Arkan Dinda

Arkan Dinda
Tidak bisa bertemu



Arkan menarik Dinda dan mengambil pecahan beling kaca dari bingkai foto, melemparkannya masuk kedalam keranjang sampah.


Arkan meminta Dinda duduk di kursi dan pergi meninggalkan Dinda.


Dinda mentap apa yang Arkan lakukan dan melihat di sana Arkan mengambil seperti atau itu kotak obat entahlah.


Arkan meletakannya diatas nakas dan mengambil sapu kecil dan cikrak kecil untuk mengangkut beling yang kecil-kecilnya.


Setelah bersih Arkan menyikirkannya mengambil foto itu dan memasukannya kelaci.


Semua yang Arkan lakukan masih dalam pengamatan Dinda.


Arkan mengambil sedikit alkohol di kapas lalu membersihkan luka Dinda. Mengambil beberapa lembar tisu dan mengobatinya.


"Maaf kak," ucap Dinda menunduk takut rasanya perih di telapak tangannya, Tidak kasar Arkan mengobati lukanya tapi, malunya Dinda sampai membuat nyeri, Huh.. Dinda ceroboh sih, suka nya grabak gerubuk aja.


"Hem." Sahut Arkan sembari menempelkan plaster di jari Dinda dan selesai sudah Arkan membersih sisa darah dari jari Dinda. Bersamaan tisu bekas mengobati luka Dinda membuangnya di tempat sampah.


Arkan menyelesaikan semuanya. Seketika mengambil tangan Dinda. Dinda terkejut dan mendanga menatap wajah Arkan.


Lalu menunduk takut lagi.


"Aku tidak masalah kamu saja yang kurang hati-hati," ucap Arkan.


Berhasil, membuat Dinda menghela nafasnya. Seketika sunyi diantara mereka.


Arkan menatap Dinda. Dinda menarik tangannya.


"Tapikan tetep aja, ceroboh sih, Dinda selalu gitu sulit kebiasanya gerasah gerusuh, Maaf ya kak," ucap Dinda dengan wajah tak nyaman nya gelisah juga.


"Udah.. Ayo keluar, aku anter kamu pulang," ucap Arkan.


Dinda mengangguk.


Keluar dari rumah pelayan neneknya berpapasan dengan Arkan.


"Aden.. Mau keluar lagi sama nonanya," ucap pelayan itu.


Arkan mengangguk.


"Maaf Den, Nenek manggil Aden dan e..nonnya ke halaman belakang deket taman ayunan," ucap Pelayan bwahan neneknya langsung.


Arkan mengangguk.


Mereka melangkah pergi melewati pelayan itu. Dinda jelas mengikuti Arkan .


Dinda tidak ingin bicara apapun sekarang.


Hanya saja di bawa ke rumah tanpa ada pemiliknya, kak Arkan ini aneh bin ganteng, Kenapa coba gak rumah sendiri malu Dinda jugaan. Sekarang neneknya Kak Arkan.


Di taman belakang Arkan menghampiri neneknya bersamaan dengan Dinda.


"Arkan," ucap Neneknya sambil menatap cucunya. Arkan menghampiri dan mencium tangan neneknya.


Tatapan nenek menatap Dinda.


"Kamu bisa duduk disana," ucap Nenek menunjuk kursi yang berjarak disana di bawah pohon. Arkan menoleh.


Arkan mengangguk menatap Dinda. Dinda tersenyum malu menghampiri nenek Arkan ketika akan menyalumi Nenek memberikan tangannya dan sebelum Dinda sudah mencium tangannya Nenek menariknya dengan kasar membuat Dinda dan Arkan kaget.


"Jangan menguping," ucap nenek sedikit tajam menyindir.


Dinda terkejut sedikit dan segera tersenyum mengangguk.


Dinda paham situasinya.


"Iya. Nek. Permisi," ucap Dinda.


Pergi ke bangku di bawah pohon. Dinda membuka tas kecilnya dan memainkan ponselnya. Game atau sosial medianya.


Arkan menatap Dinda lalu neneknya.


"Kamu suka sama dia?" ucap nenek.


Arkan diam. Arkan duduk disamping neneknya.


"Nenek dari mana aja," ucap Arkan mengalihkan pembicaraan.


Nenek menatap Arkan teduh.


"Kamu sebentar lagi akan ujian sekolah bulan depan hingga lulus jadwal kamu penuh, Nenek harap kamu bisa memberikan apa yang kakek mu inginkan. Kakek kamu akan bicara nanti malam setelah isya datang keruangannya.


Sekarang kamu masih bisa bersama dengan gadis itu, Nenek harap kamu tidak salah pilih," ucap Nenek seperti nada tak suka ketika tentang Dinda ada didalam ucapannya.


Arkan mengerti.


"Nenek! Dinda itu baik, dia bahkan selalu ceria walaupun dia gak baik-baik aja, Dia memang gak seperti bayangan nenek dan harapan nenek." Kata Arkan dengan nada sopan dan masih dengan sikap dinginnya, selalu tenang.


"Kejadian masalalu Nenek tidak ingin terulang, Ayahmu adalah masalahnya dan sekarang nenek tidak ingin perempuan pilihanmu menjadi biang masalahnya," ucap Nenek dengan acuh. Arkan sedikit menatap wajah neneknya.


Nenek berubah, Arkan tidak kenal nenek di hadapannya. Untung Dinda tidak mendengar ini, Arkan tidak akan bisa melihat Dinda tertekan. Jika ucapan neneknya didengar Dinda.


Arkan berusaha tenang sejak tadi Arkan sudah ingin emosi tapi, Arkan masih bisa mengendalikannya hingga bertemu dengan Dinda emosi itu hilang dan lenyap tapi, sekarang Neneknya membuat Emosi itu muncul lagi dan bertambah besar.


"Maaf Nek," ucap Arkan. Bangkit Arkan dari duduknya dan menatap neneknya dengan tenang dan datar.


"Antarkan dia pulang, segeralah pulang kembali," ucap Nenek dengan acuh.


Arkan mengerti mengambil tangan neneknya dan menciumnya, lalu salam dan pergi.


Arkan berbalik setelahnya dan menghampiri Dinda.


Dinda yang bermain ponsel menatap Arkan dua langkah mendekat kearahnya.


"Kakak udah selesai," ucap Dinda.


"Iya, Ayo, mau pulang atau mampir," ucap Arkan dengan suara yang lembut.


Dinda seketika melongo.


"Kak Dinda sakit kayaknya," ucap Dinda. Seketika Arkan kaget.


"Sakit kamu kenapa kedinginana atau gimana?" Panik Arkan.


Dinda tersenyum menggeleng.


"Kak Arkan buat hati Dinda jatuh berulang kali," ucap Dinda seperti menggombal untuk Arkan.


Seketika raut wajah Dinda puas dan senang Arkan malah kesal dan ada semirk aneh seperti menyeramkan tapi, ada hal menyenangkan dan takkan pernah luntur di balik smirk itu.


Arkan mengajak Dinda ke garasi untuk mengambil motor dan helm.


Sadar itu mobil Kakeknya dan Johan Arkan segera mengajak Dinda dengan menarik tangannya untuk pergi kemotornya.


Arkan memberi Dinda helm dan memakai helmnya Arkan naik ke motor disusul Dinda.


Arkan langsung menyalakan motornya setelah Dinda duduk dengan aman. Menjalankan motornya pergi.


Dari dalam mobil Kakek menatap Arkan dengan Dinda wajah Kakeknya datar dan tegas.


"Siapa gadis itu?" ucap Kakek pada Johan.


"Nona Dinda Tuan," ucap Johan asisten kakek. Kakek menatap hingga hilang Arkan dan dinda di balik gerbang besar.


Warung bakso Arkan berhenti. Sebenarnya Arkan berhenti untuk memeriksa ponsel yang bergetar tapi Dinda turun.


"Kak.. Aku pengen makan dulu, Aku masuk duluan ya," ucap Dinda.


Arkan mengangguk.


Didalam waruk itu Dinda memesan.


Arkan membuka pesannya dan membaca pesan tentang Gabriel dari Diyo dan Devan.


Ternyata sejak tadi Arkan menduga dan berpikir ternyata benar firasat Arkan, Jika Gabriel lah yang om Rayhan maksud.


Arkan membalasnya dan kembali memasukan ponselnya kedalam saku jaketnya.


Arkan memarkirkan motornya dan beralih masuk kedalam warung bakso. Arkan melihat Dinda duduk sendirian menghampirinya lalu duduk di hadapannya. Tidak lama penjual membawakan Dinda semangkok bakso.


"Kakak mau pesen?" ucap Dinda.


"Gak.. dah kamu aja makan," ucap Arkan.


Diam sambil mengambil sebotol air mineral didepannya dan membukakannya untuk Dinda.


"Lahh kan udah pesen es," ucap Dinda.


"Minum ini aja gak papa," ucap Arkan santai.


Boleh gak Dinda teriak A... rasanya kayak pacaran sama Kak arkan, tapi, emang rasanya Pacaran berasa ya, Eh.. gak tahu deh.


"Duitnya gak cukup kak, Dinda cuman bawa tiga puluh," ucap Dinda.


"Udah bayar," ucap arkan.


Dinda terdiam.


"Em.. udah tadi ngasih ke ibunya, itu," ucap Dinda.


Arkan terkejut tapi, wajahnya biasa. Arkan meminum air di botol mineral itu lagi.


Seketika tangannya mengambil tas Dinda.


"Kakak mau apa," ucap Dinda mingung karena tasnya tiba-tiba di qmbil.


"Besok aku yang bayar, Kamu gak bisa bayar sendiri," ucap Arkan.


Lima ratus ribu.... Dinda melihat Arkan memasukannya kedalam dompet Dinda.


"Ka..kakak.. itu banyak banget Ya Allah kak, gak usah, ih... Dinda gak enak, nanti kalo.." ucap Dinda menghentikan Arkan tapi, percuma.


Arkan selesai memasukan lima lembar kertas merah itu dan meletakan tas Dinda di tempat yang semula.


"Urasanku, Ingat jangan menolak, dan hanya berlaku untuk perintahku," ucap Arkan.


Dinda malu.


"Tapi, Kak itu sama aja buat Dinda gak nyaman, Tahu gak kak kayak cewek matre.. Dinda bukan pacar atau istri atau ade atau sodara, Besok..." Terpotong dengan satu bungkus peyek di tempel di depan wajah Dinda.


"Calon istri," ucap Arkan ketika peyek masih menempel didepan wajah Dinda.


Jatuh ke jurang yuk! Dinda rasanya pengen terjun jurang yang paling dalam dan gelap, Berlebihan tapi, ini bener-bener langka... Seorang Arkan menyatakan kata Calon.. Istri... Yakin deh kayaknya kepalq Kak Arkan kepentok apa otak Kak Arkan ketuker sama bintang laut ping temennya kotak kuning, Wah.. hebat... bener!


"Dinda," ucap Arkan Seketika membuat Dinda kaget.


Haa.. Kaget Dinda.


"Iya kak, bentar di habisin dulu," ucap Dinda sambil melanjutkan makannya.


Arkan menatap Dinda.


"Maaf..."


Dinda menghentikan makannya yang tinggal menyeruput kuah baksonya.


Ada apa ini?


"Kenapa kak, Kakak kayaknya gak buat salah," ucap Dinda.


Arkan menatap Dinda serius.


"Setelah liburan ini, Aku gak akan bisa ketemu kamu, Aku harap kamu bisa jaga diri baik-baik, Seperti biasa Ada mereka yang aku minta jaga kamu," ucap Arkan serius. Dinda terdiam matanya menatap kebawah kuah bakso itu.


Sedih ya... ih kok sedih sih, harusnya biasa aja.


"Aaah... ok kak, Tenang aja, Berarti aku harus seperti biasa, semoga kakak dapet nilai terbaik ya, Oiya, semoga jadi lulusan terbaik, Walaupun doa Dinda sebenernya gak perlu karena kakak dah pinter ter banget," oceh Dinda dengan tersenyum tapi, matanya berkaca-kaca.


Arkan mengusap kepala Dinda.


"Enggak Doa kamu tetap penting, Makasih," ucap Arkan.


Seketika Dinda menjatuhkan air matanya.


Arkan menatap wajah Dinda. Dinda Salting tidak jadi menangis malah kesal dan pergi dari sana.


Arkan menggeleng dan mengikuti Dinda.


*


Hari ini kelas dua belas di sibukkan dengan ujian kelulusan dan ujian sekolah. Kelas sebelas banyak jamkos kadang di beri waktu libur.


Dinda sebal tidak suka dengan waktu ini tapi, dia harus bisa meninggalkan keegoisannya buat Arkan. Ya.. walaupun bukan apa-apa.. ya masa ketemu aja susahnya. Kak Arkan sibuk banget menurut otak Dinda.


Hati Dinda berkatalain, yang bilang Kak Arkan pasti seneng kalo Dinda datengin, Ah... payah Hati ama otak aja gak samaan keputusannya. Galau kan jadinya, Dinda...Dinda.


Dinda sekarang sudah di rumah ibunya setelah menunggu Izin yang lama akhirnya Dinda di rumah seperti biasa rumah ibunya bukan rumah Ayah Syifa. Dinda melakukannya semua sendiri.


Sekarang sore hari nyirem tanaman di halaman menggunakan gayung dan ember.