Arkan terdengar di telinga Rian ketika Arkan melewatinya.


Seketika Rian menoleh menatap punggung Arkan.


Rian mengumpati Arkan lalu pergi setelah puas mengumpati Arkan.


Di ruangan Kepala sekolah sekarang Arkan dan Citra juga Bu Siska sedang berada.


"Arkan saya sangat berterimakasih karena kamu sekolah kita bisa dapat kunjungan dari pihak rumah sakit keluarga kamu," ucap Kepala sekolah.


"Bapak tahu dari mana kalo itu keluarga saya," ucap Arkan tenang.


"Kakek kamu yang bilang, dan Citra juga menceritakannya," ucap Kepala sekolah. Arkan mengangguk saja.


Yang sebenarnya Adalah Rumah sakit yang Kedua orang tua Arkan dirikan selain pengusaha, Orang tua Arkan juga mendirikan tempat kesehatan dan obat-obatan untuk masyrakat luas. Termasuk juga dalam hal pengobatan yang menggunakan sistem pembayaran untuk rakyat menengah kebawah. Kerja sama rumah sakit orang tua juga mencakup pemerintahan di dalam negara.


Citra juga pamit dan mengikuti Arkan.


"Arkan kamu kok diem aja, kenapa kamu gak senang aku kasih tahu itu," ucap Citra.


Arkan tidak menjawab hingga Arkan melangkah lebih cepat meninggalkan Citra sendirian. Citra mengepalkan tangannya marah. Citra tidak bisa seperti ini, bagaimana pun juga Kakek Arkan harus segera melangsungkan pertunangan, Harusnya kemarin malah di tunda karena Arkan sakit lalu kecelakaan.


"Nyebelin banget, Arkan pasti masih mikirin Dinda liat aja Gue bakal hancurin Dinda dan buat Arkan deket sama Gue." Katanya pada dirinya sendiri.


Tanpa sadar Seseorang merekam Citra lalu mengirimnya pada Arkan.


Lalu pergi ke arah berlawanan dengan Citra. Masuk dan duduk di kelasnya, Arkan terdiam seperti biasa hanya mendengar semua temannya bercerita. Seketika Bagus masuk dan memukul bahu Justin sedikit kencang. Arkan juga baru menerima pesan. Arkan malas membukanya karena Bagus yang mengirimnya Vidio.


"Lo liat aja nanti kalo lagi senggang," ucap Bagus. Seketika Lorenzo memukul Meja depan Bagus.


"Lo... Hayooo.. lo kirim apaan ke Arkan jangan coba-coba lo kirimin b*k*p ke Arkan ya," ucap Lorenzo.


"Kan Arkan polos dan rajin ibadah, jangan gitu lo Gus." Kata Lorenzo lagi. Mendramatisis keadaan. Justin malah terlihat seperti orang bingung lalu seketika tertawa tiba-tiba. Lorenzo malahenatap Justin kesal.


Tak...


Dahi Lorenzo terkena jitakan Bagus. Mengumpat kesal Lorenzo pada Bagus. Bagus duduk di samping Justin.


"Lo noh otak Mes*m. Gue ini anak baik rajin ibadah di masjid mang lo, Astagfirullahaladzim ammpun gue ama lo, Sono lo jangan racunin gue," ucap Bagus membalik ucapan Lorenzo. Seketika Lorenzo menatap Bagus dengan kesal.


"Enak aja lo gini-gini juga gue itu rajin ngaji, Tapi malem jumat doang." Seketika Lorenzo mengerlingkan matanya dan membanggakan wajahnya juga dirinya.


Arkan menggeleng kecil. Memang terlalu aneh mereka.


"Iya kan Tin," ucap Lorenzo meminta persetujuan Justin.


Justin terkekeh.


"Gak.. Boong dia mah..." ucap Justin seketika membuat Lorenzo malu seketika itu Bagus tertawa terbahak-bahak.


"Tiap malem jumat, Ngaji lo sama mb kunti apa sama Bapak Poci?"ucap Bagus di sela tertawanya. Lorenzo mendengus kasal.


"Makannya lo belajar jadi anak jujur kayak Arkan gak Cewek mulu otak lo," ucap Bagus seketika diselah-selah tawa hebohnya.


Arkan terdiam saja walaupun temannya banyak bicara hingga Arkan sibuk dengan pikirannya dan Dinda yang marah pada Rian. Arkan memang sempat melihat Dinda dan Rian lalu Dinda marah dan Rian seperti minta maaf dan Dinda pergi begitu saja menjauh tanpa bicara apapun.


Ada rasa senang ketika Dinda terlihat menjaga jarak dengan Rian. Arkan kira Dinda akan mudah dekat dengan Rian, Tidak tahunya salah, Rian justru tidak bisa mendekati Dinda walaupun Dinda tahu siapa Rian.


Arkan tahu dari tatapan Dinda ketika Rian meminta maaf.


Arkan cukup bangga jika Dinda benar-benar bisa menjaga dirinya dari Rian, Salah Rian sendiri pernah kasar dengan Dinda. Dan Dinda juga tidak suka.


Tapi, bukannya Dinda itu tidak suka padanya waktu itu, Tapi, kenapa Arkan pusing dengan hal itu, bukannya baik, Jika Dinda benar tak suka dengannya.


Parkiran sekolah Arkan sempatkan mengobrol dan nongkrong di motornya sambil menunggu gerbang yang penuh dengan siswa siswi keluar sekolah karena waktu pulang sekolah tiba.


"Eh.. Kak Rian.. Dinda boleh bareng gak," ucap Dinda dengan suara yang senang dan bangga. Seketika Rian melihat Arkan menatap kearahnya dan Dinda. Awalnya Rian aneh tapi, Rian tidak bisa menyiakan hal ini.


Seketika Dinda memakai helm pemberian Arkan dan naik ke atas motor Rian.


"Ayo kak kita jalan, Kak bisa mampir tukang Somay, aku mau beli somay nanti," ucap Dinda tiba-tiba.


"Ok." Sahut Rian dengan senang dan bangga. Rian menaiki motornya setelah itu Dinda.


Rian melewati teman-teman Arkan dengan suara mesin kenalpotnya yang membuat mereka menoleh.


Dari arah semua murid keluar gedung sekolah dari sana Syifa dan Citra datang.


"Arkan kamu mau bareng aku gak pulangnya," ucap Syifa.


Seketika Arkan menatap sekilas Dinda yang berboncengan dengan Rian dan juga berpegangan pada Rian.


Ada perasaan Aneh didalam dirinya yang ingin marah.


Arkan tidak menanggapi Syifa ataupun Citra didepannya yang sedang bertengkar. Justin yang memperhatikan Arkan diam saja seketika mengehentikan berdebatan dua perempuan didepannya.


"Salah satu aja ikut gue napa, Arkan mulu, gue juga ganteng kali," celetuk Justin seketika membuat Citra dan Syifa menatap ogah.


"Ngapain rang gue maunya sama Arkan bukan sama Lo," ucap Syifa.


Seketika Citra memanfaatkan kesempatan dan mendekat Arkan.


"Pulang sendiri," ucap Arkan tiba-tiba.


Arkan langsung tancap gas dan pergi meninggalkan keduanya. Seketika Justin dan Lorenzo menepuk jok kososng di belakangnya.


"Ogah," ucap Citra dan Syifa bersamaan.


Rita seketika lewat bersama Desi teman sebangkunya.


Sempat melirik ke Lorenzo.


Seketika itu juga Citra dan Syifa menatap Rita.


"Noh.. cewek lo, Mending lo sama Rita, Gue maunya sama Arkan." Kata Citra.


"Ih.. enak aja, Arkan punya gue Citra," ucap Syifa tidak terima.


Justin jengah sudah dengan perdebatan keduanya. Justin memilih pergi lalu Bagus juga. Seketika Lorenzo memberikan Helm pada Rita.


"Pulang bareng, kakak gue mau ketemu lo, Nanti pulangnya gue anterin," ucap Lorenzo.


"Eh.. tapi kan aku... ada.." tolak halus Rita terpotong dengan helm yang Lorenzo berikan dan hampir jatuh.


"Kalo lo gak mau gak papa paling Kakak gue minta gue jemput lo di rumah lo nanti," ucap Lorenzo enteng.


Dirumah... ah jangan jangan Rita gak bisa kemarin saja orang tuanya menggodanya jika punya pacar. Dan Rita malas ibunya bertanya terus tentang Lorenzo.


"I..Iyaa iya gue mau," ucap Rita terpaksa malas menjadi bulan-bulan candaan di rumahnya.


Lorenzo mengangguk dan naik ke atas motornya dan Rita menyusulnya.


Kini Dinda dan Rian di depan rumah Dinda.


"Makasih kak," ucap Dinda. Rian terdiam.


"Kenapa lo mau dianterin gue," ucap Rian.


"Hari ini aja kak." Jawaban acuh Dinda.


Rian mengangguk.


Baiklah... tidak masalah kali ini Rian merasakan kemenangannya.


Membuat Arkan cemburu sepertinya tadi sudah di lakukannya tanpa sadar, tapi, Apa Dinda memanfaatkan nya?


Tidak masalah.. toh Dinda juga dekat dengannya sekarang walau dianter sekali ini. Rian berbalik pergi dengan motornya. Setelah Dinda masuk ke dalam rumahnya.