Arkan Dinda

Arkan Dinda
Penjelasan



Dinda sampai di rumah dengan basah kuyup sampai hujan rintik Dinda baru membuka gerbang. Seketika Sebuah Payung dan jaket membuat Dinda menoleh.


"Ngapain Kakak kemari, Aku kan gak suka!" ucap Dinda.


Arkan terkejut. Tidak suka! Apa Dinda sedang tidak sadar.


"Kalo lo mau sakit jangan ngerepotin orang," ucap Arkan acuh lalu berjalan masuk. Membiarkan jaket dan payung tetap bersama Dinda dan dirinya yang hanya menggunakan kaos polos dan celana hitam.


Dinda terdiam, menatap Arkan yang membuka pintu dengan kuncinya.


Pintunya bisa di buka sama Kak Arkan.


"Lo ngapin mau nunggu panas! Ini dah malem. Besok pagi baru ada matahari," ucap Arkan sedikit nyebelin.


Dinda mengangguk kecil dengan terpaksa melangkah masuk. Seketika tak lama sebuah mobil putih datang. Dinda menghentikan langkahnya seketika. Menoleh kebelakang.


Kiran ternyata bersama Yuda. Kiran segera keluar mobil dan masuk menarik Dinda ke dalam Rumah.


Sekarang Dinda sudah bersih dan kering Kiran juga sudah membuat Dinda segera mandi dan mengganti pakaian.


"Siapa yang masak?" ucap Dinda menatap masakan diatas meja makan.


"Makan, gak perlu tahu," ucap Arkan.


Yuda yang duduk di ruang tamu langsung di hampiri Arkan dengan dua minuman. Arkan duduk di sofa tidak lepas dari pandangan mata Dinda.


Dinda di ajak duduk oleh Kiran dan makan di temani Kiran.


"Lo kalo kayak gini jangan nyiksa diri, kasihan tau," ucap Kiran.


"Gue sedih juga liatnya." lanjut Kiran.


Dinda bingung dari mana mereka tahu kalo Dinda pulang kehujanan dan Arkan Kiran Dan kakaknya Kiran.


"Kalian..." terpotong ucapan Dinda


"Udah gak usah banyak mikir apa-apa sekarang lo harus rileks dan tenang. Lo ada gue, gue juga berusaha buat selalu ada, okay... sekarang tarik nafas hembusin... tarik lagi... hembusin lagi..."


Dinda tersenyum paksa. Seketika menghentikan tangannya menyuap nasi ke mulutnya.


Tanpa sengaja ingatan tentang pembicaraan tadi membuat Dinda kembali terbayang. Ketika Ayahnya Syifa mengatakan jika keluarganya hanya ingin keturunan unggul walau anak itu di luar nikah seperti, Syifa.


Dinda walaupun tidak terlalu pintar dan lagi, jika keturunan di luar nikah hari ini mungkin sama. Semua hal atau beberapa dari sekian banyaknya mempertimbangkan potensi dan kepintaran, Sedangkan seperti Dinda, Potensi lebih baik sepertinya suram.


Dinda menyuap nasinya lalu mengunyah dan menghela nafasnya.


Pukul sembilan malam Yuda pulang bersama Kiran meninggalkan Arkan dengan Dinda berdua lagi.


Setelah mobil Kiran dan kakaknya menjauh Dinda menarik Arkan kedalam dan menyandarkannya di dinding. Menempel tembok. Dinda agresif sekali!


Arkan terkejut menatap Dinda dengan intens.


"Kakak mata matain aku ya.. kakak ini yang tiba-tiba bisa dateng... A.. kakak jelasin sekarang."


Arkan seketika merubah posisi menjadi Dinda yang tersudut di tembok dan Arkan yang ada di depan Dinda.


"Lo gak perlu tahu, lo gak suka?" kataArkan dengan tatapan mata tajamnya tepat di depan mata Dinda. Seketika mata Dinda berkaca-kaca.


"Enggak.. iya.. gak perlu tahu, Tapi, dengan kakak begini Kakak itu kasih harapan buat aku dan aku jadi tambah tambah suka, cuek aja kak," ucap Dinda.


Arkan menatap Dinda datar seketika beralih menarik tangan Dinda mengajak Dinda duduk.


Dinda menatap Arkan. Seketika Arkan duduk di depan Dinda.


"Lo bakal mati kalo gue cuek. Lo bahaya sendirian. Lo bisa jaga diri.. iya gue tahu lo udah gede, tapi, Gue... Gak tahu kenapa gue gak bisa masa bodo tentang lo," ucap Arkan. Dinda menatap Arkan dengan wajah heran sedih.


"Tapi, Dinda... Enggak bisa," ucapnya dengan wajah sedih dan gelisah bingung seketika ponsel Dinda bergetar dengan sms masuk.


Dinda mengambilnya dan membacanya seketika terkejut dan menjatuhkan ponsel itu.


Arkan memperhatikan Dinda merasa ada yang aneh dengan cepat Arkan mengambil ponsel Dinda dan melihat apa yang membuat Dinda terkejut.


Vidio ini...


"Jawab gue.. berapa lama lo di teror." Kata Arkan dengan wajah Datar.


Dinda menatap bawah gelisah wajahnya.


"Jawab!"


Dinda terkejut dengan suara Arkan yang besar.


"Itu.. Itu... Kak Citra... Di-dia yang ngelakuin itu dan a-aku gak tahu kenapa." Jelas dinda dengan Takut dan gugup.


Arkan seketika bangkit ketika akan melangkah pergi Dinda menarik tangan Arkan.


"Jangan Kak... Biarin aja, nanti juga capek sendiri." Ada perasaan aneh setelah Di da mengatakan hal itu Arkan berhenti dan duduk tenang.


Di tempatnya seorang yang duduk di sofa hitam dengan minuman alkohol di gelas dengan es batu.


"Sudah selesai Tuan," ucap seorang yang sudah mendapat perintahnya.


Di penjara napi sekarang Farles di temukan mati dengan darah di dada dan dahi akibat peluru.


Lorenzo dan Bagus baru saja kembali dari Markas geng motor.


Baru akan masuk kedalam rumahnya Bagus karena Lorenzo malas pulang kerumah, jadi menginap di rumah Bagus hari ini.


"Geter noh ponsel lo," ucap Lorenzo karena Bagus tidak melihat ponselnya yang terus bergetar.


"Bentar napa," ucap Bagus berjalan masuk ke garasi.


Di ikuti Lorenzo.


Yuda saat ini di kamarnya balkon sedang merokok seketika mendapat panggilan masuk dari Hansimon.


"Ya." Sahut Yuda.


Hansimon yang sekarang sedang bersembunyi menjawab teleponnya dengan putus putus.


Seketika Yuda mematikan sambungan teleponnya dan berlari keluar dengan jaketnya.


Di rumahnya Dinda Arkan sedang duduk di ruang tv. Sedangkan Dinda mengerjakan tugas sekolahnya.


"Maaf kakak Aku kelewatan tadi," ucap Dinda.


Arkan berdehem.


Tanpa melihat Dinda.


"Kak Aku boleh tanya gak," ucap Dinda dengan wajah takut.


"Iya." Sahut Arkan Singkat.


Dinda seketika kegirangan.


"Kak... Kakak itu kok bisa kayak waktu itu apa kakak gengster atau kakak mafia atau kakak punya masalah sama orang," ucal Dinda.


Satu menit.


Dua menit.


"Gak usah di jawab kak," ucap Dinda yang sudah malas menunggu jawaban Arkan.


Dinda kembali mengerjakan tugasnya dan Arkan memeriksanya.


Setelah selesai di periksa Dinda beralih pada tugasnya yang lain.


"Kakak pulang aja. Dinda sendiri aja," ucapnya.


Arkan tidak menjawab. Hanya anggukan dan menghampiri jendela. Arkan beralih keluar.


"Jangan ceroboh." Melempar kunci rumah pada Dinda.


Dinda menangkapnya dengan cepat dan tepat sambil menatap Arkan yang melangkah keluar dengan wajah bingunnya Dinda berjalan juga mengantar Arkan keluar rumah.


Sampai Arkan naik ke motornya. Seketika sebuah kotak hitam terlempar. Dinda yang akan memeriksanya dengan menghampirinya seketika di tahan Arkan. Arkan mengambilnya perlahan dengan asal Arkan membolak balik kotak hitam itu. Seketika Arkan buka isinya foto-foto Dinda di coret-coret dan bau amis darah di boneka yang meneramkan.


Tulisan Italia.


Arkan membacanya seketika Arkan membawanya menjauh.


dan membuangnya ke tempat sampah.


"Jangan terima barang kayak tadi, Lo belom aman." Dinda benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa sih yang aman dan gak aman?


"Lah.. kalo Paket belanja online gimana?"


"Lo buang juga gak masalah," ucap Arkan Seketika Dinda tertawa dan memukul lengan Arkan.


"Kakak Arkan lucu ih... Eh.. Maaf," ucap Dinda tidak sengaja mencubit cubit lengan keran Arkan dan tanpa sengaja menghadapkan wajah Arkan menatapnya. Seketika Dinda sadar jika Arkan tak suka dan wajah Arkan malah tambah dingin.


Dinda cengenegsan malu.


"Kak.. Hati Haaah apaan," ucap Dinda ketika Arkan membuka helmnya lagi ketika sudah mengenakannya.


Arkan membuka sedikit gerbang tidak lama Rettrigo dan Boby datang juga tiga orang laennya Nama samaran tiga orang selain Boby dan Rettrigo yaitu,


Gareng, Capung, Kuta.


"Eh.. Siapa mereka, kok Ganteng semua ups... maaf," ucap Dinda seketika membekap mulutnya sendiri. Karena tatapan Arkan tiba-tiba tajam seperti akan memakannya.


"Maaf Nona jika saya dan teman-teman saya pernah lancang. Kami di minta Tuan Arkan mengawasi anda. Jadi Anda bisa hubungi kami, Anda tahu jam tangan ini, Kami berlima menggunakannya jadi Nona bisa mengenali kami, Kami ada di sekitar Nona. Jangan takut pada kami kami hanya menjaga dan tidak melakukan hal di luar perintah." Penjelasannya oleh orang dengan tato tengkorak.


Arkan seketika berdiri di dekat Dinda di hadapan kelimanya.


"Mereka semua jaga Lo di waktu Gue gak ada, kalo bukan karena Ibu Lo, gue males kayak gini."


Alasan Arkan sebenarnya bukan hanya itu saja tapi, memang Ibunya Dinda tahu setelah Arkan menjelaskannya kemarin di kantor setelah selesai pertemuan dan Ayahnya Syifa juga mengetahuinya.


Arkan langsung mendapat kepercayaan penuh dari Ibu Dinda tanpa Dinda tahu.


Dinda bingung masih belum bisa mencerna semuanya. Penjelasan tidak masuk akal sejak tadi membuat kepalanya pusing.